
”Sembunyi di sini!” terpaksa Taja segera menyelip di antara tumpukan mayat-mayat kering. Mereka berusaha untuk tidak bergerak di dalam timbunan berbau busuk itu. Sedangkan Raojhin yang sudah sampai di bebatuan ujung, cepat-cepat bersembunyi di sana.
”Kemana mereka?!!” teriak salah satu di antara penyihir yang berdatangan memeriksa sekitar area itu.
”Tidak mungkin mereka ke arah ini! Terlalu busuk!!!” tanggap yang lain.
”Atau malah mereka sudah sampai ke celah pertigaan, kejar ke sana!!!” seorang penyihir paling berpengaruh menunjuk perintah. Puluhan sosok berpakaian jubah panjang abu-abu dan berbalut ikat di kepala, berhamburan ke segala arah lorong.
”Cepat!” seru penyihir itu memicu kecepatan gerak anak buahnya.
Akhirnya segerombolan penyihir itu pergi. Raojhin cepat-cepat memberi komando pada dua temannya, ”Ke lorong itu!”
Taja dan Lorr En keluar dari tumpukan mayat.
”Busuk sekali!” gerutu Lorr En sambil berkali-kali meludah tak tahan. Sedangkan Taja terpaksa membuang jubah lapisan luar. Melihat itu, Lorr En meniru.
”Mengapa ke lorong itu? Kita tidak tahu jalan mana yang tidak menyesatkan,” Lorr En membuntuti Raojhin.
”Karena semua penyihir-penyihir itu menuju semua lorong kecuali ke lorong ini,” jawab Raojhin. Ketiga anak itu semakin merambah dalam kegelapan pekat.
”Gelap!” celetuk Lorr En.
”Bisakah kau tenang, Lorr En? Hampir saja kita tertangkap karena kamu terus berisik sejak tadi?” Raojhin memperingatkan Lorr En.
”Jangan marah!” Lorr En tidak suka cara Raojhin berkata agak menyentak. Mereka beradu muka, masing-masing memperlihatkan ekspresi marah. Tetapi Taja buru-buru menyela.
”Kalian sudah saling melindungi dan kita juga saling membutuhkan, tidak ada gunanya berdebat! Dan ingat, kita sedang tersesat di tempat orang-orang yang berniat tidak baik!” Taja melanjutkan langkah. Akhirnya Lorr En dan Raojhin menyurutkan ego masing-masing.
Ketiganya sudah berada dalam rongga gua lain, jauh lebih gelap dan tidak ada cahaya kecuali api yang tersisa di ujung obor Taja.
”Di mana ini?” Taja mengangkat obor di tangan, melihat seisi tempat yang aneh, sangat kosong dan sunyi. Hanya ada kubangan air jernih di tengah-tengah rongga sangat luas itu.
”Jalan buntu!” pekik Raojhin beralih pandang pada Lorr En tidak kalah panik.
”Pilihan salah!” tanggap Lorr En menatap balik padamnya.
“Tidak ada pilihan,” Taja ikut menyela.
Gelap dan sunyi. Itulah hawa yang terasa kental di dalam ruangan berdinding dan beratap bebatuan stalagtit. Hanya bunyi tetes air berjatuhan ke permukaan kubangannya. Menggema keras dalam kegelapan, mereka seakan terpaku cukup lama di sana. Tanpa disadari, ada gerakan-gerakan kecil yang menggeliat di antara dinding-dinding gelap. Merayap dan meronta lemas dari ikatan yang menjeratnya.
”Kita kembali saja ke lorong semula!” saran Taja dalam kebisuan yang lain.
__ADS_1
Mereka hampir saja beranjak dari sana, tetapi suara benda jatuh mengejutkan disertai sosok tubuh jatuh dari atap-atap bebatuan persis di ambang jalan satu-satunya untuk kembali.
”Apa itu?” Taja mendekat sementara Lorr En dan Raojhin menyingkir. Ia mengayunkan jari-jarinya ke nyala api obor yang hampir padam.
”Laktosia-ara ... rakee-amma. ... La ... nura!” desisnya tertahan di lidah mengucap mantera yang pernah dipelajarinya dari Tuan Anjing Hitam untuk menyalakan api.
Ruuuuu ....
Sangat singkat, api obor menyala besar didekatkan ke sesuatu yang jatuh di depan mereka.
Ada nafas berat diiringi setengah meringkik terpatah-patah, tampak sosok tubuh terjerat akar-akar dan wajah terhalang rambut terurai. Ia masih terkapar di tanah becek sambil menahan isak.
”Ss ... sss ... ss ... dss ..., ” terdengar lirih sekali seperti mendesis kesakitan.
”Siapa dia?” Raojhin di samping Lorr En berbisik dan mengangkat bahu.
”Hati-hati, jangan-jangan ini hanya tipuan!” sergah Lorr En. Tanpa basa-basi langsung merenggut pedang di tangan Raojhin dan hendak menyerang sosok itu. Tetapi buru-buru menarik tangannya.
Membiarkan sosok itu bergerak dan mendesis berulang-ulang.
”Sshiu ... ssaes ... ds ... dss ... Shahsia ...."
Taja memperhatikan gerakan bibir yang terlihat dari wajah gelap sosok itu, terakhir ia mengenali sesuatu.
”Peri daun?” Lorr En menebak dan disusul anggukan Taja.
”Artinya?”
”Jangan bunuh aku,” jawab Taja.
