
Siang menguap tajam, panasnya seakan memanggang kulit, menguras keringat murid-murid Praja Langit.
Di lapangan rumput dekat jalan masuk menuju hutan bambu, tempat barisan Praja Langit berkumpul rapi, setelah mengakhiri latihan beladiri. Mereka memenuhi area duel yang sudah dipersiapkan dan segera diadakan latihan duel seperti biasa. Kemudian seusai waktu istirahat akan dilanjutkan dengan kegiatan Rintang Alam, salah satu rutinitas para Prajurit Muda setiap akhir pekan. Biasanya 2-3 kali dalam sebulan selalu diadakan latihan itu, area Rintang alam bermacam-macam dan terdapat berbagai kesulitan yang berbeda. Dan kali ini, Rintang Alam yang akan dilakukan adalah mencapai Puncak Bukit Hutan bambu. Yang tercepat akan mendapat poin terbesar.
Raojhin, Bintani dan Gandha adalah murid khusus pilihan Ketua Sujinsha untuk dilatih langsung olehnya, mereka juga wajib mengikuti kegiatan Rintang Alam sama seperti murid Praja Bumi. Meskipun ini yang pertama kali, tapi mereka bertiga harus siap menjalani Rintang Alam.
Bagi murid senior, usia mereka berkisar 17 hingga 20 tahun, sudah lebih banyak terlatih, kuat dan tangguh untuk melakukan Rintang Alam. Tetapi bagi Raojhin, Bintani dan Gandha yang masih setingkat murid Calon Praja, persiapan dan mental mereka masih sangat minim. Jika bukan karena Ketua Sujinsha yang memilih langsung mereka untuk mengikuti latihan itu, maka mungkin mereka tidak akan sejauh ini.
Entah strategi apa yang sedang dilakukan Ketua Sujinsha dalam cara didikannya hingga harus melibatkan tiga murid Calon Praja itu terlibat latihan yang memberatkan dan jauh di atas kemampuan yang seharusnya. tetapi mau tidak mau ketiga anak itu harus siap apapun yang diperintahkan ketua tertinggi Tanapura, sekaligus Pelatih Praja.
Sejauh ini, Raojhin berhasil memberi yang terbaik di hadapan Ketua Sujinsha berbeda dengan dua reka lainnya, Bintani dan Gandha yang selalu kurang memuaskan.
Raojhin memiliki bakat yang lebih dari cukup untuk murid seusianya, mengingat latar belakang Raojhin adalah bukan dari kalangan rakyat biasa, ayahnya bukan sembarang orang dan Ketua Sujinsha tahu persis latar belakang keluarga Raojhin. Namanya sangat disegani dan terhormat, dikenal sampai ke luar Jawata. Lebih dari itu, ia diberi tempat istimewa di istana Tanapura dan menyandang sebagai Calon Praja Emas.
Namun sebenarnya hidup Raojhin terabaikan, berpindah-pindah mengikuti kelompoknya, adat adat kebiasaan mereka. Bersembunyi di hutan-hutan, berburu dan mengasingkan diri dari pusat orang-orang kota. Kemudian suatu masa, sebagian kelompok mereka tercerai berai, Raojhin hidup dalam pengasingan, terluka. Sampai suatu hari dia ditemukan oleh Pasukan Prajurit Naroja yang kebetulan sedang mencari-cari anak laki-laki untuk dijadikan murid militer.
Ketua Sujinsha diam-diam mencuri pandang, tatap matanya tertuju lama ke murid bernama Raojhin. Dan Raojhin pun tidak menyadari hal itu. Bahkan beberapa bawahan Ketua Sujinsha tidak perlu merasa aneh melihat sikap Ketua Sujinsha yang terlalu memperhatikan Raojhin, karena mereka juga tahu tentang jati diri anak itu.
"Mukanya semakin mirip ayahnya," ujar seorang bawahan agak berbisik di antara kelompoknya, tetapi cukup terdengar Ketua Sujinsha. Dia melirik kelompok itu.
__ADS_1
"Banyak orang tahu tentang dia, tetapi sedikit yang tahu bahwa Raojhin adalah putranya. Semangat seperti api berkobar, tatap mata tajam tanpa ampun, dan cara bicaranya tegas, semakin menonjol pada pribadi anak itu," lanjut mereka, terang-terangan bicara antar sesama, sembari sibuk memasang sabuk melingkar di perut.
