
”Lorr En, aku mendukungmu!!!”
Seorang murid berjejal dan meneriakinya dari arah tribun.
”Purwa!" Lorr En melempar senyum cemas ke arah murid itu, tidak lain adalah Purwa. Dia sudah berpacu pada giliran sebelumnya.
”Semakin ngebut semakin seru, aku sudah buktikan itu! Skorku 5 nilai hitam!” seru dia lagi. Angka itu membuat Lorr En ngeri.
”Jangan lupa! Semakin cepat semakin seru!” teriak Purwa sekali lagi sebelum tenggelam dalam murid-murid berjejal sepanjang tepian jalur pacu. Taja dan murid-murid kelas Kancil lainnya, ikut merapat di tepian jalur untuk menyaksikan teman-teman mereka.
Lorr En memasuki jalur pacuan. Palang besi dibuka, seekor kuda hitam paling besar di posisi 7 telah siap di sana untuknya.
Lorr En memperhatikan seekor kuda hitam di hadapannya, jika dibandingkan dengan yang lain, kuda ini yang paling besar.
”Beruntung, kau mendapat kuda kerajaan!” seruan seseorang peserta di sebelahnya, teredam riuh siul murid-murid yang menonton, berbaur sorak dari arah tribun.
”Kuda kerajaan?” Lorr En memperhatikan baik-baik, kuda hitam tinggi besar posisi 7. Di jalur sebelah, hanya terpisah palang sekat pembatas masing-masing jalur. Semua peserta mulai menaiki punggung kuda masing-masing, terkecuali Lorr En masih kebingungan.
Peserta di jalur sebelah, sudah naik ke pelana kuda, ”Gunakan pijakannya untuk naik!” serunya untuk sekedar memberi contoh pada Lorr En seperti yang dilakukan peserta lain.
Lorr En benar-benar tidak tahu cara menunggang kuda. Ini pertama kali. Ia mengikuti seperti yang dikatakan peserta itu.
Hup!
Agak susah, akhirnya Lorr En kini berada di punggung kuda. Ini pertama kali ia naik kuda, tentu membuatnya gugup. Apalagi kuda hitam ditumpanginya bergerak-gerak, Lorr En tak seimbang. Sesekali dilihatnya ke arah penonton, Taja dan teman-teman tim kancil meneriaki semangat dari sana.
”Pacuan Kuda segera dimulai! Bersiap-siaplah!!!” aba-aba pertama wasit berseru. Sepuluh peserta pacuan kuda, memasang ancang-ancang.
”Mulai setelah hitungan ke-tiga!!!”
Ketegangan semua penonton mengalihkan suasana riuh menjadi agak sunyi.
__ADS_1
”Satu ... dua ... tiga ...!” tepat pada hitungan terakhir, pintu jalur terbuka dan semua kuda tunggangan lepas. Derap kaki-kaki kuda berkejaran. Sorak riuh penonton kembali membahana.
Awalnya, Lorr En memimpin di urutan terdepan karena beruntung mendapat giliran kuda paling cepat dan unggul, tetapi apapun hasilnya nanti tergantung dari kemampuannya sendiri.
Sayang sekali Lorr En tidak pernah pengalaman berkuda, sehingga semakin cepat kuda itu membawanya lari, membuatnya tidak bisa mengendalikannya. Tali kekang terlepas mengakibatkan tubuh Lorr En berguncang oleng, ketika melewati tikungan terlempar.
Bug ...!
Hantaman keras keluar jalur, Lorr En terkapar. Kudanya melesat pergi. Suara teriak penonton meredup.
.....
Angin sepoi-sepoi berhembus segar di antara kisi-kisi jendela bangsal pengobatan. Ada beberapa pasien di sana yang tengah dijenguk teman-teman mereka masing-masing. Sementara di pembaringan sepi, Lorr En duduk termenung, memikirkan kejadian yang nyaris membunuhnya.
