The Chronicle Of Jawata (Edisi Trial Kompilasi)

The Chronicle Of Jawata (Edisi Trial Kompilasi)
4.24. Lembah Arwah


__ADS_3

”Pernah kamu mendengar tentang kitab Muhaqqina dan Wadhesi?” tanya Ketua Sujinsha berganti. Taja mengingat sebentar karena pernah mendengar sedikit tentang nama-nama itu dari Tuan Anjing Hitam, namun ia memilih untuk tidak menjawab.


”Dua peninggalan legenda dari Tiga Satria berupa kitab sihir paling kuat dan sangat besar resikonya. Sekarang kitab-kitab itu ada di tangan penyihir-penyihir Tanapura dan berarti mungkin akan dikuasai semuanya!”


Taja diam dalam pikirannya tentang dua kitab tersebut sebelum bertanya lagi.


”Seberapa kuat dua kitab itu?” tanya Taja.


”Kitab itu mampu mendatangkan hujan, meretakkan gunung, membangkitkan mayat dan orang mati, dan ...,” belum sempat Ketua Sujinsha menjelaskan lebih banyak lagi, Tuan Birwa datang tergesa-gesa dan menyela pembicaraan mereka.


”Musuh bergerak dari dua arah menuju kemari, Ketua!” lapor Tuan Birwa tegas, terburu-buru menyimpan kepanikannya.


Ketua Sujinsha bangkit dan segera berlari ke arah puncak bebatuan tertinggi yang berada di sekitar untuk bisa melihat seberapa jauh musuh bergerak yang dimaksud.


Dan seakan tanpa diperintah, semua pasukannya langsung bersiaga saat mendengar laporan Tuan Birwa yang lantang. Mereka bergegas menyiapkan senjata dan peralatan masing-masing sementara Ketua Sujinsha memperkirakan arah untuk kabur dari tempat itu secepatnya


”Kita ke tenggara!!” perintahnya lantang. Namun sebelum semuanya bergerak. Seorang prajurit di posisi arah menuju ke sana, berteriak-teriak sambil menunjuk jauh ke arah tenggara yang dituju, ”Ada musuh yang datang dari mengejar dari tenggara."


Semuanya mendadak tegang saat menyadari secepat itu musuh sedang bergerak dan tertuju ke posisi mereka dari tiga arah sekaligus.


Ketua Sujinsha juga tidak punya waktu untuk berpikir panjang. Ia cepat-cepat membuka gulungan peta usang dari kulit yang sudah berulang kali dijadikan acuan. Tiga prajurit ikut membantu mencari celah jalan paling aman yang terbaca dari peta buta itu. Namun hanya Ketua Sujinsha yang terakhir kali memutuskan satu-satunya arah terbuka tanpa terduga sebelumnya sebagai jalan keluar.


”Kita ke barat daya!” pandangan matanya menunjuk ke panorama di belakang mereka. tempat padang luas di bawah kaki gunung berkabut tebal.

__ADS_1


”Hanya kegilaan...yang memaksa kita harus ke sana ...,” sahut Tuan Birwa agak gentar. Sementara semua melihat ke arah yang sama dalam situasi genting di tengah-tengah kebingungan itu, mereka masih tidak yakin bahwa arah yang ditunjuk Ketua Sujinsha karena tidak ada pilihan lain.


”Gurun Sam Yaz?!” hampir setiap prajurit saling menyebut nama itu. Wajah-wajah mereka pun menyiratkan rasa enggan lantaran takut dan ragu..


Taja, Lorr En dan Raojhin juga melihat ke arah itu. Jauh di bawah sana, memang tampak sangat berkabut sejauh mata memandang. Tidak ada sesuatu pun yang tertangkap jelas oleh penglihatan di balik debu tebal menderu, berkejaran diterpa angin malam yang menyapu. Namun perlahan kemudian, sekilas dan samar-samar dari kabut yang tersingkap, jauh sekali dari mereka berada saat ini, tampak puncak-puncak menara yang setengah tenggelam di kaki langit barat daya.


”Gurun Yaz?” Taja belum kenal sama sekali nama kawasan asing itu. Lorr En tidak habis pikir mengapa pasukan Ketua Sujinsha tiba-tiba merasa enggan menuju ke sana.


