
”Sudah kukatakan, bahwa aku dapat membaca pikiranmu. Sejak semalam, aku mencuri pikiranmu,” kata Tuan Anjing Hitam lebih dulu meyakinkan meskipun sulit dipercaya Taja.
”Jika belum yakin, aku bisa mengatakan lebih dari itu!” seru Tuan Anjing Hitam sekaligus menantang kebisuan Taja.
”Tentang misi dan asal tempatmu. Aku banyak tahu tentangmu, Anak Gunggali! Jika kau berniat melanjutkan misi di Jawata, maka kamu tidak hanya akan menuju pada masalah besar untuk dirimu sendiri, tetapi juga teman-temanmu. Negeri ini tidak benar-benar sedang dalam kedamaian dan ketentraman. Tipu daya sedang berjalan di kaki-kaki sibuk banyak musuh, keselamatan rakyat dipertaruhkan dan semua harapan hidup justru berada ditangan seorang Raja yang lengah, terlalu terbuai dalam berkilauan iming-iming kejayaan dan kekuatan semu. Sementara kalian akan merasakan merasakan sangat pedihnya siksaan, sangat sakit dalam jurang penuh kehinaan. Perlukah kau mengorbankan setengah umurmu demi menyelamatkan mereka setelah semua yang kau percaya akhirnya mengabaikanmu?”
Tubuh Tuan Anjing Hitam yang tinggi berdiri persis di hadapan Taja tetapi kedua matanya tertutup rapat-rapat dan tampak sangat serius menerangkan yang ada dalam pikirannya saat itu. Sementara di bawah bayang-bayang lelaki tunggi besar itu berdiri, Taja duduk dan sangat serius mendengarkan.
“Apa maksud Tuan? Aku tidak mengerti ..., “ ujar Taja sebelum Tuan Anjing Hitam membuka kembali matanya. Pria itu berusaha tersenyum meskipun air mukanya tidak menyiratkan sesuatu yang menyenangkan.
“Kelak kau juga akan mengerti, lembut hatimu dan kepolosanmu akan berubah seiring waktu. Berhati-hatilah terhadap orang-orang yang akan ada di sekitarmu, kerena lebih separuhnya dari mereka cenderung mengajarkanmu bagaimana kehidupan jahat dan kejam. Jika hatimu tetap bersih dan tulus, maka kau akan tetap menjadi dirimu yang sekarang, murah hati dan sederhana. Tetapi sifat itu tidak cukup melindungimu. Lebih baik pilihlah sikap lain yang keras dan jangan mudah percaya pada orang lain, tetapi mungkin akan membuatmu lebih tangguh juga tidak diremehkan,” kata Tuan Anjing Hitam lagi.
”Aku masih belum mengerti kata-kata Tuan,” tanggap Taja masih sama setelah mendengarkan lebih jauh.
Tuan Anjing Hitam beralih ke dekat jendela.
”Setidaknya ... itu yang akan terjadi padamu di hari depanmu nanti. Aku bisa membacanya dari wajahmu yang penuh beban dan nasib kurang beruntung,” katanya.
”Jadi, Tuan meramal aku?”
Tuan Anjing Hitam tidak menggeleng, tidak juga mengangguk, ”Itu yang sekilas kulihat di matamu!”
Apapun itu, yang terlihat dari caranya mengambil dan mengatur nafas sampai agak terengah-engah, menandakan perkataan Tuan Anjing Hitam bukan tak berarti.
__ADS_1
“Di luar pintu ini ada kehidupan yang jahat, Pemuda Belia!” kata Tuan Anjing Hitam setelah mengatur nafasnya kembali tenang, ”Yah, hidup memang ini keras! Itu juga pernah terjadi padaku. Setelah raja memberiku banyak penghargaan dan gelar terhormat, ia juga yang telah mengasingkan aku sampai ke tempat ini sejak terpancing bujukan musuh-musuh dalam selimutnya. Sayangnya, dia sendiri belum pernah menyadari, bahwa bukan aku yang sebenarnya menjadi incaran negeri musuh, melainkan dirinya sendiri. Ketika semua yang melindunginya telah tersingkirkan, maka aksi musuh sebenarnya akan terlihat. Mereka ingin menjatuhkannya ... menghancurkan kekuasaannya, lalu merenggut negeri dan rakyatnya!“
”Maksud Tuan adalah Paduka Raghapati?”
Tuan Anjing Hitam mengangguk, ”Benar!”
