The Chronicle Of Jawata (Edisi Trial Kompilasi)

The Chronicle Of Jawata (Edisi Trial Kompilasi)
6.06


__ADS_3

PERDAGANGAN BUDAK (2)


Sosok pria berjubah hitam, menjadi pusat perhatian semua orang menyaksikan. Wajahnya yang pucat, jelas terlihat setelah tudungnya disingkap. Bukan hanya asing, tetapi wajahnya yang aneh dan menakutkan. Meskipun ia tidak terlalu tua, tidak juga muda, uban di kepalanya belum mengalahkan setengah dari jumlah rambutnya yang masih hitam legam, lurus dan panjang sebahu. Tetapi ada yang aneh dari raut wajah pria itu saat menghadap pada Taja yang tergeletak di tanah. Sepasang bola mata pria itu tampak kelam, tanpa putih mata, tidak memiliki alis selayaknya yang dimiliki manusia normal. Rona bibirnya sama dengan kulit wajahnya yang pucat. Dan garis hitam di bawah mata itu, seperti menandakan mata yang tidak pernah tidur. Tetapi dari semua yang tampak dari rautnya yang aneh, lebih mengherankan lagi yang terlihat sekilas di pelipis kanan kirinya, ada guratan otot-otot biru menonjol, meliuk, dan kadang bergerak-gerak, naik turun dari kening sampai ke batas rahang.


Taja tersadar, pria berjubah hitam itu telah memperhatikannya sejak tadi sampai ia harus menahan aksi orang bertopeng banteng yang hampir membunuhnya. Ternyata bukan tanpa sebab jika orang berjubah hitam mengurungkan niatnya. Jelas dari sikap ia menunduk hormat pada pria berwajah pucat, demikian yang dilakukan semua orang yang sedang berada di tempat itu, pertanda bahwa pria berwajah pucat memiliki kekuasaan lebih tinggi.


Pria berjubah hitam menarik lengan-lengan Taja yang pura-pura disembunyikan di belakang pinggang, padahal hampir berhasil lepas dari ikatan.


”Jangan lalai!” Suaranya tidak begitu keras, namun cukup menarik kewaspadaan semuanya, sambil menunjukkan pada semua mata yang melihat anak itu.


Pria berjubah hitam mengarahkan jari telunjuknya yang berkuku runcing dan panjangnya seukuran dengan telunjuk itu sendiri, bergerak naik turun ke arah tali-tali yang mengikat tangan anak itu, seiring terdengar desis ringan dari bibirnya yang kaku. Sebentar saja, tali-tali itu bergerak sendiri bertautan lebih erat lagi dari sebelumnya sampai-sampai anak itu merasakan aliran darah di pergelangan tangannya akan putus, sakit sekali.


”Bawa anak ini ke Kakilangit!” dengan satu perintah saja dari pria berjubah hitam itu, seketika membuat seorang pimpinan pasukan berjirah melanjutkan tugas bersama anak buahnya. Mereka segera bergerak, membawa serta anak itu kembali ke tandu.


Derap langkah segerombolan orang-orang berjirah meninggalkan kubu, melanjutkan tujuan yang dianggap Taja was-was. Separuh dari gerombolan itu tetap tinggal di puncak lereng itu bersama orang berjubah usang yang belum berhenti memandanginya dari kejauhan. Sementara sosok pria yang perawakannya khas dengan wajahnya yang pucat itu, tiba-tiba melesat ke jurang. Taja sempat melihat bayangannya yang gesit berubah jadi makhluk bersayap, terbang ke seberang lereng-lereng.


Taja kembali dalam kecemasannya sendiri, berpikir tentang suatu tempat yang disebut-sebut Kakilangit, memang pernah didengarnya nama itu sekali saat berada di kapal perompak. Namun sampai saat itu, ia belum tahu Kakilangit adalah tempat seperti apa dan bagaimana. Terlebih-lebih nasib yang akan terjadi pada dirinya.


”Lorr...? Neirra...?” Taja kebingungan sendiri di atas tandu bergerak di antara pundak-pundak pasukan berjirah. Teringat akan dua temannya yang sampai saat ini tidak diketahui nasib mereka sejak ia membuka mata dan mendapati dirinya terikat.


Taja melihat sekeliling hutan yang mulai berkabut. Sesekali ia menggerak-gerakkan tangannya yang terikat sangat erat. Ia mencoba lagi mantera yang sama agar tali-tali melonggar. Tetapi aneh, kali ini setiap ikatannya melonggar, saat itu juga melilit kembali. Bahlan lebih erat. Ia tidak bisa banyak bergerak karena orang-orang yang membawanya bersikap lebih awas lagi.

__ADS_1


Taja memperhatikan sekeliling hutan. Pohon-pohon di sana terlalu tinggi untuk digapai. Andai saja kakinya tidak terikat, ia bisa meloncat ke dahan-dahan yang rimbun di antara pohon-pohon lebat itu.


’Eh...!’


Taja agak terkesiap, lantas mengawas tajam matanya yang sempat sekilas saja, menangkap bayangan di antara deretan pohon-pohon di sekeliling. Satu...dua...tiga...dan lebih banyak lagi bayangan hijau melesat ke sana kemari, sepertinya sedang mendekati pasukan yang sedang mengusungnya saat itu.


