
Lorr En tersentak, Shaninka juga terkejut mendengar perkataan Putri.
“Kenapa? Bukankah itu lebih baik dari pada kalian terus berada di sini dengan banyak hal yang menyulitkan. Jadi, kalian bisa melanjutkan misi entah apa itu. Mungkin … sebagai petualang?“ Putri Alingga heran melihat raut muka Lorr En dan Shaninka mendadak berubah tegang.
“Nng … sebenarnya … ada sesuatu yang sedang mereka cari di Tanapura,” Shaninka berdalih dari yang sebenarnya. Pandangannya bolak-balik antara Lorr En dan Putri Alingga.
“Lorr sedang mencari apa?“ Putri Alingga heran.
“Ng ...,” bibir Shaninka agak bergetar. Apalagi Lorr En mulai melotot kalau-kalau Shaninka hendak mengatakan semuanya.
“Bukan sesuatu, tetapi seseorang …,” kata Shaninka dan berhasil membuat tatap tajam Lorr En surut.
“Seseorang? Siapa dia?” Putri Alingga bertanya penasaran.
“Seorang lelaki dengan marga,” jawab Lorr En singkat sekaligus mengalihkan jawaban sesungguhnya.
“Ya. Itu asal usul dan latar belakang Taja!” jawab Lorr En tegas. Tanpa disadari oleh Putri Alingga, Shaninka keheranan karena jawaban Lorr En.
“Latar belakang keluarga Taja?” Putri Alingga semakin heran. Saat Lorr En tampak kelabakan untuk menjelaskan, Shaninka buru-buru menyela.
“Itulah yang membuat Taja tertarik untuk menjadi Praja Tanapura, dengan cara mengikuti sayembara Menangkap Bunga Ajaib. Tujuan mereka hanya satu, yaitu agar mereka dapat masuk ke istana Tanapura dan menelusuri latar belakang seseorang bermarga.
”Itulah asalan mengapa bukan harta benda yang mereka minta sebagai imbalan.”
__ADS_1
”Begitulah! Sekarang sudah jelas, bukan? Terserah apa yang akan dilakukan Putri sekarang terhadap kami,” giliran Lorr En berbicara.
Lorr En melirik Shaninka. Manusia memang lebih mudah berbohong atau berdalih dari hal yang sebenarnya. Namun ia lega karena Shaninka telah menolongnya dari jawaban sebenarnya. Ia tidak tahu apa yang akan terjadi jika harus mengatakan semua tentang target sebenarnya adalah, sebuah pusaka legenda yang terdapat di Istana Pusaka.
“Tentang kejadian semalam, itu karena Lorr ingin mencari nama marga dari daftar Silsilah Leluhur Tanapura. Atas kelancangan kami, mohon dimaafkan,“ pinta Shaninka merendahkan lutut dan segera menundukkan kepalanya lagi.
“Memang kesalahan kami. Mohon Putri mengampuni. Kedatangan kami dengan sembunyi-sembunyi ke sana hanya untuk memastikan apakah orang Lintarwangi adalah salah satu penghuni istana ini,” Lorr En bersikap sama, ia juga bersimpuh seperti yang dilakukan Shaninka.
“Jadi begitu. Mengapa tidak berterus terang saja sejak awal? Itu akan lebih memudahkan kalian mencari jawaban. Bahkan aku bisa membantu kalian,” Putri berpaling, ”Berdirilah, aku memaafkan kalian dan tidak akan melaporkan hal ini pada siapapun!”
Lorr En dan Shaninka tersenyum lebar, ”Terima kasih, Putri!” sahut mereka bersamaan.
”Ngomong-ngomong tentang bangsawan yang kalian cari, tidak ada bangsawan bermarga Lintarwangi yang tinggal di Tanapura. Tentang hal itu Ayahanda Paduka lebih tahu semua leluhur Tanapura. Aku heran, kenapa kalian tidak bertanya sejak dulu? Mengapa tidak bertanya saja sejak awal kepada Ayahandaku?” Putri Alingga bertanya hal yang membuat Shaninka dan Lorr En terpaksa mengunci mulut.
“Kami ... memilih cara kami sendiri …,” jawab Lorr En membuat Putri Alingga merasa tidak dibutuhkan, “Baiklah, tetapi jika terjadi kesulitan seperti ini apa kalian bisa menanganinya sendiri? Oh, Sayang sekali … sepertinya ini bukan tanggung jawabku,“ Putri Alingga berpura-pura tidak peduli.
“Kami hanya ingin Putri mempermudah jalan … itu saja. Tolonglah ...,” pinta Lorr En tanpa basa-basi.
“Oo, menurut kalian ... aku ini menyusahkan, begitu? Selama ini aku tidak pernah peduli pada Taja? Sampai segitu tidak berguna aku. Mungkinkah karena aku bukan salah satu dari kalian,” Putri Alingga merasa tersinggung.
“Bukan begitu maksud kami, Putri…tetapi…untuk kali ini, mohon bantulah hamba untuk menolong Taja. Dia pasti sangat menderita di sana,“ Lorr En jadi serba salah selama bersikap merunduk. Karena Putri Alingga masih diam saja, sebaliknya dia justru membuang muka.
“Apa harus bersimpuh pada Putri seperti Shaninka? Akan hamba lakukan jika itu bisa menolong kami,“ Lorr En segera menjatuhkan kedua lututnya ke lantai, membuat Putri Alingga terkejut sekaligus memicu amarahnya lagi.
__ADS_1
“Kenapa harus seperti itu? Bangunlah! Aku tidak ingin diperlakukan seperti Ratu!“ kemudian dia melangkah ke dekat meja paling depan
“Baiklah begini saja, diam-diam aku akan menyuruh orang untuk mengantarkan kalian dan menunjukkan jalan pintas ke Pemukiman Sawo.”
“Tidak perlu bertindak seperti itu, Putri. Terlalu beresiko jika para penjaga tahu. Tunjukkan saja alur sungai yang menuju ke sana,“ kata Lorr En.
“Sungai?“ Putri Alingga keheranan lagi. Shaninka dan dan Lorr En tersenyum kecil.
“Ya. Lorr En adalah perenang ulung,“ kata Shaninka
“Oo, begitu. Baiklah, itu mudah saja! Kebetulan aku mempunyai peta seluruh Tanapura,” kata putri Alingga seraya segera mengambil gulungan peta yang kebetulan terletak di meja.
Lorr En tidak tahu apa yang direncanakan Putri Alingga sehubungan dengan peta di tangannya itu, apalagi menyodorkannya.
”Ini. Bawalah peta ini dan pergilah! Sembunyikan di balik bajumu!”
“Untuk apa?“ Lorr En tidak mengerti akan maksud puri Alingga.
”Ada jalur sungai sebagai jalan keluar dari istana ini, kurasa cukup menjadi petunjuk untukmu jika ingin kabur!” jawab putri Alingga, mengerlingkan mata pertanda rahasia, ”Tetapi ingatlah, segera kau kembali atau Shaninka akan menanggung hukuman jika penjaga tahu kau sengaja kabur dari istana!”
“Baiklah,” kata Lorr En sebelum meninggalkan Putri Alingga, berdua dengan Shaninka.
...* * *...
__ADS_1