
Hari telah hampir senja. Bayangan koloni kelelawar sesekali melintas di antara puncak-puncak gunung. Sepanjang arah yang dilalui serombongan prajurit di bawah komando Ketua Sujinsha, hanya terlihat batu-batu menjulang tinggi-tinggi.
Setelah setengah hari dalam perjalanan untuk sampai di kaki gunung, mereka kelelahan. Sampai pada hamparan padang pasir sangat luas seakan-akan tak tampak batasnya, Ketua Sujinsha membiarkan semuanya beristirahat sejenak.
Tuan Birwa dan beberapa prajurit lain mulai memasang ranting-ranting sedapatnya dari kaki gunung dan menyulutkan api, sebagian lainnya membuka sedikit bekal untuk mengganjal lapar dan haus. Ada juga yang menyibukkan diri untuk memberi pertolongan pada sesama yang terluka.
Ketua Sujinsha bersila atas gundukan batu. Selain untuk menenangkan pikiran dan mengembalikan konsentrasi, juga cukup memperbaiki keadaanya setelah bertarung dengan musuh. Taja dari tempatnya bersandar di batu, diam-diam memperhatikannya. Mulai dari masing-masing telunjuk dan ibu jari yang saling bertemu sampai sepasang kelopak mata si Ketua yang terpejam erat.
Ia menghela nafas panjang untuk mengakhiri terapi nafasnya. Setelah itu, melihat sekeliling.
Taja beralih pandang seolah-olah tidak memperhatikan Ketua Sujinsha sejak tadi.
”Makanlah selagi masih ada. Bekal yang kami bawa hanya cukup beberapa hari,” kata Ketua Sujinsha menghampiri Taja, Lorr En san Raojhin. Ia membagi jatah makanannya untuk mereka. Raojhin menyambut bungkusan Bak Pao kering dari tangan si Ketua. Dan agak enggan, Lorr En menerima pemberian yang sama.
”Ini untukmu!” kata Ketua Sujinsha dari jauh. Tanpa tanggapan, anak itu hanya menoleh kurang semangat. Kedua matanya sembab seperti sudah lama menangis, ”Sudah beberapa hari kalian lupa makan dan istirahat, jangan biarkan tubuhmu lemah dan sakit,” lanjut Ketua Sujinsha masih dibalas tatap sendu anak itu.
Pada lain arah, sekilas Taja melirik Lorr En yang juga sedang dirundung sedih, tampaknya sudah bisa memakan segenggam Bak Pao. Sementara Taja melihat kembali segumpal penganan yang agak penyok dalam remasan tangannya sendiri dan basah karena air mata, akhirnya jatuh ke tanah berpasir.
”Dari wajahmu tampak sangat sedih, ada apa? Kau sudah aman berada di antara kami,” tanpa disadari oleh Taja, Ketua Sujinsha sudah berada di sebelahnya. Ia tidak mempermasalahkan penganan yang terjatuh, justru menyodorkan penganan dari tepung itu. Dan kali ini Taja menyambutnya.
”Lalu, bagaimana dengan Tuan?” setelah beberapa gigitan telah masuk ke mulut, baru Taja menanyakan itu. Ketua Sujinsha menggeleng kecil.
__ADS_1
”Aku sedang berpuasa!” jawabnya singkat membuat Taja tertegun sebentar. Ia tak habis pikir tentang Ketua Sujinsha masih berpuasa dalam keadaan lelah dan usai bertarung.
”Sekarang saatnya berbuka, bukan?” Taja menyadari waktu sudah senja, awan kemerahan di ufuk barat mengingatkan mereka tentang batas berpuasa. Dan bukan berarti Ketua Sujinsha lupa atau tidak tahu, ia memang sengaja tidak makan.
”Air saja sudah cukup untukku,” jawab Ketua Sujinsha hampir tersedak. Sesaat ia pun singgah di sebelah Taja bersandar di kaki bebatuan.
”Tetapi ... Tuan sangat kelelahan. Tuan harus makan meskipun sedikit,” Taja melihat wajah Ketua Sujinsha tampak kurang sehat. Namun si Ketua hanya menggeleng saja sebagai jawaban.
”Lebih dari sekedar menahan lapar dan haus, benar bukan?” Taja menebak pikiran Ketua Sujinsha. Pria itu meliriknya sebentar. Jika bukan anak itu yang mulai berbicara, mungkin ia tidak akan mengatakan yang sebenarnya perihal musuh mereka.
