The Chronicle Of Jawata (Edisi Trial Kompilasi)

The Chronicle Of Jawata (Edisi Trial Kompilasi)
4.07. Teror Manusia Berjubah (1)


__ADS_3

GLAAAR!!!


Gemuruh halilintar menenggelamkan mereka dalam keheningan malam.


"Menurutmu, apa ayahku masih hidup?” tanya Taja lirih sambil menutup kitab itu.


“Maaf, aku tidak bermaksud mengharapkan ayahmu sudah …,” melihat wajah Taja berubah murung,  Lorr En tidak berani melanjutkan kalimatnya.


“Bukan masalah kalaupun ayahku sudah tiada. Tetapi lebih dari itu, misi kita datang ke negeri manusia harus segera berhasil!”


Lorr En tidak banyak berkata selain mendukungnya.


“Ya. Tetapi bagaimana caranya? Sudah lebih dari tiga bulan kita terdampar di Tanapura karena terpaksa, namun tidak ada sesuatu petunjuk pun tentang keberadaan Pusaka Terkutuk. Sering aku merasa perjalanan ini akan sia-sia.


”Kita melangkah saja dulu. Jika terjadi sesuatu yang membahayakan aku, maka kau dan Shaninka harus tetap melanjutkan misi ini. Setelah itu, kalian bisa pulang ke Gunggali dengan Kapal Cahaya dan sampaikan pesan permohonan maaf pada Ratu Shachini karena aku telah mengecewakan,” lanjutnya


“Bercanda denganku? Kamu menyuruh kami pulang tanpa dirimu? Ratu Shachini tidak akan pernah bahagia lagi mendengarnya. Kau adalah pangeran kesayangannya, sama seperti Merald, ingatkah kata-katanya...’jika kau lemah, mereka pun tidak berdaya’?”


”Sekedar berjaga-jaga, lebih baik salah satu berhasil dari pada gagal ketiganya,” kata Taja.


“Tidak, kita pergi bertiga dan akan kembali bertiga juga! Tentu saja misi kita harus berhasil," kata Lorr En mulai tidak sabar berdebat.


”Gunggali lebih penting, Lorr En!” kali ini Taja tidak mau kalah.


“Maaf, bukan maksudku kasar. Tetapi kau harus melakukan yang sudah seharusnya. Perjalanan ini akan sulit dan panjang. Seperti mencari jarum dalam tumpukan jerami. Pasti beresiko besar bagi kita,” lanjut Taja lirih.


“Kalau begitu, itu akan menjadi resiko kita. Dan kita akan menjalaninya bersama,” ujar Lorr En mendukung meskipun disambut ekspresi Taja menyiratkan kecemasan.


GLAAAR!!!


Halilintar selanjutnya lebih keras, seakan menggugah pikiran mereka masing-masing dari ketegangan. Hampir bersamaan dengan itu, telinga Taja menangkap suara jeritan samar-samar dari luar.


“Kamu dengar itu, Lorr En?”

__ADS_1


“Halilintar!” Jawab Lorr En, rupanya dia hanya mendengar halilintar saja.


“Bukan itu maksudku. Tidak salah lagi, ada sesuatu yang terjadi di luar. Aku mendengar suara perempuan menjerit,” kali ini Taja yakin pendengarannya tidak salah.


Sebaliknya pada Lorr En, tak ada yang terdengar aneh menurutnya.


Suasana hening gudang jerami ketegangan mereka berdua, tiba-tiba digaduhkan kuda-kuda meringkik berisik.


Taja cepat-cepat memasukkan kitab Hiwa-nya ke dalam bungkusan kain kumal. Ia berniat untuk menengok keluar jendela. Namun sebelum sempat membukanya, ada suara pintu didobrak seseorang dengan terburu-buru.


“Gentho, ada apa?” dari bawah cahaya obor di dinding dekat pintu yang ambrol, Taja jelas melihat orang yang dikenalnya itu.


“Bawa barang kalian dan cepat pergi dari sini!” suruh Gentho di sela-sela nafas memburu kencang.


“Apa yang terjadi?” tanya Taja sekali lagi karena lelaki tua itu tidak mengatakan alasan mengapa mereka harus segera pergi.


“Tidak ada waktu menjelaskannya, lakukan saja kata-kataku! Pergi dari sini dan ambil jalan setapak menuju hutan ke arah timur. Jika kau melihat dermaga, maka kau bisa selamat sampai ke Tanapura!”


Bersusah payah Gentho mengatur nafas dengan menyarankan itu, tetap saja Taja masih terbengong. Di samping itu, Gentho lebih bingung lagi saat melihat ada seseorang lain bersama Taja, “Dia temanku,” katanya sambil mengarah pada Lorr En.


Terlalu mendadak, bingung dan tidak cukup alasan untuk menjelaskan lebih banyak lagi, Taja dan Lorr En cepat-cepat berkemas seadanya. Gentho ikut memandu mereka sampai di ujung jalan mengarah ke hutan.


