The Chronicle Of Jawata (Edisi Trial Kompilasi)

The Chronicle Of Jawata (Edisi Trial Kompilasi)
4.37.


__ADS_3

"Pemuda itu sudah gila."


"Aku mulai menjadi seperti dia."


"Ananda mulai merasakan seperti dia."


"Ananda lebih takut sekarang daripada nanti. Ananda tidak ingin mengalami kejadian seperti dia."


Tak terasa air matanya mulai tergenang di pelupuk mata.


"Apa bedanya hidup atau mati? Yang terjadi padaku bisa lebih buruk dari dia. Itu lebih buruk dari kematian!"


Ibundanya mengelus-elus rambut putranya dengan kasih sayang tak berkurang sedikitpun sejak putranya dilahirkan. Airmata yang mengalir di pipi putranya tidak lain buah kekesalan dan kepedihan.


"Maafkan Ibunda, Putraku."


"Ibunda tidak dapat berbuat apa-apa selain mengikuti arus takdir. Semuanya akan berlangsung singkat."


"Berjanji pada Ibunda, bahwa kamu akan melanjutkan hidupmu dengan semangat!" kata ibunda. Segera menyeka air matanya sendiri dan ingin tampak tegar di hadapan putranya.


"Karena itu, terimalah ini!" Ibunda menyerahkan sesuatu di tangannya.


"Simpanlah sebaik-baiknya dan jangan menunjukkan surat ini ke sembarang orang, karena ini satu-satunya peninggalan ayahmu yang tersisa untuk ibunda."


"Gunakanlah surat ini pada waktunya!" tambah ibunda.


Segulung kulit terbungkus kain dan terikat akar kering, setengah paksa disogokkan ke genggaman Radhit.


"Kalau kamu menolak, Ibunda akan marah padamu bahkan pada saat mati sekalipun!"


"Surat itu satu-satunya wasiat yang bisa menolongmu," Ibunda sedikit menggertak, namun tak menyurutkan tatapan mata yang lebih tangguh dari air matanya.


Kecuali air mata Radhit tampaknya lebih takut akan kehilangan keberadaan Sang Ibunda tercinta daripada kehilangan jiwanya sendiri.


Mereka berdua beberapa kali membahas hal ini sebelumnya, dan selalu berakhir pada kemarahan Radhit. Ia membelot dari kata-kata Ibunda. Selalu menampik surat wasiat yang diberikan padanya.


Setelah itu, Radhit tidak mau menemui Ibundanya hingga berminggu-minggu. Tapi kali ini, waktu yang tersisa sudah sangat menghimpit. Tidak banyak hari yang tersisa untuk marah dan kesal atas keputusan Ibunda.


Radhit terpaksa menggenggam paksa segulung surat dari tangan Ibunya. Ingin rasanya ia berontak dan menjerit. Namun semua itu hanya nampak dari pancaran matanya yang tajam dan berkahir pada titik-titik air mata kekesalan.


"Ini tidak adil!"


"Tidak adil!"


"Sama sekali adil!"


"Kita tidak seharusnya mengalami kejadian ini!"

__ADS_1


Radhit meremas selendang yang mengikat pinggang Ibundanya.


"Jangan berdebat lagi, Radhit! Ini jalan terbaik untukmu," berkali-kali Ibunda mengecup kening Radhit sebelum terburu-buru meninggalkan kubah dan putranya berada di sana.


Sebentar langkahnya terhenti sejenak di ambang lorong keluar Sinloka Timur, memandangi Radhit yang mematung tanpa ekspresi. Raut wajah putranya itu tak sedikitpun berpaling sampai sosok Ibunda tak tampak lagi di jalur lorong yang remang-remang.


Seruling mengalun syahdu. Seorang murid yang sejak tadi termenung di sebuah Wawena, meniup seruling miliknya dengan rasa sakit menyayat. Seruling itu akhirnya bersuara juga.


Radhit dikejutkan oleh suara seruling itu, mengingatkan rasa sakit akibat sembilu yang pernah menoreh telapaknya. Dulu sekali saat ia masih beberapa tahun lebih muda, ia suka bermain-main dengan bilah-bilah bambu yang diiris tipis-tipis itu, sengaja dijadikan mata panah untuk latihan para murid prajurit.


Radhit ingin menjadi prajurit seperti mereka, ketika pertanyaan itu terlontar padanya dari siapapun yang bertanya, maka itulah jawaban Radhit. Tetapi kekuasaan Paduka memberikan titah yang lain. Ia tidak diperkenankan untuk menjadi murid prajurit, melainkan cendekiawan alih bahasa dan sastra. Di negeri Sweta, Setiap pemuda tidak bisa sesuka hati menentukan masa depannya sendiri kelak menjadi apa.


Para murid yang berhasil lulus di Graha Kaninggaluh, akan memiliki julukan terhormat sebagai Pujangga Istana, Penterjemah Negeri, atau Utusan Kerajaan dan Penasihat Paduka.


Setidaknya jika tidak sampai lulus pun, suatu kehormatan gelar seorang Pustakawan dapat diraihnya. Lebih sederhana lagi, Penjaga Istal Kerajaan mungkin cukup beruntung daripada harus mendapat penghinaan karena pelepasan kasta.


Genta buana Sweta menggema lima kali menandakan pukul Ular Gunung mulai menggulir waktu. Seiring para pelantun ujung-ujung menara Istana Shradava menyerukan syair bernuansa irama malam.


