The Chronicle Of Jawata (Edisi Trial Kompilasi)

The Chronicle Of Jawata (Edisi Trial Kompilasi)
45. Tuan Anjing Hitam (5)


__ADS_3

”Jawablah atau lebih baik jika aku memanggil penjaga?” Putri Alingga berkacak  pinggang, memelototi Lorr En terpaku di posisinya dan jantung berdetak keras. Baru sekali itu putri tampak garang dan tidak bersahabat. Parasnya yang cantik seakan-akan tersembunyi di balik wajah kemarahan seorang nenek sihir.


Kembali di tempat penduduk desa yang sedang berpesta. Mereka juga baru saja dikejutkan oleh lolongan serigala. Masih keterkejutan, bingung dan heran, mereka sadar kalau serigala yang melolong beberapa saat yang lalu berada tidak jauh dari mereka saat ini.


 ”Serigala! Serigala!“ Teriak para wanita sambil memeluk anak mereka masing-masing. Mereka berhamburan keluar area pesta berpagar bambu.


“Ini bukan serigala biasa, suaranya sangat kencang dan memilukan!“ teriak salah satu kepala desa, bersiap siaga bersama puluhan warganya kalau-kalau serigala itu muncul.


Auuuuuu...!!!!


Terdengar lolongan serigala sekali lagi. Suaranya semakin mendekat.


“Dari sana!“ teriak salah satu warga. Mereka mendekat ke jalan setapak dari arah hutan sambil membawa senjata masing-masing dan berkumpul di pusat gong desa. Beberapa meneriakkan,”Serigala hantu!” dan sebagian meyakini tentang legenda serigala jadi-jadian.


“Ini pasti Serigala Api!“ kepala desa teringat akan rumor yang sudah lama ada di kawasan mereka sejak puluhan tahun lalu. Terlebih-terlebih ketika menyadari bahwa malam itu adalah hari Bithar bulan Wehu tepat bulan purnama.


“Segera masuk ke rumah kalian masing-masing dan kunci pintu!!!“ teriaknya memberi perintah. Tetapi itu malah membuat para wanita dan anak-anak semakin kalang kabut, panik dan histeris tanpa peduli segala hidangan yang masih tersedia di meja dan tidak peduli lagi acara pesta yang belum selesai. Dan dalam sekejap, ketakutan mereka telah merusak pesta.


Sedangkan puluhan orang masih siap siaga dan terus mengawasi jalan setapak dari arah hutan, berjaga-jaga barangkali ada sosok serigala muncul dari sana. Tetapi mereka terkecoh, tanpa diduga seekor serigala besar tiba-tiba berkelebat muncul dari arah lain, meloncat di antara para wanita dan anak-anak yang sedang berlarian ke segala arah.


“Serigala Api!!! Serigala Api!!!“ teriak mereka bersahutan. Penduduk yang semula berjaga-jaga dari arah yang salah langsung menuju tempat datangnya serigala itu, mengitarinya, dan bersiap-siapa meluncurkan aneka senjata yang mereka bawa.


“Bunuh dia!!!“  Teriak kepala desa disusul puluhan tombak menyerbu ke arah serigala bermata merah nyala dan berkobar api di sekujur tubuhnya. Tetapi serigala api sangat gesit, dia mengelak cepat dari puluhan tombak yang mengarah padanya.


Zap! Zap! Zap!

__ADS_1


Tombak-tombak itu pun meleset, menancap di tanah tanpa satu pun yang tepat mengenai sasaran. Bug! Kini serigala berbadan besar itu mendarat persisi di dekat seorang wanita sambil mendekap anaknya, kontan wanita itu menjerit ketakutan Dia merasa terpojok dan posisinya terlalu jauh dari orang-orang lain.


“Tolooong ...!!! Toloooong ...!!!“ teriaknya, tapi yang lain tidak bisa berbuat banyak karena merasa ketakutan juga. Meskipun gemetaran, wanita itu mencoba untuk melindungi anak yang ada di belakangnya, lalu dia meraih sebilah kayu dan hendak melayangkan ke arah serigala yang menghadangnya. Tetapi…


Bug!!


Tubuh wanita itu terpental jauh ke tanah lalu tidak sadarkan diri sebelum pukulan kayu sampai ke tubuh serigala api.


“Aaaaaaaagh!!!!!!!! “


Kali ini anak wanita itu yang menjerit. Melihat ibunya terkapar, dia hanay bisa menangis ketakutan apalagi ketika tatapan tajam menyala serigala api beralih arah padanya, mendekat dan segera menerkam.


