The Chronicle Of Jawata (Edisi Trial Kompilasi)

The Chronicle Of Jawata (Edisi Trial Kompilasi)
38. Pengasingan (2)


__ADS_3

”Ini tidak lucu! Mengapa menertawakan kegagalan kalian sendiri?” tanggap Taja, kurang suka akan sikap mereka akibat kegagalan.


”Bagaimana denganmu? Bagaimana jika paduka yang mengirimmu ke Pemukiman Sawo selama satu bulan, ternyata hanya dalih untuk mengasingkan kamu selamanya di sini. Maka nasibmu juga tidak akan berbeda dengan kami!”  Pai Jo membalikkan fakta.


”Bukan maksudku meremehkan kalian, hanya ... merasa sangat disayangkan jika kalian memiliki kemampuan lebih dan tubuh yang cukup kuat untuk menjadi prajurit.”


”Bukan kami yang menyia-nyiakan, penguasa yang mengabaikan kami!” seru dua yang lain.


”Kau sendiri ingin menjadi apa? Prajurit? Pembela Tanah Air? Satria? Bangsawan?” Pai Jo banyak dugaan.


Taja menggeleng, ”Menjadi diri sendiri!” jawabnya singkat.


”Maka inilah kita, diri sendiri! bebas menjadi apapun yang ku mau!” Pai Jo merentangkan lengan bebasnya ke hamparan Lembah Gundil menghijau seluas mata memandang, ”Lihatlah teman-temanku! Pardewa si Ikal, Malay si Kurus itu, dan Anjan si kaki bengkok, atau Lam Lam si Gagap itu! Usia mereka masih 25 tahunan dan cukup muda untuk menjadi prajurit. Meskipun dulu kami adalah murid Tanapura, tetapi bukan berarti kami tidak punya cita-cita selain jadi prajurit negara.”


”Aku meluapkan inspirasi bercerita pada anak-anak desa sebelum tidur ,” Malay si Kurus menyahut.


”Aku jagonya memanah buah di hutan, lalu aku jual ke desa-desa tetangga!” si Ikal Pardewa berganti menimpali.


”Aku juga penyelam handal, banyak masyarakat tepi pantai telah ku selamatkan karena tenggelam!” ganti Anjan yang berkaki bengkok menunjukkan dadanya.


”Jangan lu ... lu ... pa ... ju ... lu ... kan ... ku ... pe ... man ... jat ... teb ... teb ... bing ...,” si Gagap tidak mau ketinggalan. Semua yang mendengarkan gemes menunggu dia berbicara sampai selesai.


”Banyak orang membutuhkan tenaganya untuk berburu madu di sarang lebah-lebah jurang!” Pai Jo manambah sekilas tentang Lam Lam.


Taja melihat satu persatu dari wajah mereka, ”Hebat ...,” katanya setelah tersenyum.


”Dan kamu?” masing-masing menanyakan satu hal sama.


”Aku tidak ingin menjadi apapun selain berguna untuk kaumku,” katanya lirih. Mereka mengangkat bahu sambil menyeletuk, ”Kalau begitu, berusahalah agar berguna untuk kaum-mu!”

__ADS_1


Selanjutnya, kelima orang-orang Gentho menggelar tikar dari anyaman daun-daun palm. Membuka bungkusan berisi buah-buahan dan kendi-kendi air.


”Keluarkan kartunya!” seru Pai Jo. Kemudian mereka disibukkan acara main kartu.


”Mau main?” Pai Jo menoleh pada Taja sebentar.


Tetapi anak itu hanya menggeleng disertai jawaban singkat, ”Tidak.”


Beberapa saat kemudian, mereka sudah tergiur dalam permainan sendiri dan mengabaikan tugas sesungguhnya. Kuda-kuda berkeliaran ke segal penjuru. Dan hanya Taja yang memperhatikan gerak-gerik kuda-kuda itu berlarian.


Ada seekor kuda menarik perhatiannya lebih, ”Klawu!” serunya saat melihat seekor kuda yang diketahui dari cerita Gentho bahwa itu kuda Raja.


”Hei, kalian. Klawu menjauh ke selatan!!” Berkali-kali teriakan Taja hampir tak digubris satu pun dari lima sekawanan orang-orang Gentho. Mereka terus berlanjut dalam keasyikan permainan.


