
Malam mendera nafas Gunggali. Semua orang dalam peraduan masing-masing, namun tak setenang dulu. Bayang-bayang cemas menghantui semua penghuni Gunggali.
Puncak tengah malam, suasana remang-remang. Purnama mengintip dari balik rimbun dedaunan dan ranting pepohonan Euryn.
"Semua orang menaruh harapan padaku," Taja merasakan beban besar di pundaknya. Membayangkan saja, entah ia akan berhasil atau tidak. Menuju Negeri Jawata. Sama sekali tak pernah terlintas di pikirannya.
'Benarkah aku Orang Jawata?'
Pikiran itu terus membayangi Taja. Sulit percaya dalam dirinya, mengalir darah manusia Orang Jawata. Di sisi lain, tak sabar ia ingin melihat seperti apa daratan bernama Negeri Jawata.
Orang-orang Gunggali berarak, mengantar keberangkatan Taja. Tepian sungai berjejer orang-orang itu melepas Taja, Lorr En dan Neirra, memulai perjalanan mereka.
Perahu kokoh dibentuk dari batang pohon besar, bergerak lepas ke alur sungai, semakin menjauh menuju perbatasan. Selangkah demi selangkah, Taja beriringan dengan dua temannya, menghampiri perahu tanpa layar itu. Ini pertama kali mereka melihat benda aneh yang disebut-sebut sebagai perahu. Bahkan selama ini, mereka belum pernah membayangkannya apalagi menggunakannya.
”Naiklah, meskipun perahu pohon lebih tua dari usiaku. Tetapi ini yang terbaik, yang akan membawa kalian ke laut lepas,” Ratu Shachini turut mengawal Taja, Lorr En dan Neirra naik ke atas perahu pohon yang mengapung di hilir sungai.
Untuk terakhir kali Ratu Shachini berkata kepada ketiga anak itu
”Kelebihan Orang Gunggali, lihai menyerupai, gunakanlah itu untuk melindungi diri. Bersikaplah wajar seperti manusia Jawata seutuhnya. Tentang kepandaian mereka, hampir setiap makhluk kultivasi peri dapat mempelajarinya hanya dalam waktu singkat. Pusatkan pikiran kalian melalui mata, maka kalian akan mengerti bahasa apapun.”
”Berhati-hatilah kalian. Selamat jalan, Putra-putraku ...,” ucap Ratu Shachini bersamaan jangkauan tangannya melepas ujung perahu pohon bergerak dari hilir.
Hening. Tidak terdengar suara kecuali gemercik arus sungai terdengar lirih, membawa perahu itu bergerak ke tengah. Semua peri melepas kepergian mereka dengan menyiratkan harapan besar, bahwa... kelak mereka akan kembali dengan membawa senyum dan menyelamatkan kehidupan Gunggali.
Perahu pohon membawa ketiga pemuda itu, melintasi arus sungai, dan melaju di balik kabut tebal perbatasan Gunggali. Pandangan Taja sempat menengok ke belakang. Di sana, bayangan Ratu Shachini dan rakyat peri mulai samar-samar tertutup kabut, hingga hilang sama sekali. Lengkingan Tirara lambat laun menipis, berganti suara dinding alam gaib retak-retak, membahana sekeliling tebing. Dinding kamuflase akar-akar raksasa menjulang tinggi, pecah membentuk rongga jalan keluar perahu pohon melintas.
Kabut menyingsing di depan mata, jelas tampak pemandangan tak pernah tampak sebelumnya oleh ketiga pemuda di atas perahu. Dinding akar-akar raksasa membelah diri, semakin lebar celah di antara rongga kedalaman dinding, perahu pohon lenggang keluar sungai keluar perbatasan Gunggali.
”Dinding Changgaleatus!” seru Neirra, takjub menyaksikan perbatasan akar-akar raksasa itu belum berhenti membelah, terdengar suaranya menjerit lengking.
"Pantas saja Gunggali tertutup dunia luar, tak terjamah manusia. Tersembunyi perbatasan gaib sekuat ini!" Taja pun takjub. Sesekali memperhatikan sayup-sayup mantera mengalir seiring angin berhembus, menyapa telinganya.
”Irraktee ...,” itu mengingatkan kembali pada suara khas Ratu Shachini.
”Irraktee ...! Irraktee ...!” ucap Taja menirukan suara tertangkap telinganya. Ia dan dua kawannya mengucapkannya berulang-ulang, lantas belitan akar-akar perbatasan semakin melonggar. Perahu pohon merasuki lorong tebing Changgaleatus, akar-akar bergelayut, merenggang di antara rongga.
__ADS_1
Keluar dari perbatasan Changgaleatus, perahu pohon disambut sebuah pemandangan asing dibalik kabut tipis menyingkap mata. Ketika mereka menoleh ke belakang, tebing perbatasan itu tertutup perlahan dengan meninggalkan suara gertak sama seperti saat terbelah sebelumnya.
”Belum terlambat jika kita ingin kembali ...,” pandangan Neirra terus ke belakang arus sungai yang sudah dilalui, di antara celah perbatasan kian menjauh, seiring perahu pohon bergerak mengikuti arus sungai.
”Kembali? Yang benar saja. Itu bukan pilihan,” jawab Taja, ”Baru saja kita berikrar, mengapa kamu tampaknya ragu?” tanya dia balik.