Ketua Sujinsha sengaja menghentikan obrolan mereka, "Awasi setiap perkembangan mereka. Lanjutkan pada Latihan Tingkat Tinggi," perintahnya pada bawahannya itu dan membuyarkan pembicaraan mereka.
"Baik, Tuan," jawab bawahannya itu siaga, mendekat ke tempat Ketua Sujinsha.
"Tapi, tidak biasanya Tuan meninggalkan latihan praja senior. Tuan hendak kemana?" tanya anak buahnya itu memberanikan diri bertanya.
"Aku akan mengawasi 3 murid Calon Prajurit itu," kata Ketua Sujinsha menunjuk jauh ke arah pada Raojhin, Bintani dan Gandha.
"Apakah kamu keberatan menggantikan tugasku untuk sementara?" tanya Ketua Sujinsha
Melihat gelagat atasannya sedikit tersinggung, Hue Jio segera menunduk hormat, "Maaf, Tuanku ... suatu kehormatan bila menjalankan tugas Tuan! Da saya siap melaksanakan!" Jawabnya tanpa banyak tanya lagi, dia diiringi beberapa rekannya bergegas pergi.
"Apa ini yang kita sebut latihan? Hanya membelah kayu...apakah dia pikir kita tukang kayu?!" Bintani menggerutu kesekian kali. Emosi tertumpah lewat kapak ditangannya lalu dihantam olehnya keras-keras pada gelondongan kayu besar.
"Apa maksud dia menyuruh kita melakukan ini?! Menyebalkan!" tidak jauh dari Raojhin dan Bintani, Gandha tidak kalah sewot.
"Apa kata teman-teman regu Elang kalau mereka melihatku melakukan pekerjaan rendah ini, pasti mereka mengejekku habis-habisan. Memalukan!! Aku akan mengadukan pada Ayah!" sambung Gandha.
__ADS_1
"Dia hanya mempermalukan kita! Dia tidak benar-benar melatih kita!" sahut Bintani menimpali.
"Dasar Keras kepala!" Gandha mengumpat.
Mendengar itu, Raojhin yang sejak tadi diam saja terpaksa angkat muka. Menatap dua temannya satu-persatu, "Tidak bisakah kalian bersabar? Anggap saja ini ujian mental, menguji kesabaran kita?" Katanya.
"Apa? Sabar? Ujian mental buat kita? Dari orang yang selalu membangkang Paduka? Huh, sungguh sialnya aku!" keluh Bintani membanting kapak.
"Diam, Bintani! Kamu membuatku muak!" balas Raojhin ketus setelah mendengar kalimat Bintani semakin menjadi-jadi.
"Kenapa? Menantangku? Apa dia ayahmu karena itu kamu selalu membelanya?" sangat lantang Bintani menghardik Raojhin sambil berdecak pinggang.
"Sudah kubilang diam! Jangan menggerutu lagi!" bantah Raojhin tanpa takut sedikitpun melawan mereka semua sekaligus.
"Apa maksudmu menyuruhku seolah-olah dia yang memerintahkan aku? Kamu bukan seorang kapten, Raojhin! Jadi sok memerintah seakan-akan kau adalah kapten! Dan aku tidak akan terima perintah dari kaum gelandangan!"
"Siapa yang kau sebut bodoh? Aku atau Ketua?" Raojhin tersinggung karena merasa tahu persis siapa yang dimaksud 'dia' dalam pembicaraan tidak akur mereka.
"Kalian sama saja! Jangan berpikir pengetahuanku buta akan desas-desus tentang Ketua Si Tak Mau Tahu, bahwa dia juga gelandangan dari Tanapura!" kata Bintani membuang muka, lalu menjauh dari Raojhin dan Gandha, pergi ke sisi bebatuan lain untuk mengambil duduk di bawah pohon rindang.
__ADS_1
Raojhin memang kesal, tetapi tidak ingin terpancing emosi. Kalau saja mereka tidak sedang berada di tempat seperti ini, mungkin dia akan menghajar Bintani sampai jera. Akhirnya, Raojhin hanya diam sambil melanjutkan pekerjaannya.
...* * *...