The Chronicle Of Jawata (Edisi Trial Kompilasi)

The Chronicle Of Jawata (Edisi Trial Kompilasi)
21. Kelas Tabib


__ADS_3

”Apa katamu?” tanya murid senior seraya mendekat. Tak disangka, ia menanggapi seserius itu.


”Ng ... itu,” terlanjur berbicara dan tidak bisa mengelak dari pertanyaan balik, Lanting menunjuk ke suatu kendi berisi potongan akar-akar hitam, tiap ruasnya ditumbuhi sesuatu mirip taji unggas.


”O, itu ... untuk sementara ini, para dewan tabib menyebut hasil temuan baru ini sebagai Kantil Naga. Sejenis akar-akaran yang ditemukan di dekat sumber telaga di dekat Istana Putri. Semua yang ada di ruangan ini adalah herbal temuan terbaru, mungkin obat, mungkin juga racun," kata murid senior. Ia sempat melirik pada Lanting serius mengamati potongan akar dalam kendi yang di tangannya.


”Seperti ulasan para dewan juga tentang khasiat akar jenis ini, mereka berkesimpulan bahwa Kantil Naga hanya bermanfaat sebagai pereda demam,” lanjut senior.


”Kurang tepat! Ini bukan sekedar akar! Jika sudah dewasa umurnya kan menjadi umbi. Kami menyebutnya Rimpang Tindih. Tumbuhan obat yang ajaib untuk banyak penyakit bahkan luka berat sekalipun!” terlalu tiba-tiba jika Lanting harus menjelaskan pengetahuannya tentang akar tumbuhan yang menurutnya sudah tidak asing lagi.


”Apa kau pernah melihat ini sebelumnya?” tanya senior.


”Pernah," jawab Lanting.


"Di mana?” tanya senior lagi.


”Di ...,” Lanting. Untung saja masih tertahan di lidahnya sehingga urung dikatakannya.


”Di hutan tempat tinggal kami tentunya,” jawabnya berdalih.


”Hutan mana?”


”Tempat kami di suatu dataran seberang Jawata yang jauh,” jawab Lanting lagi dengan hati-hati, ”Rimpang tindih adalah penangkal sihir, penyembuh sakit gila dan mampu memulihkan kondisi tubuh akibat luka sangat berat,” terangnya.


”Dari mana kau tahu itu?”


”Setidaknya begitu menurut leluhur kami di sana,” jawab Lanting.


”O, ya?” senior menatap lekat mata Lanting. Senior hampir menanyakan lebih rinci lagi tentang tempat asal yang dimaksud, namun Lanting segera mengingatkan, ”Pelajaran di kelas pasti sudah dimulai!”


”Baiklah, kita ke sana!” pinta senior, mendorong meja kecil beroda empat dan penuh aneka bahan racikan obat di atasnya. Sedangkan Lanting membawakan sebagian buku-buku yang diperlukan.


”Suku kalian di hutan tidak benar-benar meminum darah serigala, bukan?” senior mengingatkan Lanting akan perkataannya pada saat kejadian di depan kelas belum lama tadi.

__ADS_1


Lanting tersipu, ”Sebenarnya, aku hanya sekedar menakuti mereka.”


”Sungguh tidak menyenangkan jika di suatu tempat, kehadiran kita tidak cukup diterima. Tetapi aku bersedia untuk membantumu jika kau membutuhkan teman belajar,” kata senior selangkah di depannya.


Lanting senang ada yang berkata seperti itu setelah selama ini tidak ada yang menawarkan pertemanan dengannya. senior si Murid senior itu tampaknya memang baik meskipun agak pendiam dan lebih tua dua tahun. Sepanjang ia memperhatikan cara berjalan senior yang agak gontai, Lanting tersenyum kecil. Diam-diam mencuri pandang padanya dan lagi-lagi tersenyum. Namun sepandai apapun Lanting menyembunyikan ekspresi itu, senior menangkap gelagatnya.


”Ada apa?” tanya senior, satu kesempatan memergoki Lanting tersenyum simpul.


”Berjalanlah terus!” pinta Lanting. Tak terpikir apapun oleh senior ketika terus melangkah namun Lanting diam di tempat.


”Ada apa?” tanya senior saat menoleh ke belakang.


”Berapa umurmu?” tanya senior.


”16 tahun," jawab Lanting, sekaligus balik menanyakan maksudnya.


”Mm ... menurutku ... kamu terlalu tegap untuk ukuran tubuh gadis belia," kata senior.


”Perawakanmu tinggi besar untuk gadis seumur 16 tahun,” kata senior membandingkan tinggi antara mereka.


Senior mendengus, ”Aku seniormu, jangan kurang ajar!”


Lanting sedikit tertawa.


