
Suara-suara riuh, seperti sedang ada pergulatan di permukaan tanah berdebu. Sekumpulan orang sedang berlarian, menghindari area tanah sekitar.
"Ada apa? Apa yang terjadi?!" Taja menghampiri beberapa orang sedang bergelut di tanah. Sementara Tajura, tak menunggu aba-aba, segera mengayunkan Pedang Naar dan mengerahkan sekuat tenaganya.
Suara besi baja padat menghantam tanah sampai retak. Menganga lebar tanah sekitar hantaman Pedang Naar.
"Tarik dia!" Sejumlah orang memanggil kawanannya terjebak di antara retakan tanah. Terlihat beberapa pasang kaki dan tangan kesusahan meronta. Orang-orang segera menariknya ke permukaan.
"Kembali ke bebatuan!" Pekik Taja pada semua orang di sekitarnya. Mereka segera berlarian, menjauhi tanah. Tertinggal Taja dan Tajura saja.
Sekali lagi Tajura memukul Pedang Naar ke tanah. Bongkah-bongkah tanah kering berbaur pasir berhamburan ke atas.
"Heah!!!" Teriak Tajura sambil memukul lagi dan lagi. Mengejar sesuatu bergerak dari kedalaman tanah, bersembunyi dan menyisakan jejak retakan setiap kali Pedang Naar menghantam tanah.
Tanah berguncang. Pedang Naar bertubi-tubi memecah tanah. Tiba-tiba suara menggelegar dari kedalaman tanah, dan sesosok terpelanting ke permukaan. Tubuhnya dipenuhi pasir dan tanah. Juga tulang-belulang berhamburan kemana-mana.
Tubuh kekar berguling-guling ke tanah, bergelut dengan belalai-belalai menyerupai ular berduri, membelit seluruh tubuhnya.
"Lorr!" Taja ambil langkah cepat menuju posisi seseorang itu berguling di tanah.
"Cuih! Enyah lah, makhluk hina!" Taja melemparkan bilah-bilah Tapak Akar dari tangannya, lalu meludahi dan memaki belalai-belalai membelit tubuh Lorr En. Seketika makhluk-makhluk itu menggeliat, menyusut kering, kemudian meleleh.
Lorr En tersengal-sengal. Terbatuk-batuk.
"Lorr!" Taja mengusap tanah dan pasir di tubuh temannya itu.
"Uhuk!" Tanah tersembur dari mulut.
"Di mana Raojhin?" Taja mengkhawatirkan temannya satu lagi.
"Dia... juga terhisap... ke tanah...," di tengah nafas belum sepenuhnya pulih, Lorr berbicara sambil terbatuk.
Sementara itu, tampak Tajura sibuk memukul tanah. Berulang kali. Sampai permukaan tanah sekitarnya semakin berhamburan. Hujan tulang-belulang dari kedalaman berbaur bongkah-bongkah tanah, pasir, dan kerikil.
Sesosok tubuh terlempar ke atas. Terdengar suara teriakan ke angkasa ketika seonggok tubuh terpelanting.
"Aaagh!!!" Tubuh itu mendarat keras ke tanah disertai suaranya mengerang kesakitan.
"Raojhin!" Taja menghampiri sosok yang tersungkur di sana. Tubuh berlumur tanah pasir dan sejenis lendir hitam.
"Cepat kembali ke kubah perisai!" Teriak Taja sambil menarik Raojhin agar segera bangkit.
Tak henti-hentinya, Tajura menghujani tanah dengan pukulan Pedang Naar. Sementara Taja dan Raojhin berlari menuju area bebatuan dengan pelindung cahaya berbentuk kubah. Orang-orang sampai lebih dulu di sana segera menarik Taja dan Raojhin memasuki bebatuan.
"Tajura!" Taja menunggu saudaranya menyusul.
"Jangan! Tetaplah di sini! Sangat berbahaya jika menyusul Tajura!" Pemimpin Pasukan Bayangan, Ketua Sujinsha segera menahan Taja sebelum bertindak. Mereka semua mengamati pergerakan tanah seperti banyak makhluk dari kedalaman, berusaha menangkap langkah kaki jika menapak di atasnya.
"Tetaplah kalian di atas bebatuan!" kata Ketua Sujinsha lagi.
"Tajura sendirian!" Pekik Taja hendak memaksa keluar dari kubah perisai.
"Tidak!" Ketua Sujinsha melarang sambil menahan lengan Taja.
