
Keesokan pagi di Istana Putri.
“Ini semua karena ulahmu, Shan. Kamu membuatku seperti perempuan,” ketus Lorr En bersungut-sungut, sambil berkali-kali mengulang sulamannya selalu gagal.
“Seandainya kamu tidak memaksaku keluar dari persembunyian, tidak akan ketahuan jika aku menyusup ke Istana Pusaka, maka aku tidak akan dihukum seperti ini. Menyulam seperti perempuan!“ omelnya.
Shaninka tidak jauh dari Lorr En, sedang menyulam selembar kain. Ia menoleh dengan muka kecut, “Kenapa kamu tidak menyalahkan dirimu juga, siapa suruh menyusup ke Istana Pusaka? Kalau sudah begini, kenapa cuma aku yang disalahkan?“ Shaninka tidak kalah sewot.
“Huh!” Lorr En menghela nafas, “Apa kata orang-orang jika melihat aku menyulam seperti ini, pasti aku jadi bahan ejekan!“ Lorr En belum usai menggerutu.
“Aku tidak sedang marah padamu, hanya menggerutu sendiri. Jika tidak suka, jangan didengarkan!“
“Bagaimana aku tidak dengar kalau aku berada di sini bersamamu?” Shaninka tidak mau kalah, sambil berpaling punggung.
“Huh!“ melihat Shaninka bersikap seperti itu, Lorr En membuang muka. Untuk beberapa waktu mereka saling membisu.
“Ssst, ada apa ini? sejak tadi aku dengar kalian berisik terus!“ Putri Alingga datang tanpa diduga mereka berdua. Melihat ia datang, kedua wajah anak itu berubah, tidak setegang sebelumnya.
“Jadi kalian tidak terima hukuman yang aku berikan ini? menurut kalian, apakah ada hukuman yang lebih pantas dari ini? Atau lebih baik Ayahanda-ku saja yang memutuskan hukuman yang pantas untuk seorang penyusup?“
“Hamba mohon, jangan lakukan itu, Putri!“ pinta Lorr En. Putri Alingga tersenyum simpul melihat gelagatnya.
__ADS_1
“Hamba mohon, Tuan Putri berbelas kasih untuk dia. Jika ada yang disalahkan, maka itu salah hamba, tidak bisa menasihatinya dengan baik agar tidak keluyuran malam-malam.“
“Itu tidak benar, Putri! Hamba yang bersalah. Entah kenapa penasaran sekali ingin melihat pesta … dan … ng ….”
“Mengintip para dayang menari? Juga tamu-tamu cantik?” Putri Alingga menyela kalimat Lorr En, dan anak lelaki itu langsung menyeringai karena malu. Dia bingung harus melanjutkan kata-kata apalagi, akhirnya dia biarkan putri menyinggung seperti itu meskipun itu bukan jawaban yang sebenarnya. Sebenarnya, rencananya semalam adalah menelusuri sebuah marga terpampang dalam Babad Silsilah Leluhur Tanapura di Istana Perak.
Lorr En melirik ke arah Shaninka sejak tadi meliriknya. Dia yakin hanya gadis belia itulah yang tahu tentang rencana sebenarnya.
“Kalian bohong!” kata Putri Alingga, suaranya halus tapi cukup mengejutkan mereka berdua.
“Aku bisa merasakannya. Ada sesuatu yang kalian sembunyikan. Katakan padaku apa itu?” suara Putri Alingga datar tapi tegas. Shaninka dan Lorr En saling memandang lalu tertunduk karena tidak bisa menjawab apa-apa.
“Maaf, tetapi hal ini adalah pribadi. Mohon pengertian Putri!“ akhirnya Shaninka menjawab juga.
“O, begitu? Baiklah, jika memang itu rahasia kalian. Jika aku tidak boleh tahu, tidak apa-apa. Tapi aku juga tidak akan memberi toleransi hukuman untuk kalian. Sudah bagus aku yang menghukum kalian daripada Ayahanda Paduka yang menghukum! Selesaikan sulamannya, kalian harus menggantikan semua pekerjaan menyulam selama dua hari ke depan!“ nada suara Putri Alingga makin tegas. Sembari dia berbalik arah dan hendak meninggalkan mereka di ruangan tenun berduaan.
