
Malam menyelimuti. Tak ingin berbuat apa-apa, ketiga pemuda terbuai kelamnya Gunggali. Masuk tidak bisa. Keluar juga enggan. Taja lemas bersandar di rerumputan dengan bunga-bunga.
"Rumput terakhir Gunggali, aku akan berakhir bersama kalian," Taja meracau tak karuan, seakan berbicara dengan hamparan rumput sekitarnya. Sedangkan Lorr En dan Neirra tidak jauh di sisi Taja, mengamati perubahan cuaca berubah kelam. Ketiganya berkumpul dalam naungan kubah cahaya pelindung Alhirri.
"Cahaya Alhirri melindungi, sekaligus mengungkung kita," Lorr En berbicara sambil memperhatikan sekeliling lingkaran kubah cahaya. Dinding cahaya menjadi pembatas antara dirinya dan dunia luar.
Taja tak semangat rupanya. Seperti orang linglung bicaranya ngelantur.
"Aku tidak akan pergi, walaupun di bawah ancaman ujung senjata sekalipun, aku tidak mau!" bersikeras, Taja mengulang kata-katanya.
"Taja ...," bisik Neirra terpaku dalam ketakutan di sebelah Taja berbaring. Pandangan matanya menerawang kosong.
"Taja ..., apa yang harus kita lakukan?" Lorr En merebahkan diri, namun tak dapat tenang. Rasa lelah kantuk menyerang hebat. Tertidur juga ia di sisi Taja.
Sementara Neirra, paling akhir terjaga. Mengamati Taja dan Lorr En bersebelahan terlelap.
Lelah mendera ketiganya di dalam naungan Alhirri. Makin gusar Taja terjaga berulangkali.
Lorr En sepertinya pulas. Sedangkan Neirra terlelap dalam posisi duduk bersandar di sisi bebatuan sekitar.
Gerah dan hawa panas menjalar sekujur tubuh. Seakan gelagat alam hampir meledakkan dirinya. Taja bahkan belum menyadari kiranya pertanda apa itu.
Tiba-tiba langit bercahaya disertai letupan langit dari ufuk timur dan barat. Belum pernah dilihatnya alam mencekam seperti ini.
__ADS_1
"Hhh ....," Taja terbangun, suara memecah dari ufuk mengejutkan dan membangunkan dirinya.
Melangkahi dinding cahaya Alhirri, Taja gontai berjalan dengan tatap mata sejurus ke titik ufuk barat. Kilas cahaya petir sambar menyambar dari sana.
Zztassh .... duarrrr ...!!!
"Apa itu ...?!" Taja terpaku di tempat, mendelik lebar kedua bola mata Taja menyaksikan apa yang dilihatnya. Halilintar menggelegar memecah kesunyian.
Disusul tanah bergetar, seakan gempa bumi perlahan. Terlebih aneh lagi, rerumputan beterbangan bercampur percik api yang muncul dari sekitar tanah retak.
"Apa ini ...?!" Taja panik namun tak mampu tubuhnya bergerak. Tak sempat pula ia berteriak tanda situasi berbahaya. Susul menyusul, kilat menyambar angkasa disertai halilintar keras, mengguncang langit dan bumi sekitarnya dalam sekali waktu.
"Serangan ...!!!" suara-suara membahana, para Laskar Penjaga perbatasan muncul. Siaga semua orang menghadapi sesuatu yang disebut serangan entah apa itu.
"Serangan ...!!!"
Terdengar jerit orang-orang laskar penjaga, menyongsong ke arah kilat menyambar.
"Taja!" Lorr En muncul begitu saja, menarik lengan Taja sekaligus mengejutkannya.
"Berlindung!" Lorr En menarik Taja sampai keduanya memasuki area kubah cahaya pelindung.
"Apa yang terjadi?!" Taja belum tahu kiranya yang sedang terjadi. Situasi berubah mengancam dan kacau balau.
__ADS_1
Angin kencang, hujan api dan air berbaur jadi satu. Disertai jerit pilu dari luar area kubah.
"Serangan penyihir!" Neirra menyadari keadaan darurat. Mereka bertiga terguncang getaran tanah di bawah kaki. Kubah cahaya tiba-tiba meletup pecah. Api menyembur dari tanah. Air menerpa tubuh mereka bertiga.
Tak sempat bertindak apapun, tiba-tiba sekejap mata, halilintar menggelegar setelah cahaya putih sangat menyilaukan mata. Saking menyilaukan hingga tak tampak apapun sekitar tempat di sana kecuali kilat cahaya putih saja.
Sebuah hempasan seluas tempat itu. Taja terhantam kekuatan ledakan halilintar.
"Aaaargh!"
Jerit Taja redam bersama halilintar memekakkan telinga.
"Ergh ...," rasanya semua alam sekitar mendadak tuli. Bising dan terngiang suara di telinga Taja. Sakit tubuhnya terhempas di permukaan bebatuan.
Samar-samar suara memanggil Taja.
"Taja ...."
"Taja ...."
Terlalu memekakkan telinga, siapa yang memanggilnya, Taja belum tahu. Sayup-sayup suara itu menggugah kesadaran Taja.
"Taja ...."
__ADS_1
...* * *...