
“Kabarnya, Putri Alingga tidak pernah menangis atau tersenyum. Tetapi ketika melihatmu, semua orang melihat raut muka terkejut seperti itu,” kata Purwa, sejak tadi diam-diam memperhatikan Taja, duduk berhadapan dengannya, membuat semua perhatian praja pemanah tertuju pada mereka berdua berbicara.
“Putri jatuh cinta padamu,” celetuk Lorr En.
“Mungkin dia mengira, kamu adalah seseorang yang sangat dikenalnya,“ Rambiloto menyeletuk.
“Aku baru pertama kali bertemu dengan putri," jawab Taja.
“Rumor bahwa kamu sangat mirip Bocah Malapetaka ...,” kata Purwa, duduk di dekat Taja ikut menyela. Tegas dan keras suaranya agar terdengar oleh semua yang hadir di ruangan makan siang. Serentak, semua mata beralih ke praja bertubuh kecil itu.
“Kenapa?” spontan lainnya bersahutan ikut penasaran.
“Katanya, roh satria yang mati itu masih berkeliaran sampai sekarang. Melihat cara matinya yang seperti itu, dia tidak mungkin mati dengan tenang!”
Mendengar penjelasan singkat Purwa, seluruh anak-anak yang sedang menyantap sarapan masing-masing mendadak jadi saling tegang.
“Hiiiy …!” beberapa praja di dekat Taja bergidik, meskipun sebagian lain mencemooh sambil meneruskan santapan masing-masing, “Dasar cenayang mimpi!”
“Bukan hanya aku yang tahu itu, banyak orang tahu ... kisah tentang bocah yang mati itu, sekarang ... menjadi hantu ...," kata Purwa.
“Maksudmu siapa menjadi hantu?” Taja cukup peduli akan cerita Purwa.
“Ssst ...!“ serempak, semua tatapan anak-anak tertuju ke arah Taja sambil mengacungkan jari telunjuk ke depan mulut mereka masing-masing.
“Heran, kenapa kalian begitu percaya pada isu yang tidak pasti … kita ini calon prajurit negara, seharusnya kita bisa lebih berpikir dengan logika!” Lorr En buru-buru menimpali.
__ADS_1
“Hei, kalian masih baru disini, banyak hal yang belum kalian mengerti!” seorang di antara yang lain tidak kalah menyahut. Beberapa saat kemudian mereka saling berpendapat, bahkan hampir berdebat. Sedangkan Taja ada dalam pikirannya sendiri.
Waktu hampir usai, semua yang berada di depan satu meja itu menyudahi acara makan pagi. Dua puluh murid tim Kancil Putih bergegas menuju aula utama sekolah. Sedangkan 5 murid Kelas Tabib yang bergabung dalam acara makan pagi, menuju ke bangunan kelas Tabib.
Sedikit riuh suasana dalam aula itu, Taja dan timnya berbaur dengan yang lain. Ada ratusan murid-murid di sana.
“Kalian semua yang hadir, selamat pagi!” terdengar suara pembuka acara dari seorang kapten selaku kepala sekolah telah berdiri di hadapan seluruh murid.
“Selamat pagi!“ serempak para murid praja memenuhi ruang aula menjawab.
Suara pembuka tidak asing lagi bagi semua murid yang hadir, dialah Ketua Jenewa mengawali pertemuan pagi itu. Sekilas, ia menatap para murid dengan seksama.
“Sejujurnya, aku mengkhawatirkan kalian semua. Sudah lebih dari lima tahun kalian berada di sini, dilatih untuk menjadi prajurit negara dan kalian juga yang kelak menjadi andalan negeri ini. Kekuatan negeri Tanapura!” Ketua Jenewa mondar-mandir sepanjang podium.
Mendengar itu, sesaat suara tawa murid-murid membuat riuh suasana.
