The Chronicle Of Jawata (Edisi Trial Kompilasi)

The Chronicle Of Jawata (Edisi Trial Kompilasi)
4.46.


__ADS_3

’Satria mati di ujung Bazzakh


Kapten menari, menuai panen


Waktunya si Tikus bangun ....’


Suasana malam sunyi senyap, tanpa ada suara apapun kecuali gema gong dipukul dua kali diiringi sebait puisi yang berbunyi seperti itu. Bukan hanya gelap yang nyaris menidurkan hampir seluruh penghuni asrama Tanapura, tetapi suasana kelam mencekam dan larut malam berselimut kabut lebih menakutkan siapapun yang masih terjaga. Agaknya, itulah terjadi pada Taja malam pertamanya di Tanapura setelah berpekan-pekan dihujat lelah. Banyak masalah sangat melelahkan.


Cukup lama ia termenung di pembaringan dalam cahaya remang-remang dengan pandangan menerawang ke langit-langit ruangan berisi dua puluh murid. Sesekali ia menengok ke pembaringan tempat Lorr En, berharap ia juga belum tidur. Tetapi justru aneh rasanya jika si Katak itu belum tidur pada malam selarut ini.


“Dua belas kali dalam sehari, beberapa penjaga mengitari kawasan asrama, mengumandangkan syair-syair kemudian menabuh gong dua kali. Dan pada malam hari, dua belas kali mereka juga melakukan itu, membuatku tidak bisa tidur. Bagaimana denganmu, Lorr En?“ Taja mengamati punggung Lorr En. Tubuhnya tampak menggunduk di balik selimut yang membungkus mulai dari ujung kaki sampai kepala. Tidak ada tanggapan darinya selain dengkuran lembut. Tidak salah lagi, rupanya dia memang sudah terlelap sejak tadi.


“Hmm …,” tidak heran Taja melihat Lorr En tertidur sangat pulas sejak tadi. Anak itu memang tidak pernah susah tidur dalam kondisi apapun. Andai saja bisa seperti dia, seperti tidak ada beban, dan setiap kali bau bantal langsung tertidur, pasti menyenangkan.


“Negeri penuh puisi-puisi aneh …,” gumam Taja sendiri dan beralih pada pikiran lain.


“Bukan puisinya yang terpenting, tetapi itu pertanda waktu ....”


Taja agak terkejut saat mendengar suara dalam keheningan malam selarut itu. Entah siapa yang bersuara, yang pasti salah satu dari dua puluh penghuni kamar. Dan ternyata, suara itu berasal dari bagian sudut ruangan, tepatnya dari pembaringan Purwa.


Taja menoleh ke sana dalam posisi terduduk di pembaringannya sendiri.


“Purwa, belum tidur juga rupanya?” Taja agak terkejut karena ternyata masih ada yang bernasib sama malam itu, “Kenapa? apa kau juga merasa gelisah? tidak bisa tidur?” tanya dia lagi tanpa beranjak dari pembaringannya.


“Ya, sedikit.  Serapat apapun mataku terpejam ... tetapi pikiranku tidak,“ jawab Purwa sekedarnya.


“Hei, apa maksudmu...Itu hanya pertanda waktu?“ tanya Taja, ingat kalimat Purwa sebelumnya.


“Rupanya kau belum hafal tentang waktu di sini? Hmm … Benar-benar anak hutan! Di kawasan kota pusat kerajaan memang selalu seperti ini. Berbeda dengan hunian penduduk luar, mereka hanya menabuh gong saja, itu pun hanya pada malam hari. Tapi di sini tidak sekedar itu, ada beberapa penjaga yang bertugas mengawasi waktu dengan membacakan sedikit syair-syair legenda dan mengucap simbolnya.


“Hmm …?” Taja berpikir sebentar, tapi belum mengerti juga.


“Baiklah, mulai sekarang coba hafalkan ini!“ Purwa merentangkan sepuluh jari tangannya, lalu mulai menekuk satu-persatu sebagai hitungan.


