
“Aku menyuruhmu datang ke sini besok, kenapa sekarang?“ ujar Raojhin mendekat.
“Aku ingin menemuimu sekarang. Rasanya besok terlalu lama bagiku,” jawab Taja dengan nafas sedikit naik turun. Raojhin berdiri, belum lepas mata memperhatikan Taja yang baru dikenalnya siang tadi. Secara kebetulan bertemu di arena tarung melawan senior Bintani.
”Jangan menganggap bahwa kita berteman! Ayo ikut aku!” ajak Raojhin tanpa basa-basi dan tak ramah pula. Tanpa bertanya, Taja mengikut saja. Kemudian dua murid itu melewati koridor mengarah ke Istana Kitab. Tidak ada penjagaan berlebihan, akhirnya cukup mudah untuk mereka masuk ke sana.
“Penasaran atau terburu-buru? Untung saja aku pulang lebih cepat, kalau tidak mereka sudah pasti akan mempermainkanmu," dari Raojhin bicara, ada secercah perhatian dan khawatir Raojhin pada Taja. Walaupun terdengar ketus.
"Mereka semua yang menghuni kamar 243, bukan temanku! Tidak ada yang namanya teman bagiku!" tambah Raojhin makin ketus.
"Berhati-hatilah jika berada di Istana Praja Sayap Kanan,” kata Raojhin, menyisir buku-buku di rak kayu setinggi dua kali tubuhnya. Sesekali dia mengibas udara debu di depan mukanya.
Taja menoleh, “Aku khawatir jika besok tidak sempat menemuimu atau kamu yang tidak sempat menemuiku,“ jelas Taja, sibuk mencari-cari buku di rak berseberangan dengan Raojhin.
“Hei, bisakah kau ambil kitab lontar di atasmu?“ belagak senior, agak menyuruh pula, Raojhin menunjuk ke satu gulungan kitab lontar terletak di rak paling atas.
“Tidak sampai,“ balas Taja setelah mencoba meraihnya tetapi terlalu tinggi, “Aku butuh kursi lebih tinggi," kata Taja balik tanya. Raojhin mengangkat bahunya.
“Lupakan, kitab itu tidak bagus. Kita cari yang lain saja!” Raojhin kembali sibuk pada buku-buku di depannya, “Nah, dapat! Kemari dan bawa buku apapun yang kau dapat juga!“ seru Raojhin beberapa saat kemudian. Segera dia turun dari kursi pijakannya dan menuju sebuah meja kosong. Taja mengikut saja.
“Kitab apa itu?“ tanya Taja sama sekali tidak mengerti saat melihat Raojhin menaruh sebuah buku sangat tebal dan tampak usang.
“Jurus Pedang,“ jawab Raojhin singkat sambil membuka dan membolak-balik gulungan kitab tersusun dari ratusan bilah lontar.
“Payah! Tidak ada lagi,” kata Raojhin lirih tapi Taja jelas mendengarnya.
“Tidak ada lagi apanya?“ Tanya Taja.
“Semua jurus di sini sering terpakai,“ jawab Raojhin lalu menutup buku itu keras-keras.
“Apakah tidak boleh dua atau tiga tim memperagakan jurus pedang yang sama?”
“Tidak masalah, tetapi akan menjadi masalah adalah perbandingan nilai. Kamu ingin dibandingkan lebih rendah dari yang lain? kalau memang begitu, untuk apa kita datang ke tempat ini? Minta saja tim sebelah kamarmu untuk mengajari kalian jurus pedang yang sama," kata Raojhin.
__ADS_1
“Jadi, boleh ‘kan?“ Taja asal menebak tetapi justru Raojhin mengangguk.
“Tentu boleh, tetapi tujuan kita ke sini untuk mencari jurus yang berbeda!”
“Kalau tidak ada lagi terpaksa pakai jurus yang sudah dipakai tim lain juga tidak apa-apa!” balas Taja.
“Bisa saja, tetapi bersiap-siaplah menjadi budak Bintani atau Birawa. Pasti mereka akan mendapat nilai lebih baik karena jurus yang dipakai lebih dulu terlatih. Carilah jurus yang berbeda, tidak umum dan tentu bagus! Itu baru namanya kompeten, bukan sekedar ujian harian,” kata Raojhin.
