
”Sumpah aku akan jadi cacing jika berbohong. Sumpahku adalah sihir yang bisa mengutukku diriku sendiri!” Tuan Anjing Hitam berkata keras.
”Baiklah jika demikian, maka aku bersedia untuk melepas dirimu.”
”Dengan apa?” tanya Tuan Anjing Hitam.
”Kunci!” satu kata udah dan langsung terjawab cepat.
Tuan Anjing Hitam menyambutnya dengan tawa kekeh mengerikan lagi.
”Mengapa?”
Tetapi Tuan Anjing Hitam masih belum berhenti tertawa.
“Kunci? Jika ada sejak dulu, aku tidak akan minta bantuanmu! Apa kelihatan mudah? Kalau kelihatan semudah yang kamu kira, aku sudah bisa melepaskan diri sejak dulu?“ Tuan Anjing Hitam terkekeh, tampak gigi-gigi hitam dan runyam di antara bibirnya yang kering.
“Jadi, mana kuncinya, Tuan Anjing Hitam?“
“He he he ... kunci …? Untuk apa kunci? Kuncinya sudah lama dimusnahkan,” lagi-lagi si Tua Tuan Anjing Hitam meringis di antara gigi-giginya yang busuk kehitaman.
“Mereka telah melebur kuncinya …,” suaranya mengartikan pilu dan keputusasaan mendalam.
”Baiklah, akan ’kucoba dengan caraku!” kata Taja tanpa pikir panjang menggunakan tangan-tangannya.
“Ugh …!“ sesaat mencoba berkali-kali menarik rantai-rantai berlawanan arah.
“Tolol! Tenaga manusia belum cukup mampu untuk membukanya. Apalagi tenaga pemuda seusia dirimu …,” Tuan Anjing Hitam menertawakannya lagi.
__ADS_1
Belum berhasil Taja dikejutkan oleh Tuan Anjing Hitam saat menunjukkan sesuatu yang melilit erat kaki-kakinya, “Menyerah sajalah, kau tidak akan berhasil melawan kekuatan rantai-rantai baja ini!“
Dalam kegelapan, samar-samar tampak ada kait-kait ujung rantai menancap di kaki-kaki-kaki Tuan Anjing Hitam. Ketika Taja meraba, ia merasakan sesuatu terbuat dari logam dingin, berat, dan berkarat.
“Apa ini?“ mengenaskan, Taja hampir tak percaya memperhatikan satu persatu dari kait-kait yang mencapai puluhan seukuran kepalan tangan, “Tuan Anjing Hitam, apa yang telah dilakukan orang-orang terhadapmu? Separah ini mereka melukaimu ... kejam ... kejam sekali!“ Taja menyentuh betis-betis Tuan Anjing Hitam, ada kait besi berkarat di pangkal rantai menancap sampai tembus ke tulangnya yang rapuh dan menua.
“Mereka ingin melumpuhkan aku karena mengaggap aku seperti orang gila yang kanibal kapan saja, padahal bukan demikian sebenarnya. Pada bulan purnama, ingatanku jadi gelap dan tidak bisa ingat apa-apa isi. Tidak bisa mengendalikan instingku yang berubah jadi Serigala Api!” kata si Tua Tuan Anjing Hitam diselingi batuk-batuk berdarah. Mendengar kisah Tuan Anjing Hitam membuat Taja semakin terenyuh.
“Serigala Api? “ Taja mengulang kata-kata itu.
“Ya. Ilmu itu merusak kodratku sebagai manusia,“ Tuan Anjing Hitam merintih kesakitan.
“Kamu begitu menderita, Tuan Anjing Hitam. Maukah kamu berjanji padaku untuk tidak keluar pondok ini saat kamu merasa akan kambuh? Jika kamu mau berjanji, aku akan membuka belenggu ini.“
Tuan Anjing Hitam manggut-manggut dengan bibir manyun.
“Dengan segala sumpahku!“ balas Tuan Anjing Hitam yakin. Beberapa saat dia terkekeh lagi melihat Taja yang sedang habis-habisan menguras tenaga untuk memutuskan rantai-rantai besi itu.
“Uggh ...!” berkali-kali anak itu menegangkan otot-otot tangannya. Tapi sia-sia saja selama yang digunakan adalah tenaga manusia biasa seusianya.
“Tuan Anjing Hitam, jangan katakan pada siapapun jika aku berubah…menjadi seperti ini …,” dari kulit telapak tangan sampai lengan Taja keluar daun-daun berakar dan semakin terumbai, lalu menjalar dan merambat sampai batas pangkal lengan.
