The Chronicle Of Jawata (Edisi Trial Kompilasi)

The Chronicle Of Jawata (Edisi Trial Kompilasi)
4.47.


__ADS_3

“Sang Putri segera sembuh karena akan ada seseorang yang menolongnya,” jawab Purwa. Mendengarnya, Taja diam beberapa saat memikirkan tafsir mimpi Purwa.


“Kau pasti mengada-ada,” Taja tidak yakin omongan Purwa sungguh-sungguh.


Purwa jadi cemberut, “Kau sama saja dengan yang lain! Mereka selalu meledek setiap kali aku menafsir puisi…lalu untuk apa kau ingin aku menceritakannya? Pergilah ke tempatmu...aku  mau tidur!” Buru-bruru Purwa menarik selimut tebalnya.


“Sssst…jangan berisik! Kau bisa membuat yang lain bangun. Maaf, tidak ada maksudku meremehkanmu…hanya tidak yakin apa kau benar-benar bermimpi begitu. Apa benar mimpi itu berkaitan dengan Sang Putri?”


“Jadi kau tidak percaya?” Purwa membuka selimut yang menutupi wajahnya.


“Bukan begitu, aku hanya merasa ….”


“Merasa apa?”


“Aku merasa … berkaitan dengan puisi dalam mimpimu?”


“Hmm, begitu … bisa jadi kamu pelaku dalam puisi itu,“Purwa berpendapat sama.


“Apa? Pelaku?” Taja terbelalak.


“Ya, begitulah…,” Purwa garuk-garuk kepala, cemberutnya pun sudah hilang.


“Inilah pertemuan angsa kecil dan anak malapetaka.. Jadi…jika angsa kecil adalah Putri Alingga, apa mungkin anak malapetaka itu adalah aku, begitu maksudmu?”


“Aku tidak berkata begitu, tetapi…dalam mimpi itu…aku juga melihat seorang anak laki-laki sepertimu. Mirip sekali! Bahkan aku pernah melihat langsung dengan mata kepala sendiri sekali seumur hidupku,“ Purwa mengenang kembali peristiwa yang dia sendiri lupa entah terjadinya, sudah terlalu lama.

__ADS_1


”Saat itu…karena terlambat kembali setelah mandi, aku mengambil jalan memutar lewat taman istana belakang. Kebetulan yang tidak masuk akal, saat aku sedang melewati telaga di kawasan itu, ada yang bergerak cepat sekali, menyeruak ke semak-semak rimbun. Lalu...tersumbul kepalanya dan berdiri ke arahku. Sekilas dia menatapku juga, mungkin karena aku terlanjur memergokinya. Dan entah apa yang sedang dilakukannya waktu itu. Aku hanya kenal wajahnya dari baliho-baliho kota yang menyebutnya sebagai buronan Jawata.”


“Lalu?”


Kedua bola mata Purwa seakan membayangkan ke masa yang sedang terjadi saat itu, “Tentu saja aku jadi gemetaran, apalagi setelah yakin bahwa dia benar-benar buronan yang dimaksud…kukira dia akan membunuhku seperti sebuatan orang-orang bahwa anak itu adalah Iblis Pembunuh. Tetapi ternyata tidak, dia malah terjun ke telaga.”


“Siapa dia, Purwa? bagaimana ciri-cirinya?” tanya Taja lagi. Tetapi Purwa bungkam, tidak mau mengatakannya lebih lanjut.


“Katakan, Purwa!” Taja menggoyong-goyangkan genggaman tangan anak bertubuh paling kecil di antara teman-teman sebayanya.


Purwa menggeleng cepat, sebenarnya bukan dia tidak tahu melainkan enggan mengatakannya.


“Kenapa? apa kau takut?” Taja heran melihatnya.


“Dia sudah mati. Aku tidak berani menyebut namanya karena kematiannya sangat mengerikan,” jawab Purwa beringsut dalam selimutnya kembali.


Purwa menggeleng lagi, “Bukan. Karena dieksekusi di Tanapura.”


Taja tertegun, matanya menyipit tegang, “Eksekusi di Tanapura?”


“Sudah cukup. Sekarang kembalilah ke tempatmu, aku mau tidur!” suara Purwa tertekan di tenggorokan.


“Tunggu, kau pasti tahu namanya! Katakan padaku siapa dia?” Taja menggencat selimut Purwa.


“Tidak mau!” Purwa cepat-cepat menarik selimut, tubuhnya melingkar dan membelakangi Taja kecuali dua kakinya menyembul.

__ADS_1


Taja tidak semudah itu menyerah, inginnya bersikukuh agar Purwa mengatakannya, “Ayo katakan, Purwa! Sekali saja katakan namanya, lalu aku akan membiarkanmu tidur…atau aku akan menggelitik kakimu sampai pagi.“


Purwa menggeliat-geliat geli ketika jari-jari Taja merayap mulai dari telapak kaki hingga betis, “Baik…baik…baik, aku akan menulisnya saja!”Akhirnya ia menurut saja. Segera diraihnya olehnya secarik kertas dan pena dari bulu burung di meja samping pembaringan.


“Aneh…kenapa kau begitu penasaran? Asal kau tahu saja…penasaran itu tidak baik, hanya akan menjerumuskanmu…,” celoteh anak itu sambil menuliskan sesuatu dia atas kertas.


“Sekarang aku mau tidur, jangan ganggu aku lagi atau…aku akan berteriak. Selamat malam larut!” kata Purwa sebelum meringkas kertas itu menjadi 4 lipatan dan menyodorkannya pada Taja. Lalu ia kembali rebah di atas kasur empuk dan menarik dengan selimut rapat-rapat.


Taja kembali ke tempatnya berbaring.


Suasana sangat sepi, tinggal dia sendirian yang masih membuka mata. Di bawah cahaya remang-remang sejumlah lampion sebagai satu-satunya penerangan malam di ruang itu, dibukanya lipatan secarik kertas di genggaman, dan sesuatu tertera dari tulisan tangan Purwa.


Taja tak berkedip, sesaat terkesiap saat membaca tulisan singkat itu.


’TAJURA’


Tiba-tiba ia teringat kembali akan ketenaran nama seseorang yang tidak pernah dikenalnya sama sekali, tetapi selalu seakan terkait erat dengannya. Nama itu juga yang telah membuat dia dan dua temannya ’terdampar’ di Tanapura, bahkan berulang kali membawa mereka pada banyak kesulitan.


Renungnya dalam malam, setiap kali bertanya-tanya pada diri sendiri tentang kaitan antara ia dan Tajura yang sering disebut-sebut banyak orang sebagai Anaka Malapetaka. Sudah banyak malam dihabiskan untuk memikirkan sosok si pemilik nama itu, membuat Taja semakin suntuk dalam sekian pertanyaannya sendiri, tentang semirip apa ia dengannya atau hanya sekedar kebetulan saja, namun tak satu pun kejelasan sebagai jawaban untuk semua itu selain puisi jam 12 berkumandang lagi dan menghentikan renungannya.


’Satria bisu dibunuh bulan mati


Raja tertawa, air mata darah  dan muka merah


Waktunya si Tikus bernyanyi!’

__ADS_1


Disusul suara genta ditabuh dua kali.


...* * *...


__ADS_2