
Tidak biasanya pagi sedingin ini. Menelan kesunyian Ruthian yang hening. Cahaya Sang Surya menyeruak ke celah-celah ranting, menerobos celah-celah rerimbunan daun. ‘Kesedihan’ di benak Taja, merontokkan daun-daun sepanjang pepohonan hilir sungai.
Taja tengah menyendiri. Akhir-akhir ini, ia menjauh dari kebanyakan penghuni Gunggali. Cukup lama mematung, tenggelam separuh di tepian sungai. Menjelang pagi, ia masih berada tempat itu tanpa peduli menggigil tubuhnya.
“Ini adalah waktumu …,” bisik Taja pada dirinya sendiri mengingat kalimat seorang perempuan tak dikenal, akhir-akhir ini hadir dalam mimpi. Kesedihan merasuki jiwanya, tidak pernah terjadi sebelumnya, Taja selama ini bersama hawa bahagia. Tetapi semenjak mimpi itu, kebahagiaan makin sirna seutuhnya.
"Siapa dia ...? Siapa wanita itu ...?" tanya Taja lirih. Terdengar oleh dirinya sendiri.
“Aku tahu yang ‘kurasakan,
Karena memang aku berbeda ….
Hidupku tidak semuanya bahagia ....
Air mata telah menyentuh hatiku ....
Sangat dingin … sangat sunyi ….”
Tanpa sadar bibir Taja berkata-kata dalam bahasa Syair Gunggali.
“Siapa aku? Siapa Ibuku? Siapa Ayahku?” gumam Taja dalam kesendiriannya.
“Mengapa liontin ini, mengusikku hampir setiap hari? Apa hubunganku dengan liontin ini, mengapa banyak orang Gunggali, menginginkan aku pergi dari sini?”
"Kenapa?"
Serentetan pertanyaan tanpa jawaban, mengurung Taja. Sehelai pakaian hijau dikenakannya sampai batas pinggang, basah kuyup. Sama sekali tak disadari, ada yang mengintip dari balik rerimbunan pohon tepian sungai. Di antara akar-akar tua bergelayutan itu, dua sosok menyembulkan kepala.
“Lihatlah, Elkas! Dia melakukannya lagi, akhir-akhir ini dia sering berbicara sendiri, berendam selama setengah hari. Menurutmu, sebenarnya dia sedang apa?” tanya Sorra, bertubuh tegap, rambut ikal coklat terang, telinganya sangat lancip, semua jari-jari tangan dan kaki berwujud akar-akar pohon.
“Entahlah, Dakka. Apa mungkin dia sudah berubah sepenuhnya menjadi Orang Jawata?” Seseorang bernama Elkas balik tanya pada Dakka.
Elkas berperawakan lebih kecil. Usia lebih muda. Rambutnya ikal lebat merah tua. Tersembul kepalanya dari rerimbunan.
”Hati-hati! Pasti si Katak itu berada di sekitar dia!” Dakka menarik pundak Elkas.
”Oo, kamu takut pada si Katak itu?” Elkas menyeringai.
”Asal bicara! Si Katak itu terlalu enteng mulut. Omelan mulutnya jauh lebih berbahaya dari racunnya!” Dakka membela diri karena merasa lebih kuat dari kebanyakan orang sepantaran dirinya. Elkas surut di bawah sorot mata Dakka.
“Ia menemukan liontin yang sudah lama hilang ...,” Dakka berdecak pinggang sambil terus mengawasi Taja yang berada jauh puluhan kaki di depan mereka.
“Di mana dia menemukan liontin itu? Apa berhubungan dengan asal-usulnya?” Tanya Elkas di belakang Dakka. Tapi yang diajaknya bicara, tidak menjawab, hanya melirik tajam dan melayangkan kepalan tangannya.
“Aw! Kenapa memukulku?“ Elkas terkejut, satu bogem mentah mendarat di ubun-ubunnya.
“Itu untuk kebodohanmu! Mana aku tahu di mana dia menemukannya?” Dakka sewot tanpa sungkan.
Elkas melotot, meskipun tidak berani membalas, “Aku hanya tanya di mana dia mendapatkan liontin itu? Tidak perlu memukulku!”
Dakka berlagak tidak peduli.
“Ssst, jangan berisik! Nanti dia mendengar kita!” Hardik Dakka, mengacungkan telunjuk di depan mulut. Sesaat mereka kembali mengawasi Taja di kejauhan sana.
“Menurutmu, di mana dia menemukan liontin itu?” Elkas mengulang pertanyaan yang sama. Mukanya langsung surut dalam tatapan Dakka yang melotot. Cepat-cepat Elkas bersiaga kalau-kalau Sorra yang galak itu akan memukul lagi.
