
Suatu saat menjelang sore di tempat peristirahatan istana, ada pembicaraan antara Paduka Raghapati dan Ketua Sujinsha.
“Aku memerintahkan kamu untuk mengawasi anak muda itu. Jika dia melakukan kesalahan tak terampuni, akan mudah bagiku untuk menyingkirkan dia!“ kata Paduka Raghapati sambil menghisap cerutu sepanjang satu hasta terbuat dari kayu mahoni. Asap tembakau mengepul di ujung-ujungnya, membentuk bulatan-bulatan kecil dan memudar di udara.
“Mengapa Paduka mencemaskan ketenangan diri sendiri hanya karena isu dari luar Tanapura? Anak muda itu hanya pengelana, dia kebetulan datang dan hamba merekrut dia secara langsung untuk menjadi praja."
"Suat kebanggaan bagi Tanapura, seorang anak laki-laki bukan rakyat Tanapura, bersedia mengabdi untuk negeri ini," kata Ketua Sujinsha, bertatap temu di pesanggrahan tempat Paduka berbaring sakit. Ketua Sujinsha menatap Paduka tanpa gentar, padahal dia hanya bawahan yang seharusnya menghormati penguasa tertinggi Tanapura.
“Sikapmu tidak berubah sama sekali, sebenarnya tidak suka keberadaanmu di sini, tapi … mengingat kalau negeri ini membutuhkanmu, aku masih membiarkan istana ini terbuka lebar untukmu," ujar Paduka sinis.
“Lalu mengapa Tuan tidak melepas hamba?“ tanya Ketua Sujinsha.
Paduka Raghapati bangkit perlahan dari berbaring. Dia duduk dan melepas cerutu mahal istana, menatap Ketua Sujinsha, tampak kesal dan emosinya tersulut, “Setiap kali kita membicarakan sesuatu, selalu tidak pernah sependapat. Kamu selalu membuatku marah!” katanya lantang sampai terdengar oleh beberapa pengawal dari pintu taman. Perhatian kapten beralih pada mereka. Tentu saja pengawal-pengawal itu mengurungkan niatnya untuk masuk ketika tahu yang ada di depan Paduka Raghapati tidak lain adalah Kapten Utama ke-tiga pada masa pemerintahannya, paling disegani dan ditakuti. Lebih dari itu, dalam pandangan rakyat, ketenaran dan pamor Ketua Sujinsha tidak jauh dari kedudukan Paduka Raghapati.
Puluhan pengawal kembali ke posisi semula. Sementara kedua tokoh istana itu melanjutkan pembicaraan mereka.
“Bukan maksud hamba membuat Paduka marah, tetapi perintah Paduka tidak sesuai dengan etika tugas hamba di sini. Hamba, pembela kebenaran, bukan dijadikan sebaliknya. Tidak ada alasan yang dapat membuat hamba berpaling dari prinsip, bahkan sebelum hamba mengabdi di Tanapura,“ kata Ketua Sujinsha tidak mengalah bicara.
Paduka Raghapati mulai geram, “Hanya seorang ketua, berani menentang aku? Kita lihat saja nanti, sampai di mana prinsip-mu bertahan. Jika suatu saat nanti kekuatanmu runtuh, aku sendiri yang akan menggorok tulang lehermu dan menancapkan di tombak.
Ketua Sujinsha balas senyum agak sinis, “Hmm, jadi itu yang Paduka inginkan? Kalau begitu, hamba bisa mengajarimu mulai dari sekarang, jurus pedang dan jenis pedang apa yang bisa memenggal kepala manusia berilmu tinggi sepertiku!“ Ketua Sujinsha meluapkan kemarahannya, baginya bersikap demikian di hadapan Paduka Raghapati adalah suatu kekuatan tersendiri.
“Jika Paduka setuju, besok hamba akan mengajari Paduka untuk berlatih lebih pagi," kalimat Ketua Sujinsha tentu sangat menghina Paduka Raghapati. Tanpa peduli atau hormat sedikitpun dia berbalik arah, menjauhi dari Paduka Raghapati dan meninggalkan tempat itu.
Muka Paduka merah padam, kali ini dia bangkit dan berteriak, “Pengawal, tahan dia!!!“
Dalam siap siaga pengawal-pengawal yang berjaga di pintu taman berdatangan, meskipun takut mereka berusaha menghalangi langkah Ketua Sujinsha. Tetapi langkah Ketua Sujinsha sama sekali tidak gentar apalagi melambat, sebaliknya pengawal-pengawal itu.
