
Makhluk apa penghisap manusia? Seakan tanah di sini menelan siapapun yang hidup dan menapak di atasnya.
________
Angin menerpa kencang.
Seseorang berdiri di puncak bebatuan terjal. Kedua pandangan matanya sejurus mengawasi luasnya lembah bertuah di hadapan mata. Sosok itu berpakaian jubah berwarna gelap rangkap jirah menyerupai sisik kadal. Topeng moncong kadal menggantung di punggungnya. Sebilah pedang berkarat tergenggam di tangan, ujung pedangnya menghadap ke tanah.
Seseorang memanggil sesosok itu bergeming dalam konsentrasi pikirannya.
"Tajura...."
Dipanggilnya dengan nama itu, perlahan ia menoleh. Tegas sepasang matanya melihat ke arah belakang. Terdengar suara langkah kaki menapak bebatuan, sedang menuju padanya. Seseorang pemuda lain sebaya dirinya, datang menghampiri.
"Tajura, apa yang harus kita lakukan selanjutnya?" Tanya seseorang berdiri di sebelahnya, sambil menyentuh pundak seorang pemuda mengenakan jirah sisik kadal bernama Tajura. Pemuda itu terlihat serius pandangan matanya menerawang ke arah kejauhan, memperhatikan seksama keadaan sekeliling lembah sunyi senyap.
"Taja, aku tidak yakin," Tajura menjawab lirih pada seseorang di sebelahnya, "...tidak ada jalan keluar dari lembah ini. Kita semua terjebak. Satu-satunya jalan keluar, menuju reruntuhan benteng."
"Ke sanalah tujuan kita," lanjut Tajura, menandakan bahwa hanya dirinya dari sekian orang dalam rombongan. Hanya dia yang dapat memperkirakan rencana selanjutnya. Sejauh ini, Lembah Arwah dan lokasi yang disebut 'Reruntuhan Benteng', terdengar asing bagi lainnya.
Belum sempat bertanya lebih banyak tentang reruntuhan yang dimaksud, ada sesuatu lebih dulu menarik perhatian Taja. Ia melirik sebentar ke arah tangan Tajura. Sebilah pedang berlapis karat tebal sampai tak rata bentuknya. Hampir menutupi seluruh badan pedang itu. Sehingga bentuknya nyaris tak dikenali sebagaimana pedang pada umumnya yang layak dipakai seorang ksatria. Dari jarak beberapa langkah, senjata itu bahkan menyerupai tongkat.
"Itukah senjata terbaikmu?" Antara serius dan tidak, Taja menyinggung perihal pedang di genggaman tangan Tajura.
"Kenapa? Apakah terlihat sangat buruk?" Tajura balik bertanya.
"Aku lebih khawatir kegunaannya, berfungsi baik atau tidak," jawab Taja.
"Setidaknya aku bisa memukul musuh dengan pedangku ini," Tajura sedikit mengangkat pedang berkarat coklat kehitaman terbentang di antara kedua tangan. Perlahan disentuhnya permukaan pedang itu. Penuh karat. Sangat kasar. Tidak rata. Tak terlihat lagi dua sisi pedang yang tajam. Ujungnya pun terlihat tumpul akibat karat menumpuk dalam waktu lama.
"Sama sekali tidak tajam. Itu lebih mirip tongkat atau pentungan," jawab Taja, heran saja sembari ikut menyentuh fisik pedang milik Tajura. Saudaranya itu sebentar tersenyum simpul, namun tak lepas tatapan matanya masih tertuju pada pedangnya.
"Aku berhasil menggali Dunia Bawah paling dalam demi mendapatkan pedang ini setelah terkubur sekian puluh tahun."
'Pedang Berkarat. Heran jika ada pedang separah itu namun masih berfungsi. Apa mungkin?' Pikir Taja tertahan dalam bungkam.
"Jangan hanya dilihat tampilan fisiknya yang busuk seperti ini," seakan Tajura tahu isi pikiran Taja.
