
Malam kelam diselimuti mendung kemerahan di langit. Angin dingin menyisir perairan Danau Senja memendarkan warna semerah darah di ujung cakrawala. Sangat sunyi suasana di sekitar, luasnya memukau pandangan mata. Sesekali kicau burung-burung menggema.
Menjelang tengah malam, tampak puluhan orang berduyun-duyun sepanjang tepian dermaga danau. Orang-orang itu riuh sibuk menyiapkan sesuatu.
Berburu Bunga Ajaib.
Sayembara itu sudah setahun lalu diadakan namun belum pernah di menangkan oleh seorang pun warga Tanapura. Lebih dari itu, sudah tidak ada lagi yang berani mempertaruhkan nyawa walaupun sampai tersebar hampir ke seluruh Jawata dan imbalan dinaikkan berlipat ganda.
Sudah banyak orang yang mengikuti sayembara tersebut demi mendapatkan imbalan sangat besar dari Paduka Raghapati, namun bukan resiko yang mudah bagi siapapun menyelam di Danau Senja Tanapura pada malam Madza.
Tepatnya tengah malam, setiap orang menyelam ke danau itu, hampir tidak ada yang kembali dengan selamat. Sesuatu di kedalaman air menjadi momok sangat berbahaya. Kemunculannya tepat tengah malam hingga menjelang fajar menyingsing. Makhluk kedalaman danau, sangat ganas dan suka memangsa daging.
Namun hadiah besar, sulit diabaikan. Resiko kematian, tak dilihat lagi bagi siapapun yang nekad mengejar hadiah dari Paduka Raghapati.
Inilah saat yang ditunggu-tunggu. Sebentar lagi tepat tengah malam, puluhan prajurit akan melepas dua perahu dilepas dari hulu. Dengan menggunakan dua anak muda untuk dijadikan umpan untuk berburu Bunga Ajaib ke dasar danau.
Perkemahan didirikan seadanya untuk semalam itu saja. Juga sekelompok Ketua Sujinsha memantau malam itu.
"Apakah kalian bisa berenang?" tanya Ketua Sujinsha pada dua anak muda, tidak lain adalah Taja dan Lorr En.
Keduanya mengangguk.
"Kami bisa membawanya," kata Taja.
Ketua Sujinsha menghela nafas panjang dan berkali-kali memejamkan mata agak lama sambil merenungkan tindakannya.
"Maaf, aku menyerap kemampuan berbahasa dari Tuan," kata Taja merasa tidak nyaman melihat Ketua Sujinsha merasa pusing setelah beberapa kali membalas tatapannya.
"O, ya? Apakah itu salah satu teknik keahlian tertentu? Kalian sebenarnya siapa, aku merasa sangat berbeda. Khususnya kamu," perhatian Ketua Sujinsha kembali pada Taja.
"Percayakan kalian padaku? Aku melakukan ini pada kalian tanpa rencana yang matang, terlalu mendadak dan situasinya sangat genting," kata Ketua Sujinsha setelah membuka matanya dan menatap tiga bocah itu satu-persatu.
"Jika bukan pada Tuan, pada siapa lagi kami harus percaya?" Taja balik bertanya, disambut ekspresi polos Lorr En.
"Kita sedang berhadapan dengan kematian. Padahal aku tidak pernah peduli Bunga Ajaib sebelum kalian datang," kata Ketua.
"Ikuti rencanaku. Aku akan berusaha untuk mengulur waktu sampai fajar. Setelah itu giliran kalian beraksi sesuai arahanku.
__ADS_1
"Selama di atas atas perahu, kalian tetap diam dan tenang. Jangan berisik. Jangan ada gerakan tiba-tiba. Itu akan menarik perhatian makhluk-makhluk danau.
"Kalian akan diburu makhluk-makhluk itu akan memburu kalian,"
Ketua menjelaskan hal itu pada Taja dan Lorr En. Ketua Sujinsha sejurus menatap keduanya penuh cemas.
"Banyak orang ingin melihat kalian gagal. Mereka mengharapkan kematian kalian," lanjut Ketua Sujinsha. Tentu membuat Taja dan Lorr En tak nyaman mendengarnya.
"Kami siap, Tuan," kata Taja. Di ambang resiko berbahaya, tampaknya dia jauh lebih tenang daripada Lorr En yang gusar.
