The Chronicle Of Jawata (Edisi Trial Kompilasi)

The Chronicle Of Jawata (Edisi Trial Kompilasi)
4.14. Diburu Penyihir (1)


__ADS_3

Taja tersadar. Bau busuk menyengat, menggugah ia dari pingsan. Entah berapa lama ia terpasung di tempat gelap dalam keadaan tidak sadar. Sepasang matanya berputar ke sekeliling yang tampak remang-remang oleh api-api obor terpasang di dinding batu. Tersadar dirinya dalam keadaan terpasung belenggu pada hamparan papan bundar dengan borgol besi berkarat mengikat sangat kuat.tangan serta kakinya.


Samar tetapi semakin jelas, ada suara merintih dari berbagai arah. Seperti suara anak-anak yang kesakitan. Terasa ada yang bergerak-gerak di papan belakang dari tempat Taja terikat, meronta kuat dan berusaha berteriak dalam mulut tersumpal.


Jari-jemari Taja mencuat panjang, menggapai sumpal di mulutnya, ”Lorr, kau di mana?” dicobanya mengeluarkan suara dalam suasana tidak bisa melihat ke belakang.


Hanya terdengar suara dari papan belakang, ”Ng ... ng!” yang tidak lain adalah Lorr En dalam keadaan yang sama di papan belakangnya.


”Raojhin, di mana kau?” Taja memanggil Raojhin, barangkali ia ada di sekitar. Tetapi tidak ada tanda-tanda keberadaan teman yang satu itu.


”Mer-lyou-zab-ni! Mer-lyou-zab-ni! Mer-lyou-zab-ni ...,” diucapkannya mantera itu berkali-kali sampai belenggu besi manjadi lunak dan Taja luput dengan mudah dari ikatannya. Rantai-rantai belenggu berubah jadi juntaian lunak beberapa saat, tidak menyia-nyiakan waktu, Taja cepat-cepat membebaskan diri sebelum rantai-rantai itu kembali mengeras. Lalu menuju ke tempat Lorr En dan melakukan hal yang sama.


”Mengapa tidak mengucap mantera?” belum terjawab, Taja sudah tahu sebabnya.


”Ng ... ng!” Lorr En menunjuk ke arah mulutnya yang tersumpal. Begitu terlepas dari ikatan, ia membuka sumpal mulutnya.


”Sudahlah, aku tahu kalau mulutmu tersumpal karena itu kau tidak bisa mengucap mantera.  Di mana Raojhin?” Taja melihat sekeliling tempat penuh dengan papan-papan tinggi berdiri.


”Tempat ini sangat pengap dan bau, membuatku pusing!” Lorr En meludah berkali-kali, ”Kita berada di mana?” lanjutnya berbisik keras pada Taja yang sama-sama tidak tahu tempat mereka berada sekarang.


”Sst ... jangan berisik! aku punya firasat kalau tempat ini bukan tempat yang aman untuk kita,” sergah Taja seraya menahan sakit.


”Ada apa?” Lorr En keheranan memperhatikan Taja yang berkeliat sebentar.


”Mer-lyou-zab-ni membuat otot-ototku kram,” jawab Taja mengutarakan alasannya. Sejenak bersimpuh di sudut-sudut lorong yang gelap.


”Kram? Mengapa sampai bisa?” Lorr En mengamatinya dari tempatnya berdiri di dinding-dinding batu.

__ADS_1


”Konsekuensi sihir tidak selalu berakibat baik, sekalipun untuk membantu kita keluar dari masalah,” jawab Taja mengingatkan hal itu.


Sementara Taja mengatur nafas, Lorr En sibuk mempraktekkan sesuatu.


Ctas! Ctas!!


Ia menjentikkan jari berkali-kali dan muncul sedikit percikan api akibat tindakannya.


”Sedang apa kamu?” Taja di depannya tengah berupaya menggapai sebilah tongkat obor dan melihat-lihat ke jalan keluar dari rongga gua yang sangat luas itu.


”Membuat api dengan sihir!” kata Lorr En.


Taja menggeleng-geleng heran, ”Ratu Shachini saja yang mampu melakukan itu! Kita hanya bisa menggunakan sihir ’membangkitkan empat unsur’, dan harus ada salah satu wujud sesungguhnya dari keempat unsur itu!”


”Sekedar mencoba dan hampir berhasil. Jika mengeluarkan tenaga lebih besar lagi, pasti akan berhasil!” balas Lorr En.