__ADS_1
Terdengar suara deru baku baku hantam antara tanah dan pukulan benda keras terdengar dari posisi kubah perisai, tempat berkumpul semua orang dalam rombongan itu. Tidak lama kemudian, suasana kembali sunyi hening.
"Tajura...?" Taja mencemaskan saudaranya tak kunjung muncul.
"Apa dia baik-baik saja?" Semakin cemas Taja menunggu kemunculannya.
"Dia tangguh!" Ketua Sujinsha masih menahan lengan Taja.
Tiba-tiba langkah kaki mendarat di atas bebatuan. Sosok Tajura mengayunkan pedangnya. Semua orang berbalik. Tajura muncul tak terduga, dari arah belakang mereka semua berlindung di dalam kubah cahaya pelindung.
"Tajura. Kamu membuatku khawatir!" Taja menyambut Tajura begitu melangkah masuk dalam kubah perisai.
"Hanya cacing-cacing pengganggu," gerutu Tajura. Menetes lendir hitam dari permukaan Pedang Naar di tangannya.
"Cacing?" Semua orang mengernyitkan dahi. Heran dan tegang.
Makhluk-makhluk mistis dari kedalaman tanah, nyaris semua orang terhisap dan tidak selamat. Tetapi bagi Tajura, hanya dianggap cacing? Kira-kira seperti itu dipikirkan hampir setiap orang.
Ini hari kedua semenjak rombongan itu memasuki kawasan Lembah Arwah. Sejauh kawasan kering kerontang tanah berpijak, rombongan yang terdiri dari empat pemuda, yakni Taja, Tajura, Raojhin, dan Lorr En, ditambah 20 orang anggota Pasukan Bayangan di bawah pimpinan seorang ketua bernama Sujinsha. Mereka bersatu dalam perjalanan untuk keluar dari Lembah Arwah. Seorang lagi dalam rombongan itu, seorang gadis bergaun merah, kedua tangan terikat dan sepasang matanya terikat pula pita perak menutupinya. Dia duduk agak menjauh dari semua orang namun masih dalam kubah perisai.
"Kenapa kalian keluar dari kubah perisai? Apa tidak mendengarkan kata-kataku?" Taja tak habis pikir. Semua orang sudah tahu agar jangan keluar dari batas kubah perisai berbentuk cahaya.
"Alhirri. Jangan melewati batas ini," tambah Taja mengingatkan lagi.
Alhirri, begitu sebutan perisai cahaya berbentuk kubah. Satu-satunya perisai magis yang dikeluarkan Taja untuk melindungi semua orang dalam rombongan.
Beberapa orang nyaris kehilangan nyawa akibat terhisap dan sempat terkubur. Tampak sangat kesakitan, ia mencoba menjelaskan.
"Aku mendengar... seperti ada suara gemercik air. Aku pikir bisa mencarinya sebentar."
Rupanya beberapa orang mendengar suara air yang menipu dan menarik perhatian untuk keluar dari kubah perisai. Namun ternyata, semuanya terjebak.
"Aku berusaha menolong, tetapi ikut terhisap tanah!" Lorr En menimpali.
"Aku... juga...," Giliran Raojhin menambahi alasan yang sama.
"Beruntung Taja dan Tajura segera datang dan menolong kalian semua," Ketua Sujinsha sangat menyayangkan kejadian yang hampir membuat mereka semua menjadi korban Lembah Arwah.
"Makhluk apa kira-kira yang menghisap manusia dari kedalaman tanah?" Beberapa orang saling bertanya heran. Penasaran akan keberadaan makhluk-makhluk mengintai setiap saat dan memburu semua orang. Seolah tanah di sini menelan siapapun yang hidup dan menapak di atasnya.
"Penghisap Jiwa," Taja menjawab semua orang-orang yang belum mengetahui tentang sebenarnya makhluk itu.
"Porah Doragh, makhluk Penghisap Jiwa," Lorr En pun menimpali. Tampaknya dia pun lebih dulu mengetahui tentang makhluk-makhluk pemburu dari kedalaman tanah.
"Porah Doragh?!" Semua orang mendengar sebutan itu, terdengar asing dan aneh.
"Itu makhluk jejadian. Penghuni Lembah Arwah," kali ini Tajura angkat suara.
"Mereka dibangkitkan di tempat ini. Menyebar di seluruh Lembah Arwah. Pusatnya di Reruntuhan Benteng," lanjut Tajura lagi.
Orang-orang mendengarkan dengan penuh ngeri. Baru diketahui, makhluk sejenis itu.
