
Gemerincing makin mendekati keberadaan Radhit di balik awan persembunyiannya. Sesuatu melintasi tepat di depan mata. Wujud gelap disertai gumpalan awan hitam, melangkahkan kaki-kakinya menyerupai cakar raksasa. Rupanya, suara gemerincing bersumber dari rantai di kaki yang sedang melangkah berat. Muncul sosok berselimut gumpalan awan hitam disertai letupan kilat di tubuhnya, mendadak berhenti di dekat Radhit bersembunyi. Hanya beberapa langkah saja.
Sssh ... sssh ... Sshh ....
Makhluk itu mengendus-endus sebentar, menoleh ke sekeliling tempat. Sesuatu aroma menusuk penciumannya.
Ckkrgh ... Ssshhhhhh ....
Raut makhluk itu tersingkap jelas, rupa bertaring di balik moncong. Juga sepasang tanduk besar. Suaranya antara kadal berukuran raksasa dan ular.
"Hah!" Radhit menenggelamkan dirinya dalam tumpukan awan lebih tebal lagi. Terlalu tak siap akan kedatangan makhluk asing entah apa itu. Sesekali melirik melalui celah awan di depan matanya.
Makhluk itu sangat sensitif, makin mendeteksi keberadaan ruh yang berkeliaran di sekitar. Di tangannya, tergenggam gumpalan besar sejenis karung yang terbuat dari bahan berenergi listrik. Terdengar suara-suara meronta dari dalam karung itu. Sangat besar ukuran karung diseret-seret tangannya menyapu awan sepanjang dilalui makhluk itu.
Cccrrghh ... Krgaaaahhh!
Beringas liar moncong makhluk itu menyeringai ke sekeliling. Mengendus hawa ruh segar.
"Celaka!" pekik Radhit tertahan dalam persembunyian. Cemas-cemas mendebarkan, jika kedapatan makhluk yang tampaknya jelas bukan makhluk ramah.
Jerit-jerit menyayat, terdengar menyeruak dari gumpalan karung di tangan makhluk itu. Semakin kuat sampai terguncang isi di dalamnya.
Cgrrr .... Krroaaargh ...!!!
"Makhluk apa itu?" pekik Radhit. Melihat gumpalan karung besar di tangan makhluk mengerikan yang jelas belum diketahui jenisnya.
"Buto?" hanya itu yang ada di pikiran Radhit.
"Kenapa, makhluk itu seperti sedang membawa sesuatu secara paksa dan brutal. Apa yang dibawanya di dalam karung itu?" tanya Radhit dalam benak sendiri.
__ADS_1
Samar-samar makin kuat terdengar jelas, jerit-jerit menyayat dari dalam karung meronta. Seperti suara-suara minta tolong.
"Jerit manusia?" pekik Radhit, tercengang sendirian. Sembari mengamati pergerakan makhluk itu terus mengendus lebih sangar dari serigala. Tubuh buto semula berdiri di atas dua kaki, sekarang merangkak dengan empat kaki.
"Apa sebenarnya makhluk itu?"
Tatap mata Radhit lurus, mengintai dari balik celah awan. Penuh waspada kiranya makhluk buto itu menangkap keberadaan Radhit bersembunyi.
Rrroaaaagghrrr ...!!!
Tampak mengamuk makhluk buto sangar dan mengerikan raungannya ke angkasa. Hendak menelan mentah-mentah siapapun yang muncul di hadapannya. Sementara insting binatang setengah buto tak sabar segera meringkus siapapun kebetulan melintas di depan mata.
"Tolong aku! Tolong aku ...!"
Sebuah jeritan terdengar dari dalam karung, meronta pula apa yang disembunyikan di baliknya. Radhit terkesiap.
Jeritan minta tolong dari dalam karung diikat rantai dan diseret-seret makhluk buto itu. Sejenak diletakkan, karung bermuatan berat itu di hamparan awan.
Rrgggghhh ....
Makhluk buto menangkap kehadiran arwah lain di luar karung.
"Sial!" pekik Radhit.
"Penculik arwah rupanya!"
Berhati-hati, Radhit mempersiapkan sesuatu apabila terjadi hal tak diinginkan.
Sebuah katapel dirogoh dari saku pinggang Radhit. Bukan katapel biasa. Senjata itu, peluluh lantak otot dan tulang makhluk gaib, apapun itu jenisnya. Katapel Akarlangit.
__ADS_1
Kedua tangan direntangkan sejarak tertentu. Jurus tatap mata Radhit mengarah pada makhluk buto di depan sana sedang berkeliaran. Siap membidik!
"Rasakan ini! Kau kira aku takut?" satu kalimat Radhit sebelum lepas landas biji katapel melesat ke arah makhluk buto tepat mengenai sasaran mata yang lebih menyerupai bola es.
"Wuaargghhh!" makhluk buto menjerit lantang. Kedua tangan menutupi mata yang terkena biji katapel sakti milik Radhit.
"Rasakan ini!"
Dua tiga bidikan berikutnya, mengenai hidung dan kening makhluk itu bertubi-tubi.
"Yeah!" pekik Radhit senang. Sampai lalai waspada. Suaranya sendiri menunjukkan keberadaan persembunyian dirinya.
"Celaka, dia melihatku!" segera ambil langkah kabur, Radhit berlari. Awan pijakan berhembus oleh gerakan tubuh Radhit.
Roooooarggh!!!
Makhluk buto mengamuk. Sekelebat Radhit tertangkap pandangannya.
"Celaka dia mengejarku!" Radhit beringsut masuk ke dalam gumpalan awan terdekat. Mengincar karung yang sedang diletakkan di hamparan awan, tatap Radhit ke sana. Penasaran apa isi di dalam karung itu, pasti banyak arwah menderita.
Zzaaarghhhh ...! Rooooaaargh ...!
Lantang menggelegar, raungan buto membahana angkasa.
"Memanggil sekawan? Celaka!" kesal dan merasa bodoh, sadar ia telah bertindak tanpa perhitungan. Radhit terpaksa mengeluarkan peralatan lain.
"Jubah kematian!" wujud benda muncul secara magis di sisi Radhit, seakan ditarik dari kekosongan udara. Lapisan berkilat jubah yang muncul, dikenakan sesingkat mungkin. Wujud Radhit berkamuflase menjadi awan sekitarnya. Putih kebiruan.
...* * *...
__ADS_1