“Tidak tahu, bodoh!” ketus sekali, Dakka menjawab singkat sekaligus berpaling.
“Huh! Bahkan kamu sama bodoh denganku!” Balas Elkas tidak mau kalah.
“Sudah aku katakan. Diam lah!“ Sentak Dakka, kali ini sambil menimpuk mulut Elkas.
“Auw!” Lagi-lagi Elkas mengaduh keras.
__ADS_1
Gemersik daun-daun menyita perhatian Taja. Ia menoleh ke sekitar rerimbunan pohon bakau bergerak-gerak di sana. Terkesan mencurigakan, dan tidak salah lagi jika merasa dirinya sedang diintai.
Beberapa saat kemudian, rerimbunan pohon bakau di sana kembali tenang. Bukan berarti penasaran Taja hilang, justru mendorongnya untuk bergerak ke hilir. Aneh menurutnya ketika mendekati pepohonan bakau, tiba-tiba terdengar suara seperti sesuatu jatuh ke air, berasal dari rerimbunan.
Tidak ragu lagi, Taja segera hinggap di antara akar-akar bakau. Suasana sekitar tampak sunyi.
Blub! Blub!
Suara gelembung air mengejutkannya.
“Keluarlah, kalian! Jangan bersembunyi dalam air!“ teriak Taja sambil mengawasi sekeliling.
“Keluar!“ teriak Taja sekali lagi. Hanya kesunyian menyambut curiganya. Tidak ada siapapun muncul dari balik rerimbunan atau ke permukaan air.
Blub! Blub!
Gelembung-gelembung makin sering muncul, mengitari akar-akar bakau tempat Taja berpijak. Sampai satu kesempatan, satu bayangan dari dalam air, melesat gesit, mendekat, lalu hilang. Taja bingung mengikuti arah bayangan mengelilingi dirinya.
Byar!
Sekejap mata, sesosok muncul ke permukaan air, tepat di depan Taja.
Plak!
Tanpa sempat berpikir, Taja melayangkan tamparan keras padanya.
Dan sosok itu terjungkal ke dalam air, gelagapan, sambil menggapai-gapai ke atas. Tampak sepasang tangannya yang khas penuh bercak hijau.
”Lorr!” Taja mengenali sosok itu.
“Lorr ... Kamukah itu?”
“Puff …!”
Ternyata, sesosok katak muncul ke permukaan, menyemburkan air sepenuh mulutnya. Sepasang mata besarnya melotot dan hidung tenggelam di dekat moncong. Dua tangannya berjari sepuluh, menyatu selaput dan berlendir.
“Jahat! Menamparku sekeras itu, bisa-bisa aku pingsan!” Lorr En kesakitan.
“Eist …,” ujar Taja lembut.
“Aku mengira Dakka dan teman-temannya menggangguku lagi, jadi …,” Taja tersenyum geli sebelum kalimatnya selesai.
“Begini saja, tampar aku dua kali cukup keras, bagaimana?”
“Hei, memangnya aku sejahat itu! Jika sudah menamparku, ya sudah ..., tidak perlu membalas. Lagipula kau tidak sengaja dan sudah minta maaf?” balas Lorr En.
“Kamu membuatku merasa bersalah,” ungkap Taja.
“Sudahlah, lupakan. Lagipula sakitnya sudah hilang,” Lorr En tersenyum. Kerut-kerut otot dan bercak-bercak loreng yang menyelimuti kulit tebal di raut mukanya perlahan-lahan menyusut. Kedua bola matanya berangsur-angsur mengecil. Lalu separuh punggung yang bungkuk menjadi tegak.
Selanjutnya, wajah Lorr En berubah sempurna. Seperti itulah ia, selalu menjadi katak jika terkena air sungai dan akan kembali sebagai sosok sempurna dengan hidung, mulut, sepasang mata, tangan dan kaki jika tubuhnya telah mengering.
“Hei, apa yang sedang kau lakukan di sini, Taja?” Lorr En tiba-tiba ingat tujuannya. Sebelumnya, dia telah mencari Taja ke banyak tempat, sampai akhirnya ke sungai bakau.
Taja kebingungan menjawab pertanyaan Lorr En, “Aku ....”
“Ada apa?” Lorr En heran melihat sikap temannya yang gugup tidak seperti biasanya.
“Tidak ada apa-apa,” jawab Taja sambil berbalik dari hadapan Lorr En.
“Jangan berpura-pura tenang ...,” Lorr En menyeret panjang nada suaranya, ”Kuharap kau segera menemui aku setelah mendapat kebenaran atas semuanya. Sudah dapatkah? Berhari-hari ini, kamu seakan menghilang? Sengaja menghindar?” Lorr En mengekor di belakang Taja mentas dari air.