"Apapun nanti yang terjadi padaku, kalian tidak boleh bertindak gegabah. Lakukan saja kata-kataku. Setelah itu nasib kalian di luar batasanku," kata Ketua Sujinsha lagi.
Ketua Sujinsha beranjak sebentar, mempersiapkan perahu untuk berlayar ke danau.
Sementara Taja terdiam, mencerna sesuatu di pikirannya. Lorr En berkali-kali menyenggol Taja dengan sikutnya sambil berbisik dalam bahasa Gunggali.
"Jelaskan apa yang dikatakan Ketua padamu, aku tidak mengerti."
Pinta Lorr En.
Namun Taja mengalihkan pembicaraan lain.
Lorr En mengernyitkan dahi, "Apa maksudmu?" malah balik tanya.
"Jika benar itu bunga. Mengapa disebut 'Berburu'. Kenapa bukan 'Memetik' ...?"
Itu yang mengherankan pikiran Taja.
Tidak lama mereka membicarakan itu, seseorang bawahan Ketua Sujinsha datang. Ia menyampaikan sesuatu.
"Lorr, kita bergerak sekarang!" kata Taja.
Ketua Sujinsha kembali melambaikan tangan pada Taja dan Lorr En. Keduanya sigap menuju ujung dermaga. Dua perahu kosong telah siap menanti.
"Ingat kataku, sebelum tengah malam, perahu kalian tetap diam jangan sampai goyah. Berusahalah tetap tenang sampai fajar muncul," sekali lagi Ketua Sujinsha mengingatkan pesan.
Taja mengangguk saja.
__ADS_1
"Tuan, masih ada waktu jika Tuan berniat mengurungkan tindakan ini," bisik seorang bawahan Ketua Sujinsha. Taja dapat membaca gerakan bibir orang itu. Namun Ketua Sujinsha menggeleng.
"Ikuti saja rencanaku," jawabnya pada anak buahnya. Yakin dan tanpa ragu.
Taja dan Lorr En menaiki perahu yang cukup kokoh.
"Mengapa Tuan ingin menolongku?" sesaat Taja sempat bertanya pada Ketua Sujinsha sebelum jangkar perahu dilepaskan. Namun Ketua Sujinsha tak segera menjawab.
Perlahan dan hati-hati, Taja mengayuh dayung perahu hingga bergerak semakin ke tengah danau.
Menjauhi dermaga, perahu mengayuh perlahan. Banyak prajurit di bawah kubu Ketua Sujinsha. Dia berdiri di tepian dermaga dan terus memandang ke arah perahu Taja dan Lorr En.
Sedangkan para prajurit di kubu sebelah, mereka tak henti mengawasi dua anak muda yang tengah berada di atas perahu mereka.
"Balas budi ...," ujar Ketua Sujinsha lirih tanpa seorang pun mendengarnya. Kemudian ia juga menyusul dengan perahu satunya yang tanpa layar dan mengambil arah berbeda dengan mengayuh dayung agar tergerak perahunya ke sana. Selanjutnya, dua perahu itu terdiam di posisi masing-masing dan jarak antara keduanya sekitar puluhan kaki.
"Apa yang akan terjadi?" gumam Lorr En, kian cemas ketika matanya menangkap bayangan sekelebat di kedalaman danau.
"Tenanglah, Lorr ...," kata Taja, namun tidak cukup membuat Lorr En tenang.
"Aku takut ...," Lorr En berpegang erat pada kendali tali perahu. Taja melihat genggaman tangan Lorr En agak gemetaran.
"Laskar Katak tidak gentar danau," kata Taja.
"Bukan danau ini yang membuatku khawatir. Tetapi aku melihat ...," Lorr En menengok ke permukaan air.
"Jangan banyak bergerak. Ingat arahan Ketua Sujinsha!" Taja mengingatkan.
"Kamu belum menjelaskan semua kata-katanya, mana 'kutahu?" Lorr En mendengus agak kesal.
"Di bawah kita, puluhan makhluk ganas dan sangat lapar...tidak luput memperhatikan apapun yang bergerak dan akan makan apa saja yang jatuh ke air. Jadi, turuti kata-kataku."
"Jangan membuat perahu kita terguncang!" kata Taja. Lorr En terkejut.
"Apa?!" Lorr En mendelik, bulat-bulat kedua bola mataya menatap Taja.
"Ketua Sujinsha sengaja menjadikan kita umpan?" Lorr En paham rencana yang membahayakan.
__ADS_1
...* * *...