The Chronicle Of Jawata (Edisi Trial Kompilasi)

The Chronicle Of Jawata (Edisi Trial Kompilasi)
43. Tuan Anjing Hitam (3)


__ADS_3

Sepanjang Putri Alingga melangkah masuk, Shaninka mengikutinya. Diam-diam dua bola matanya sibuk mencari-cari sosok Lorr En ke sekeliling.


“Ini patahan pedang legenda, pedang racun, pembuatnya adalah Empu Gandrang dari Jawata Tenggara. Setelah Perang Pedang masa pertama, pedang ini patah karena beradu dengan Pedang Bazzakh milik Paduka Tanapura pewaris tahta ke-141, setelah itu … hanya menjadi pajangan di ruangan ini. Tetapi, patahannya saja masih setajam dulu dan masih beracun,“ Putri Alingga menunjukkan pedang berwarna perak dan telah patah menjadi beberapa bagian di dalam sebuah kotak kaca. Termasuk gagangnya yang retak.


Putri Alingga beralih ke kotak yang lain, “Dan ini…adalah Liontin Pedang Iblis! Pemakainya akan mengalami mimpi yang mematikan. Sudah tahukah kau tentang mimpi yang mematikan itu?“ tanya Putri Alingga. Shaninka agak gelagapan karena tidak terlalu memperhatikan penjelasan Putri Alingga sejak tadi, ia menggeleng gugup sebagai jawaban.


“Mimpi berantai adalah mimpi yang tak pernah usai … tidur dan siksaan yang panjang. Tidak akan bisa terjaga tanpa ada mantera penangkalnya…sampai akhirnya orang yang bermimpi itu akan mati karena terluka organ dalamnya, hancur seperti di tikam ratusan senjata tajam,” agak terpaksa Shaninka memperhatikan benda berfungsi ganjil itu. Ketika Putri Alingga berpindah ke tempat lain, tatap matanya kembali mencuri-curi pandang ke setiap sisi-sisi gelap ruangan.


“Nah! Kalau yang ini kitab mantera tidur…isinya bukan hanya berguna untuk menghipnotis orang-orang supaya tidur mendadak, tetapi juga …,” Putri menoleh pada Shaninka, saat itu ia menangkap Shaninka celingukan, ”Menyebabkan Mimpi Berantai Tak Pernah Usai, begitulah semboyan. Setahuku, artinya adalah mimpi melihat masa depan yang mengerikan! Orang yang mengalami mimpi tidak akan terbangun sampai dia bisa menyelesaikan masalah dalam mimpinya agar kejadian buruk di masa depan itu tidak terjadi. Sulit dibayangkan!”


Mata Shaninka pura-pura melotot setelah mendengar penjelasan Putri Alingga. Seakan-akan terhanyut dengan macam-macam sejarah pusaka aneh-aneh yang sepintas llau diceritakan Putri Alingga. Namun Putri Alingga tidak terkelabui akan sikap Shaninka. Terlintas trik untuk menyingkap sikap aneh Shaninka, Putri Alingga merencanakan sesuatu.


“Sementara kau melihat ke sana. Aku akan menemui seorang petugas di lobi Ruang Pusaka sebentar saja!“ Putri menunjuk ke dinding. Ada sebuah pusaka tidak kalah aneh terpajang di sana.


“Baiklah, aku akan menunggu di sini,” Shaninka mematung di tempat. Sementara Putri Alingga berlalu darinya ke ruang sebelah. Tanpa disadari Shaninka, diam-diam sang bersembunyi di balik dinding lalu berhati-hati membuntuti Shaninka.


Melihat situasi sepi dan lenggang, Shaninka segera beraksi yang sebenarnya, berkeliling sekitar jendela terbuka sambil memanggil-manggil Lorr En.


”Di mana kau? Lorr En?” Shaninka masih bersiaga kalau-kalau ada yang melihatnya.


”Ssst ... aku di sini!”terdengar suara khas Lorr En berasal dari sebuah belanga besar terpajang di dekat salah satu pilar. Siapa sangka dia sudah mendekam di sana sekian lama untuk menunggu situasi aman.

__ADS_1


Lorr En keluar dari persembunyian dan menjajaki lantai-lantai marmer yang dingin.


“Sisik burung naga!  Jangan disentuh...masih beracun!“ Lorr En menunjuk sesuatu di dinding. Selama bersembunyi, ia telah mencuri dengar dari penjelasan orang-orang yang kebetulan lewat bersama para tamu sepintas lalu.


“Ruang senjata purbakala!“ kata Lorr En lagi.