Ayam jantan berkokok, pukul 4 pagi


Ayam jantan terbang, pukul 5 pagi


Biyan memakan padi, pukul 6 pagi


Merpati putih, pukul 7 pagi


Kera betina, pukul 8 pagi


Harimau jantan, pukul 9 pagi

__ADS_1


Singa berburu, pukul 10 pagi


Singa bersarang, pukul 11 siang


Naga bersiul, pukul 12 siang


Naga terbang, pukul 1 siang


Naga kembali, pukul 2 siang


Elang bukit, pukul 3 sore


Hiu bertarung, pukul 4 sore


Ular melingkar, pukul 5 sore


Angsa mengapung, pukul 6 sore


Elang kembali, pukul 7 sore


Naga bersolek, pukul 8 malam


Naga bermimpi, pukul 9 malam


Tikus bangun, pukul 10 malam


Tikus kembali, pukul 12 malam


Serigala biru, pukul 1 malam


Serigala bulan, pukul 2 malam


Serigala menari, pukul 3 malam


Jadi dalam sehari semalam ada 24 tanda waktu, mengerti?” Purwa mengakhiri penjelasannya dengan senyum kecil saat melihat ekspresi muka Taja yang penuh bingung.


”Begitu banyak waktu yang harus dihafal, belum lagi beragam puisi pengantarnya...,” Taja garuk-garuk kepala bukan karena gatal. Tetapi ia kewalahan juga setelah mendengar penjelasan Purwa yang sangat cepat menghafalnya.


“Mengapa puisi-puisinya hanya berkisah tentang Satria dan Kapten?”


“Karena bulan ini adalah bulan Honggura, bulan penuh sejarah pahlawan jaman dulu. 30 hari penuh dalam bulan ini akan mengisahkan puisi tentang Satria dan Kapten,“ jelas Purwa. Taja manggut-manggut saja.


“Jadi…setiap bulan akan berbeda puisinya?” Taja menyimpulkan dan Purwa mengiyakan sambil mengangguk kecil.


“Lalu, maksud puisi-puisi itu?”

__ADS_1


“Banyak artinya, tergantung orang masing-masing menafsirkannya. Ada yang menganggap puisi-puisi itu sebagai kiasan, renungan, selain ada juga yang mendengarnya sekedar kisah atau hiburan,“ Purwa bersandar.


“Hiburan? rasanya aku tidak terhibur oleh puisi pukul…si Tikus bangun!”


“Maksudmu puisi pukul 10 malam tadi?”


Taja mengangguk kecil, “Ya. Apa artinya ’Satria mati di ujung Bazzakh...kapten menari, menuai panen’?”


“Pengorbanan. Maksudnya adalah pengorbanan seorang hamba untuk negeri dan raja mereka, rela gugur demi berlangsungnya negeri yang makmur.”


“Lalu, mmm...apa itu Bazzakh?”


“Menurut legenda, itu nama sebuah pedang yang sangat hebat dan sakti. Tapi sekarang entah pedang itu masih ada atau tidak. Tapi setahuku dalam sejarah, pedang itu sudah lama musnah. Kamu akan tahu juga tentang sejarah pedang legenda saat pelajaran Perakitan Senjata, Guru Tan Tsei sering menyebut nama pedang itu.”


“Sangat membingungkan…penuh teka-teki ,” Taja menggumam.


“Purwa, aku merasa…kamu sangat pandai mengartikan puisi. Bisakah kau menceritakan sedikit tentang puisi-puisi lain?”


“Tidak semua puisi aku bisa mengartikannya, tetapi....aku kenal puisi-puisi bagus.”


“Tolong, ceritakan yang kau tahu saja!” pinta Taja sambil mendekat ke pembaringan Purwa. Ia tampak mulai tertarik tentang puisi.


“Nah, aku ingat! Saat itu…beberapa bulan yang lalu sebelum kalian bertiga datang ke sini, aku bermimpi aneh…dalam mimpiku itu, aku sedang membaca sebuah puisi dari sebuah kitab. Entah kitab apa namanya, yang jelas puisinya aku ingat seperti ini,


We Hu yang sedih,


Angsa kecil itu terbangun...


Senyum satu tahun yang hilang itu telah kembali


Ia melangkah di atas permadani serunai berbaur duri


Cinta dan penderitaan telah membuatnya pergi dan kembali


Aku melihat ia meniti ratusan anak tangga berselimut karpet perak


Dan di sana ada…sepasang tangan lembut seorang anak lelaki


Inilah waktunya, pertemuan angsa kecil dan anak malapetaka....”


Tatap mata Purwa menerawang ke atap-atap kamar selama membaca puisi itu tanpa terbata-bata. Kedengarannya sangat hafal dan ingat betul tiap baitnya.


“Apa artinya itu, Purwa?” Taja ingin penjelasan tentang puisi itu.


“Hampir setiap malam aku memikirkan itu, akhirnya aku menyimpulkan …”

__ADS_1


“Apa?” penasaran Taja, siapa yang tiba-tiba muncul, mendorongnya ke tempat Purwa.


...* * *...


__ADS_2