
”Kahl-Cahentah!!!”
Sekali lagi Taja merentangkan mantera. Ratusan bola-bola api menyatu dan terpental balik ke angkasa, membakar pasukan penyihir beserta koloni kelelawar liar. Angkasa berkobar api merah luar biasa, semakin meluas dan membentuk ombak besar melahap semua yang berlewaran. Hujan abu sesaat terjadi. Mayat dan bangkai hangus kelelawar berjatuhan.
Setelah itu Taja merasa tubuhnya sangat lunglai. Hawa panas di atas menyengat sampai ke permukaan pasir. Akhirnya ia ambruk.
Lorr En bangkit setelah hujan hangus mereda. Ditinggalkannya Ketua Sujinsha dan beralih ke arah Taja bersimpuh.
”Kamu gila! Sangat gila!” ia mendekap erat tubuh Taja yang lemas.
Langit masih berasap dan berganti angin kencang terjadi. Tiba-tiba Taja menggigil. Ada ketakutan lain dirasakannya, mulai terlihat saat bayang-bayang serigala raksasa membayangi di angkasa.
”Aku akan melindungimu!” Lorr En memeluk Taja. Andai saja ia bisa mengantonginya ke balik saku baju, pasti akan dilakukan. Mereka memandang angkasa yang semakin riuh oleh suara-suara raungan awan hitam berwujud serigala.
”Arroragh ...,” Taja beringsut di bawah Lorr En membelakanginya. Bayangan gelap makhluk-makhluk siluman itu mengelilingi di atasnya.
”Selamatkan dirimu!” Taja mendorong Lorr En karena hampir saja makhluk-makhluk itu menyambarnya.
”Tidaaak!” Lorr En terguling. Dari tempatnya agak jauh, ia melihat wajah Taja yang kelelahan dan sempat berbicara.
”Lari!” Lorr En berusaha untuk menggapai Taja namun terlalu jauh dari jangkauannya, ”Lari!” serunya untuk menggugah Taja dari terpaku di tempat. Sementara puluhan Arroragh kembali menyerang.
”Tidaaak!!!”
Seekor Arroragh menerjang Lorr En sampai terpental keras. Sementara puluhan yang lain menyerang ke satu arah tempat Taja bersimpuh.
”Tidak...,” Lorr En kehabisan nafas, pasir menyumpal mulut dan telinganya. Sebelah kakinya terasa sakit sekali lantaran bengkok tepat di mata kaki.
”Taja ...,” Lorr En berlinang air mata menyaksikan Taja terpontang-panting ke angkasa di antara Arroragh beterbangan.
Makhluk-makhluk itu meraung berat, meregangkan tubuh sehingga membesar berlipat-lipat. Dan dari moncongnya, tampak taring panjang-panjang.
Wuuuurgh!
Lorr En terbelalak. Terakhir kali terlihat olehnya bayang-bayang puluhan Arroragh menyerbu lagi ke arah Taja yang terjatuh ke suatu tempat. Ia sendiri juga tak bisa berbuat apapun. Membayangkan temannya terkoyak dan dimangsa. Tiba-tiba langit-langit berubah cemerlang. Bulatan cahaya berpendar dari gumpalan awan.
__ADS_1
Auuurgh ...!
Bulatan cahaya berubah menjadi serigala api. Meraung panjang sebelum menghempas semua Arroragh. Makhluk-mahluk ganas itu terpental ke segala arah dan menghilang ke kegelapan langit. Sebagian berjatuhan ke hamparan pasir dan terhisap. Kecuali seekor yang paling besar kembali bangkit dan siap beradu dengan serigala api.
Auuuuurgh ...!!!
Dua serigala berbeda beradu moncong. Saling membenturkan tubuh. Arroragh terakhir terpental ke angkasa dan lenyap dalam kilatan pupus. Tinggal serigala api yang mendarat ke pasir. Meraung sesaat. Tubuhnya kembali dikelilingi cahaya putih membulat. Dan dalam sekejap mata berubah wujud menjadi sosok lelaki dewasa.
Kegelapan malam menyembunyikan wajah lelaki itu. Hanya pakaiannya yang tampak menyapu pasir. Ia menghampiri ke tempat Taja tergeletak kemudian membopongnya dan bergerak ke posisi Lorr En berada.
Sampai jarak beberapa jengkal kaki dari Lorr En, lelaki dengan cahaya putih di sekujur tubuhnya itu meletakkan Taja di sana.
”Taja!” Lorr En segera menyongsong. Sementara bayangan lelaki itu menjauh.
Wajah Taja berubah pucat. Dada, lengan dan kakinya terkoyak parah dan nafasnya tipis sekali, ”Ni Gauma ...,” ucapnya dengan tangan menggapai-gapai pada sosok lelaki bercahaya itu meninggalkannya. Ketika wajah lelaki itu sempat menoleh balik seraya mengulas harapan, ”Kau akan sembuh ...,” suaranya terdengar lirih berbaur angin.
