The Chronicle Of Jawata (Edisi Trial Kompilasi)

The Chronicle Of Jawata (Edisi Trial Kompilasi)
4.04. Aku Menemukanmu


__ADS_3

Di sudut ruangan, tampak beberapa orang mengenakan caping tengah memperhatikan Taja sejak dia datang. Juga di antara kerumunan orang-orang di dekat bar menoleh padanya, terdengar desas-desus tak jelas. Selain itu, juga ada beberapa penjaga kampung tak pernah berhenti menatap dari kejauhan.


Taja jadi risih, merasa aneh bercampur heran karena hampir semua perhatian orang-orang di sana tertuju padannya.


“Tuan, mengapa mereka semua melihat saya?” Taja terpaksa bertanya pada seorang pelayan tadi yang kebetulan berlalu di dekatnya.


“Oh … mereka sedang membicarakan Ksatria Belantara yang mati setahun lalu, namanya ... ah, sudahlah!” jawab pelayan namun tidak cukup menjelaskan.


“Tentang ksatria itu lagi,” gumamnya.


Belum lama dalam pikirannya, seorang pelayan yang sama menghampiri Taja, “Ada sesuatu untukmu!” katanya sambil menyodorkan gulungan kain terikat.


“Apa ini?“ tanya Taja.


“Dari orang yang di depan pintu itu,” pelayan itu menunjuk ke arah yang dimaksud. Ketika Taja menoleh ke sana, tampak seseorang berjubah hitam, terasing dari keramaian. Tidak begitu jelas siapa dia karena hanya sepasang mata hijaunya seakan-akan menyala diterpa cahaya api obor di tepi pintu.


Taja membuka gulungan kain itu, di dalamnya bertuliskan ….


‘AKU MENEMUKANMU, TAJA.'


Ketika Taja kembali menoleh di depan pintu itu, sudah tidak ada lagi sosok berjubah di sana, namun sempat menangkap bayangannya keluar dari kedai. Cepat-cepat Taja mengejarnya.


“Hei … siapa kamu?!” Taja tidak peduli hujan menguyur tubuhnya. Sesosok itu semakin bergerak cepat dan menarik perhatiannya ke tempat sepi di bawah jalanan gelap.


“Hei … tunggu! Siapa kamu?!“ panggil Taja berulang-ulang tanpa berhenti mengejarnya.


“Lupa kawan lama?!” kata sosok berjubah itu tanpa berpaling, hanya suaranya terdengar berat.


Sekilas Taja memperhatikan tubuh sosok misterius yang membelakanginya.


“Berbaliklah!” pinta Taja. Sesampainya di sebuah tikungan gelap, sosok itu berhenti dan perlahan-lahan menoleh.

__ADS_1


Terkejut.


Taja tidak mengira kalau sosok itu ternyata sangat menyeramkan, muka  penuh bercak-bercak hitam dengan dua pasang mata hijau terang. Namun Taja sama sekali tidak takut karena sosok itu sudah tidak asing lagi baginya. Yang membuat dia terkejut karena sosok itu bisa sampai ke tempat ini.


“Lorr En?!”


Taja mendekat. Seluruh tubuh Lorr En hampir basah kuyup, karena itu dia berubah menjadi setengah katak.


“Apa yang kamu lakukan disini?” Tanya Taja pada sahabatnya itu.


“Kami mengkhawatirkan, karena itu aku datang sampai ke sini,” suara Lorr En menjelma serak katak namun terdengar khas suara Lorr En. Berat dan serak.


“Kami?” Taja kurang mengerti maksud kata ‘kami’.


“Ya. Aku mengkhawatirkan dirimu. Dia memintaku untuk menyusul ke tempat ini. Sudah enam hari aku mencarimu, tetapi baru hari ini aku menemukanmu. Apa yang sudah terjadi denganmu, ke mana saja kamu?”


“Ayo ikut aku! Akan ‘kujelaskan semuanya,” ajak Taja menuju ke gudang jerami di istal tempat pengasingannya di Pemukiman Sawo.


Deras hujan menelan Pemukiman Sawo dalam gelap pekat dan dingin yang semakin merasuk hingga ke tulang sum sum. Suasana seluruh pedesaan  bagai pemandangan bisu di bawah gemuruhnya petir menyambar-nyambar. Air membanjiri jalan-jalan persimpangan menuju hunian penduduk dan pelosok-pelosok desa.


