The Chronicle Of Jawata (Edisi Trial Kompilasi)

The Chronicle Of Jawata (Edisi Trial Kompilasi)
49. Lembah Gundil (4)


__ADS_3

Ctas! Ctas ...!


Ada lidah-lidah api bersiratan bersamaan komat-kamit mulut Tuan Anjing Hitam mengucap berulang-ulang, kedengarannya seperti mantera penyembur api.


”Sihir?” Taja menduga berdasarkan penglihatannya tertuju pada Tuan Anjing Hitam selama melakukan itu.


Tuan Anjing Hitam beralih tatap pada Taja, ”Tidak jauh berbeda dengan sihirmu, bukan?”


”Apa yang terjadi pada Tuan selanjutnya setelah melakukan sihir?” tanya Taja kemudian.


”Tenagaku berkurang, konsentrasiku juga berkurang! Semakin besar menggunakan sihir, maka akan semakin besar juga tenaga dan pikiran yang terkuras,” jawab Tuan Anjing Hitam sambil membenahi kayu-kayu berserakan.


”Di situlah perbedaan sihir kita. Sihirku tidak hanya menggunakan tenaga, tetapi ada sebab akibat setiap kali terjadi sihir,” Taja membandingkan sekilas mengenai sihir masing-masing.


”Ada banyak jenis sihir di dunia ini berasal dari mana-mana dan punya konsekuensi yang berbeda. Mahelya, sebagian kaum penyihir masa lampau yang pernah berjaya di Jawata, meskipun sekarang sebagian besar dari mereka telah punah. Hanya ada kitab-kitab sihir peninggalan mereka saja, dan itu juga bisa dipelajari bangsa bukan dari penyihir sekalipun,” jelas Tuan Anjing Hitam lebih membeberkan pengetahuannya.


”Sihir apa yang paling kuat dan berbahaya di Jawata, Tuan?” Taja menanyakan satu hal yang membuat Tuan Anjing Hitam tertegun untuk menjawabnya. Bukannya ia tidak tahu, tetapi ada keberatan untuk mengatakan jawabannya.


”Untuk apa menanyakan itu?” Tuan Anjing Hitam balik tanya.


”Sekedar ingin tahu saja,” Taja surut dalam tatapan bulat sepasang mata Tuan Anjing Hitam.


”Aku sudah tahu banyak pikiranmu, tetapi sesuatu yang sedang kau cari dan berhubungan  sihir itu adalah benda sangat langka. Aku saja belum pernah melihat langsung, setahuku. Kitab Hiwa akan lebih banyak menjelaskan tentang itu, itupun jika kau tahu nama pusaka terkutuk itu,” jawab Tuan Anjing Hitam. Taja merenungi jawabannya yang banyak membuatnya bingung.


”Kitab Hiwa? Kitab apa itu?” tanya Taja lagi.


”Kitab Sejarah Serba Tahu, kau akan melihatnya nanti setelah kita tiba di Meula. Sekarang duduklah menghadap aku, dan berkonsentrasi, aku ingin beradu otak denganmu,” Tuan Anjing Hitam menyuruh Taja bersimpuh seperti yang dilakukan saat itu. Dan Taja tidak banyak tanya lagi. Lalu keduanya sudah saling menghadap dengan terpisahkan api unggun kecil di antara mereka.


”Tatap mataku, bukan api unggun itu!” Suruh Tuan Anjing Hitam lagi saat melihat mata anak itu masih berkeliaran sekitar api unggun. Mereka saling berhadapan sekian lama. Memang sudah terbiasa bagi Tuan Anjing Hitam, tetapi untuk Taja cukup membuat tulang sendi lutut terasa penat.


“Tenanglah sedikit …," kata Tuan Anjing Hitam. Dia juga merasa tidak nyaman melihat anak itu gusar.


“Kita akan saling bertukar pikiran … setelah itu aku harap kamu akan mengetahui semuanya … dasar pemikiranmu yang akan menentukan kemampuanmu …,” Ujar Tuan Anjing Hitam terfokus pada dua bola mata anak itu.


Mereka saling terdiam lagi untuk mengulang konsentrasi sebelum Tuan Anjing Hitam membuka pertanyaan, “Menurutmu, benda apa terkuat di bumi ini?“


Taja tidak segera menjawab, sama sekali tidak bisa menebak pikiran Tuan Anjing Hitam, apalagi asal-asalan menjawab. Cukup dengan menatap Tuan Anjing Hitam, ragu dan rasa tidak percaya dirinya perlahan hilang.

__ADS_1


“Sihir!” jawab Taja singkat dan yakin.


Kening Tuan Anjing Hitam mengerut, “Sekali lagi aku tanya, benda apa apa yang menurutmu kuat di bumi ini. Benda nyata, bukan gaib atau bayangan. Bukan hanya dalam pikiran … benda itu selalu ada di sekitar semua makhluk.”


Taja bingung setelah menyadari jawaban sebelumnya kurang tepat.