Sekedar menjawab rasa heran, Tajura menjelaskan lagi, "Kamu belum tahu kemampuannya."
__ADS_1
"Pedangku ini, bernama Pedang Naar. Salah satu pedang dari Sembilan Pedang Legenda, warisan Sembilan Guru yang sudah lama hilang," kata Tajura lagi. Memperkenalkan secara singkat, nama pedangnya.
"Pedang Naar?" Taja mengernyitkan dahi. Ini pertama kali ia mendengar nama pedang itu.
"Pedang Naar, artinya pedang bertuah energi intisari kekuatan api. Lima jenis api dari neraka," tak segan lagi Tajura menjelaskan lebih banyak.
"Nama lainnya... Pedang Neraka."
Tajura sangat antusias menjelaskan semua pengetahuannya tentang sebilah pedang di tangannya itu.
"Benarkah?!" Taja semakin tak percaya.
Dibalas seulas senyuman Tajura di raut muka dingin, bangga lantaran memiliki senjata berwujud pedang berkarat itu. Taja belum tahu apa kehebatan Pedang Neraka dengan bentuk fisik sama sekali tak mengerikan seperti namanya.
"Menurutmu, Pedang Mengikuti Tuan? Atau... Tuan Mengikuti Pedang?" Tajura bertanya dengan seuntai kalimat, seketika Taja teringat seseorang dengan pedang tersohor akan kemampuannya. Terbayang sebuah kalimat terpatri di pedang berkilau memukau bak berlian di depan mata.
"Tuan Mengikuti Pedang, itulah semboyan Pedang Jantung Hati milik Shiji Wungsu!" Tegas Taja ketika mengatakannya. Membayangkan keelokan Pedang Jantung Hati yang cantik namun mengerikan. Nama pemiliknya terdengar tidak asing bagi Tajura.
"Shiji Wungsu?!" Tajura ingat jelas seseorang dengan nama itu. Ia melirik Taja, tertahan air muka heran dan aneh di wajahnya.
"Rupanya, kamu mengenal dia?" Lanjut Tajura.
"Ya. Kami bertemu di Tanapura. Dia hampir menyerang-ku dengan Pedang Jantung Hati," kenang Taja mengulas kejadian yang sudah berlalu, ketika pertemuannya dengan Shiji Wungsu, pengalaman itu membekas jelas sampai sekarang. Sangat tidak ramah.
"Kamu menanggung celaka gara-gara aku?" Tanya Tajura sambil menghela nafas, lalu membuang pandangan ke sekeliling.
"Shiji Wungsu...," Tajura mengingat bagaimana muka keturunan Lelaki Mayapadhi bernama Shiji Wungsu. Pengalaman sengit dirinya pernah menghadapi sejumlah orang-orang Sekte Mayapadhi di bawah pengaruh kepemimpinan Shiji Wungsu dan ayahnya, Penguasa Mayapadhi. Hubungan di antara mereka, sangat bermasalah.
"Dia dan pedangnya...," Taja tak langsung melanjutkan kalimatnya. Teringat kejadian sewaktu Pedang Jantung Hati terasa menarik jiwanya, berdampak tak sadarkan diri berulang hingga berhari-hari. Tak terbayangkan jika pedang itu sampai menusuk atau menyabet tubuhnya.
"Dia hebat tetapi bukan yang paling hebat," kata Tajura. Kembali memperhatikan pedang berkarat miliknya.
"Pedangku ini setara untuk melawan Pedang Jantung Hati milik Shiji Wungsu," sangat percaya diri, Tajura mengatakannya.
"Sungguh?" Taja hampir tak percaya.
"Berkarat separah ini mampu melawan Pedang Jantung Hati?!" Taja benar-benar sulit percaya walaupun sangat ingin percaya. Diperhatikan dari sisi manapun, tak akan ada yang percaya jika pedang berkarat mampu melawan pedang sekelas Jantung Hati.