Set!!


Tiba-tiba seseorang berkelebat entah dari mana asalnya, gerakannya ringan dan gesit, menyambar anak kecil yang nyaris diterkam, lalu mengembalikannya ke dekat warga yang berkerumun panik. Serigala api melolong lagi, tatap matanya yang menyala tampak menyimpan kemarahan. Kini, sesosok bocah kecil itu berhadapan dengan serigala api.


“Pandang mataku. Asharaya! Ashayara Zera! Asharaya Maora,” mulutnya yang komat-kamit membaca mantra dan suara tegas. Kedua makhluk aneh itu beradu mata beberapa saat.


Serigala itu lunglai, dan sempat melolong panjang. Tapi hanya beberapa saat, dida bangkit kembali dan langsung menerjang anak kecil penuh daun di sekujur tubuhnya.


Shrakk ....


Bukkk!!!


Tubuh anak berdaun itu terpelanting jauh ke semak-semak. Lolongan serigala semakin menjadi-jadi, bahkan mengamuk di sekitar orang-orang yang keheranan menyaksikan kejadian tadi. Mereka berhamburan menjauh dari serigala, berteriak panik.

__ADS_1


Seorang gadis belia terjatuh saat melarikan diri, dia untuk bangkit.


“Tolooong ...! Tolooong aku ..!!!“ kedua tangannya meraih minta tolong siapapun yang berlarian, tapi semau tidak peduli.


Ggggrrrh … grrh ....


Geram serigala api menggeram dari arah belakang, perlahan-lahan makin mendekat. Gadis belia itu memberanikan diri untuk menoleh…dan di persis di belakangnya sosok serigala mengerikan sudah sangat dekat, air liurnya menetes, hembusan nafasnya memburu, mengendus-endus tubuh mungil yang tegang dan ketakutan.


Gadis belia itu menjerit.


Auuuuuuuu ....!!!


Makhluk jadi-jadian itu melolong kesakitan hampir ketika sebuah anak panah menembus punggungnya. Dia melolong kedua kali ketika sebuah anak panah menyusul dan menancap tepat tengkuknya. Dia menggelepar sesaat, bergelimang di tanah kemudian tubuhnya berangsur-angsur susut, kedua kaki depan berubah menjadi tangan-tanan manusia…wajahnya pun mengalami hal yang sama.


“Bunuh dia!!! “ kesempatan itu tidak disia-siakan begitu saja bagi penduduk kampung, mereka segera menyerbu makhluk yang sudah tidak berdaya itu. Tapi anak kecil penuh daun di tubuhnya sembunyi di atas rerimbunan pohon bergerak lebih cepat dari penduduk yang siap membabi buta.


Dalam beberapa kedipan mata, si Bocah berdaun menyambar makhluk yang sudah berubah menjadi setengah manusia. Lalu keduanya melesat ke arah hutan dan sosok mereka hilang dalam kegelapan. Sedangkan para penduduk tercengang, tidak bisa berbuat apa-apa kecuali membiarkan mereka raib di telan hutan.


Angin dingin berhembus dalam kegelapan hutan, menyisir pohon-pohon di hutan lembah Yue Li. Dinginnya hingga menusuk ke tulang sumsum.


Dan tampak pondok tua di bawah sinar purnama di sana, dalam cahaya lampu remang-remang dari dalam…dan darah berceceran dari luar pintu menuju ruangan pondok itu, terdengar suara-suara merintih dan mengerang kesakitan.


“Kau telah ingkar janji, Tuan Anjing Hitam!” sosok bocah berumbai daun-daun di sekujur tubuh yang tidak lain adalah Taja ambruk di lantai kayu, darah yang keluar dari luka akibat kuku tajam serigala jelmaan Tuan Anjing Hitam ternyata cukup dalam mengoyak kulit pundak dan leher. Dia terkulai lemas, daun-daun yang menjulur dari kedua lengan serta kakinya berangsur-angsur menyusut. Sementara itu di sampingnya, tubuh Tuan Anjing Hitam meringkuk tak berdaya, tanpa selembar kain menutup tubuh, rambut panjang berantakan menghalau kedua matanya yang sayu, memelas, dan sedih.


Perlahan-perlahan dia beralih pada Taja. Pemuda itu diam tak bergerak lagi.

__ADS_1


...* * *...


__ADS_2