”Sejarah menyebutnya sebagai Lembah Arwah,” bisik Raojhin ke dekat Taja dan Lorr En, membuat pemandangan seluas kabut gelap itu tampak semakin menyeramkan.


”Tunggu apa lagi? Segera bergerak!!” seru Ketua paling dulu memicu gerak pasukan. Tanpa protes apapun lagi, semua mengikuti. Dua prajurit masing-masing segera membonceng Lorr En dan Raojhin ke pelana kuda mereka. Kebetulan Taja mendapat tempat di kuda Tuan Birwa, mereka bergerak persis di belakang Ketua Sujinsha sebelum yang lain mengekor.


”Cepat!” Ketua Sujinsha mempercepat lari kudanya lebih dulu. Pasukannya pun terpicu lebih cepat lagi.


Dua prajurit pada barisan paling akhir terus mengawasi arah belakang. Sementara Ketua Sujinsha dan Tuan Birwa, bagian paling depan mengawal lari kuda yang semakin lambat melalui area berpasir di sana. Selain gelap juga sesekali ular menakuti gerak kuda-kuda mereka, pasir di sana semakin dalam setiap kali kaki-kaki kuda menginjak atasnya.


Brub ...!!!


Tiba-tiba kaki seekor kuda di barisan pinggir yang ditumpangi salah satu anggota terperosok ke dalam pasir. Prajurit itu sampai terjatuh dan kudanya tidak mampu keluar lagi dari pasir yang seakan menyerap tubuhnya. Kemudian dua, tiga berikutnya mengalami nasib serupa.


”Pasir hisap!!!” teriak Tuan Birwa yang mengalami hal sama. Dia segera menjauh dari posisinya terperosok bersama kuda tunggangannya. Tersadar dari bahaya alam yang tidak baik, barisan prajurit lain jadi kalang kabut.


”Cepat turun dari kuda kalian!!” teriak Ketua Sujinsha dan lebih dulu ia melakukan hal itu sebelum kudanya mengalami hal sama.

__ADS_1


Ringkik puluhan kuda melengking berulang kali karena panik. Banyak yang berhamburan menjauh. Ada juga yang masih bisa keluar dari pasir dan sisanya tenggelam dalam pasir kering yang menghisap.


”Hindari area pasir yang terlihat lebih hitam!!” teriak Ketua Sujinsha lagi pada semua pasukannya untuk menghindari tiap-tiap area seperti pasir melingkar dan berwarna lebih gelap. Seberapapun usaha mereka, suasana terlalu gelap untuk bertindak awas dengan mengandalkan penglihatan mata saja.


”Kudanya?” beberapa prajurit panik bersamaan kuda-kuda mereka berlarian dan berbalik arah.


”Biarkan mereka kembali ke jalan semula, mereka pasti tahu jalan pulang!” sahut Ketua Sujinsha, ”Kita bisa berjalan sampai ke sana!”


Suasana kembali hening tanpa riuh ringkik kuda. Akhirnya, mereka melanjutkan perjalanan dengan berjalan kaki.


”Ringankan langkah kalian dan jangan gaduh!” terdengar seperti perintah sekaligus nasihat, Ketua Sujinsha masih berada paling depan memandu langkah.


”Mengapa harus ke arah barat daya jika tidak aman, Tuan?” Taja digandeng Tuan Birwa memberanikan diri untuk menanyakan itu. Tidak kalah tegang seperti yang lain merasa khawatir pula setelah melihat kejadian baru saja yang menimpa beberapa ekor kuda terperosok dan terhisap pasir.


Tanpa jawaban, Taja semakin dibuat penasaran.


”Lembah Arwah, seberapa berbahaya?” heran Taja melempar bisik sejak tadi pada Raojhin di sebelah kiri seorang prajurit yang juga tengah menggandengnya. Tetapi anak itu hanya mengangkat bahu dengan ekspresi tegang.


Sesekali terdengar celotehan Lorr En mengkhawatirkan diri sendiri, ”Apa kita akan selamat sampai Tanapura?” dan semua membalas dengan bungkamnya saja.


”Kita sedang menuju ...,” Raojhin ragu akan perkiraannya sendiri. Ketika tatap mata Taja yang penuh tanya balas mengarah padanya, Raojhin langsung terdiam seketika jari-jari Ketua Sujinsha membungkam bibir anak itu.


...* * *...

__ADS_1


__ADS_2