"Semua pedang yang tergabung dalam Persekutuan Lima Pedang. Di luar lima pedang, Pedang Naar adalah yang ke-enam. Dua pedang lainnya tenggelam tanpa diketahui di mana sekarang," kata Tajura lagi.
__ADS_1
"Sedangkan ada satu lagi, Pedang Memimpin Pedang, tersimpan secara rahasia di Tanapura," Tajura semakin menjelaskan. Sangat tahu betul rupanya, saudaranya itu perihal Pedang Legenda. di bawahan asuhan Kakek Guru-nya, dia mendapatkan wawasan jauh lebih luas.
"Benarkah?! Ada Pedang Legenda di Tanapura?" Sangat mengejutkan Taja tentunya. Kali ini pertama mengetahui hal itu. Selama tinggal di Tanapura, ia bahkan belum pernah mendengar tentang keberadaan pedang itu.
"Hanya Penguasa Tanapura yang tahu secara mendalam tentang pedang itu. Itulah sebabnya, aku pernah diam-diam berusaha menyusup ke Tanapura tapi tida berhasil," lanjut Tajura.
"Pedang itu tersembunyi sangat rahasia," kata Tajura agak berbisik sampai-sampai Taja dibuat berpikir keras.
"Hei, apa yang sudah kau lakukan pada Shiji Wungsu. Kenapa dia sangat dendam padamu?" tiba-tiba Taja mengalihkan pembicaraan.
"Ah, dia lagi," Tajura membuang pandangan. Sedikit enggan sebenarnya jika harus membahas Shiji Wungsu.
"Dia pasti bercerita yang bukan-bukan tentang aku," Tajura menduga-duga.
"Apa kamu percaya padaku, Taja?" Tajura bertanya balik pada saudaranya itu.
"Kamu menyebabkan kematian ayahnya. Penguasa Mayapadhi. Benarkah?" Taja memberanikan diri untuk menanyakan hal itu. Setelah sekian lama dipendam, akhirnya pertanyaan itu sampai juga pada Tajura. Tentu saja Tajura terkejut mendengar perihal kematian Penguasa Mayapadhi, tampak dari ekspresi mukanya tegang dan alis berkerut serius. Namun sebaik mungkin ia menyembunyikan perasaannya.
"Kamu lebih percaya padanya, atau padaku?" Tajura berbalik tanya. Sejurus tatap mata tegas menerka jawaban Taja.
"Itu sebabnya aku bertanya padamu sekarang," jawab Taja.
"Aku tidak membunuh ayahnya," hanya itu jawaban Tajura.
"Lalu mengapa kalian...?" tak sampai Taja menyelesaikan kalimatnya, Tajura lebih dulu menyela.
"Sudahlah, Taja. Keadaan kita sedang genting. Membahas dia, tidak mengubah situasi sekarang ini," Tajura terlihat enggan, menghindari pembicaraan lebih lanjut mengenai penyebab kematian Penguasa Mayapadhi. Apa kaitan kematian orang itu dengan Tajura.
"Taja!"
Terdengar dari kejauhan, suara teriakan memanggil nama Taja. Pembicaraan Tajura dan Taja terhenti. Sontak kaget keduanya menoleh ke sumber suara. Seorang tergopoh-gopoh melambaikan tangan ke arah mereka.
"Tuan Birwa, ada apa?" Taja menghampiri lelaki dengan membawa tameng besi berdiri di antara permukaan bebatuan di sana. Lelaki praja, anggota dari Pasukan Bayangan, mengenakan jubah abu-abu bercorak kamuflase pasir.
"Mereka nekad keluar dari kubah perisai!" Lelaki bernama Birwa itu, nafasnya tersengal-sengal dan tergesa-gesa mengatakannya. Mukanya penuh khawatir dan tampak tidak tenang.
"Raojhin atau Lorr?!" Taja menebak siapa gerangan yang dimaksud.
"Mereka berdua!" jawab Birwa.
__ADS_1
Taja dan Tajura bergegas, mengikuti Birwa pergi.
...* * *...