“Mm ... tanah ... batu. Mungkin tanah dan batu…,” Taja ragu, kurang yakin akan jawaban sendiri.


“Sungguh hanya tanah dan batu?“


Taja mengangguk perlahan, “Ya, aku pernah jatuh ke tanah dan sakit sekali, juga ada yang pernah melempari batu. Itu lebih sakit lagi.“


Tuan Anjing Hitam dibuat tertawa.


“Baiklah, tanah dan batu, jawaban yang bagus! Lalu tanah dan batu dalam jumlah besar, menumpuk tinggi dan semakin kokoh, disebut apa itu?“


“Gunung!”


“Bagus! Gunung adalah sesuatu yang kuat di bumi ini, karena itu Tanapura cukup beruntung berada di diantara 4 Gunung. Cukup aman dari serangan luar.”


Taja tersenyum mendengar Tuan Anjing Hitam membenarkan jawabannya


“Gunung setinggi dan sekokoh Mahelya pun bisa terkikis dan rapuh, tangan-tangan manusia merambah terlalu jauh ke dalam. Mereka menggali dan menggali terus … menurutmu, dengan alat apa mereka bisa menggali?”


“Kapak!” jawab Taja


“Terbuat dari apa kapak itu?“ tanya Tuan Anjing Hitam berlanjut.


“Besi!” jawab Taja lagi.


Cahaya api unggun memantul ke bola mata Tuan Anjing Hitam yang tak berkedip sekalipun sejak berjam-jam tadi. Sebaliknya, Taja sudah berulang kali mengucek matanya karena perihnya asap dan udara malam.


“Benar…tepat jawabanmu!“ Tuan Anjing Hitam membenarkan lagi, kembali tersenyum melihat Taja semakin gusar.


“Ya. Besi bisa mengalahkan gunung … tanah dan batu. Besi adalah yang lebih kuat dari ketiganya,“ simpul Taja berbinar.


“Lalu apa yang membuat Besi menjadi lunak,” kegirangan Taja tidak lama, Tuan Anjing Hitam sudah memburu pertanyaan lagi untuknya.

__ADS_1


“Mm ... aku tidak tahu,” jawab Taja.


“Pernah ke Pandai Besi?“ tanya Tuan Anjing Hitam lagi.


“Ya, pernah sekali di Pemukiman Sawo beberapa hari yang lalu. Mereka membuat pedang, tombak dan senjata!“ jawab Taja.


“Api!“ teriak Taja lagi sebelum Tuan Anjing Hitam menghujaninya dengan pertanyaan lebih lanjut.


“Benar, api yang bisa melelehkan besi!“ tanya Tuan Anjing Hitam sambil tertawa melihat Taja girang.


“Tanah, batu, gunung, besi dan api adalah yang terkuat,” kata Taja disela-sela girangnya.


“Yakin bahwa api yang terkuat?“ Tuan Anjing Hitam membuat Taja berpikir lagi. Setelah agak lama mengasah otak, kali ini suaranya terdengar lebih keras.


“Air! Air memadamkan api! Benar, Tuan?“


Tuan Anjing Hitam manggut-manggut, sedangkan Taja merasa bahwa jawabannya benar. Dia semakin tersenyum lebar.


“Tidak terpikirkan olehmu apa yang lebih kuat dari air?”


Senyum Taja terhenti, agak kaget.


“Apa? Ada yang lebih kuat dari Air?” Taja heran, takjub sekaligus penasaran. Dia ingin Tuan Anjing Hitam segera memberitahukan padanya tentang benda hebat itu, “Benda apa itu, Tuan?“


“Mampu memecah belah ombak, mencerai berai hujan dan mengeringkan bajumu di malam hari tanpa sinar matahari. Tebak,benda apa itu?”


Taja berpikir keras, lalu keduanya serempak berseru, “Angin!“


“Jadi, kesimpulannya adalah angin yang terkuat dari air, api, besi, gunung, tanah dan batu!“ kata Taja yakin, tetapi masih menunggu pendapat Tuan Anjing Hitam.


“Kurang benar! Bukan itu kesimpulan yang tepat,” Tuan Anjing Hitam tersenyum simpul, disambut diam Taja menyiratkan tanda tanya, “Jadi … apa kesimpulannya, Tuan?“


“Kesimpulannya adalah ... di atas yang terkuat masih ada yang lebih kuat lagi!” jawab Tuan Anjing Hitam disusul tawanya lagi.


“Oo … ya … di atas langit masih ada langit!“


Mereka berdua tertawa bersama. Tuan Anjing Hitam tertawa karena kepolosan Taja, sedangkan Taja tertawa karena merasa dirinya terlihat tolol di depan Tuan Anjing Hitam.

__ADS_1


Taja santai berguru pada gendra, sangat menyenangkan hatinya. Tuan Anjing Hitam sosok yang humoris dan suka menghibur. Sama sekali berbeda ketika pertama kali mereka bertemu.


...* * *...


__ADS_2