
Lumut tersibak langkah-langkah kaki. Taja berhati-hati bergerak, tanpa suara. Mengintai ke balik rerimbunan bakau, tampak olehnya sesosok tengah berendam di telaga tujuh mata air. Telaga dangkal penuh lumut, menenggelamkan tubuh sesosok di sana.
Taja terus bergerak perlahan hingga jarak paling dekat di belakang sesosok berendam di sana. Sosok itu, seorang perempuan. Rupanya diam-diam merasakan kehadiran Taja. Namun pura-pura tak melihat.
”Taja ...,” ucap perempuan itu memanggil, sama sekali tidak menoleh ke belakang. Ia merentangkan kedua lengan lebar-lebar, menggeliat tubuhnya, sambil menghela nafas panjang. Raut wajahnya berbinar dan matanya terpejam erat seolah menghisap ’kebahagiaan’ dari alam.
”Shammure,” Taja membalas sapa. Setelah agak lama, namun perempuan itu belum usai dari meditasi di telaga.
Shammure, dipanggilnya perempuan itu. Terpaksa memutus konsentrasinya, is menoleh pada Taja.
”Apa ini? Air mata?” Shamurre terkejut melihat muka Taja seperti itu.
”Apa yang terjadi?” tanya perempuan itu. Sementara Taja mendekatinya.
”Perlukah aku menghadap Ratu Shachini hanya untuk menanyakan ini?” tanya Taja seraya menunjukkan sesuatu di tangannya.
”Lebih baik, jika engkau yang menjelaskan siapa diriku,” suara Taja terdengar parau.
”Ada apa?” suara lembut Shammure, sangat khas didengar Taja.
”Liontin ini. Aku Orang Jawata. Benarkah?” Taja tidak segan lagi, semakin membuka telapak tangannya, menggantung liontin dalam untai kalung. Shammure terbelalak pada benda itu.
“Dari mana kamu mendapatkan ini?” Shammure hampir merenggut liontin dari tangan Taja, namun lebih dulu Taja menarik tangannya ke belakang pinggang.
“Berikan benda itu padaku!” gertak Shammure terkesan memaksa. Raut wajah perempuan itu mendadak galak. Namun surut ketika memandang Taja balik menatapnya.
”Jawab dulu pertanyaanku!” pinta Taja setelah bergerak mundur dengan gesit. Sekelebat cepat, Shammure beringsut ke posisinya dan sekali lagi hampir menyambar liontin di tangan Taja.
Beberapa saat, keduanya terlibat aksi kejar mengejar, demi berebut liontin. Terakhir, Taja terhempas ke sisi telaga. Liontin itu masih bertahan di tangannya.
“Berikan kalung itu padaku!” pinta Shammure lebih tegas. Tubuh perempuan itu menyatu dengan lumut sambil merayap ke posisi Taja di sisi telaga.
“Tidak!” Taja mengelak cepat. Sementara Shammure merasuki lumut. Sesaat hening, kecuali terdengar suara gelembung udara meletup-letup di permukaaan lumut.
Taja merangkak dari hilir telaga, tiba-tiba muncul gundukan lumut menggulung dan menyergapnya dari belakang.
Graaarrkh ...!
Shammure melesat dari gundukan lumut.
“Tidak!” Taja tersungkur lantaran beban berat menghantam punggungnya. Mereka terguling ke semak belukar berduri.
”Jangan membuatku marah!” Shammure garang. Akar-akar jarinya mencekal tangan Taja kuat-kuat.
”Berikan padaku!” Shamurre bersikeras ingin merebut kalung beserta liontin di genggaman tangan Taja.
__ADS_1
”Ti ... dak ...,” Taja tergencet dalam posisi tengkurap. Tergores mukanya, menyatu dengan semak berduri, tetap mempertahankan liontin di genggamannya.
Shammure berdelik. Wajah Taja berlinang airmata, membuat Shammurre melonggarkan cengkeramannya.
”Keponakanku, berikan liontin padaku...,” suara Shammure merendah. Sekedar untuk menenangkan Taja.
”Eist ...,” desis Shammure sambil mengusap wajah Taja.
”Jangan keras kepala! Aku selalu menganggapmu seperti Sorra,” ujar Shammure lembut. Menatap lekat-lekat wajah Taja berurai air mata.
Shammure meraba kepalan tangan Taja. Perlahan tangannya terbuka dan tampaklah liontin itu.
”Aku, putra dari Orang Jawata, benar bukan?”
”Kenapa selama ini, semua orang menutupi kenyataan ini?” Suara Taja terdengar parau terisak.
Shammure menggenggam jemari Taja gemetaran. Perlahan, diambilnya liontin itu.