”Bukan ragu yang membuatku khawatir, tetapi Negeri Jawata, sama sekali tidak bisa diterka,” tanggap Neirra.
”Seperti kata Ratu Shachini, kita harus selalu bersama dalam keadaan apapun, tidak akan pernah saling meninggalkan!” Lorr En menimpali.
Sejenak mereka bertiga terlena pembicaraan, tiba-tiba tersadar bahwa perahu pohon telah berada di arus sungai sangat deras dan lebar. Sisi kanan dan kiri semakin berjauhan.
”Tidak ada lagi mantera Ratu Shachini setelah perahu kita keluar perbatasan,” kata Neirra sempat melirik sepasang kayu panjang yang terpasang di buritan.
”Adakah sihir lain yang dapat menggerakkan perahu kita?” Lorr En berpikir serius. Sebentar merasakan perahu melambat.
”Ada apa ini ...? Arus deras sekali. Perahu kita terbawa kencang,” kata Taja.
”Gunakan dayung, Lorr! Kita berada di luar perbatasan, tak sampai jangkauan sihir Ratu!” kata Taja mengingatkan. Lorr mengambil benda panjang di sisi perahu.
Lorr En bergerak ke buritan, lalu mengambil dua bilah dayung menyilang, ”Ternyata, benda ini menunjukkan kegunaannya.”
Neirra teringat pesan Ratu Shachini tentang kegunaan benda yang sedang di tangan Lorr En itu.
”Ayo kita gerakkan sama-sama dayungnya!” Neirra menyahut benar, mengayuh sebilah dayung lain di sisi Lorr En.
Jbas!!!
Riak air di sisi perahu, dayung digerakkan cepat.
”Tampaknya mulai gelap ...,” Neirra mengalihkan perhatian dua temannya. Ia menunjuk ke langit tertutup mendung tebal.
”Hujan turun!”
Ketiganya menatap ke langit. Tidak lama kemudian, titik air berjatuhan ke telapak tangan mereka. Sementara ombak mulai naik turun sehingga perahu pohon agak terombang-ambing. Selanjutnya, gerimis menjadi hujan deras.
__ADS_1
”Kemana arah kita?” Lorr En menyeka berulang kali air di mukanya, juga menyibak rambut yang basah kuyup menutupi batas kening.
Taja merogoh-rogoh saku pinggang, kristal Myuriz dikeluarkan.
”Tunjukkan tujuan kami, di mana daratan Jawata?” ucapnya sambil menegakkan tingkat kristal itu, lurus dengan mata, kemudian menodongkannya ke segala arah satu-persatu. Saat kristal itu diarahkan ke timur, kerlip cahaya putih muncul.
"Taja, kita belum jauh dari perbatasan Gunggali, para laskar akan menyambut kita terlebih dahulu," kata Neirra. Tak dipungkiri, saking penasaran Jawata seperti apa, tak sabar Taja ingin segera melihat daratan yang disebut Negeri Jawata, sehingga tak sadar bahwa mereka masih berada di daerah kawasan perairan perbatasan Gunggali.
"Tak ada salahnya, sekedar mencoba kristal ini," sedikit meringis, Taja mengatakannya.
”Lihatlah ke sana!” Neirra menyita perhatian Taja dan Lorr En.
Tiga pasang mata mengawas ke depan. Tidak tampak jelas dari balik kabut di sana, terlebih cuaca hujan dan gelap seperti itu.
”Apa itu?” tanya Lorr En, heran bertanya-tanya sebenarnya mereka sedang bergerak kemana.
”Aku tidak melihat apapun!” Taja menajamkan penglihatannya.
”Gelap sekali,” Lorr En ragu. Perahu pohon melintasi kegelapan sungai. Satu-satunya cahaya adalah kristal Myuriz di tangan Taja, mengarah ke atas, cahayanya terang sekitar ketiga anak muda di atas perahu pohon. Mulai tampak sekitar dinding tebing tinggi, bayang-bayang manusia bergerak.
"Mereka, Laskar Perbatasan!" Lorr En terlebih dahulu mengenali orang-orang itu, semakin cepat pula perahu bergerak ke hilir sungai di antara dua tebing.
”Perahu ini bergerak mengikuti arus sungai," kata Taja, searah cahaya kristal Myuriz tertuju pada tepian sungai.
Arus air menggiring perahu pohon, riak cukup deras membuat terombang-ambing ketiga anak muda di atas perahu. Di bawah dera hujan berbaur angin, suasana semakin tidak bersahabat.
”Dayungnya tercebur!” Lorr En menyadari kehilangan benda itu dari tangannya. Tinggal sebilah lagi di tangan Neirra, namun mereka lebih dulu panik karena air mulai masuk ke dalam perahu.
"Cepatlah kemari ...!!!" teriak para laskar, menyambut di tepian, menyambut kedatangan perahu bergerak ke hilir. Ketiga anak muda itu akhirnya tiba di sana.
"Cuaca sangat buruk," seorang lelaki tegap badan dan mengenakan pakaian khas laskar penjaga perbatasan. Sekitar puluhan orang. Mereka membantu Taja, Lorr, dan Neirra mendarat ke tepian sungai. Sementara perahu pohon diikat kuat di tepi sungai.
"Taja!" panggil seseorang, nampaknya memimpin rombongan laskar yang menyambutnya itu.
...* * *...
__ADS_1