”Kasihan sekali si Payah itu!” Tuan Anjing Hitam menyebutnya dengan julukan yang dibuatnya sendiri. Dan itu membuat Taja terbelalak. Pikirnya, berani sekali orang ini menyebut keturunan raja dengan julukan si Payah.
”Aku dulu adalah Kapten Utama Tanapura yang pernah mendapat gelar Putera Langit pada masa pemerintahan buyutnya, 300 tahun lalu,” kata Tuan Anjing Hitam dan membuat Taja lebih terbelalak lagi.
”300 tahun lalu? jadi umur Tuan sekarang ...,” ia takut salah mengungkapkan dugaannya.
”Lebih dari 300 tahun,” jawab Tuan Anjing Hitam lebih dulu.
”Itu karena ilmu Serigala Api yang mendarah daging di tubuhku, ilmu sangat tinggi dan sulit membuatku mati. Hidup panjang tetapi menyiksa! Bahkan jarang ada peri Gunggali yang bisa mencapai umur sepanjang itu!”
Untuk sesaat, Taja terdiam saja menyadari pikirannya kecurian lagi.
”Hentikan, jangan membaca pikiranku,” pinta Taja, setelah pria itu menyebut satu tempat yang tidak pernah disinggung terhadap siapapun kecuali pada Lorr En.
”Jadi kau percaya sekarang?” tanya Tuan Anjing Hitam namun masih ditanggapi oleh aksi Taja yang tidak banyak tingkah. Tiba-tiba anak itu dikejutkan pikirannya sendiri oleh sesuatu yang lain.
“Selamat atas kehidupan Tuan yang telah bebas dari belenggu. Tetapi sayangnya, aku tidak bisa lebih lama menemanimu saatnya aku harus segera pergi!” ucap Taja sebelum berniat untuk beranjak keluar pondok.
__ADS_1
“Mau kemana? Lukamu belum sepenuhnya pulih!” suara Tuan Anjing Hitam ditinggalnya terdengar berkali-kali. Namun Taja tidak ingin peduli, karena menganggap pria aneh itu sudah mengetahui tentang jati diri sebenarnya. Dan bukan hal tidak mungkin jika akan ada masalah karena itu.
”Aku bukan masalah bagimu, Pemuda Belia!!!” hanya suara Tuan Anjing Hitam yang terakhir menggema paling keras, mengikuti sampai ke turun ke lembah. Taja kebingungan mencari-cari sosok pria aneh itu.
“Aku harus kembali ke Pemukiman Sawo! Misiku adalah urusanku, mohon jangan mengusikku!” Taja membalas suara-suara Tuan Anjing Hitam tanpa wujud.
”Mengusikmu?” tiba-tiba sosok Tuan Anjing Hitam sudah ada di belakanganya. Muncul dari kabut tipis memudar. Taja menoleh perlahan, dan tak bergeming di tempat saat merasakan kekhawatiran lain karena kemunculannya sambil melempar senyum mistis.
“Apa yang kamu cari tidak ada di negeri ini, Pemuda Belia …,” kata Tuan Anjing Hitam semakin menampakkan wujudnya.
”Mengerti apa Tuan tentang misiku ... bebanku ... tentang kami?”
”Kau salah, jika kau beranggapan bahwa aku hanya akan menghalangi. Sebaliknya, mungkin kau akan sangat membutuhkan pertolonganku. Jika tidak sekarang...mungkin nanti, atau suatu hari tidak terduga setelah sekarang,” Tuan Anjing Hitam mendekatinya.
”Bagaimana mungkin, alasan apa yang mendorong Tuan sehingga ingin membantuku?” Taja hanyut dalam tatapan mata tajam Tuan Anjing Hitam yang tampak seperti pria berusia sekitar 40 tahun-an itu.
”Balas budi,” jarak tatap mata Tuan Anjing Hitam dan Taja hanya dua jengkal saja.
”Aku pernah bersumpah, siapapun yang bisa melepaskan aku dari kutukan, maka aku juga akan membalas budi untuknya. Jika, wanita atau lelaki lebih tua akan kuangkat sebagai kakak, jika lebih muda akan kuangkat sebagai adik. Jika jauh lebih muda lagi namun tidak cukup kuat, maka aku akan mengangkatnya sebagai murid.”
Di hadapan Tuan Anjing Hitam, Taja terbengong beberapa lamanya untuk memikirkan kalimat pria itu.
...* * *...
__ADS_1