Namun pertarungan belum usai. Seorang penyihir berjubah hitam berpenunggang kelelawar paling besar telah menghadang lelaki bercahaya itu. Si penyihir hitam dari tunggangannya langsung mendarat sejurus di hadapan.
Penyihir berjubah hitam sebagai satu-satunya yang lolos dari kobaran api, setelah menyingkap tudung jubah, tampak wajahnya yang pucat kebiruan. Kecuali kantung matanya merah gelap dan gurat ular naik turun pada pelipis kiri dan kanan.
Lelaki bercahaya hanya mematung di tempat. Kedua lengannya terentang lebar-lebar dan melepas cahaya dari tubuhnya. Sesaat kemudian mereka mengerahkan tenaga. Dua kilau cahaya berbeda beradu, sampai hentakan dari masing-masing kekuatan menimbulkan gempa setempat dan dua bayangan mereka saling terpental ke arah berlawanan.
Suasana kembali sunyi. Angin panas menyeruak sekitar Lorr En satu-satunya yang masih tersadar setelah dua bayangan manusia beradu. Satu lenyap ke dalam kegelapan dan satunya lagi terhempas masuk ke pasir.
Lorr En menghampiri Taja, menggugah berkali-kali. Namun koyakan di dada Taja sangat parah.
”Taja ... bertahanlah ... jangan tinggalkan aku,” Lorr En tak kuasa menahan air mata, ”Jangan biarkan aku tersesat di dunia ini!”
Lorr En menangis sejadinya. Namun tubuh Taja sudah tidak bergeming sama sekali nafas mulai menipis.
Shraaaakh ...!
Sayap-sayap mengepak, mengejutkan Lorr En belum berhenti akan dukanya. Ketika ia menoleh ke belakang, tidak jauh darinya, ada seekor kelelawar raksasa tunggangan penyihir itu. Ternyata masih mengawasi dari arah yang tidak terlihat sejak tadi.
Lorr En terkesiap. Dan kini, tidak seorangpun selain ia yang hidup. Lorr En pasrah.
__ADS_1
Kraaak ...!
Kelelawar itu merangkak cepat dan menyerang!
”Tidak ...!” Lorr En menahan nafas sembari menutup matanya. Dipeluknya Taja erat-erat seketika kelelawar raksasa itu menerjang.
Grakk ...!
Namun tiba-tiba kepala kelelawar itu terpental jauh dari tubuhnya. Perlahan Lorr En menyingkap wajah dan terlihat olehnya sebuah pedang meneteskan darah kental di tangan seseorang. Ternyata, tangan itu pula yang sesaat tadi menebas leher kelelawar sebelum sampai menerkam.
"Maaf, aku terlambat!”
Seseorang berdiri. Melihat ia, Lorr En menjadi lunglai.
”Ketua Sujinsha ...,” meskipun demikian membuat Lorr En bernafas lega.
”Bagaimana keadaanya?” Ketua Sujinsha memeriksa kondisi Taja.
”Sangat parah ...,” nafas Lorr En tersengal naik turun. Sebentar Ketua Sujinsha menggenggam pergelangan Taja dan menyentuhkannya ke pipi, ”Aku terlambat untuk melindungi kalian ....”
”Apa ia bisa selamat?” Lorr En terkesiap. Ketua Sujinsha melihat ke reruntuhan Kakilangit Jauh di sana.
”Ada harapan jika kita bergerak lebih cepat!”
”Tolonglah dia, Kapten! Bawa dia secepatnya dari sini!” pinta Lorr En, tidak peduli kakinya terkilir parah.
”Bersadar ke punggungku!”
”Aku hanya menambah beban!” Lorr En menolak, tetapi Ketua Sujinsha enggan untuk meninggalkannya.
”Bersandar ke punggungku dan pegang erat. Ini perintah!” kata Ketua Sujinsha sekali lagi. Akhirnya ia membopong Taja yang tak sadar diri sekaligus menggendong Lorr En di punggungnya, menuju reruntuhan Kakilangit di bawah purnama yang hampir berada tepat di tengah langit.
Padang pasir kembali hening. Kecuali deru angin adalah suara paling kencang yang terdengar. Dari arah tak terlihat oleh siapapun, sebuah tangan tersembul keluar pasir. Sesaat saja, tubuhnya yang terbungkus jubah hitam merangkak keluar. Ia menggeram berat sejauh menatap ke reruntuhan Kakilangit jauh di depannya. Namun ia mengurungkan niat untuk menyusul tatkala purnama yang benderang kian bergeser ke tengah langit, menyurutkan seonggok angkara tertahan di balik sorot mata merah. Akhirnya, ia memilih untuk raib ke kegelapan malam.
...* * *...
__ADS_1