
”Purwa!” panggil Taja sekali lagi, masih tidak yakin ia menambah langkah sangat hati-hati. Sesekali terdengar suara Purwa meringik sebagai balasan.
”Hati-hati! Ini sangat aneh!!” dari belakang, teriakan Lorr En mengingatkannya. Ia dan Raojhin juga sempat menyusul, namun tidak seberani Taja. Akhirnya mereka berhenti sampai beberapa langkah saja.
”Aku berharap ini mimpi ...,” kata Raojhin setengah berbisik di sebelah Lorr En.
Taja berhenti tepat selangkah di depan Purwa yang merentangkan dua lengannya. Dalam rintihan menyiratkan pilu bercampur rasa sakit, Purwa berharap Taja segera menyambut pelukannya. Sesekali suaranya yang gemetar berkata, ”Tolong aku ...,” dengan pancaran mata redup dan tubuh lemah.
”Ini tidak mungkin ...,” sekian kali Taja merasa heran, namun raut wajah Purwa yang sangat memelas tidak kuasa menahan keraguan hatinya. Diraihnya dua telapak tangan Purwa yang dingin dan menggigil.
”Bawa aku pulang bersama kalian...,” kata Purwa lemah. Lorr En dan Raojhin bisa mendengar dari posisi masing-masing.
”Aneh...sejak kapan kaum kalian bisa berbahasa Tanapura?!” celetuk Raojhin tanpa sengaja mengungkapkan keheranannya akan gelagat Purwa. Lorr En juga merasakan keheranan yang sama.
”Tipuan apa ini?” Lorr En menyusul Taja. Namun sekali lagi ia berhenti ketika melihat makhluk-makhluk bersayap berkelebat di angkasa mendung dengan suara-suara sudah tidak asing lagi.
Kraaargh ...! Kraaaargh ...!!!
Taja bergeming dalam genggaman tangan Purwa. Wajah yang sama sanak terdekatnya itu masih terpukau pada tatapannya yang bening.
”Kita pergi berempat dan akan pulang berempat tidak akan terpisah ...,” Purwa melanjutkan kalimatnya agak terbata-bata. Dari kata-katanya, Taja menangkap kecurigaan.
”Berempat? Dari mana kita pergi dan kemana kita pulang?” balas Taja, merasakan genggaman Purwa berubah jadi cengkeraman kuat. Ia tidak menjawab, tatapannya yang redup langsung berubah tajam.
”Ke rumah ... Tanapura ...,” nada suara Purwa bertambah berat.
__ADS_1
”Kau salah, kami pergi bertiga pergi dari kepulauan Aurum ...,” Taja tidak kuasa melepas cengkeraman Purwa dengan ekspresi wajahnya yang tiba-tiba berubah aneh. Dingin dan penuh kebencian. Dan di kedua pelipisnya, muncul guratan urat membiru berbentuk ular.
”Kau bukan Purwa!” seru Taja tersadar dari wajah aneh yang sempat menyamarkan pandangannya. Namun ia tidak bisa lepas dari cengkeraman sosok Purwa yang aneh.
”Jangan mendekat! Menjauh kalian dari sini!!!” teriak Taja seketika pada dua temannya yang masih di belakang. Ia semakin tersadar dari menyadari tipuan sosok menyerupai Purwa. Perlahan wajah itu berubah seiring bentuk tubuhnya yang merekah, semakin membesar dalam jubah putih tersembul di balik pakaian kumal yang menutupi sampai menyentuh tanah. Lalu kain kumalnya terkulai di tanah dan luruh seperti debu-debu hitam dan raib. Dan kini, sosok asing itu masih mencengkeram kuat-kuat dua lengan Taja sampai kesakitan.
”Raojhin! Lorr En! Cepat dari sini!” teriak Taja sekali lagi tanpa lebih memedulikan keadaannya sendiri. Namun, kedua temannya itu masih terpaku di tempat masing-masing, ikut mengamati perubahan wujud sesosok berjubah putih.
”Penyihir!!” seru Lorr En disambut kepanikan Raojhin. Mereka bukannya menjauh dari sana, tetapi malah menyusul ke tempat Taja tercengkeram kesakitan.