“Bodoh! Apa yang kalian lakukan? Hentikan dia! Kalian tidak dengar perintahku? Akulah Raja kalian, bukan dia! Hentikan dia kataku!!!“
Teriakan Paduka memaksa seorang pengawal mengayunkan tombaknya ke arah Ketua Sujinsha. Tapi terjadi sebaliknya, sebelum tombak itu berhasil melukai, tubuh pengawal itu terhantam pukulan keras Ketua Sujinsha. Yang lain menyusul dengan senjata mereka masing-masing. Tetapi kali ini Ketua Sujinsha tidak mengeluarkan tinjunya lagi. Dia cukup mengerahkan sedikit jurus tenaga dalamnya membuat pengawal-pengawal yang menyerangnya terkulai lemas.
“Penyerap Nadi!!!“ Paduka Raghapati tersentak menyaksikan Ketua Sujinsha mengeluarkan salah satu ilmu andalan. Dalam sekejap, tiga pengawal sudah ambruk tidak berdaya, sedangkan seorang lagi sudah kabur dan berteriak minta tolong. sekarang tinggal Paduka Raghapati, dia terpaksa bertindak, segera mendekati Ketua Sujinsha yang masih membelakanginya. Tepat ketika Ketua Sujinsha berbalik, Paduka Raghapati langsung menghantam jurus yang sama dari telapak tangannya. Dalam beberapa saat, dua orang berilmu tinggi itu saling beradu tenaga dalam dengan menggunakan jurus Penguras Nadi. Keduanya semakin menambah kekuatan.
__ADS_1
“Hentikaan ...! Hentikaaan ...!!!“ Beberapa orang berdatangan dan segera melerai keduanya meskipun setelah itu terpental bersamaan. Ketua Sujinsha terjerembab ke tanah, dibekuk dua orang berpakaian jendral. Demikian juga dengan Paduka Raghapati yang terhempas keras bersama dua abdi semula membantu Paduka Raghapati, mereka berusaha bangkit dan cepat-cepat bersimpuh untuk memohon hormat.
Ketua Sujinsha yang lebih dulu bangkit lalu, berdiri tegang di tempatnya. Sementara dua jendral di sudut pesanggrahan beralih ke tempat Paduka Raghapati. Mereka tentu lebih memihak padanya, juga karena sangat mengkhawatirkan keadaan sang Raja setelah kejadian menegangkan baru saja. Hanya seorang abdi yang baru saja sampai, mendekat ke arah Ketua Sujinsha.
“Ketua Sujinsha, mohon bersabar sedikit menghadapi Paduka!“ Katanya setengah berbisik.
“Dia memaksaku!“ kata Ketua Sujinsha tidak suka.
“Singkirkan berandalan itu dari hadapanku!!!” perintah Paduka Raghapati yang sedang dipapah kedua abdi.
“Mohon kebijaksanaan Paduka. Tuan Lu memang bersifat seperti ini sejak dulu,“ Ki Ageng Mukti kembali tergopoh-gopoh dan menghampiri Paduka Raghapati.
“Serahkan pada hamba, hamba tahu bagaimana menjinakkannya,“ bisik Moya di dekat telinga Paduka Raghapati sebelum puluhan pengawal menyerbu Ketua Sujinsha. Namun sang Raja lebih dulu menghentikan aksi tangkap mereka.
“Urus dia! Perintahkan padanya seperti yang ‘kumau!“ Paduka Raghapati memilih Ki Ageng Mukti menangani Ketua Sujinsha.
“Terima kasih, Paduka!” Ki Ageng Mukti membungkuk, lalu kembali ke posisi Ketua Sujinsha dan mengajaknya ke suatu ruangan.
“Tuan, kemari. Mohon ikut hamba!”
“Maaf, Ketua, tetapi situasinya akan lebih buruk jika Tuan masih berada di tempat ini lebih lama lagi. Tolonglah, Ketua, demi keselamatan kami dan negeri ini,“ kedua mata Ki Ageng Mukti ketakutan. Mendengar permohonannya, Ketua Sujinsha menurut saja. Akhirnya mereka berlalu dari hadapan Paduka Raghapati.
“Lihatlah dirimu, Tuan Moya, sangat menjijikkan! Sebentar-sebentar membela Paduka jika berada di hadapannya. Tetapi jika sudah berada di depanku, cara bicaramu jadi lain!“ Ketua Sujinsha masih emosi.
