
Kepak sayap burung mengibas pucuk-pucuk bambu, nyanyiannya menggema, membelah angkasa perbukitan hutan bambu berselimut kabut. Derap langkah kaki murid-murid berlarian, semakin mencapai puncak.
Raojhin menghentikan langkah, beralih pada bongkahan batu untuk beristirahat. Beberapa saat mengatur nafas sambil mengembalikan tenaga yang tersisa. Rintang Alam kali ini bukan yang tersulit bagi murid-murid senior, tapi cukup membuat Raojhin kelelahan meskipun sampai detik ini masih bertahan.
Sekawanan murid-murid senior berlalu darinya, meninggalkan siapapun yang terbelakang. Hingga susana di sana tampak sepi, hanya satu dua murid saja yang tertinggal.
Raojhin melihat sudah lebih dari satu murid jatuh pingsan, beberapa lainnya menyerah. Mungkin karena fisik mereka kurang kurang stabil atau menderita sakit. Setelah itu, beberapa penjaga mengevakuasi murid-murid itu ke suatu tempat.
“Bangun, Praja Kecil! Hari sudah mulai gelap. Teruslah berlari!” Kata salah satu seorang yang kebetulan melintasi Raojhin.
“Ya, Tuan. Saya segera menyusul,” jawab Raojhin dengan nafas tersengal-sengal sebelum pelatih itu berlalu.
Memang hari mulai menggelap, suara-suara peluit pelatih samar-samar menjauh. Sudah tidak ada lagi murid-murid yang tertinggal kecuali dirinya. Sebenarnya Raojhin ingin menyerah meskipun ia merasa masih mampu untuk melanjutkan Rintang Alam hari itu. Tapi ketika dia membuka sepatu, ada satu luka koyak di telapak kakinya karena duri sepanjang setengah jari telunjuk, menancap hingga tembus sepatu kulit yang dikenakannya. Bercak darah merembas dari sepatunya.
Setelah beberapa waktu tertunda untuk membalut kakinya, Raojhin hendak memaksa diri untuk melanjutkan lagi langkah, tapi tiba-tiba dia terusik oleh sesuatu.
Ada suara gemersik di dekat tepian jurang, area terlarang yang dijadikan perbatasan Rintang Alam ditandai oleh puluhan bendera merah terpasang disana. Gemersik semak-semak itu semakin jelas terdengar, mata Raojhin pun menangkap gerakan-gerakan di antara semak-semak persis di tepi jurang.
“Raojhin … Raojhin … tolong aku!”
Raojhin heran ketika mendengar ada suara memanggil-manggil namanya dari arah sana. Karena penasaran, dia mendekati area itu.
“Raojhin, ini aku!”
“Siapa?!” Raojhin mencoba untuk semakin mendekati semak-semak bergerak itu.
“Aku!”
Raojhin mendoyongkan kepalanya agak ke bawah, mencari tahu apa yang bergerak disana, dan alangkah terkejutnya dia melihat seseorang tidak asing lagi menyembul dari rerimbunan semak-semak belukar dalam situasi genting.
“Bintani!” pekik Raojhin, melihat Bintani terjerambab di antara akar-akar berduri. Tidak jauh beberapa kaki di belakangnya membentang jurang yang dalam.
“Apa yang sedang kamu lakukan disana?” tanya Raojhin heran, berdiri beberapa kaki diatas posisi Bintani saat itu.
“Tolong aku, Raojhin! Tarik aku!”
__ADS_1
“Aku tanya apa yang sedang kamu lakukan di sana?” Raojhin tidak segera bertindak.
“Aku terperosok!” jawab Bintani.
Mengingat kelicikan teman satu sekolahnya itu, Raojhin tidak segera melakukan yang diminta Bintani. Justru dia membiarkannya saja sambil meledek, “Ganjaran atas kelicikanmu!”
Tapi kali ini Bintani memang sungguh-sungguh membutuhkan pertolongan, tidak tampak seperti tipuan. Kaki hingga pinggul terperosok, tangan-tangannya berusaha terus menggapai-gapai ke atas, “Kumohon, Teman … jangan mendendam!”
“Kenapa kamu bisa ada di tempat ini, Bintani? Bukankah kamu dan Gandha ada jauh di belakangku?” Raojhin heran, menangkap kejanggalan terhadap Bintani.
“Katakan padaku apa yang sedang terjadi? Dan mana Gandha?”
“Tarik aku dulu, nanti akan aku ceritakan!”
“Tidak. Katakan dulu dimana Gandha? Atau aku akan meninggalkanmu disini, lagipula aku juga tidak peduli seandainya kamu harus jatuh ke bawah sana. Kata orang … kedalaman jurang ini mencapai ratusan kaki, ada sungai besar dan sangat dalam dibawahnya, orang yang jatuh kesana kemunginan besar pasti mati dan mayatnya akan sulit ditemukan!” Raojhin menakuti-nakuti membuat Bintani semakin panik.
“Baik … baik, akan aku katakan. Gandha tertinggal jauh, tertangkap penjaga-penjaga itu!” Buru-buru dia menjawab.
“Tertangkap penjaga? Hei, apa yang sudah kalian lakukan? Bagaimana bisa tertangkap? Mereka tidak akan menangkapnya jika dia tidak melanggar.”
Kalimat Raojhin terhenti, tiba-tiba dia mencium firasat tidak baik pada Bintani. Dia memperhatikan Bintani baik-baik, “Oo, Celaka kalian! Sekarang aku tahu, pasti kalian berbuat curang lagi, iya bukan?” Tebaknya yakin.