Agak mengagetkan Tuan Anjing Hitam, lelaki tua itu hanya berkata, “Kamu menyebutku bukan manusia … nyatanya sesungguhnya kamu yang bukan manusia sepenuhnya. Katakan padaku bahwa itu benar, atau aku akan pingsan …,” dan kedua matanya terpaku menatap tangan-tangan Taja yang berdaun dan melilit di pada rantai-rantai itu.
“Hi hi hi ... menurutmu, kita ini sama-sama makhluk aneh ... tetapi, apakah dengan menjadi manusia sepenuhnya akan menjamin kehidupan yang baik? apakah dengan menjadi manusia seutuhnya … membuat dunia ini damai dan tentram … dan apakah pernah ada satu manusia seutuhnya yang peduli penderitaanmu, Tuan Anjing Hitam? hanya manusia aneh yang bisa mengerti penderitaan manusia aneh juga,“ seling Taja tanpa berhenti menegangkan otot-ototnya. Sekali lagi dengan sekuat tenaga yang berbeda, ia menarik rantai-rantai itu dari dua arah berlawanan … dan ….
”Jadi ... benar kau bukan manusia sepenuhnya?” Tuan Anjing Hitam mendelik gemetar tanpa lepas pandang dari sepasang lengan Taja yang penuh daun-daun mencuat keluar dan bergerak-gerak.
__ADS_1
Taja hanya menatap balas tanpa menakut-nakuti, ”Benar ....”
Gretak!
Belum usai Tuan Anjing Hitam terkejut, akhirnya rantai baja berkarat itu putus juga. Selanjutnya, Taja melakukan itu berulang-ulang pada bagian rantai yang lain. Tidak begitu sulit dengan sedikit mantera yang diucapkannya agak mendesis berkali-kali.
”Mer-lyo ... Zab-ni ....”
Dalam beberapa saat saja rantai baja yang melilit tubuh Tuan Anjing Hitam sebelumnya sudah terberai.
Namun ketika kait-kait yang menancap di betis-betis menahan teriak saat kait-kait besi itu tercerabut dari kaki-kaki Tuan Anjing Hitam, rasa sakit yang dahsyat membuatnya menguak lengking. Tuan Anjing Hitam tergeletak lunglai di lantai kayu setelah itu.
“Kamu, orang Tanapura pertama kali melihatku dalam keadaan sepeti ini. Tidak perlu bertanya apapun tentang semua yang telah kau lihat. Ini rahasiaku ... dan kumohon, kau juga kan merahasiakan itu,” Taja juga kelelahan. Ia menyandarkan diri ke pilar kayu lapuk dan penuh serangga merayap. Keringat deras mengalir dari leher dan dahinya. Sementara sekujur lengan-lengannya menjadi kaku kayu tanpa otot namun tidak busa digerakkan. Ia juga kesakitan beberapa lamanya akibat menggunakan sihir itu.
“Kamu hebat, Pemuda!”
”Siapapun dirimu, terbukti kamu makhluk berhati lembut. Kita baru bertemu tapi kamu sudah begitu mempercayaiku … sikapmu itu sangat menolong siapapun sekaligus bisa membahayakan dirimu sendiri. Aku bisa saja ingkar janji, lalu kabur sekarang dan berlaku sesukaku di luar sana …,” Tuan Anjing Hitam mengatur nafas. Sementara banyak darah darah segar mengalir dari kakinya yang berlubang-lubang akibat kait-kait itu.
“Lalu mengapa kau tidak melakukannya? Sekarang kau sudah terbebas dari belenggu, sedangkan aku sudah banyak kehilangan tenagaku karena. Tetapi bukan berarti terlepas dari janji ...,“ lengan-lengan Taja masih kaku beberapa lamanya. Selama itu ia hanya bisa memperhatikan Tuan Anjing Hitam yang sibuk membersihkan diri dari lilitan rantai tersisa di tubuhnya, sambil sesekali merintih dan meraung karena menahan sakit. Tubuh Tuan Anjing Hitam yang kurus tertatih-tatih dan jejak langkah berlumuran darah, berusaha untuk menggapai pilar terdekat darinya. Setelah melempar patahan rantai belenggu dari tubuhnya, ia bergegas ke pintu yang terbuka lebar.
“Mau kabur?“ cepat-cepat Taja menghalangi Tuan Anjing Hitam susah payah merangkak ke pintu itu.
“Ke telaga!” jawabnya sebelum melesat keluar, menuju rerimbunan berduri.
”Hei, tunggu!” tenaga Taja baru saja pulih. Ia cepat-cepat mengejar gendra yang sudah berada jauh di depannya, menyeruak semak-semak berduri.
...* * *...
__ADS_1