“Jangan berkata begitu, anakku. Jiwamu masih muda, keras, mudah terpancing emosi dan tidak mau dipaksa. Aku tahu itu Tapi, untuk kali ini saja mohon Paduka mengalah saja demi rakyat, karena mereka sangat membutuhkan Paduka sebagai pelindung negeri ini. Sejak Tuan mejadi Ketua Kesatuan Praja Tanapura, sikap keras kepala Paduka berkurang,“ kata Ki Ageng Mukti. Lelaki itu sudah berumur 60 tahun dan hanya dia yang paling dekat dengan Ketua Sujinsha.
Kemarahan Ketua Sujinsha menyusut. Dia bergeser ke tepi jendela yang terbuka, “Berhentilah memanggilku Tuan karena aku masih seumur anakmu.
Ki Ageng Mukti memberi hormat, menunjukkan rasa simpati untuknya.
“Mengapa ... mengapa aku harus menuruti perintahnya? Mengapa?“ geram Ketua Sujinsha dan gemetaran menahan emosi.
“Karena dia adalah Paduka, Penguasa Tanapura!“
__ADS_1
“Bukan aku yang meminta untuk jadi pengikutnya...bukan aku! Aku tidak pernah ingin menjadi rakyatnya!”
“Tetapi, Tuan. Maksudku, bukankah kau pernah bersumpah untuk setia padanya?”
“Sumpah apa? Aku bersumpah untuk mengabdi pada Tanapura!” kata Ketua Sujinsha tegas lugas.
“Aku tidak takut hukuman penggal kepala atau gantung. Hukum di negeri ini sudah kacau …,” tutur Ketua Sujinsha mendadak sedih.
“Aku diperintahkan untuk mencelakakan seorang murid praja.”
“Baiklah, aku mengerti maksudmu. Tetapi … kehendak Paduka tidak bisa ditolak atau dicegah. Lakukan sesuatu untukmu sendiri, jika bukan kau yang bisa melindungi anak-anak itu, maka siapa lagi? Dengarkan aku, aku ini hanya penasihat Paduka, bukan lidahku yang bercabang dua … tetapi aku ingin berusaha menyatukan pendapat yang tidak bisa bersatu. Menurutku, lakukanlah saranku, maka Ketua akan mendapat simpatik Paduka.“
“Aku tidak peduli simpatik Paduka, aku tidak akan peduli dia simpatik atau tidak padaku, aku tidak peduli!!“
“Ssst, ini lebih dari sekedar simpatik. Kehidupan! Kehidupanmu selanjutnya, juga nasib anak-anak itu. Jika bukan kau yang bersedia menjalankan perintah Paduka, maka orang lain akan menggantikan tugas itu.”
”Bayangkan jika tugas itu jatuh ke tangan Abdi Kanan dan Abdi Kiri.”
Ketua Sujinsha berpikir keras, tiba-tiba dia sadar kalau perkataan Ki Ageng Mukti benar. Ia termenung agak lama. Kemudian pemikirannya berubah.
“Jadi … aku harus bagaimana?“
Ki Ageng Mukti mendongakkan wajah Ketua Sujinsha lalu membisikkan sesuatu ke telinganya.
“Ambil tugas itu. Berpura-pura menjadi guru di Tanapura. Gunakan jabatan untuk melindungi anak-anak itu, bukan sebaliknya!”
Ketua Sujinsha berpikir sekali lagi, “Lalu, bagaimana kalau Paduka tahu rencana ini tidak sesuai dengan tujuan dia? Sampai kapan akau harus berpura-pura menjalankan perintahnya? Sampai kapan?”
”Sampai kau tidak mampu lagi ...,” bisik Ki Ageng Mukti sangat dekat dan mengulas senyum simpul, “Kamu adalah pimpinan Kesatuan Praja Tanapura, ada alasan untuk mengalihkan Paduka … aku juga akan membantumu!“
Akhirnya Ketua Sujinsha terdiam. Setelah sekian kata-kata Ki Ageng Mukti meyakinkannya, ia memutuskan sesuatu.
”Baiklah, hamba bersedia menjalani perintah Paduka untuk menjadi guru di Tanapura," jawab Ketua Sujinsha.
__ADS_1
Ki Ageng Mukti tersenyum paksa. Ia menepuk bahu Ketua Sujinsha sebelum pergi dari tempat itu.
...* * *...