Pimpinan pasukan berjirah menghentikan langkah, diiringi pasukan yang mengikuti aba-abanya. Ia memperhatikan sekeliling hutan yang sunyi, kecuali lengkingan burung-burung hutan menyeruak, terdengar semakin dekat dan...mendekat.


Tap! Tap ! Tap!


Tiba-tiba, puluhan bilah-bilah panah menancap di tubuh orang-orang berjirah. Dalam waktu singkat, belasan di antara mereka berjatuhan, menggelepar dan terguling ke lereng. Sementara panah-panah misterius semakin bermunculan lebih banyak lagi dan menghujam orang-orang pasukan berjirah.


”Bersatu...! Bersatu...!” pimpinan pasukan berjirah mengacungkan tombak tinggi-tinggi saat menyadari datangnya bahaya yang mengacaukan jalan mereka. Namun tidak sempat lagi, sebelum orang-orangnya bergerak, panah-panah misterius lebih dulu menembus tubuh-tubuh mereka.


Ruuuuuu.....................!!!


Suara-suara itu semakin jelas, seiring sosok-sosok ninja hijau berkelebat gesit, menerjang pasukan berjirah yang terisisa. Untuk beberapa saat terjadi pergelutan di antara orang-orang pasukan berjirah dengan sosok-sosok ninja hijau. Sepak terjang mereka cepat sekali membunuh orang-orang pasukan berjirah sampai tuntas, kecuali seorang pimpinan yang masih bertahan.


Si pimpinan pasukan berjirah itu masih bertahan di antara puluhan ninja-ninja hijau yang mengepung dari segala arah. Tanpa mengulur waktu lagi, salah seorang ninja hijau misterius melemparkan tombak ke tubuh pimpinan pasukan berjirah itu.


Taja menyaksikan tubuh pimpinan berjirah ambruk tak berkutik lagi. Semak belukar tempatnya terhempas, merembas darah. Tombak panjang masih menancap di dada pimpinan itu yang barusaja tewas. Selanjutnya, ninja-ninja hijau dengan pakaian mulai dari kaki sampai kepalanya berbalut kain hijau-hijau, mendekati Taja yang terpuruk di semak berduri.

__ADS_1


Taja dirundung ketakutan sekali, sampai-sampai matanya berkaca-kaca karena menyaksikan pembantaian mengerikan yang barusaja terjadi di depan matanya.


”Tidak...,” ia menyeret tubuhnya di antara belukar rimbun, tidak peduli punggungnya tergores dan pakaiannya terkoyak duri-duri tajam. Ia hanya ingin menjauh dari ninja-ninja hijau misterius yang mulai menyadari keberadaannya.


”Tidak...,” Taja terus beringsut. Sampai punggungnya merasa terbentur sesuatu tak terduga. Sebuah pedang berdarah telah menyentuh kulit punggungnya. Ia terkesiap, berpaling dari pedang yang bukan tanpa tuan itu. Benda tajam dan sangat tidak bersahabat di tangan pemiliknya yang sedang berdiri tegap di hadapan Taja. Kali itu, ia merasa terpojok di antara puluhan sosok-sosok yang telah mengepungnya.


Sesosok ninja beridentitas serupa dengan yang lainnya, membelah formasi yang sedang mengepung Taja. Langkahnya yang ringan melompati belukar dan mendekati anak itu pasrah di tempatnya.


”Apakah... kalian... akan membunuhku?” Terpatah-patah, Taja memberanikan diri untuk bersuara.


Wajah sosok yang terbalut kain hijau itu mendoyongkan mukanya. Hanya sepasang matanya tampak jelas dari belahan balut hijau yang menutupi wajah dan kepalanya.


Lalu sosok itu membuka tutup kepalanya, ”Apakah kamu yang bernama Taja?” tanya sosok itu yang ternyata seorang pria, wajahnya terlihat jelas tanpa penutup kepala. Rambutnya gondrong sebahu, tidak terlalu lurus, tidak juga ikal. Mungkin kurang terawat dan dibiarkannya tumbuh panjang begitu saja. Dan sepasang matanya yang teduh di balik raut muka yang tegas, seperti cermin halus yang membuatnya sedikit lega. Paling tidak, ia berharap agar orang asing yang ditemuinya kali ini adalah manusia yang baik.


Taja mengangguk keheranan. Baru pertama kali ia melihat orang asing ini, tetapi mengherankan jika orang ini sudah tahu namanya.


”Kalian...?”


Pria itu menarik lengan Taja, untuk sesaat membersihkan semak-semak yang menempel di pakaian anak itu.


”Ikut aku...,” kata pimpinan itu singkat.

__ADS_1


Taja terdiam untuk beberapa lama mengamati tingkah laku orang asing itu yang dianggapanya meragukan, namun tidak ada pilihan lain selain terpaksa untuk percaya padanya setelah sekian kali ia berpindah tangan daei gerombolan asing ke gerombolan asing lainnya. Belum sempat mengetahui siap mereka, kini ia telah dihadapkan pada pasukan ninja hijau yang juga masih asing.


...* * *...


__ADS_2