”Huh ...,” desahnya bercampur kesakitan merasakan kening dan lengannya yang berbalut. Tidak lama berada dalam kesendirian, dua orang yang ditunggu-tunggu akhirnya datang.
”Bagaimana keadaanmu, Lorr?” sapa Taja diiringi Purwa di belakangnya.
”Aku tahu yang terjadi padamu tidak mulus. Mungkin karena ini pertama kalinya kau berpacu kuda. Seharusnya katakan saja pada pelatih jika kau tidak mau berkuda hari itu, mereka tidak akan memaksa,” anjur Purwa meskipun sudah tidak ada gunanya lagi, toh Lorr En saat ini telah terbaring sakit.
”Lalu, bagaimana dengan nilaiku?” tanya Lorr En beralih pada Taja.
”Maaf, nilaimu kosong untuk berkuda,” jawaban Taja membuatnya murung dan sedikit kesal. Taja menyodorkan buku hijau milik Lorr En.
”Apa?! Sudah sakit, nilai kosong!” pekik Lorr En, membuka-buka lontar nilai harian, terpampang kosong isinya.
”Kita masih beruntung karena mendapatkan nilai putih pada pelajaran perakitan senjata tempo hari, paling tidak ...," ujar Taja, belum selesai bicara, Lorr En menyela
”Nilai Putih?!” Lorr En terkejut mendengar, "Ya ampun, dua nilai gagal pada dua mata pelajaran."
”Paling tidak, kita mendapat nilai,” lanjut Taja. Lorr En sangat kecewa melihat tanda putih di satu kotak isi lontar. Ia geleng-geleng kepala. Sebaliknya Taja tersenyum lebar.
__ADS_1
”Kamu senang mendapat nilai putih?” Lorr En menghela nafas.
”Hargailah. Itu usaha kita sebaik-sebaiknya,” lanjut Taja.
”Lalu, bagaimana dengan nilai berkuda-mu?” tanya Lorr En beralih pada pelajaran itu.
”Kosong. Aku tidak ikut," Taja tersenyum getir.
”Mengapa begitu?” Lorr En heran.
”Mmm ... Dia meninggalkan latihan berpacu kuda karena harus menjagamu sampai sore,” justru Purwa menjawab kali ini.
”Kamu terjatuh. Kudanya terus berlari, tetapi tubuhmu terlempar keluar lintasan pacuan. Pelatih membawamu ke Graha Tabib, lalu aku dan Purwa menjagamu. Jadi, terpaksa aku meninggalkan pelatihan berkuda,” jelas Taja mengingat kejadiannya.
”Maaf, aku menyebabkan nilaimu jadi kosong,” Lorr En jadi sedih.
”Tidak masalah, lain kali aku bisa mengikuti ujian berkuda lainnya," balas Taja.
”Kamu, Purwa ... bagaimana tentang nilai-nilaimu selama ini?” tanya Lorr En.
”Aku pemula. Nilai hitam untuk berkuda, nilai merah untuk perakitan senjata, dan nilai putih untuk sastra, bahasa dan menghitung,” jawab Purwa angkat bahu menandakan bahwa dia telah mendapatkan ala kadarnya.
”Cukup bagus. Ternyata, kamu bisa lebih baik dariku,” Lorr En memuji sekaligus ingat kejadian saat dia tidak sengaja mengejeknya.
”Purwa ...,” Taja menyodorkan kepalan tangan pada Purwa dan Lorr En.
Purwa membalas dengan kepalan tangan pula. Taja dan Lorr En menyertai kalimat hangat, ”Kamu adalah sahabat kami.”
”Jika ada yang mengejekmu lagi, maka aku tinggal diam, sekalipun Lorr En yang akan melakukannya,” kata Taja.
"Ingatkan aku untuk memukul diriku sendiri jika kelak berani mengolok dirimu lagi," imbuh Lorr En.
__ADS_1
...* * *...