“Ini ujian seluruh murid, bukan?“ Taja ingin memastikan.
“Kamu masih belum mengerti juga rupanya. Kita di sini satu sama lain saling bersaing menjadi praja unggul. Jadi gunakan jurus yang berbeda adalah salah satu cara jitu. Dari ratusan murid, setengahnya menggunakan jurus yang sama, sekitar puluhan saja yang ahli dalam jurus berbeda!“ Raojhin menatap tajam Taja.
"Tidak meniru jurus orang lain. Pilih jurus pedang yang berbeda. Itu kuncinya?” paham Taja.
“Bagus! Itu akan menjadi nilai lebih dan poin khusus untuk tim,“ jawab Raojhin, sedangkan Taja cuma mengangguk, “Lalu, aku harus bagaimana?“ Taja menunggu ide.
“Kita harus membereskan buku-buku ini segera, lalu ikutlah aku!“ ajak Raojhin lagi.
“Ke mana lagi?“ Taja segera membantu Raojhin membereskan buku-buku itu ke tempat semula.
Mereka bergegas keluar Istana Kitab, lalu melewati halaman belakang istana.
“Naik kuda?“ tanya Taja ketika Raojhin mampir ke pangkalan kuda lebih dulu.
“Ya, biar lebih cepat sampai ke tempat latihan,“ Raojhin membantu Taja naik ke punggung kuda bagian belakang. Sesaat kemudian. kedua anak itu melesat dengan kuda yang mereka tumpangi.
Dalam beberapa waktu tidak lama, sampai juga keduanya di depan tempat Berlatih Pedang.
“Belum pernah naik kuda?!“ sindir Raojhin. Demikian juga Taja, tersenyum segan, “Apa kamu bersedia mengajariku cara berpacu kuda?“
“Jadi benar, kamu belum pernah naik kuda?!“ Raojhin berdecak. Taja menggeleng saja.
“Saat di Sekolah Rakyat, kamu pernah belajar apa saja?“ tanya Raojhin.
__ADS_1
“Sekolah Rakyat? Apa itu?“ tanya Taja. Melihat gelagatnya benar-benar tidak tahu tentang Sekolah Rakyat, Raojhin heran.
“Kamu, manusia dari dunia mana?“ saking herannya, Raojhin mengernyitkan dahi. Mereka berhenti tepat di dekat tempat pelatihan pedang.
“Aku sungguh-sungguh tidak tahu apa itu Sekolah Rakyat?” Taja membuat Raojhin geleng-geleng kepala.
“Hei kalian, sedang apa di sini?“ seorang penjaga menyambut kedatangan mereka.
“Kami hendak berlatih,“ jawab Raojhin.
“Tunjukkan liontin tanda izin," pinta penjaga.
Raojhin mengeluarkan liontin dari balik jubahnya dan menunjukkannya.
“Baiklah, kamu boleh masuk!” kata penjaga.
“Kamu, tunjukkan liontin-mu!“ giliran Taja diminta menunjukkan liontinnya.
“Mm …,” Taja bingung, untung Raojhin bicara.
“Dia datang bersamaku! Siapapun yang datang bersamaku, aku membawa liontin emas ini, maka dia juga boleh masuk bersamaku,” kata Raojhin.
Penjaga berpikir sebentar, “Mm, baiklah, tetapi jika terjadi apa-apa, kamu yang bertanggung jawab,“ kata penjaga itu.
Raojhin mengangguk, “Baiklah, Tuan ...,“ ujarnya. Kemudian Raojhin dan Taja memasuki tempat pelatihan. Di tempat itu, terdapat perpustakaan khusus menyimpan berbagai macam kitab jurus pedang.
Area luas tampak sepi, hanya beberapa orang di sana. Kehadiran Taja dan Raojhin disambut tatapan serius orang-orang di sana.
“Raojhin, aku merasa gugup di sini …,” kata Taja, mengikuti Raojhin memasuki perpustakaan kitab pedang.
“Raojhin ...,“ panggil Taja agak tertahan.
"Sst, jangan berisik!“ Raojhin menoleh dan meletakkan jari telunjuk di depan mulut.
__ADS_1
...* * *...