“Gapai tanganku!” Sedikit enggan, Raojhin mengulurkan tangan kanannya sedekat mungkin hingga Bintani berhasil menjangkaunya. Kemudian sekuat tenaga menariknya ke atas.
“Terima kasih, Raojhin … kamu memang baik. Untung ada kamu, jika tidak … maka mungkin aku akan terjebak di situ sampai besok pagi atau mungkin selamanya.” Bintani berhasil keluar dari bibir jurang. Dia merebahkan diirnya di tempat lebih aman.
“Apa? Selamanya? Jika tidak ada aku … mengapa tidak meniup peluitmu saja. Menyerah bukan suatu kesalahan, iya ‘kan? Daripada mati di tempat itu!”
Bintani tak menanggapi, dia sedang ada dalam pikirannya sendiri.
“Kenapa?” tanya Raojhin heran.
“Tidak. Aku tidak akan menyerah seperti Gandha yang tidak cukup pandai, karena itu aku memukulnya,” tanpa sengaja Bintani kelepasan bicara dan terdengar jelas oleh Raojhin.
“Apa? Apa yang kamu lakukan Gandha? Kamu memukulnya? Apa yang sudah kamu lakukan padanya? Dia anggota satu timku, jika terjadi sesuatu padanya aku tidak akan membiarkanmu merasa tidak berdosa! Katakan padaku apa yang kamu lakukan padanya!” Raojhin marah lalu mencengkeram krah baju Bintani.
__ADS_1
“Ngg … ng...maksudku ...,” tentu saja Bintani gelagapan. Tubuhnya memang tidak kalah besar dari Raojhin, tapi kekuatan Raojhin dalam keadaan marah seperti mampu membuatnya terguncang.
“Mengapa kamu tega melakukan itu?! Mengapa?!” Raojhin naik pitam, dicengkeramnya kerah jubah Bintani kuat-kuat, “Aku terpaksa … maaf. “
“Bagaimana keadaan dia sekarang?!!”
“Aku tidak tahu … aku memukul kepalanya, aku tidak tahu keadaan dia sekarang!” jawab Bintani sebelum Raojhin menghempaskannya ke tanah.
“Akan kupastikan kamu dihukum berat, Bintani! Yang kamu lakukan adalah kesalahan berat. Ini sama saja dengan tindakan kriminal dan pengkhianatan terhadap sesama, itu termasuk melanggar janji prajurit!” Raojhin merintih karena luka di kakinya.
“Jangan, Raojhin … jangan lakukan itu! ‘Kumohon, jika ayahku tahu aku berbuat seperti ini, maka dia tidak akan menganggapku sebagai anak lagi. Jangan lakukan itu, Raojhin … jangan!” Bintani terus bersimpuh, menarik kaki Raojhin.
“Maaf, Bintani … aku tidak peduli itu. Menyingkir dari kakiku!” hentak Raojhin. Bintani terlepas dibuatnya.
Langkah Raojhin sempoyongan, “Lebih baik aku juga menyerah … ternyata Rintang Alam masih terlalu berat bagiku … lebih berat lagi rasanya karena aku harus menjalaninya bersama orang-orang sepertimu. Aku menyerah, aku menyerah!” teriak Raojhin akhirnya disusul suara peluit bertubi-tubi.
“Jangaaan!” merasa sudah tidak ada harapan menang, Bintani sempat menangis dalam teriakannya berkali-kali untuk mencegah Raojhin.
“Tidaaak!” Bintani menubruk Raojhin dari belakang saat lengah. Raojhin jatuh dan tergelincir hingga ke tepian jurang.
“Aku bilang jangan lakukan itu!!! Tapi kamu sama bodohnya dengan Gandha. Aku benci kamu, aku selalu membencimu! Aku tidak pernah bisa berteman denganmu. Tahu kenapa? Karena kamu tidak pernah berada di pihakku."
Raojhin bergelantungan di akar-akar dan Sberusaha naik, tapi akar-akar itu terlalu rapuh membuat Raojhin terperosok lebih ke bawah lagi
“Apa yang kamu lakukan padaku, Bintani? Inikah caramu membalas pertolonganku?” tanya Raojhin, terluka kepalanya membentur sebongkah batu. Tapi dia masih sadar dalam posisi bergelayutan di akar-akar rapuh.
“Mau tahu apa yang telah ‘kulakukan pada Gandha? Sama seperti yang aku lakukan padamu sekarang … lihat ini!” kata Bintani lalu mengambil sebongkah batu sebesar tempurung kelapa dan berancang-ancang melemparnya.
“Apa yang akan kamu lakukan?” Raojhin melotot, melihat tanda-tanda aksi buruk yang akan dilakukan Bintani.
“Kita tidak akan pernah bisa berteman, karena selama ada kamu, aku tidak akan pernah menjadi yang terbaik. Aku terpaksa. Selamat tinggal anak jalanan!” kata Bintani terakhir kali, sebelum melempar batu ke arah Raojhin.
Dug!
Tanpa bisa mengelak, lemparan keras mengenai tepat di kepala Raojhin. Genggamannya terlepas, ia pun jatuh ke jurang yang sangat dalam tanpa sempat berteriak.
__ADS_1
Sedangkan Bintani terpaku sesasat melihat kejadian itu. Meskipun dirundung ketakutan, ada perasaan lega dalam hatinya. Pikirnya, perseteruan antara dia dan Raojhin telah berakhir dan dia berharap bahwa Raojhin sudah mati.
...* * *...