“Menurut catatan sepanjang seperempat abad ini, sudah ada 500 orang yang dipulangkan, 1000 lulusan menjadi penjaga perbatasan wilayah, tetapi hampir 500 orang menjadi pasukan senjata sambil beternak kuda istana dan militer. Angka 500 tersebut adalah yang gagal dalam ujian. Selebihnya, 150.000 telah mejadi pasukan infanteri, kavaleri dan artileri siap mati di medan tempur. Kemudian dari jumlah itu, hampir setengahnya gugur dalam perang beberapa tahun silam dan kudeta di berbagai wilayah lokal.. Itu artinya negeri kita sangat membutuhkan prajurit lebih banyak lagi karena sudah banyak dari pasukan militer negeri ini berkurang!” Ketua Jenewa melanjutkan sambutannya.
“Coba kalian bandingkan antara kita dan negeri Tanapura, di sana ada prajurit dan kekuatan militer yang sangat besar, hampir 700.000 prajurit dalam berbagai jenis pasukan, mereka terlatih dan siap memenuhi panggilan Paduka mereka. Itu artinya, saat ini perbandingan kekuatan militer negeri kita dan Tanapura hampir mencapai 1 : 10. Satu hal lagi yang kalian harus pahami bahwa … apakah kalian percaya Tanapura akan menjadi sekutu kita selamanya?” Ketua Jenewa menggerak-gerakan telunjuknya pertanda kata ’TIDAK’.
“Kesimpulannya, pada pertemuan kita kali ini adalah ... aku ingin menghimbau kepada kalian semua selaku murid Calon Prajurit tentang ujian akhir tahun. Jika sebelumnya dalam setahun ada dua kali ujian, mulai awal tahun ini akan diadakan 4 kali ujian. Tentu saja atas persetujuan Paduka!“
Suasana yang semula hening mendadak ricuh. Mereka tampak terkejut dengan apa yang baru saja disampaikan oleh Ketua Jenewa.
“Empat kali?!“ terdengar riuh dari ribuan murid di barisan tingkat Calon Prajurit.
__ADS_1
“Harap tenang semuanya!!!“ teriakan Ketua Jenewa berhasil mengendalikan suasana, “Itu hanya permulaan! Kalian ingin tahu apa yang akan terjadi kalaupun kalian lulus dalam ujian?” kali ini murid-murid dibuat tegang. Suasana kembali hening. Hanya suara langkah sepatu metal Ketua Jenewa yang terdengar menggema dalam ruangan sangat luas dan mampu menampung ribuan murid berbaris di atas lantai marmer.
“Ada ujian tantangan alam … seperti …,“ belum usai berkata, suara riuh murid-murid mulai terdengar lagi.
“Menjelajahi Hutan Bakau, Rawa Kematian, Lembah Arwah, Hutan Bambu Lama, Gua Sesat, Teluk Merah, masih banyak lagi yang akan menjadi kejutan untuk kalian!” kata Ketua Jenewa.
“Kenapa? Takut? Inilah yang akan kalian hadapi!“ lanjut Ketua Jenewa.
“O-o ... Aku tahu apa yang menjadi pertanyaan kalian, kenapa materi tingkat Praja Langit menjadi kurikulum untuk tingkat Praja Muda,” Ketua Jenewa menangkap keberatan semua murid praja. Karena itu, ia mencoba untuk menjelaskan sesuatu.
“Seluruh prajurit bersiap-siap menghadapi perang Jawata!" lanjut Ketua Jenewa. Semua tatap mata murid-murid tertuju pada Ketua Jenewa berdiri.
Perang?!
Satu kata menakutkan, terbayang di pikiran setiap murid. Hanya membayangkannya, sesuatu paling mengerikan.
“Tanapura banyak membutuhkan prajurit. Jika cukup mendapat pasukan, maka murid praja bersiap-siap masuk dalam kesatuan prajurit. Kalian cadangan kekuatan militer Tanapura!”
Tegang, semua murid terdiam dan ada pada pikiran masing-masing.
“Inilah ujian seperempat tahun pertama tingkat Praja Muda. Senjata Rahasia, Jurus Pedang, Atletik, Rintang Alam, Balap Kuda dan Memanah. Ujian diadakan bulan depan.
"Bersiap-siaplah kalian!" lantang tegas, Ketua Jenewa mengakhiri pengumuman.
...* * *...
__ADS_1