The Chronicle Of Jawata (Edisi Trial Kompilasi)

The Chronicle Of Jawata (Edisi Trial Kompilasi)
4.01. Duel Praja (2)


__ADS_3

Raojhin sekali lagi menoleh pada Ketua Sujinsha di luar barisan penonton. Sebelum Raojhin dan Praja Langit saling menunduk tanda hormat sebelum mengawali pertandingan.


"Ambil kuda-kuda. Siap! Mulai!!!" teriak wasit memberi aba-aba.


Suasana semakin riuh, Praja Langit dan Raojhin sama-sama mengambil posisi. Raojhin bergerak mundur, berusaha tidak membelakangi lawan.


Set!


Dalam satu serangan pukulan Praja Langit, Raojhin mengelak. Lima tinju Praja Langit selanjutnya pun masih dapat ditangkis. Gerakan maju mundur lawan sambil melompat-lompat ringan hampir tidak terduga kapan menyerang. Beberapa saat saja, Praja Langit sudah menghujani Raojhin dengan bermacam-macam jurus pukulan. Tapi lagi-lagi Raojhin mengelak, menangkis gesit tanpa membalas perlawanan.


Bug!


Satu tinju Praja Langit cukup keras mengenai dada Raojhin hingga tersungkur ke belakang dan terjerembab ke tanah. Sorak sorai langsung meledak-ledak saat berlangsung seperti itu.


Raojhin segera bangkit walaupun merasa terpojok oleh ramainya sorak pendukung Praja Langit. Hampir mereka semua meneriaki, "Pukul! Pukul! Jatuhkan dia!!!"


Sedangkan Praja Langit kembali dengan serangannya.


Tap!


Kali ini pukulan Praja Langit tertahan di dalam genggaman tangan kanan Raojhin, lalu diremasnya hingga murid senior itu mengerang kesakitan. Kesempatan seperti itu tidak disia-siakan oleh Raojhin, dia langsung mendorong dengan mengerahkan sekuat tenaga hingga Praja Langit terjungkal ke belakang.


Buk!


Tubuh Praja Langit terjerembab di tanah. Melihat jagoan itu dijatuhkan Raojhin, semua penonton tegang.


Sementara Raojhin ambil langkah mundur, menjaga jarak dari Praja Langit yang kembali bangkit dan bersiap-siap menyerang lebih kuat, "Yeaah!" serunya saat menghantam ke arah Raojhin yang berpostur tubuh setinggi dadanya.


Raojhin tidak mengelak, sebaliknya dia bertahan, tangan-tangannya beradu dengan tubuh Praja Langit yang menabraknya.


Buk!

__ADS_1


Tubuh Praja Langit jatuh lagi, rupanya Raojhin telah menjegal kakinya. Spontan! Sorak riuh penonton semakin ramai, memecah keheningan tepian perbukitan hutan bambu, mendukung Praja Langit agar bangkit dan bisa mengalahkan Raojhin. Tapi tidak sedikit yang mencemoohnya, justru berbalik membela Raojhin.


Sementara itu, wasit mengitari mereka berdua.


Keringat Raojhin mengalir deras, membasahi pakaian yang dikenakannya.


"Yeaah!!!" sekali lagi Praja Langit menyerang, setengah berlari menerjang Raojhin. Anak itu membungkuk, dengan gesit menangkap dua tangan Praja Langit, lalu mengangkat tubuh lawan itu sebelum membantingnya ke tanah.


Buk!!!


Hempasan dua kali lipat lebih keras diiringi sorak penonton menghebohkan pertarungan. Praja Langit kalah.


"Cukup!!" Teriakan pelatih menutup duel antara Raojhin dan Praja Langit.


Masih terdengar sorak riuh berirama penonton, bersahutan menyebut-nyebut nama Raojhin.


"Praja Langit Mundur! Kamantarya maju!" teriak Wasit di ujung pertandingan. Semua yang hadir terperangah. Terutama Raojhin, saat mendengar nama itu disebut.


Berganti lawan baru lebih sengit. Kamantarya, Praja Langit terkuat, terhebat, berusia 5 tahun lebih tua dari Raojhin. Ia andalan Kesatuan Praja. Ada kabar yang mengatakan bahwa suatu hari nanti dia sekuat Ketua Sujinsha.