Ia lebih mendekat pada sosok yang tengah meringkuk di tanah becek berbatu, dan semakin yakin akan penglihatannya saat tampak akar-akar mencuat di jari-jari dan wajah menengadah perlahan ke arahnya.
”Siapa kau?” tanya Taja dalam bahasa peri, mencoba mengenali lekat-lekat sosok yang sedang terluka berat dan susah menari nafas. Sekujur tubuh menggigil, kaku dan sangat lemas. Tiba-tiba ia tersentak dan menyebut satu nama.
”Purwa!” pekiknya tidak percaya dan langsung memeluk sesosok lunglai. Makhluk itu ingin berbicara, namun tampaknya ia sangat sulit bernafas. Hanya desis lirihnya terdengar sekali memanggil nama Taja.
Raojhin tercengang menyaksikan pertemuan yang antara Taja dan makhluk seperti manusia, hanya jari-jari tangan dan kakinya yang aneh, mencuat seperti akar-akar memanjang dan bercabang-cabang. Sesekali ia menanyakan, ”Siapa dia?” tetapi Lorr En hanya terdiam. Apalagi Taja yang masih terhanyut dalam keterkejutannya.
”Bagaimana kau bisa sampai berada di sini?” Taja mengusap wajah peri yang dikenalnya.
”Mereka melarangku ... untuk pergi bersamamu. Lalu aku menyusulmu ... demi mereka ...,” ujarnya lirih.
__ADS_1
”Purwa?” Lorr En terkejut juga melihat sosok dalam pelukan Taja adalah keluarga dekat Taja.
”Kita harus segera pergi dari sini! Ada gerakan di lumpur!” seru Raojhin mengingatkan sesuatu saat kedua matanya menangkap gerakan-gerakan kecil dari permukaan kubangan besar tidak jauh dari mereka sedang berada saat itu.
Tersadar dari bahaya, mereka langsung angkat kaki. Agak lambat bagi Taja dan Lorr En karena memapah Purwa yang terluka.
”Cepat!!!” Raojhin melihat bayang-bayang putih di permukaan kubangan, muncul semakin besar dalam bentuk masih berupa air. Kemudian bergerak-gerak ke atas dan semakin membentuk wujud manusia.
”Si Penyihir!” Purwa sempat mengenali bentuk yang setengah menyembul perlahan-lahan dari air, tetapi hanya Taja yang mengerti ucapannya.
”Ke mana?” Lorr En bingung mengambil langkah yang berbeda dengan Raojhin.
”Ke sana!” Purwa menuding ke celah dinding yang terbelah menyempit ke ujungnya.
”Ke sana?” Taja tidak yakin di sana ada jalan keluar.
”Percaya padaku, aku lebih banyak tahu tempat ini!” kata Purwa dalam bahasa yang sama. Agak tertatih-tatih, ia dituntun Taja ke arah sana. Kemudian yang lain satu-persatu melewati celah gelap sangat sempit itu, hanya berukuran satu orang saja yang bisa lewat.
Akhirnya, mereka tersudut ke tepi jurang menganga lebar. Ada banyak air terjun mengarah ke satu tempat di bawah puluhan kaki dari ketinggian mereka.
”Ini jalan keluarnya?” Raojhin panik.
Purwa menuding ke bawah jatuhnya air terjun, ”Di sana, adalah jalan keluarnya!”
Semua meragukan Purwa, tetapi tidak ada waktu lagi untuk mencari jalan lain. Sementara di belakang mereka, sesosok berwujud air menjelma bayang-bayang manusia berjubah putih mengejar mereka, diikuti segerombolan penyihir lain menyusul.
”Mereka datang!” seru Lorr En tersadar bahwa mereka sedang dalam kepungan banyak makhluk-makhluk aneh, muncul dari segala arah, merayap di dinding-dinding gua, atap-atap, dan lobang-lobang tanah.
”Tidak ada waktu, kita meloncat saja!” seru Taja pada Raojhin dan Lorr En kebingungan. Purwa cepat-cepat menariknya, menjatuhkan diri ke tengah pusat air terjun. Dalam sekejap mata, dua sosok itu telah lenyap dalam gejolak air deras. Sedangkan Raojhin dan Lorr En tertinggal.
”Banyak orang mengatakan bahwa kau perenang handal. Bisakah kamu membuktikannya sekarang?”
”Bagaimana denganmu, bisakah memperlihatkan kemampuanmu sebagai murid terbaik Tanapura?” Lorr En balik tanya.
Tidak ada waktu lagi meskipun mereka sempat menoleh ke belakang, melihat bayang-bayang penyihir beserta segerombolan makhluk-makhluk merayap gesit dan berhamburan, semua tertuju ke satu arah empat dua anak itu berdiri di bibir jurang.
”Tunggu apa lagi? Sekarang lompat!” Raojhin memberi aba-aba. Kemudian keduanya terjun ke air, bersamaan dan berpegangan tangan. Teriakan membelah kesunyian gua.
Sedikit saja, segerombolan penyihir hampir menyusul ke bibir jurang. Tetapi mereka berhenti di sana, hanya menatap ke bawah, tempat praja-praja muda itu dilahap arus pusat air terjun.
Jerit marah gerombolan penyihir membahana seluruh lorong-lorong gelap. Satu di antara mereka yang berwujud ringan seperti kepulan asap, kemudian membentuk tubuh sesosok berjubah putih menandakan urat nadi ular di kedua pelipisnya, penuh angkara murka menjerit sangat keras.
__ADS_1
...* * *...