"Jika kalian terhisap, maka kalian akan menjelma seperti makhluk-makhluk itu juga," kata Tajura semakin menambah kengerian semua orang.
__ADS_1
Tajura menyodorkan seikat pundi air untuk semua orang, tampak letih dan kehausan.
Aroma air dalam pundi itu sangat tidak enak. Tetapi tidak ada pilihan lain.
"Sebentar saja aku pergi mencari air, kalian keluar dari kubah perisai. Tidak mendengar kata-kataku," Tajura sedikit mengeluh.
"Dari mana kamu mendapatkan airnya?" Ketua Sujinsha menanyakan itu.
"Aku mencari sisa-sisa pohon mati, ada persediaan air tertahan di akar dan batang. Tetapi tidak banyak," begitu jawab Tajura sambil melihat suasana langit mulai gelap.
"Malam ini, kita terpaksa menginap di sini. Kalian tidurlah. Biar aku yang terjaga," kata Tajura mempersiapkan diri dan semua orang untuk beristirahat.
"Taja, seberapa lama kemampuan Alhirri?" Tajura beralih tanya pada Taja.
Sebentar Taja memperhatikan kekuatan jemarinya.
"Aku rasa, Alhirri dapat bertahan sampai tengah malam," jawab Taja.
Tajura beralih ke semua orang.
"Sekarang, semuanya beristirahatlah. Jangan membuang waktu. Kumpulkan tenaga kalian. Kita akan bergerak tengah malam nanti," kata Tajura memimpin rombongan.
Taja membuka sebungkus berisi puluhan pil. Hanya dari itu, pasokan tenaga untuk semua orang bertahan sampai saat ini. Ditambah air berbau yang sangat langka dan harus berhemat.
"Pil Mujarab Serbaguna," Raojhin memutar seraya memperhatikan sebutir pil dari Taja. Tak segera meminumnya.
"Aneh. Hanya sebutir, mampu memulihkan tenaga dan menahan rasa lapar," gumam Raojhin. Tak terasa, Taja singgah di sampingnya.
"Tetapi sangat terbatas, beruntung kita memiliki Pil Mujarab Serbaguna," Taja segera menelannya. Raojhin pun menelannya.
"Pil Mujarab ini, pemberian Ki Ratma," kata Taja membuat Raojhin terbelalak.
"Ki Ratma?!" Raojhin menyebut nama itu sambil melotot pada Taja. Baru saja Raojhin menelannya. Seseorang dengan nama itu memiliki reputasi sangat buruk. Pengkhianat Tanapura.
"Dia, ayah tiri-mu, Rao," kalimat Taja membuat Raojhin tersedak. Taja menepuk-nepuk punggung Raojhin supaya tenang.
"Apa? Ayah tiri-ku?!" Raojhin ternganga, antara tak percaya dan tersirat marah di mukanya membayangkan sosok Ki Ratma.
"Simpan tenaga-mu, Rao. Jangan emosi," Taja mengurungkan emosi Raojhin.
"Segera tidur. Kita akan bergerak tengah malam," Taja merebahkan diri, tidak jauh dari Raojhin ikut rebah juga.
"Ayah tiri...?" Masih terdengar gumam Raojhin berbaring di sebelah Taja.
"Kenapa bisa...?" Gumam Raojhin gundah.
"Ssst ... tidurlah, Rao ...," Taja mendesis, bergerak ke samping membelakangi Raojhin. Lalu suasana hening. Semua orang terbuai lelah dan terlelap. Kecuali hanya Tajura terjaga, mengawasi waktu bergulir dalam naungan malam kian larut.
Purnama hampir penuh bernuansa darah menghiasi ufuk timur nan megah. Bayang-bayang masa silam terbayang jelas dalam pikiran Tajura tentang tempat ini.
Lembah Arwah. Terlingkup kekuatan magis dalam kurun waktu sangat lama. Kawasan seluas samudra pasir dan tanah, tersebar terjal dan bebatuan di mana-mana.
Lembah Arwah, dahulu kala wujudnya lautan pepohonan hijau, tetapi berubah seperti sekarang ini akibat pembantaian besar-besaran antara dua kubu pasukan manusia. Pasukan Pembantai dan Prajurit Kakilangit. Kilas balik peperangan, tampak oleh Tajura dalam keheningan pikirannya. Jejak kejadian tragis masa silam terukir sangat nyata. Jerit ribuan manusia berbaur kesakitan, kematian dan kutukan.
__ADS_1
...* * *...