”Jangan mendekat kataku!!!” wajah Taja dan tubuhnya semakin kaku, tidak bisa digerakkan meskipun sekedar menoleh pada Raojhin dan Lorr En. Namun teriakannya tidka mendapat tanggapan dari dua temanya. Mereka justru semakin mendekat.
”Aaargh!!!” Taja menjerit dalam sepasang tatapan bulat merah padanya. Penyihir itu tidak memberi sela untuknya bernafas dan menambah kekuatan. Taja melotot tajam, merasakan seluruh tubuhnya menjadi panas sampai terkepul asap di sekujur kulitnya. Namun penyihir itu tetap tidak peduli sekuat apapun anak itu mengerang.
”Serang dia dari belakang!” Lorr En cepat tanggap melihat Taja dalam bahaya. Tidak banyak waktu lagi, ia langsung memungut bongkahan batu dan menghujamkannya ke kepala penyihir itu sambil meloncat.
Lorr En terpental balik dan terhempas ke tanah, menahan sakit dan terbatuk-batuk
Selanjutnya, giliran Raojhin bertindak. Ia langsung mengayunkan belati ke punggung penyihir itu, namun ....
Pang!!!
Tubuh si Penyihir seakan mengeras seperti baja. Bahkan pedang milik Raojhin yang kuat tidak sanggup menembusnya. Akhirnya nasib sama seperti Lorr En, ia pun terpental jauh sampai beberapa kaki kemudian menghantam dinding-dinding bebatuan hingga setengah tidak sadar dan terpuruk lemas.
Sementara itu, Lorr En mencoba bangkit lagi bersamaan munculnya sekawanan makhluk-makhluk bersayap seperti kelelawar raksasa langsung menyambar dan menghalau langkahnya. Ia mencoba serangan kedua ke punggung penyihir itu.
__ADS_1
Melompat tinggi-tinggi dengan memusatkan seluruh tenaga ke ujung dua kepalan tangannya yang menyatu dan ....
”Angzi-i-madhoom!!!”
Krak!!!
Kepalan tangan Lorr En menjelma bagai bayangan gada besar memancarkan hawa sedingin es, memukul punggung penyihir hingga terdengar keras. Taja terpelanting jauh akibat energi yang pecah dari penyihir itu.
Krak ... Kkrak!!!
Lorr En membabi buta, berkali-kali menghujam tinju ke kepala penyihir sampai lututnya terbenam dalam tanah. Ia menghentikan pukulannya sampai nafas terengah-engah dan tubuh lunglai, kemudian agak tertatih-tatih ke arah Taja terjatuh. Belum sempat menolong temannya, mendadak seluruh otot tangannya menjadi lentur dan lemas tanpa tenaga sama sekali.
”Aaargh ...,” Lorr En ambruk di dekat Taja yang mulai sadar.
”Lorr En ...,” Taja menyadari temannya dalam keadaan tidak baik, ”Apa yang telah kaulakukan?”
Ia melihat ujung telapak tangan sampai pangkal lengan Lorr En sangat lentur seperti tanpa tulang.
”Nekad sekali kau sampai melakukan sihir kekuatan mantera ’Angzi-i-madhoom’... kau tahu bahwa ini akan mengakibatkan tanganmu lumpuh sampai pagi!”
”Adakah cara lebih baik untuk menolongmu, kawan?” Lorr En semakin terkulai lemas. Ternyata sihir itu telah menguras banyak tenaga lebih dari yang dikira. Taja tak bisa membalas selain ucap lirihnya, ”Terima kasih...dan maaf telah membuatmu begini.”
”Apa yang terjadi padamu?” Lorr En melihat kepulan asap bermunculan dari sekujur tubuh Taja. Taja sendiri sendiri belum menyadari sampai kepulan asap itu kian banyak dan disertai hawa panas mengalir ke seluruh persendian tulangnya.
”Aaargh!” Taja meringkuk di tempat dan sebentar menggeliat kepanasan sampai kepulan asap dari tubuhnya sampai habis.
__ADS_1
”Mana gulungan manteranya?” tanya Lorr En melihat benda itu sudah tidak terselip di ikat pinggang Taja.
...* * *...