The Chronicle Of Jawata (Edisi Trial Kompilasi)

The Chronicle Of Jawata (Edisi Trial Kompilasi)
3.16. Akademi Praja (2)


__ADS_3

Para penonton terperangah. Gentar terpancar dari wajah mereka, beralih satu persatu pada lima orang Praja Langit, berhadapan dengan lima orang Calon Praja. Mereka berpikir bahwa cara ini tidak cukup seimbang. Baik dari usia maupun kemampuan.


”Calon Praja melawan Praja Langit? Ini cara kurang waras! Tentu saja murid-murid senior itu jauh lebih tangguh dan tidak mudah dikalahkan. Bahkan untuk seimbang, itu sangat sulit!” gerutu Ketua Janewa, seperti itu pula yang terpikirkan semua penonton.


”Kita lihat nanti ...,” balas Komandan Morraya, tanpa lepas pandang ke tengah lapangan.


"Yang pertama, majulah!"


Raojhin juga membalas tatapan lima murid seniornya, mereka berbadan tinggi tegap dan lebih siap siaga. Tersirat dari cara mereka menatap, seperti tidak memiliki pengampunan bagi siapa saja yang dianggap pesaing. Bahkan menurut mereka, murid-murid tingkat Calon Praja bukanlah pantas disebut pesaing.


“Raojhin! Raojhin!!“ suara Ketua Sujinsha membuyarkan pikirannya. Tanpa sadar dia melamun lagi. Sekilas tatapannya jatuh pada seorang senior yang sudah berada di tengah arena memanah. Ia melempar senyum angkuh.


“Teruslah melamun. Pindah saja ke belakang!” suruh Ketua Sujinsha setelah berkali-kali panggilannya merasa diabaikan.


“Nun, Bintani, Humbiyin, Birrawa, Jathoyo. Kalian maju!” panggil Ketua Sujinsha berpindah pada lima murid lainnya yang dipilih dari daftar kelas. Tanpa basa-basi mengukur waktu, lima murid itu tergesa-gesa melangkah ke depan.


“Tunjukkan kemampuan terbaik kalian! Jangan membuatku malu, atau aku akan mengirim kalian ke pengasingan!“ lagi-lagi gerutu Ketua Janewa di tempatnya bersebelahan dengan Ketua Sujinsha.


Akhirnya, 5 Calon Praja dan 5 murid Praja Langit membentuk dua baris. Mereka mengangkat busur masing-masing dan siap dalam aba-aba.


“Target kalian adalah tepat titik merah!! Kerahkan tenaga yang kuat, jika tidak ... maka panah kalian akan terpental!” seru Ketua Sujinsha pada ke-sepuluh murid itu.


“Titik merah! Titik merah! Abaikan yang hijau!” serunya sekali lagi.

__ADS_1


Jauh puluhan meter dari sepuluh murid itu, target berbentuk lingkaran menggusur target yang biasa digunakan. Warna titik merah di antara titik hijau berbaur satu dalam hamparan bulat dari kayu yang diputar cepat.


“Target lingkaran dan berputar cepat! Itu sungguh-sungguh di luar pelajaran tingkat Calon Prajurit!!” dari barisan penonton, si Ketua Janewa protes keras pada para juri yang menilai.


“Itulah target untuk tingkat mahir!” sahut Komandan Morraya, hanya dia yang peduli akan Ketua Janewa.


“Ini tidak adil. Sangat Ini tidak adil! Mereka masih tingkat Calon Prajurit, bukan tingkat mahir, tentu saja tidak akan menyamai rekor murid kalian!” teriakan Ketua Janewa sambil setengah berlari ke tempat Ketua Sujinsha.


“Apa maksudmu? Ingin mempermalukan aku di depan orang sebanyak ini?” nafasnya memburu bercampur emosi.


“Apa?” Ketua Sujinsha mengulur waktu sebentar, “Apa aku tadi bicara begitu?”


“Kau sengaja ingin mempermalukan aku, latih tanding ini tidak seimbang! Bubarkan! Atau aku akan marah!”


“Tidak! Aku tidak akan membiarkan bertindak sesukamu!!!”


Cring!


Ketua Sujinsha bukan kalah bicara, dia segera menunjukkan liontin dari Paduka dan menggoyang-goyangkannya.


“Aku punya wewenang!” bantag Ketua Sujinsha tegas, tak mau mengalah tentunya.


Ketua Janewa memperhatikan liontin pertanda kekuasan khusus dari Paduka ada digenggaman Ketua Sujinsha, sungguh tidak terduga pria itu bisa memilikinya.

__ADS_1


“Anda membuat semuanya menunggu. Jadi, minggir saja sebelum aku lebih marah lagi!”


”Sebaiknya kau diam dan menonton saja!” sergah Komandan Morraya, secepatnya menyusul dan menarik lengan Ketua Janewa.


Kali ini Ketua Janewa benar-benar tidak bisa menyanggah lebih banyak lagi, Wewenang Ketua Sujinsha terlalu kuat dengan liontin itu. Akhirnya ia mundur dari area memanah dan kembali di barisan penonton.


Kemudian Ketua Sujinsha kembali ke posisi dekat wasit. Aba-aba telah dimulai.


“Angkat Busur!!!”


“Dalam hitungan ke-tiga. Siaaap!!!” lanjut wasit diikuti siap siaga sepuluh murid dalam posisi mereka.


“Satu … dua …!” setiap tarikan nafas dan degup jantung cepat, menegangkan Nun, Humbiyin, Kancha, Jathoyo dan Birrawa. Keringat mengucur dari dahi Nun, dia yang paling diandalkan. Empat praja lainnya jauh lebih canggung.


“Tiga!!!”


Anak panah pertama melesat dari masing-masing busur lalu menancap ke target, tetapi belum usai sekali saja. Si  Wasit segera mengulangi aba-aba kedua dan ketiga sampai akhirnya tiga anak panah telah dikerahkan setiap murid. Jumlah seluruhnya, 30 anak panah menancap di target yang perlahan berhenti berputar. Setelah itu, para juri menuju target dan menghitung hasilnya.


“14 panah hitam di titik merah, 1 panah hitam di titik hijau. Dan 10 panah putih di titik hijau dan 5 panah putih lainnya terpental ke luar!”


Hasil yang mengecewakan Ketua Janewa dan para penonton. Karena panah coklat adalah panah milik murid Calon Prajurit, itu berarti ada 10 yang mengenai titik hijau dan 5 lainnya meleset. Kesimpulan akhir, 15 panah coklat milik Nun, Humbiyin, Kancha, Birrawa dan Jathoyo, telah gagal mencapai target maksimal.


Rasa malu Ketua Janewa belum usai, ditambah riuhnya penonton tidak henti-henti menanggapi hasil buruk dari 5 murid Calon Prajurit. Ada yang mencibir, menertawakan, mencemooh, bahkan meludahi. Ketua Janewa sungguh-sungguh dibuat seperti kebakaran jenggot. Tetapi dia tidak mampu berbuat apa-apa untuk mempertahankan nama tenarnya sebagai Kepala sekolah di Tanapura.

__ADS_1


...* * *...


__ADS_2