
”Ada apa?” Shaninka keheranan saat Lorr En melotot tajam ke arah di belakang Shaninka. Mereka tertuju pada benda di tepi lorong.
”Cermin itu!” seru Lorr En sambil menunjuknya.
Bulankah itu cermin yang pernah kita temui saat pertama kali menginjak Istana Perak. Waktu itu Taja ...,” Shaninka mengingat ke masa-masa itu.
”Cermin Dua Muka!” seru Lorr En seraya mendekat perlahan.
”Hei, kau mau apa, Lorr En?” Shaninka mengikuti beberapa langkah. Tetapi, seketika ia ingatannya kembali pada kata-kata Taja untuk melarang mereka mendekati cermin itu. ’Berbahaya!’ satu kata terngiang dari larangan Taja saat itu.
”Kau mau apa, Lorr En?” Shaninka terhenti di tempat, tidak dengan Lorr En mendekat sampai dua jengkal di hadapan Cermin Dua Muka.
”Jangan mendekat, berbahaya!” seru Shaninka, tidak digubris sama sekali. Lorr En terlanjur terpesona bayangannya sendiri di cermin.
”Inikah aku? Setampan ini? kau sebut penampakan seindah ini berbahaya? Jika tahu sejak Taja mengatakan itu, maka saat itu juga aku akan melanggarnya. Pantas saja dia betah berlama-lamaan di depan cermin ini. Menakjubkan!” Lorr En seperti meracau sendiri. Mengucapkan kata-kata dari bayangan cermin yang dilihatnya, tetapi anehnya bagi Shaninka yang berdiri beberapa langkah di belakang, ia hanya melihat bayangan Lorr En tidak berubah dari aslinya.
”Aku seorang pangeran, ada mahkota di kepalaku...Wow! Tidak pernah kulihat diriku setampan ini sebelumnya!” Lorr En terpesona berlarut-larut. Terlalu terbuai dalam bayangan sendiri, tangan-tangannya mulai meraba permukaan cermin. Satu dua kali sentuhan semakin membuatnya tidak hanya melihat, tetapi juga merasa seakan bernafas di dalamnya. Ada wajah dirinya yang tampak berbinar merekah, balik menyentuh tangannya dan berpakaian gemerlap pernak-pernik seperti busana pangeran. Namun ketika bayangan di balik cermin perlahan-lahan berubah menjadi sangat memilukan, bayangan dirinya terbenam di kedalaman air gelap dan kebutaan. Sulit bernafas, sangat menyesakkan dada, menggapai-gapai ke atas. Terakhir, sesuatu ayng dilihatnya sangat mengerikan. Ada sayatan menganga di dadanya yang lebam, membiru dan setengah membusuk dalam sosok tubuh mengkerut dalam kegelapan ... tanpa denyut jantung dan rasanya seperti mati!
”Aagh!!!” Lorr En tersentak keras, saat tersadar ia sudah berada di lantai. Bukan hanay menahan sakit, tetapi semua yang baru saja dilihatnya terus melekat di otak. Ia lebih terkejut sekali lagi saat menyadari Shaninka tidak jauh darinya, sedang berada sangat dekat dengan permukaan cermin itu. Hanya berjarak sejengkal.
”Tidak, jangan...sentuh!” setengah gagap Lorr En berteriak dalam pikiran masih kacau, tetapi terlambat karena Shaninka lebih dulu menyentuh permukaan mengkilap cermin usang itu.
”Aku cantik sekali!! Mana mungkin aku seperti ini. Wajahku ... sama sekali bukan seperti kera, dua mata biru bening, hidung mancung dan mukaku sangat cerah ... seperti pagi tanpa kesedihan ... tanpa beban ... dan tanpa ....”
Racau Shaninka terhenti seketika bayangan di cermin berubah, sosoknya yang semula tampak sangat cantik, berangsur redup dan semakin pucat. Ia menutup mata dalam ketakutan dan kebisuan. Tiba-tiba semua menjadi gelap, nafas berat dan dada berlumuran darah.
”Wuaaaaa!!!” tidak tertahankan lagi, Shaninka menjerit sebelum sempat Lorr En menyergapnya agar menjauh dari depan cermin. Tubuh Shaninka terbanting ke lantai setelah Lorr En baru saja menubruknya.
__ADS_1
”Shaninka?” Lorr En memanggil namanya pelan. Tetapi Shaninka hanya diam gemetaran dan masih dalam keadaan sadar dan tidak. Rasanya ia belum kembali dari bayangan yang ditampakkan oleh Cermin Dua Rupa.
Suara langkah kaki berhenti di dekat kedua nak itu tergeletak di lantai. Wajahnya yang tidak asing memasang raut garang.