Dilihatnya si Kuda Klawu semakin menuruni terjal berumput ke arah selatan. Agak berkabut keadaan di sana.


”Kembali!” seru Taja dalam kesunyian dan menjauh dari lima orang yang lain, Mengikuti jejak Klawu yang semakin menipis di sepanjang terjal berumput dan berembun.


Tiba-tiba terdengar ringkik kuda melengking bersamaan suara benda jatuh. Taja tergesa-gesa ke asal suara di depannya.


”Klawu!” serunya memanggil nama kuda itu. Di bawah suasana kabut, samar-samar terlihat jejak terperosoknya Klawu. Ada jurang entah seberapa dalam, ringkik kuda terdengar dari bawah sana.


”Klawu!”


Suasana kembali sunyi, tidak ada lagi tanda-tanda keberadaan Klawu. Akhirnya Taja bergerak untuk melakukan sesuatu setelah teringat kata-lata Gentho tentang si Kuda tunggangan raja itu.


Taja merayap turun dengan bantuan akar-akar mencuat di sekeliling jurang, namun karena licinnya tak terelakkan lagi, ia terperosok ke bawah.


Bug ...!

__ADS_1


Akhirnya, satu hempasan tubuh Taja mendarat keras ke tanah lembab. Hanay sebentar mengerang ngilu, dan kemabli bangkit setengah tertatih.


”Klawu?” ia kembali mencari-cari kuda itu dalam kegelapan kabut berdinding akar-akar tua bergelayutan.


Ngaiiik ...!


Sekali lagi ringkik dari kejauhan menarik perhatiannya. Taja cepat-cepat berlari ke asal suara.


Tidak lama, ia dihadapkan oleh suatu pemandangan paling mencengangkan. Ketika langkah yang harus terhenti di mulut ngarai dan tidak tahu pada ketinggian berapa ia berada saat itu.


Taja melotot selama pandangannya mengarah pada ngarai berkabut tebal menganga di depannya. Pada ratusan kaki di seberangnya, samar-samar pegunungan tinggi menjulang.


Ia tersentak, baru menyadari bahwa dirinya tersesat. Berusaha kembali ke tempat sebelumnya ia terjatuh, namun rupanya tidak membawa hasil. Dalam kepanikan dan kebutaan arah, ia hanya meneriakkan nama kelima orang Gentho yang bersama mereka sebelumnya, namun percuma saja karena tidak ada yang mendengar sekeras apapun teriakannya.


Akhirnya Taja menyerah. Bersimpuh pada akar-akar besar dan tua di tempat yang diapit dua dinding tebing berjarak hanya beberapa langkah kaki. Gelap dan sunyi.


Suasana mulai gelap, ada gerakan-gerakan kecil terasa dari kaki-kakinya. Setelah melihat ke bawah, sekali lagi ia dikejutkan oleh kehadiran cacing-cacing tanah yang tersembul dari tanah sepanjang ia berjalan tak tentu arah.


Setelah jauh berjalan sepanjang alur lembah yang gelap, akhirnya Taja melihat ada jalan setapak yang mengarah pada sebuah pondok kayu dibangun merapat ke tebing penuh semak, hanya bagian atap pondok itu yang kelihatan dari posisi Taja berdiri saat itu.


“Pondok tua?“ gumamnya sendirian. Kemudian perlahan mendekat ke sana. Bangunan tua berpagar palang-palang besi tinggi-tinggi yang terikat rantai berkarat. Sebagian besar puluhan palang itu ambruk termakan usia.


“Apakah ada yang menghuni di sini?” pikirnya selama melangkah masuk ke balik paling-palang itu. Tanpa jawaban pasti, ia terus mendekati pondok di tengahnya.


”Lumayan untuk menginap semalam saja,” gumamnya lagi.


Taja meloncati ringan anak tangga menuju pintu pondok itu. Tampak sunyi, usang, dan seperti tidak ada kehidupan sebelumnya. Semakin dekat dengan pintu berpalang rantai berkarat, Taja merasakan sesuatu yang membuat nyalinya sempat ciut. Setelah sejauh ini, tiba-tiba terlintas dalam pikirannya untuk pergi dari tempat itu secepatnya.


...* * *...

__ADS_1


__ADS_2