Kasih tunduk di hadapan penguasa....


Seuntai janji seluas samudra


Rapuh di ujung lidah....


Radhit kebetulan lewat. Memperhatikan teman-temannya sibuk berkeluh kesah akan sulitnya pelajaran Tsunimurti.


Senyum-senyum mereka semua palsu. Sekedar menaruh hormat akan status dirinya yang menyandang martabat Muarralintang. Satu marga yang memiliki kelas tinggi di Svetanaghari.


"Radhit!"


Suara khas memanggil Radhit. Ternyata tidak lain adalah Eng Hum, tergesa-gesa menghampiri Radhit.


"Kemarin, kamu bilang akan menemuiku saat sore. Tetapi sampai senja, aku menunggumu di ruang pustaka seperti biasa, kenapa kamu tidak datang?" Tanya Eng Hum menagih janji.


"Ah, aku benar-benar lupa!" Sambil menepuk dahi sendiri.


"Maaf," lanjut Radhit. Sedikit bingung, Eng Hum menagih janjinya kemarin.  Janji sederhana itu, seketika Radhit teringat setelah Eng Hum menanyakannya sekarang.


"Sekali lagi, maaf. Aku sama sekali lupa," ujar Radhit menyesal.


"Ada apa denganmu? Kamu tampak pucat. Apakah kamu sedang sakit hari ini?" tanya Eng Hum mengalih topik pembicaraan.


"Aku tidak bisa tidur semalaman. Eng Hum, kamu bisa membantuku?" Radhit terlihat bingung.


"Ada apa?" tanya Eng Hum penasaran, secepatnya Radhit mengajak Eng Hum ke ruang kelas pustaka yang agak lenggang suasananya. Tidak nampak banyak orang. Hanya beberapa murid lalu lalang.


Di balik salah satu deretan rak paling sudut, tidak tampak mencolok oleh siapapun. Radhit menyodorkan segulung lontar yang talinya sudah patah pertanda bahwa lontar itu sudah pernah dibuka sebelumnya.

__ADS_1


"Menurutmu, surat ini dalam aksara dan bahasa apa?" Tanya Eng Hum setelah menerima dan membuka isi gulungan lontar dari kulit papirus yang tebal.


"Isinya tentang apa?" Tanya Eng Hum lagi, sambil memperhatikan isi tulisan dalam lontar misterius.


"Aku semalaman mengartikannya, seperti suatu berkas penganugrahan," jawab Radhit.


"Aku tidak tahu pasti. Tertera stempel dan tanda tangan aneh!" Tambah Radhit sambil menunjuk ke satu bagian paling bawah dari lontar di tangan Eng Hum.


"Surat apa ini? Dari siapa?!" tanya Eng Hum sembari raut mukanya agak terkejut.


Radhit buru-buru memberi isyarat jari telunjuk di ujung bibirnya sendiri agar Eng Hum lebih merendahkan nada suaranya.


"Aku akan pergi dari Svetanaghari. Surat wasiat ini akan menolong ibunda dan aku!" Bisik Radhit agak menekan suaranya.


"Pergi dari Svetanaghari?!" Eng Hum menatap Radhit penuh tanda tanya.


"Apakah ini jalan keluar satu-satunya?" meskipun belum sepenuhnya memahami kerisauan yang sedang terjadi pada Radhit, namun Eng Hum sangat terkejut akan pemikiran Radhit yang menurutnya terlalu tiba-tiba.


Radhit mengangguk tegas, berkali-kali.


"Bukankah keluarga Istana Kaninggaluh sepakat jika...," Eng Hum tak sanggup melanjutkan kalimatnya.


"Radhit, kami semua keluargamu dan tetap akan menjadi keluargamu, apapun yang terjadi!" Kata Eng Hum menunjukkan perhatiannya.


"Jangan pernah merasa sendiri!" kata Eng Hum lagi.


"Siapa yang bisa menggantikan ibuku? Bagaimana jika kejadian ini berlaku padamu?" Radhit balas tanya.


"Bagaimana jika kamu ada di posisiku?" Radhit tak mampu melanjutkan kalimatnya sendiri. Marah dan ketakutannya berujung di bola mata yang berkaca-kaca.


"Sudahlah, kamu tidak akan mengerti!" Kata Radhit semakin gusar sendiri.


"Tidak seorang pun bisa menggantikan Ibunda-ku!" Radhit menyerobot surat wasiat yang sempat berada di tangan Eng Hum.


"Radhit, bukan itu maksudku! Dengarkan aku dulu!" Eng Hum mengejar Radhit yang bergegas cepat-cepat keluar ruang pustaka.


Tak digubris Eng Hum mengekor di belakang Radhit, meskipun perhatian beberapa orang yang kebetulan sedang berada di ruang pustaka, beralih pada mereka berdua.


"Aku tidak mau seperti Singh!"


Suara lantang Radhit menghentak suasana ruang pustaka yang semula tenang menjadi hening.


Terdengar langkah seseorang yang menapak ruangan, muncul tidak terduga dari balik deretan rak. Dia seorang murid yang memiliki nama Singh. Semua orang mengenalnya dan semua orang tahu apa terjadi padanya. Termasuk Radhit.


Pandangan mata Singh sebentar tertuju pada Radhit, kemudian Singh keluar ruang pustaka.


...* * *...

__ADS_1


__ADS_2