”Bawa ini!” Kebetulan sekali, Taja menemukan seretan tongkat-tongkat berujung obor di tidak jauh dari tempanya dan memberikan obor lain pada Lorr En.


”Lewat sini!” kata Taja sambil mencari sela-sela di antara padatnya papan berjejer tinggi-tinggi tempat memasung mayat-mayat.


”Jangan menatap mayatnya!” Taja menarik lengan Lorr En.


”Tempat apa ini? Mengapa banyak sekali mayat anak-anak? Apa ini yang disebut makam?” setengah memejamkan mata, Lorr En berusaha agar tidak melihat ke sekeliling.


”Ini lebih mengerikan dari makam!” tanggap Taja. Ia menyulutkan api pada setiap obor yang dilalui sepanjang langkah dalam remang-remangnya rongga gua sangat panjang dan berliku-liku. Sepanjang rongga itu juga terbentang pemandangan tidak jauh mengerikan, ratusan mayat membusuk di sana, sebagian mengering dan sebagian lagi sudah menjadi tulang-belulang, bergelimpangan di sana-sini, hampir saja membuat keduanya muntah. Apalagi semakin masuk ke kedalaman gua, semakin pengap dan sesak udara yang bercampur bau busuk sangat menyengat.


”Di mana Raojhin? Aku melihat mereka menangkapnya juga, pasti dia berada di sekitar sini,” Taja masih memikirkan Raojhin, penglihatannya tak berhenti mengawasi ke sekeliling, mencari-cari sosok temannya di antara tumpukan mayat yang dilalui.

__ADS_1


Sementara berada di bagian lain gua itu, sedang diadakan ritual khusus para penyihir. Di sanalah Raojhin dibaringkan. Tersadar setelah semalaman pingsan, ia terkejut mendapatkan dirinya tengah berada di kerumunan orang-orang asing yang sibuk menyerukan kalimat-kalimat mantera.


Sudah habis tenaganya untuk meronta, tetapi semakin mantera berlanjut, tubuhnya terasa semakin lemah.


”Tidak ...,” rintih Raojhin dalam kesakitan. Sekali-kali matanya yang berkaca-kaca karena ketakutan, melihat ke sebelah kanan-kiri, tampak mayat anak-anak yang sudah membusuk terpasung di papan, sama yang sedang terjadi padanya. Sempat terbayangkan sesuatu yang akan terjadi padanya seperti mayat-mayat itu.


Tangan-tangan berkuku panjang mengitari Raojhin, membuatnya terbius berkali-kali, lalu tersadar kembali. Begitu seterusnya sampai tubuhnya seakan-akan meledak. Ada seorang anak lelaki sebayanya tengah sekarat di papan, terlentang dalam keadaan sebagian tubuhnya yang kusut mulai ujung kaki sampai lengan. Ia menguak terakhir kali sebelum seorang kepala ritual merentangkan tangan-tangannya untuk menghisap sesuatu dari anak itu yang membuat tubuhnya semakin kusut hingga tak berkutik lagi.


”Tidaaak!!” teriak Raojhin kaget melihat pemandangan mengeringkan di dekatnya.


”Lepaskan aku!!!” Raojhin meronta dalam sisa tenaga. Namun tidak lama kemudian, mantera-mantera telah membiusnya lagi.


Sementara itu, Taja dan Lorr En menelusuri rongga-rongga gua mendengar teriakan Raojhin, menyeruak puluhan lorong-lorong gelap gua.


”Lewat sini!” Taja memilih lorong paling lebar, beratap dan berdinding batu seperti kebanyakan lorong di tempat itu.


”Kudengar arah suara dari sana!” Lorr En menikung ke arah berlainan.


”Kalau begitu, ke sanalah dan aku ke jalan ini!” Taja memutuskan ide. Lorr En menggeleng ragu.


”Ada apa?” Taja tak heran melihat Lorr En bertingkat seperti ketakutan.


”Aku … ikut kamu saja …,” jawab Lorr En gemetaran kakinya.


”Maka jangan berdebat denganku, tidak ada waktu! Kita harus segera menemukan Raojhin, jangan sampai terjadi sesuatu padanya,” kata Taja.


Akhirnya Lorr En mengekor di belakang Taja. Mereka terus menelusuri lorong, semakin ke dalam semakin sesak udara. Tiba di kedalaman pekat rongga gua yang sangat luas. lebih dari itu, jalan yang dilalui hanyalah salah satu lorong yang dari sekian banyak lorong lainnya menuju ke satu titik rongga luas.

__ADS_1


...* * *...


__ADS_2