”Jadi ini kelakuan kalian, diam-diam, sembunyi-sembunyi untuk apa?”
Masih dalam gemetaran Lorr En dan Shaninka bangkit.
”Putri Alingga?!” mereka terkejut sang Putri memergoki.
”Hmm ... kalian ingin dihukum olehku atau sesuai peraturan Istana Perak?” Putri Alingga menawarkan dua pilihan yang sama-sama tidak menguntungkan. Shaninka dan Lorr En saling memandang sebentar.
Gong dipukul dua kali, tari-tarian mengisi acara pesta yang masih berlangsung. Musik sitar dan seruling mengalun bersama gerak lemah gemulai puluhan penari wanita di tengah balairung.
Sementara malam semakin membentang sayapnya disusul cuaca yang semula mendung berangsur-angsur cerah. Di ufuk timur perlahan-lahan menyingsing rembulan penuh dari balik awan hitam di langit-langit Tanapura.
Seperti juga malam itu bertepatan pada bulan purnama, semua penduduk di sana merayakan pesta yang sama tiap tahun, bersuka ria, menyantap banyak makanan yang berlimpah di meja berjejer sepanjang puluhan meter. Sebagian dari mereka menari di sekitar api unggun, mulai anak-anak kecil bermain kembang api, sampai orang tua saling bercerita dan beriringan dengan irama dawai sitar mengalun merdu. Suasana semakin meriah karena malam itu berubah cerah.
Tetapi di suatu tempat, hanya berjarak beberapa ratusan meter dari tempat pesta penduduk, persis di tengah-tengah hutan kecil di balik bukit … samar-samar sesosok bergerak mondar-mandir, gelisah dan ketakutan di antara kegelapan rimbunnya pepohonan, kedua matanya tajam memancar kemerahan terus menatap purnama yang kian sempurna menampakkan wujudnya.
“Aaargh!!!” Sosok itu menggeliat berulang kali di bawah sinar purnama yang mengarah padanya. Sedalam apapun dia bersembunyi di balik rerimbunan popon, tetapi sesuatu yang harus terjadi tidak bisa dielakkan.
Sosok yang semula berwujud laki-laki tua itu menjerit kesakitan, lalu perlahan-lahan wajah dan sekujur tubuhnya berubah menjadi makhluk yang mengerikan, semakin membesar sampai baju lusuh yang dipakainya terkoyak.
Beberapa saat dia seperti itu dengan nafas tersengal-sengal, menggelepar di tanah… lalu bangkit dengan wujud serigala besar, hitam berbulu lebat, dan mulai dari keempat kaki sampai dadanya penuh api berkobar.
Auuuuuuuuu!!! ....
__ADS_1
Auuuuuuuuu!!! ....
Auman serigala itu membahana dua kali ke seluruh tepian Tanapura dan sampai terdengar juga ke telinga hampir semua orang yang sedang berpesta di Istana Perak.
Perhatian Shaninka, Lorr En dan Putri Alingga berpindah jauh ke ufuk timur, “Dari mana lolongan serigala itu berasal?“ Shaninka memandang jauh ke tepian Tanapura, begitu juga Lorr Endi dekatnya.
“Sepertinya arah perbukitan sana. Pemukiman Sawo!“ kata Putri Alingga.
”Pemukiman Sawo?!” Lorr En dan Shaninka tegang mendengarnya. Lalu keduanya saling menatap.
“Taja berada di sana!” was-was Shaninka semakin menggebu.
“Aku tidak tahu jalan ke sana!“
“Lorr En, berusahalah! Pasti bisa! Ayolah, aku cemas kalau-kalau terjadi sesuatu padanya …maka kau harus segera pergi ke sana!” pinta Shaninka agak manja campur cemas.
“Malam ini adalah hari Bithari bulan Wehu bertepatan dengan bulan purnama, malam yang sakral sekaligus keramat … belum pernah dengar hal itu?” kata Putri Alingga.
”Sudah hal biasa di negeri ini, legenda serigala hantu ... serigala api ... atau apalah, selalu meneror penduduk tiap saat purnama seperti sekarang. Tetapi, ada yang hal lain yang membuatku heran karena perilaku kalian yang menyusup ke ruang pusaka...apa tujuan kalian ke tempat ini?”
Shaninka dan Lorr Entersadar kalau mereka sedang melanggar peraturan istana.
”Kesalahan ganda untukmu, selain menyusup...kau bahkan tidak diundang kemari,” lanjut Putri Alingga sambil menujuk ke arah Lorr En.
Kedua anka itu bungkam tidak dapat beralasan apapun.
...* * *...
__ADS_1