“Cepat dan waspada, berhati-hatilah kalian!” pesan Gentho sebelum pergi ke arah lain untuk bersembunyi.


Tanpa peduli hujan dan malam masih panjang, dua anak itu berlari menuju hutan lebat dalam derasnya hujan. Sejauh mereka memandang ke arah tanah lapang di desa yang ditinggalkan, banyak anak laki-laki di bawah umur ditangkap, sedangkan anak perempuan menjadi sandera. Tidak tahu persis yang sedang terjadi di sana, yang jelas tentu bukan hal yang baik karena sebagian penduduk telah tewas karena sabetan pedang milik segerombolan orang-orang berjubah hitam bersama pasukannya yang berjumlah lebih dari puluhan.


“Ada apa ini? Siapa mereka?” belum lepas dari pandangan ke arah itu, Taja terus menerobos semak-semak tinggi yang rimbun dan berduri.


“Tidak tahu, tetapi naluriku mengatakan bahwa mereka pasti orang-orang jahat!” jawab Lorr En selangkah di depannya.


“Mengapa mereka membunuh orang-orang desa?” dalam kegelapan tepi hutan, awas kedua mata Taja belum lepas dari arah sana.


Lorr En pun sesekali melihat ke arah yang sama, “Sebaiknya kita harus segera menemukan dermaga, ”Ayo!” Lorr En menarik lengan Taja.

__ADS_1


“Lewat sini!” tidak biasanya Lorr En di depan, menyeruak semak-semak yang menuju hutan.


Namun tanpa terduga oleh mereka, tiba-tiba saja dari kegelapan pepohonan, muncul seekor kuda dengan penunggang berjubah gelap menghalau langkah Taja dan menyambarnya gesit.


Ia sempat berteriak, “Lorr!”


Lorr En lebih dulu mencapai bibir hutan seketika menghentikan langkah karena mendengar teriakan temannya. Sekilas menangkap bayangan gelap menyambar Taja sebelum melesat bersama kuda tunggangannya lalu hilang dalam kegelapan.


“Taja!” Lorr En terlambat, ia  sudah kehilangan jejak penunggang kuda misterius yang membawa kabur temannya.


“Lorr, tolong aku!” suara Taja berkali-kali terdengar dari arah tidak pasti.


“Taja!” seru Lorr En arah gerak penunggang kuda berlari dan ia bermaksud mengejar. Tetapi dari balik pohon-pohon besar, tiba-tiba muncul seorang penunggang kuda hitam lainnya lalu sekejap mata menerjang Lorr En hingga terguling ke tanah.


Dan sekarang, seorang penunggang kuda berjubah hitam semakin mendekatinya disertai derap langkah kaki kuda dalam kesunyian hutan Ketika sepasang kaki beralas sepatu beradu bebatuan.


Lorr En meringis kesakitan, terjangan itu mengakibatkan memar di dahi dan kaki. Lalu ia berusaha untuk bangkit, namun bayangan tinggi besar sosok itu lebih dulu membayanginya bersimpuh di tanah.


Sosok itu berada dekat sejengkal saja dari posisi jatuh Lorr En. Suara derik seperti ular terdengar dari sela-sela penutup kepalanya dan tangan-tangannya meraih tubuh Lorr En.


Seberapapun Lorr En merangkak mundur hingga puluhan kaki, manusia berjubah terus mengikutinya dengan tangan-tangan tersembul dari balik jubah yang mencengkeramnya.


“Ups ...,” Lorr En terpojok bebatuan. Beberapa jengkal di bawah itu ada sungai nyaris tanpa riak, hanya tampak permukaan tenang terguyur rintik-rintik hujan.


“Hek!” ketika Lorr En menoleh kembali ke depan, tangan kanan manusia berjubah langsung mencekik batang lehernya. Tubuh anak itu terangkat tanpa sanggup mengucap sepatah katapun.


“Ck … ck … ck …,” lagi-lagi derik seperti bunyi kadal terdengar dari mulut sosok berjubah itu.


Sementara Lorr En meronta kuat dalam cekikan, “Hek … hek ...!” hampir saja ia kehabisan nafas.


Dalam keadaan terguyur hujan, Manusia Berjubah mendekatkan muka pada Lorr En.


“Hueek … fuh ...,” tanpa menyia-nyiakan kesempatan, segumpal cairan tersembur dari mulut Lorr En, tepat mengenai sasaran. Sosok itu mengerang kesakitan di kedua matanya menyala kuning dan cengkeramannya pun terlepas.

__ADS_1


Tanpa pikir panjang, sekali lagi ia menyemburkan racun ludah ke mata manusia berjubah dan membuatnya kelabakan. Setelah lolos dari cekikan, Lorr En buru-buru merangkak ke tepi sungai, lalu terjun.


...* * *...


__ADS_2