The Chronicle Of Jawata (Edisi Trial Kompilasi)

The Chronicle Of Jawata (Edisi Trial Kompilasi)
7.01.


__ADS_3

Suasana gelap.


Terlalu dini Taja terjaga. Terkesiap oleh mimpi tragis terulang hadir, mengganggu lelapnya yang tenang. Semakin sering ia dicekam ketakutan dari luar tempatnya sekarang. Tidur yang hangat berubah gelisah. Dengkur makhluk-makhluk sejenis dirinya, meringkuk di sela-sela akar-akar dan ranting pohon. Sedangkan hanya Taja yang terbangun.


Nafas Taja memburu. Terpaksa menapakkan kaki lantaran tidak nyaman lagi untuk sekedar lelap mata. Keringat dingin membasahi sekujur kening dan leher. Cukup lama ia menyembulkan kepala, menghadap ke luar rongga akar-akar pohon. Ia menatap langit sembari mengingat mimpi buruk yang telah mengusik tidurnya malam itu. Mimpi tentang sosok seperti dirinya. Berhadapan dengan ujung benda tajam hitam berkilau. Lalu benda itu menghujam ke arah dadanya.


”Hhh ...!”


Taja bernafas lelah. Ia merayap keluar dari peraduan rongga dan melangkah dalam kegelapan yang bertabur kemilau cahaya muncul dari ujung kuncup-kuncup putih jingga perak. Mekar di antara rerimbunan pohon sepanjang kakinya menapak santai. Pemuda belia itu menelusuri setapak berderet pohon-pohon sepanjang tepi kanan dan kiri. Tiba ia di sungai perbatasan, berhadapan kabut di balik pagar ilalang seberang sungai.


Kesunyian malam semakin mencekam. Tiba-tiba muncul secercah cahaya terang dari kegelapan sana. Cahaya itu mendekat. Perlahan semakin jelas, menjelma wujud perempuan rupa jelita. Taja menatap tanpa kedip wajah cantik perempuan itu balas memandangnya seraya berkata.


“Ini waktumu, Pengeran Shachini.”


Kemudian wujud perempuan bercahaya itu berangsur pudar, disusul jeritan panjang menggantikan kepergiannya ke angkasa.


“Kamu ...!” pekik Taja, hendak menggapai perempuan itu. Tetapi sungai di depannya menghalangi jarak antara dirinya dan sosok di seberang sana.


Byurrrr!


Tak ingat lagi di depannya menganga aliran sungai, Taja terjatuh. Gelagapan ia menggapai-gapai ke atas permukaan sungai. Derai tawa dan cekikikan aneka makhluk bersayap di sekitarnya. Taja tersadar bahwa dirinya tercebur ke sungai.


“Anak Jawata jatuh dari pohon. Ha ha ha!” suara-suara menertawakan Taja.


”Pasti menyakitkan tubuhmu berdarah setengah manusia Jawata.”


”Tetapi kaum Gunggali yang jatuh. Itu lebih memalukan lagi!”


Celoteh suara-suara sahut menyahut.


Tampak seseorang paling senior, sejak tadi mengawasi Taja di antara rerimbunan dahan pohon. Ia bergelayutan, menyeringai hingga deretan gigi yang tajam. Rambut jabrik sekuning biji jagung. Telinganya meruncing dan ujungnya melingkar, meregang naik turun, pertanda sangat puas tawanya. Seseorang itu menggelantung di antara sulur-sulur dahan. Posisi kepala menghadap ke bawah, sementara daun-daun melilit tubuhnya bermunculan keluar.

__ADS_1


Ia tidak sendiri. Sejenis lainnya mendekati Taja berada di hilir sungai. Mereka semakin berdatangan, jumlahnya hingga puluhan. Bergelantungan, merayap, dan berkelebat dua tiga lompatan gesit.


“Taja, Peri Hutan. Peri Hutan yang jatuh …,” susul menyusul, nyanyian mereka bersahutan dipimpin seseorang senior tadi, sedang menggantung terbalik di dahan pohon.


”Pergi kalian!” hardik Taja namun tidak membendung ledek tawa mereka. Ia terpaku saja di permukaan hilir sungai sebatas dada, sambil menatap satu-persatu wajah mereka terpingkal-pingkal.


Dakka dan Sorra. Belakangan ini, mereka bertingkah kurang menyenangkan dan sengaja membuat Taja tersisih. Padahal dulu, mereka keluarga yang sangat baik. Entah kenapa sekarang mereka berubah sikap dan kelakuan, sinis juga menaruh benci pada Taja.


”Anak Jawata!” sebutan itu kerap ditujukan untuk Taja. Dakka yang mencetus julukan itu. Ia muncul menggantung di dahan.