Tanpa tanggapan berarti, Lorr En kembali bertanya, ”Ada apa sebenarnya?!” kali ini tidak sabar lagi.
__ADS_1
”Sudahlah!” Taja balik menggertak lebih keras.
”Mengapa tidak berterus terang padaku?” Lorr En merasa Taja menyembunyikan sesuatu.
”Kamu tidak menganggap aku teman lagi, maka aku akan pergi!” Lorr En nyaris melompat ke air lagi, tapi Taja lebih dulu menggencat.
”Bukan maksudku seperti itu!” ujar Taja tegas meski agak parau.
”Apa ini?” Lorr En menyentuh cairan bening di pipi temannya itu.
”Aku juga tidak tahu, tetapi ketika mataku berair, rasanya pedih. Seperti tersayat-sayat di sini ...,” Taja sendiri tidak mengerti, sementara sebelah tangan lainnya menunjuk ulu hati.
”Aku tahu kalau kamu menyembunyikan sesuatu. Pasti karena liontin yang kamu temukan kemarin,” Lorr En menatap lekat wajah sedih temannya.
”Shammure hampir merenggutnya dariku. Sama sekali tidak ingin menjelaskan semuanya! Selama ini, ia tidak pernah mengatakan apapun tentang siapa sebenarnya diriku,” kata Taja sedih.
”Jangan bicara seakan-akan aku bukan temanmu, kita akan mencari jawabannya bersama-sama!” Lorr En berkerling alis. Taja bangkit.
”Bagaimana caranya? Kamu tahu sendiri, mereka semua bungkam tentang aku!” kata Taja.
Lorr En terdiam, sejenak berpikir. Membuntuti Taja beranjak di antara pohon.
”Aku tidak ingin melibatkanmu!” kata Taja namun tidak menghentikan Lorr En mengikutinya.
”Kita berteman, bukan?!” teriak Lorr En tertinggal jauh, kehilangan jejak Taja.
”Taja, tunggu aku!” masih terdengar teriakan Lorr En memanggilnya. Tetapi Taja sungguh-sungguh tidak ingin peduli. Ia lebih dulu keluar tepian rerimbunan bakau, bergerak ke tengah hutan.
Sejauh Taja menelusuri pepohonan, tiba-tiba tanpa terduga, segerombolan peri daun muncul dari semak-semak tinggi dan menghadang. Satu di antaranya yang memimpin tampak tidak asing.
”Dakka? Mau apa lagi kalian?” was-was, Taja mundur. Dakka pasti berniat tidak baik.
”Ingin tahu bagaimana kematian ibumu?” Dakka menawarkan sesuatu, sembari tangan berakar-akar tajam langsung mencengkeram lengan Taja kuat-kuat.
”Aaargh! Lepaskan aku!” Taja berontak dalam keadaan kedua kakinya tercengkeram oleh Dakka yang jauh lebih kuat sampai-sampai terseret ke arahnya.
”Jika aku menjadi dirimu, pasti aku sudah melarikan diri dari Gunggali!”
”Tidak lucu!” Taja menghardik.
”Aku tidak sedang melucu!” Dakka balas menghardik lebih keras.
”Mengapa kau suka sekali menggangguku?” Taja bertahan dalam kesakitannya.
”Karena sebagian darahmu itu, Orang Jawata serakah!”
“Pergilah dari Gunggali atau aku yang akan membuatmu terusir!” kata Dakka kasar.
”Mengapa aku harus pergi? Gunggali rumahku!” Taja membela diri.
”Karena kamu, keturunan Orang Jawata. Tidak sepantasnya berada di antara kami!” Dakka menarik lengan Taja dan membantingnya ke semak berduri.
Taja terhempas, mengaduh kesakitan. Sementara itu, puluhan sekawanan di belakang Dakka mengulas senyum-senyum antipati.
”Orang-orang Jawata. Manusia-manusia serakah dan perusak!” kata Dakka merendahkan, mondar-mandir di sekitar Taja terbenam ke semak belukar. Tak sempat bangkit di bawah bayang-bayang gelap sosok Dakka yang jangkung.
”Orang Jawata. Dalam dirimu mengalir darah itu! Bangsamu, menyebabkan kematian ayah-ayah kami!” teriak Dakka lantang.
”Aku tidak mengerti maksudmu! Aaargh ...!” Taja kesakitan, kaki Dakka penuh akar-akar runcing menohok tubuh Taja.
”Tidak mengerti? Terlalu lama Gunggali menyimpan rahasia ini. Aneh, kamu merasa tenang!” Dakka mendengus marah.
”Teman-teman, bawa dia ke Calpera!" perintah Dakka pada sekawanan-nya dan mereka menurut saja.
__ADS_1
Taja berontak, sengatan kuku Dakka membius kesadarannya.
...* * *...