”Mereka adalah bangsa penyihir. Sementara orang-orang pasukanku manusia biasa, tidak akan mampu melawan sihir hanya dengan senjata yang tampak. Harus ada jiwa suci untuk melawan kekuatan hitam dari sihir mereka. Mengerti?”
Taja mengangguk kecil, meskipun masih ada pemikiran tersendiri yang belum berhenti setelah itu.
”Dunia ini sangat luas, Taja, meski demikian belum juga membuat manusia puas terhadap semua yang diperuntukkan mereka. Perang dan nafsu saling membinasakan demi kekuasan serta harta telah memperbudak hati yang tidak pernah percaya terhadap zat yang Maha Kuasa. Mereka mengira bahwa hidup akan selamanya tanpa kematian ...,” Ketua Sujinsha menatap mata Taja yang bulat dan jernih. Tiba-tiba sepasang mata itu seolah mengingatkannya pada kedamaian masa silam seperti butir-butir mutiara mewakili kemilaunya lautan kenangan. Dan sudah sangat jauh dari ingatannya akan butir-butir mutiara yang hilang itu...bahkan nyaris terlupakan!
”Dan...?” Taja belum menangkap jawaban yang tepat dari kalimat Ketua Sujinsha. Seketika itu Ketua tersadar dari lamunan sesaat.
”Pada mulanya, sihir merupakan sebagian do’a yang digunakan untuk kebaikan dan menolong sesama. Ia berubah sifat menjadi ilmu hitam karena dikendalikan oleh hati manusia yang jahat kemudian disalahgunakan. Bukan lagi menjadi penolong, tetapi mencelakakan bahkan bertujuan untuk menghancurkan.”
”Sihir bukan kekuatan cuma-cuma dan tidak bisa dipergunakan semaunya. Ada konsekuensi tidak sembarangan untuk itu, benar bukan?” tanya Taja lagi. Dan Ketua Sujinsha membenarkan itu dengan mengangguk kecil.
__ADS_1
”Sangat beragam sihir di dunia yang pernah kutahu. Ada yang berasal dari kitab, warisan ilmu, juga bakat alam. Dulu, sebagian generasi keluargaku pernah mengenal sebagian sihir kecil saja. Tetapi, kami sering gagal...khususnya aku. Ternyata, keluarga bukan penyihir tidak cukup berbakat dalam mempelajari sihir, tentu saja karena kami bukan keturunan bangsa Mahelya dan Surimukhti,” Ketua Sujinsha memperjelas ucapannya.
”Rasanya ... nama itu tidak asing,” gumam Taja.
”Mereka bangsa penyihir yang pernah hidup di masa lampau. Peradaban Mahelya hampir menyerupai kerajaan besar pada masa-masa Jawata lampau. Setelah pembantaian brutal secara besar-besaran, hampir seluruh dari mereka telah binasa, sedangkan sebagian kecil yang tersembunyi tidak mampu mempertahankan generasi sampai sekarang. Padahal, mereka adalah suku yang bisa mencapai usia ratusan tahun, sangat sakti dan mewarisi sihir turun-temurun,” Ketua Sujinsha menjelaskan sekilas tentang bangsa tersebut.
"Surimukhti?”
Taja menyebut heran.
”Mereka adalah suku yang menghilang. Dulu sekali ... mereka adalah pengikut Tanapura yang bersumpah setia untuk mengabdi di bawah Paduka. Karena berkhianat, Paduka mengutuk mereka tidak bisa terkena cahaya matahari. Entahlah, menurut legenda ... mereka kabur ke laut lepas dan tidak ada dari mereka yang terlihat lagi. Meskipun kadang-kadang sebagian kecil anak cucu keturunan silang mereka, terlahir seperti manusia kera atau manusia rusa.”
”Manusia kera?” Taja heran.
”Ya, sama seperti seorang temanmu dari Graha Tabib," kata Ketua Sujinsha, sedikit menyinggung gadis tabib yang dikenal Taja.
”Shaninka?” Taja mengernyitkan dahi.
”Belum pasti juga, hanya mustika mereka sendiri yang dapat membuktikan itu,” jawab Ketua Sujinsha.
”Mustika?”
__ADS_1
”Benar, mustika rahasia di tubuh mereka dan hanya mereka yang tahu," jawab Ketua Sujinsha.
...* * *...