”Andai kau pakai seragam praja, cocok sekali menjadi praja. Tampaknya kau bisa disebut tampan sekaligus cantik!” tawa senior pecah, namun Lanting geleng-geleng kepala.


Sementara itu di ruang kelas tabib, seratus murid duduk rapi di bangku masing-masing. Seorang guru tabib bernama Guru Tabib memulai pelajaran seperti biasanya.


”Buka catatan minggu lalu, kita akan melakukan praktik hari ini berdasarkan teori itu!” perintah Guru Tabib. Sebelum ia melanjutkan, kelasnya kedatangan sejumlah pengawal kerajaan. Guru Tabib keluar sebentar untuk membicarakan kepentingan mereka, sekembalinya ke ruang kelas, seorang putri bersamanya.


”Berdiri!” perintah Guru Tabib pada semua murid. Serempak semua murid yang duduk langsung berdiri.


”Beri hormat pada Putri!” lanjut Guru Tabib memberi aba-aba.

__ADS_1


”Hormat kami pada Putri Alingga!” bersamaan salam hormat terucap dari tiap murid dengan diiringi tubuh setengah membungkuk dan sebelah tangan kanan mengepal di dada.


”Duduk kembali!” aba-aba Guru Tabib mengakhiri salam penghormatan.


”Mulai hari ini, kelas kita kedatangan anggota dari kalangan istana. Putri Alingga akan menjadi bagian dari murid kelas ini.”


Hampir tidak dipercaya semua murid yang mendengar itu. Tidak pernah ada putri yang menjadi murid di sekolah Tanapura, karena biasanya keturunan atau keluarga raja selalu disekolahkan di kelas khusus bangsawan. Di tengah-tengah keheranan para murid, sebagian senang dan sebagian lagi bertanya-tanya bahwa ’apa alasan  yang mendorong seorang putri ingin menginjakkan kaki di Kelas Tabib?’


”Mulai hari ini aku menjadi murid kelas Tabib Tingkat Pemula seperti kalian, maka selama berada kelas ini, statusku sama seperti kalian. Tidak ada perbedaan perlakuan atas apapun. Jangan terlalu sungkan kepadaku dan bersikaplah sewajarnya!” kata Putri Alingga di depan semua murid pengobatan.


Semua mata masih tertuju pada putri yang melangkah ke bangku tersebut. Ada bangku kosong yang semula tak pernah dilirik seorang murid pun. Tetapi sekarang, kebanyakan dari mereka ingin mengisi bangku kosong tersebut.


Seruni tiba-tiba beranjak dari tempat duduknya, bergegas ke tempat putri.


Senyumnya semanis mungkin mengawali tatap muka dengan Putri Alingga lalu tanpa basa-basi lagi langsung menaruh setumpuk bukunya di bangku yang sama.


”Sungguh suatu kehormatan bila aku bisa duduk bersebelahan dengan putri,” sapa Seruni dengan seulas senyuman lagi.


”O, ya? Tetapi sayang sekali, kau terlambat. Bukankah ini tempat duduk Lanting sebelumnya? Nasihatku, tidak baik menggusur posisi orang lain,” halus tapi cukup menyinggung, perkataan Putri Alingga menusuk hati Seruni.


Semua murid dan Guru Tabib mendengar Putri Alingga berbicara. Air muka Serunai merona merah karena menahan malu. Sangat terpaksa ia kembali ke tempat duduknya semula dengan melempar senyum pahit.


”Maaf Guru, kami terlambat,” belum lama dari itu, senior muncul bersama Lanting dan membawa seperangkat alat serta bahan ramuan saru meja dorong.


Guru Tabib menyilakan mereka untuk masuk. Setelah itu, senior keluar, sedangkan Lanting menuju tempat duduknya. Betapa kagetnya ia saat melihat sosok Putri Alingga telah mengisi kursi di sebelah tempat duduknya yang selama ini kosong.


”Putri?” masih tak yakin kalau putri benar-benar duduk tersenyum di kursi sebelahnya.


”Ya. Ini aku,” setengah tak bersuara, cukup gerakan bibir Putri Alingga mengucap itu. Lanting berbinar senang melihatnya, ”Duduk di sebelahku?” balasnya dengan cara yang sama. Putri Alingga mengangguk kecil.


Suatu kebanggaan tersendiri bisa berdekatan dengan putri raja. Semua menginginkan itu, tetapi tidak semua bisa mendapatkan kesempatan seperti Lanting. Hanya pandangan murid-murid menyiratkan kecemburuan yang sama. Tetapi jadi berlipat ganda untuk Seruni.


”Lanjut ke pelajaran!” kata Guru Tabib memulai praktik.

__ADS_1


...* * *...


__ADS_2