Kamantarya maju, lalu berdiri di hadapan Raojhin. Tegap dan bugar. Sedangkan Raojhin sudah tinggal sepertiga tenaga. Tepuk tangan dan hentakan kaki berirama mengiringi dua jagoan berbeda tingkat yang siap berlaga.


"Tunggu! Hanya satu jurus! Kalian dengar?! Satu jurus! Setelah itu selesai!" suara teriakan Ketua Sujinsha dari luar barisan meredam keramaian. Melihat duel tidak seimbang, terpaksa dia membuat aturan.


Raojhin dan Kamantarya beradu pandang.


"Ambil kuda-kuda. Bersiap ... mulai!!!" Teriak pelatih.


"Hup!" Tanpa sungkan Kamantarya melancarkan tendangan gesit ke arah Raojhin. Hampir saja, kurang beberapa inchi lagi mengenai wajahnya. Tapi untung, anak itu tidak kalah cepat mengelak meskipun harus terdorong ke belakang.


Tendangan pertama gagal menjatuhkan Raojhin, Kamantarya kembali beraksi secepat mungkin dengan tendangan lain setinggi kepala.

__ADS_1


"Hup!"


Tap!!!


Raojhin menangkap kaki Kamantarya yang berkelebat cepat ke arahnya, lalu memutarnya hingga tubuh Kamantarya ikut berputar tanpa terlepas dari cengkeraman Raojhin.


Kaki Kamantarya yang satunya menyepak tanah, akibatnya seonggok debu menyapu wajah Raojhin, masuk ke mulut dan kedua matanya. Raojhin tersungkur di tanah sambil memegangi wajahnya.


"Cukup!!! latihan cukup sekian!" Teriak Ketua Sujinsha mengakhiri duel di antara mereka.


Kamantarya kembali ke barisan, sedangkan Raojhin di papah Ketua Sujinsha dan pelatih, menepi ke tempat teduh.


"Bubarkan barisan!! Pergunakan waktu kalian untuk istirahat. Setelah itu berkumpul kembali disini!" seorang anak buah Ketua Sujinsha menggantikan tugas.


Waktu bergulir, meskipun duel sudah berlalu, bisik-bisik para murid belum berhenti membicarakan tentang Kamantarya, Praja Langit dan Raojhin. Mereka sibuk mengeluarkan pendapat masing-masing.


"Aku heran, tangannya mencengkeram aku sangat kuat, rasanya tidak bisa lepas!" Kata Ni Praja Langit ditengah-tengah kerumunan teman-teman yang sedang rumpi.


Begitu juga terhadap Kamantarya, ada beberapa teman mengkritik kecurangannya.


"Mengapa kamu lakukan itu? Dia cuma anak 11 tahun. Lihatlah dia! Sudah payah begitu!"


"Kita bukan lagi anak-anak yang suka main curang! Jangan lakukan hal seperti itu lagi!" Sahut yang lain.


"Apapun kata kalian, aku tidak habis pikir ... tangan anak itu aneh ... seperti bukan tangan manusia, cengkeramannya sangat kuat! Jika kalian jadi aku, aku yakin pasti kalian akan melakukan yang lebih curang lagi!" Jawab Kamantarya membela diri.


Jauh dari kerumunan murid-murid senior, dua murid yakni Bintani dan Gandha sedang menghabiskan waktu istirahatnya di tepian deretan kamp, memperhatikan Raojhin di kejauhan tempat teduh, didampingi dua paramedis untuk membersihkan debu dari wajah dan mengobati luka akibat duel tadi, lalu menikmati sebotol air pemberian Ketua Sujinsha.


"Lihat! Mengapa selalu dia yang harus diperhatikan? Mengapa kita tidak? Bukankah kita juga sedang terluka?" gerutu Bintani tanpa melepas pandangan ke arah Raojhin. Sedangkan Gandha sejak tadi terus memperhatikan balutan di tangan, "Bukankah kita juga diobati para medis?" katanya.


"Maksudku bukan itu maksudku, tapi Ketua Sujinsha selalu memperhatikan anak pungutan itu," bisik Gandha, "Sst, tahu tidak? Dengar-dengar rumor tentang Raojhin adalah putra seorang Gattorian."

__ADS_1


"Apa?! " terbelalak Bintani.


...* * *...


__ADS_2