“Ini tidak bijak dan sama sekali tidak adil! Aku dan Taja datang menolong Putri. Jika tahu seperti ini jadinya, kami tidak akan bersusah payah mengorbankan nyawa untuk Menangkap Bunga Ajaib demi menyelamatkan nyawa putri Tanapura!“ Lorr En tidak bisa mengendalikan emosinya. Dia bangkit dan berkata sedemikian itu membuat langkah Putri Alingga terhenti. Shaninka sendiri sangat terkejut dengan sikap Lorr En yang tiba-tiba berubah kasar. Entah dia kesurupan atau memang kemarahannya sudah tidak bisa terbendung lagi sampai berani bicara kasar pada Putri Alingga.
Putri Alingga menoleh dan mundur ke posisi sebelumnya, tentu ia terkejut melihat sikap Lorr En. Putri sangat tidak percaya itu. Sementara, Shaninka salah tingkah.
“Apa maksud kata-katamu? Aku tidak pernah meminta salah seorang dari kalian untuk mengobati aku. Kalian sendiri yang sengaja mengikuti sayembara itu demi imbalan menjadi murid Praja Tanapura, kenapa tidak minta sepeti emas atau harta berlimpah. Jadi kamu tidak perlu menjalani segala peraturan dan hukuman akibat pelanggaran!“ Putri Alingga berbalik emosi, mukanya yang cantik dan polos berubah merah padam. Itu tidak membuat nyali Lorr En ciut, dia justru semakin membusung di hadapan Putri.
__ADS_1
Melihat sikap Lorr En tidak hormat, membuat Putri Alingga mengambil keputusan pintas.
“Baiklah! Aku akan melaporkan hal ini pada Ayahanda Paduka. Sepertinya memang hanya beliau yang pantas bertindak. Karena putri sepertiku tidak pantas menasihatimu tentang tata tertib!“ Putri Alingga berbalik lagi dan bergegas menuju pintu. Sedangkan Shaninka yang kebingungan setengah berlari menyusul.
“Hamba mohon Putri, mamaafkan dia. Dia, tidak akan pernah nekad begini jika kami tidak merasa sangat khawatir dan ketakutan …,” Shaninka bersimpuh di kaki Putri Alingga. Tapi Lorr En yang berada jauh di belakangnya membuang muka ke dinding, dia masih kesal.
“Sudahlah, tak perlu memohon ampunan untukku. Tidak akan mengubah keadaan! Kita akan tetap dihukum seperti Taja. Hanya buang-buang waktu!“ teriak Lorr En.
Putri Alingga tidak mempedulikan kata-kata Lorr En, dan beralih perhatian ke Shaninka yang sedang bersimpuh iba di ujung kakinya.
“Aku sungguh tidak mengerti tentang masalah kalian, kenapa tidak kalian ceritakan padaku apa yang sedang terjadi? Lalu bagaimana aku bisa memahami kalian jika kalian tidak terbuka padaku?” Putri mencoba untuk berkepala dingin. Seandainya Lorr En dan Shaninka bukan teman Taja yang telah mengobati Putri, pasti sudah dilaporkan.
“Kami tidak bermaksud membangkang atau meremehkan Putri, tetapi … apa yang bisa dilakukan seseorang bila sahabatnya sedang dalam keadaan tidak baik. Karena itu kami bersikap seperti ini, kami khawatir, sedih, dan selalu merasa tidak tenang selama teman kami masih ada di Pemukiman Sawo. Bagaimana keadaannya sekarang, apakah dia baik-baik saja atau tidak, kami juga tidak tahu … bahkan tidak ada kabar darinya hingga hari ini,” Shaninka berkaca-kaca dan tidak sanggup melanjutkan kata-katanya lagi.
“Apa yang kalian maksud, adalah Taja?“ Putri Alingga menarik lengan Shaninka agar dia berdiri. Shaninka mengangguk kecil sebagai jawaban singkat atas pertanyaan sang Putri.
“Taja sedang dalam masa hukuman, mohon Putri memaafkan praja Lorr.”
Putri Alingga tertegun sejenak, duduk di salah satu kursi berjejer di sepanjang meja alat tenun. Lalu dia menyarankan sesuatu, “Begini saja, aku akan bantu kalian pergi dari negeri ini. Aku akan memohon pada Ayahanda Paduka agar memberi surat izin pengunduran diri dan kebebasan kalian untuk segera meninggalkan Tanapura.”
...* * *...
__ADS_1