”Jangan berisik!” sergah Shaninka mengingatkannya bahwa mereka tidak sedang berkunjung, ”Ingatlah kau penyusup!”


Mereka hanya mondar-mandir dan sembunyi-sembunyi di sekitar ruangan karena banyak pintu di sana. Setiap kali mereka mencari jalan, selalu menjumpai pusaka itu-itu lagi. Terlalu bingungnya, akhirnya Lorr En dan Shaninka memilih satu pintu lain tertutup yang tidak tergembok.


”Barangkali di sini,” bisik-bisik Lorr Endi depan Shaninka.


”Barangkali juga kita malah tersesat ke ruang sepi ini,” Shaninka balas berbisik.


“Ini dia! Benar dugaanku, ternyata ada di sebelah ruang ini! Kalau tahu awal, sudah dari tadi aku kemari,” Lorr En berbinar senang, langsung setengah berlari mendekat ke sana.


Sesaat ia menelusuri ratusan golongan marga yang tertera di bentangan kulit harimau di dinding itu. Shaninka juga demikian. Dalam beberapa saat masing-masing sibuk mencari-cari.


“Mengapa tidak ada?“ Gerutu Lorr En. Sia-sia saja, cukup lama mereka berada di depan ’Silsilah Leluhur Kerajaan Tanapura’. Namun tidak ditemukan satu Lintarwangi oleh mereka.


Sudah gagal harapan Lorr En kali ini. Shaninka menanyakan sesuatu tentang alsan Lorr En ingin sekali melihat langsung ’Silsilah Leluhur Kerajaan Tanapura’.

__ADS_1


”Kau tahu sendiri bahwa Ketua Sujinsha sudah lebih dari sekali menolong kita, khususnya Taja, padahal kita sama sekali tidak mengenal dekat dia. Aku curiga padanya, entah siapa dia ... sungguh-sungguh berniat baik atau tidak, mana kita tahu. Dan mengapa dia berkesan selalu melawan Paduka Raghapati? Sebaliknya, mengapa raja tidak ingin kehilangan dia? banyak pertanyaan butuh jawaban pasti!” Lorr En garuk-garuk kepala pertanda bingung.


”Mungkin saja Ketua Sujinsha bukan termasuk salah satu keturunan Bangsawan atau Raja di Tanapura, karena itu marganya tidak tercantum di sini,” simpul Shaninka.


Belum sempat bertukar pikir lebih lama, suara-suara langkah para tamu berdatangan. Shaninka dan Lorr En ingin cepat-cepat ambil langkah kabur, tetapi sayang sekali ...tidak ada jalan keluar dari sana kecuali memasuki satu pintu yang mengarah lebih dalam ke Istana Putri.


”Hampir saja!” nafas Lorr En naik turun.


”Dan sekarang kita tersesat ke kediaman para putri!” Shaninka juga panik menyadari itu. ”Lalu, Bagaimana kita bisa kembali ke Balairung Perak?”


Keduanya berdempetan di balik celah aneka patung dan siaga melihat situasi di luar.


”Lewat sana!” Lorr En melihat ada satu pintu dibuka pengawal tidak jauh dari persembunyian mereka. Dan tidak terkunci lagi. Setelah dirasa cukup aman dan lenggang, keduanya berjinjit ke arah sana.


”Mungkin saja selasar ini menuju ke balairung,” kata Lorr En.


”Hei, lihatlah! Jendela terbuka. Cepat loncat keluar, ada kolam di bagian bawah sana!” Shaninka merapat ke jendela yang kebetulan dilalui. Tetapi Lorr En justru mengabaikan dan lebih memilih jalan lurus menuju lorong selanjutnya.


”Hei!” Shaninka heran melihat Lorr En justru santai-santai saja.


”Balirung Perak, kita sampai di pesta ini!” senyum Lorr En terurai saat melihat keramaian di balik pintu besar terbuka lebar dari posisinya berjalan. Shaninka mencium gelagat dan sikap aneh Lorr En.

__ADS_1


”Mmm ... aku tahu sekarang, sebenarnya kau hanya ingin melihat Putri Sekar Wening berdansa, bukan? mengaku saja sejujurnya, jangan berdalih pada Silsilah Leluhur Tanapura, menanggung resiko untuk itu!” Shaninka meledek disambut ekspresi muka Lorr En sekilas menatapnya cemberut. Tidak lama, tiba-tiba fokus matanya beralih pada sesuatu di belakang Shaninka, sesuatu yang tidak hanya menarik perhatiannya tetapi menyilaukan juga diterpa cahaya merah hijau kuning lampion-lampion besar.


...* * *...


__ADS_2