”Dakka!” Taja menyebut namanya. Seseorang menggantung itu, seketika melompat ke tanah dengan sekali gerakan gesit berputar, kakinya sampai ke permukaan tanah dengan lincah. Dia bersama Sorra. Sekarang, mereka bersekutu membentuk koloni, merundung Taja.


Byaaar!


Tiba-tiba seseorang berwujud katak muncul ke permukaan air, persis di depan Taja dan langsung membungkam ocehan mereka.


“Dasar daun-daun bau! Kalian lahir sebagai pengikut Ratu. Tapi perilaku kalian sangat kurang ajar pada pangeran!” teriak seseorang itu dengan keras. Badannya mekar, juga pundaknya lebar. Punggung hijau dan kedua lengan kekar. Tubuhnya penuh duri dan seluruh kulitnya tebal.


“Pergi kalian dari kawasan ini, sebelum aku memanggil Pasukan Tawon untuk mengusir kalian!!!” gertak Lorr En terdengar sangat lantang dan mengancam.


”Woooh ...!” hanya seseorang tidak takut pada Lorr En, justru ia menceburkan diri ke sungai untuk beradu badan dengannya. Sedangkan sekawanan lainnya berkumpul di tepian sungai.


“Lorr! Apa yang membuatmu selalu melindungi Anak Jawata itu di belakang punggungmu? Darah manusia penuh keserakahan. Bahkan dirimu penuh benjol hijau itu lebih baik dari dia!” seru Dakka menantang.


”Dakka!” Lorr En menggeram. Dua muka beradu sinis.


”Katak bodoh menggertak di balik moncongnya. Sihirmu bukan apa-apa!” bersungut-sungut, Dakka membusungkan dada di depan Lorr En.


Lorr En balas menatap tajam. Tanpa pikir panjang, ia mengangkat semua jari-jari tangannya penuh lendir. Tidak ada bantahan kalimat lagi kecuali kata-kata aneh terapal dari mulutnya seraya merentangkan kedua lengan selebar-lebarnya.


“Hamm ... me-nou-shaaa ...!”

__ADS_1


Lorr En mengarahkan seluruh kekuatan ke arah Dakka juga sekawanannya. Satu mantera terucap. Tetapi setelah itu, tidak terjadi reaksi apapun kecuali keheningan.


”Konyol ...,” Dakka tersenyum sinis terkecoh mantera kosong Lorr En. Namun tidak lama setelah ia bicara demikian, tiba-tiba arus air bergerak balik ke arah Dakka dan kawan-kawannya.


”Mantera apa itu?” Dakka merasakan gelagat alam yang aneh. Sekawanannya pun tegang mematung saat melihat perubahan arus sungai tiba-tiba tinggi. Mereka terpaku di tempat. Kecuali Lorr En yang tahu, apa yang sedang terjadi.


Lorr En mengisyaratkan telunjuknya pada Taja, ”Ambil nafas panjang dan tahan ...,” bisiknya pelan sekaligus mengajak Taja untuk menenggelamkan diri.


Beberapa kejap mata kemudian, mulai terdengar suara-suara dengung bergemuruh, datang dari segala arah menuju tempat itu. Bersamaan arus sungai menjelma barisan kuda menyerang Dakka dan sekawanannya.


“Tiragus! Tawon Sungai!” Teriak mereka berlarian pontang-panting


“Katak sialan memanggil ribuan Tawon Sungai!”


“Pergi dari sini!” Dakka memberi komando pada sekawanan-nya. Ia sendiri juga kabur begitu saja.


Arus Pasukan Tawon menggulung ke arah lari mereka ke segala arah, berloncatan, menjauhi area sungai. Dakka sempat meneriakkan sesuatu cukup lantang.


“Awas kalian berdua!” sebelum sosoknya menghilang ke pepohonan lebat di sana. Suasana sungai kembali hening. Dua kepala tersembul ke permukaan.


“Apa yang telah kau lakukan?” Taja menoleh ke sebelahnya.


”Pasukan Tawon bisa mencelakai kita juga,” Taja heran terhadap aksi nekad yang dilakukan Lorr En.


”Itu mantera yang tidak sengaja ’ku curi dengar dari senior,” jawab Lorr En apa adanya. Ia belum banyak berpengalaman menggunakan kemampuan magis itu. Taja geleng-geleng kepala. Apapun itu, Lorr En berusaha untuk melindunginya.


”Sudahlah, jangan dengarkan kata-kata Dakka, si pengacau. Selalu seperti itu bicaranya. Dia berduri dan usil, mewakili wataknya!” Lorr En menatap Taja.


“Mungkin dia benar, Lorr. Untuk apa kamu membelaku. Sekarang mereka juga menjauhi dirimu,” Taja balik menatap Lorr En. Sekujur tubuh si Katak jelas merona hijau lumut di bawah cahaya matahari yang nampaknya mulai terbit. Tak terasa pagi menyingsing.


...* * *...

__ADS_1


__ADS_2