“Semua berkumpul disini! Cepaaaat!!!” teriak si Tinggi Besar berbaju jirah dan berhelm besi dengan sepasang tanduk di bagian atasnya. Yang jelas terlihat hanya sepasang mata yang bulat besar memelototi sekeliling.


GLAAARRR!!!


Halilintar menggelegar bertubi-tubi diiringi jerit ketakutan semua perempuan dan anak-anak. Suasana jadi kacau sekali.


Dalam situasi yang buruk seperti itu, beberapa orang berusaha melawan meskipun berakibat pada kematian yang cepat karena sabetan pedang orang-orang asing itu.


Dalam beberapa waktu saja, hampir seluruh tempat di Pemukiman Sawo telah dikuasai sepasukan orang-orang misterius tidak jelas dari mana berasal. Karena itu penduduk mengira bahwa segerombolan orang-orang yang tiba-tiba datang mengacau tidak lain adalah perampok.


GLAAARR!!!

__ADS_1


Lagi-lagi halilintar paling keras menggelegar.


“Kau mendengar itu?”


Taja dan Lorr En merasa aman-aman saja di dalam gudang jerami di belakang istal. Pada suatu ruang terpencil dan sarat tumpukan jerami. Tidak ada yang tahu bahwa ada orang yang menghuni di dalamnya selain kuda ternak. Hanya sepetak ruangan itu yang terlewatkan dari awasan pasukan berkuda misterius.


“Apa?” tanya Lorr En, berusaha memasang telinga baik-baik, tetapi cuma gemuruh hujan yang tertangkap telinganya.


“Mmm … entahlah, mungkin salah dengar. Hanya suara angin,” kata Taja sendiri kurang yakin karena hujan di luar sangat lebat hingga apapun yang ada di luar tidak cukup terdengar jelas.


“Lanjutkan ceritamu," pinta Lorr En mengingatkan Taja pada topik pembicaraan mereka sebelumnya yang melibatkan tersesatnya ia sampai ke pondok tua di lereng gunung, bertemu Tuan Anjing Hitam, jurus pedang angin samai yang terakhir, Kitab Sejarah Serba Tahu.


“Baiklah. Saat aku memulainya dengan satu kata dari liontinku. Kau lihat ini ...,” Taja menyembulkan liontin yang dibiarkan terlihat kasat mata tanpa mantera pelindung.


”Tuan Anjing Hitam memberitahuku bahwa tulisan ini adalah simbol huruf ’Lu’. Karena itu yang terpikir sebagai kata pertama yang kusebut untuk membaca kitab ini adalah Ketua Sujinsha!” kata Taja sebelum menyembunyikan liontinnya kembali dalam mantera Mahon-zane lahyera’.


”Ketua Sujinsha?” Lorr En mengucap nama yang belakangan ini juga selalu menyibukkan pikirannya, ”Aku mendapatkan sesuatu dari hasil menyusup Istana Pusaka. Di sana ada Daftar Silsilah Leluhur semua Sekte Jawata.”


Keduanya terdiam sebentar.


”Jadi siapa yang akan bercerita lebih dulu? Kau atau aku?” Taja menawarkan itu.


”Kamu!” pilih Lorr En.


”Baiklah. Saat aku membaca kitab ini kemarin, tertulis ada lebih 4000 bangsawan Lintarwangi dalam kurun waktu 300 tahun terakhir,” kata Taja mengingat dari hasil keterangan Kitab Sejarah Serba Tahu-nya beberapa hari lalu. Dan sekarang, kitab tua itu berada di pangkuannya.


“Apa hubungannya dengan kita?” tanya Lorr En tidak cukup mengerti akan maksud pembicaraan mereka.


”Kau akan tahu setelah aku melanjutkan ceritaku,” kata Taja, hanya menjawab demikian dan melanjutkan ceritanya, “Sebagian besar bangsawan Lintarwangi sudah tidak ada lagi yang tersisa.”


”Dan?” Lorr En mengikuti cerita Taja.

__ADS_1


”Liontin ini, berarti aku adalah keturunan marga Lintarwangi!”


...* * *...


__ADS_2