”Engkau pun tidak pernah menjelaskan semuanya padaku,” Taja berubah tegang. Shammure terdiam saja. Liontin itu beralih di tangannya.
”Terbukti benar, aku Orang Jawata!” kata Taja. Namun Shammure terdiam saja, berbalik tanpa bicara.
“Desas-desus itu menyebar. Tetapi aku sama sekali tidak tahu apa-apa!” Taja mengikuti Shammure yang gesit bergerak menjauhinya.
”Jangan hiraukan mereka!” gertak Shammure.
”Illu-is-syie!” Taja menarik genggaman tangan Shammure. Sebaliknya, Shammure menegangkan ototnya untuk mempertahankan liontin itu tetap dalam genggaman.
”Illu-is-syie!” sekali lagi Taja melempar mantera lebih keras sehingga liontin itu akhirnya terlempar jauh dari genggaman Shammure.
”Am-may-zo!” Shammure tak kalah cepat, mengayuh mantera ke arah terlemparnya liontin itu.
Taja melesat gesit ke arah liontin itu terlempar.
”Kembali!” satu teriakan Shammure tak menghentikan Taja. Sekelebat dua manusia itu merasuki rerimbunan semak.
”Kembali!”
Teriak Shammure lagi. Taja tak menggubris.
”Kahl-Ca-en-tah!”
Terakhir, kalimat mantera Shammure membahana di sekitar.
Dalam sekejap mata, tiba-tiba di depan Taja, menggunduk tanah semakin tinggi, berubah wujud menyerupai raksasa berbulu hijau dan bertanduk besar. Duri-duri tajam berjajar sepanjang punggung sampai ke ekornya. Tangan-tangannya bersisik, menangkap tubuh Taja, hanya sekali menyambar.
__ADS_1
”Aaarh!” Taja tak berkutik dalam cengkeraman makhluk dari mantera yang dirapal Shammure.
”Ugh ... le ... paskan!” sekuat apapun Taja meronta, makhluk itu tak pernah melepaskannya. Sampai wujud makhluk itu memudar di udara lalu menjadi serpihan semak bertebaran. Barulah Taja terlepas dengan sendirinya. Tetapi belum sempat ia bergerak, Shammure menghadang.
Bugh!
Shammure lebih dulu menahan Taja tertelungkup ke belukar.
“Berani menantangku?” Shammure geram.
“Aku akan pergi ke Euryn!” kata Taja, membuat Shammure semakin geram.
“Tidak akan 'kubiarkan kamu pergi ke sana!” Shammure menahan kuat-kuat kedua lengan Taja.
”Lepaskan aku ...,” susah payah Taja meronta, namun Shammure semakin membekuk tubuhnya.
”Kamu, musibah Gunggali!” jari-jari Shammure, mencuat akar-akar mencengkeram Taja sampai lemas
”Anak pungut dari Jawata!” tak disangka, Shammure sama seperti yang lain, mengatainya dengan sebutan itu juga.
”Hentikaaan ...!” Taja terkulai lemas.
Shammure beringsut mundur. Pandangan matanya menyisir ke segala arah, mencari jejak liontin itu. Tapi percuma saja, manteranya sendiri yang telah membuat benda itu hilang sama sekali.
”Jangan pergi ke Euryn. Kamu tidak tahu kiranya apa yang akan terjadi jika Ratu mengungkit kembali masalah ini,” kata Shammure. Lengan-lengannya naik.
”Aku terpaksa menahan-mu!” Shammure bertindak tegas. Sebentar ia merapal mantera, keluar dari mulut agak mendesis tajam. Muncul akar-akar belukar dari sekitar tanah Taja terkulai. Akar-akar itu merayapi sekujur tubuh Taja dan melilit tubuhnya.
”Jangan ... jangan ikat aku di sini!” teriak Taja sambil meronta.
"Lepaskan aku ...!" Tak peduli Taja menghiba dan menggeliat, Shammure menjerat tubuh Taja berjuntai akar-akar muncul dari kedua tangannya.
Kemudian Shammure menjauh. Sekali teriakannya terdengar, sebelum raib ke balik pepohonan hutan.
”Setelah senja, kamu akan terlepas!”
”Jangan tinggalkan aku di sini!” teriak Taja lagi, berharap perempuan itu kembali dan melepasnya sekarang juga. Sepeninggal Shammure, Taja tak berkutik dalam kondisi terbelit tubuhnya.
"Kembali! Jangan tinggalkan aku di sini!" teriak Taja memecah kesunyian tempat itu.
Tak ada yang peduli dirinya lagi. Taja pasrah.
"Kenapa kalian semua jahat padaku ...," Taja meratapi kesendiriannya. Sesekali ia menghela nafas.
”Fuh! Sampai senja ....”
__ADS_1
...* * *...