
“Dimana usahamu? Memanah tepat di batang pohon sejauh 50 kaki saja kamu tidak bisa!“
“Kamu salah. Perlukah aku mengingatkan, siapa yang pernah memanah buah merah di taman belakang istana? Siapa? Siapa?! Taja orangnya!” kali ini Lorr En tidak terima Galih membentak Taja, ”Kalau kau terus bicara tentang kelemahan kita masing-masing, maka kita sendiri yang akan merasa tidak percaya diri dan gagal!”
Karena itu, Galih tidak segan mengatainya dengan kalimat tidak kalah tajam, “Pemalas! kamu tidak lebih dari tukang tidur!”
Suasana nyaris kembali tegang kalau saja Taja tidak segera meredam amarah beberapa temannya karena pendapat yang berbeda, “Sudahlah. Kau ingin semua yang ada di luar kamar ini tertawa mendengar kita saling mengolok-olok satu sama lain dalam regu sendiri?“
“Itu kenyataan! Jika bukan kita, maka mereka yang akan lebih mengolok-olok!“
“Ya. Kenyataan yang menjadi kelemahan kita bukan hal yang harus diyakini dan semakin membuat kita semakin lemah! Jika kita punya kelemahan, kita juga punya kelebihan dan mungkin kita belum tahu apa kelebihan kita hingga hari ini. Tapi kita harus yakin, di mana letak kekurangan kita, di situlah kelebihan kita!” tanggap Taja.
BRAK!!!
Semuanya tiba-tiba dikejutkan suara pintu dibuka dengan kasar oleh seseorang yang tidak lain adalah Rimpali, salah satu penghuni kamar mereka. Tampak wajah anak itu tegang dan nafasnya yang memburu.
“Cobalah lihat pengumuman yang ada di koridor depan!” serunya.
“Maksudmu?“ tanya Taja heran, demikian juga yang lain.
“Jadwal ujian bulan depan!!“ jawab Rimpali lebih keras.
Mendengar jawaban Rimpali, cepat-cepat keduabelas anak itu beranjak menuju koridor yang dimaksud. Rupanya, banyak anak-anak lain sudah berada di sana untuk melihat pengumuman menghebohkan itu.
“Taja, kita harus bagaimana?” Sayuttha menatap Taja yang sedang mengamati pengumuman itu.
__ADS_1
“Hari pertama, Merakit Senjata! Kita harus merancang senjata buatan sendiri, sudah pasti tim-tim dari kelas yang lain punya rencana yang bagus. Lalu kita? Apa kamu punya ide?“
Taja pun melirik Rimpali yang baru saja bicara padanya. Tapi dia hanya diam.
“Lihat! Hari ke dua, ada Pertunjukan Formasi,” tambah Rambiloto.
“Hari ke-tiga. Jurus Beladiri!“ Purwa menyahut.
“Di hari ke-empat, Jurus Pedang! Aku tidak akan mewakili yang satu ini untuk Tim kita karena jurus pedangku payah!” Galih belum-belum sudah menyerah.
“Hari ke-lima, Balap Kuda!“ sambut Rambiloto disambut ekspresi wajah Lorr En tersipu malu jika ingat bahwa ia pernah mengikuti pacuan kuda pertamanya beberapa waktu lalu dan membuatnya jatuh.
“Hari ke-enam, Berenang di Teluk Merah? Apa?! Yang benar saja. Setahuku, dalam teluk itu ada iblis air … aku tidak mau ikut!“ belum-belum Purwa sudah gentar lagi.
“Taja, kamu harus siap untuk ujian Memanah di hari ke-tujuh. Aku khawatir kamu tidak bisa melakukannya dengan baik, bagaimana kalau aku menggantikan kamu?“ Lorr En menawarkan diri.
“Apa? Teluk Merah?“ Lorr En tiba-tiba merasa kecut mendengar tempat itu. Dari namanya saja sungguh misteri baginya, apalagi setelah dia pernah melihatnya sendiri. Sekali … setelah itu dia tidak pernah berpikir untuk kedua kalinya ke sana. Tempat itu hampir membuatnya celaka waktu itu.
“Tenang saja, hanya sampai batas aman. Tidak mungkin keluar jalur, dan iblis-iblis air itu tidak akan keluar selain hari Bithari.“ Mendengar itu, bukannya Lorr En lega tapi semakin kecut.
“Nah … itu mereka! Iblis-iblis air! Aku tidak mau kembali masuk kawasan itu,“ muka Lorr En seakan di tekuk. Sepertinya dia sangat trauma kalau ingat kejadian itu.
“Saat itu kamu berani, kenapa sekarang takut?“
“Nah! Saat itu ada kamu, tentu saja aku berani! Tapi kalau sendiri …,“ lagi-lagi muka Lorr En masam, “Pokoknya, aku tidak mau! Lagipula aku takut jika nanti orang-orang akan melihatku berubah wujud jadi katak, bisa-bisa aku disangka katak. Kalau aku sampai tertangkap, bisa-bisa aku dimasak jadi sup!” Lorr En mendesis berat di dekat telinga Taja.
__ADS_1
“Katak? Kalian bilang Sup katak?” Sayuttha menyeletuk. Taja dan Lorr En saling pandang, agak terkejut dan takut kalau-kalau Sayuttha menangkap jelas pembicaraan mereka.
“Ng … Ng … maksudku …,“ ujar Lorr En jadi salah tingkah.
“Apa sup katak itu enak?“ Taja buru-buru menyela dan mencoba mengalihkan pembicaraan.
“Wuiih, enak bukan main! Katak Lembu, itu makanan yang paling mahal. Karena katak itu paling besar dan paling lezat di seluruh Jawata, paling mahal dan paling dicari. Besarnya hampir sebesar ayam jantan. Mau coba kapan-kapan?” jawab Sayuttha membuat Lorr En bergidik setelah mendengarnya.
“Huek!“ Lorr En menahan mulutnya. Tidak benar-benar muntah. Tapi mendengar Sayuttha bicara makanan dari katak, Lorr En jadi merinding sampai mual.
“Kenapa kamu?“ tanya Sayuttha heran melihat anak baru itu bertingkah aneh ...
“Hei, mengapa kalian jadi membicarakan sup katak? Itu membuatku lapar!“ seru Rimpali yang ikut berjejal di antara lainnya. Semua perhatian anak-anak lain beralih padanya dan berseru, “Sup katak?!”
”Ya! Asal kalian ingat kalau hari ini menu makan siang adalah sup katak!!” seru Rambiloto keras-keras.
Dalam sekejap mereka sudah lupa takutnya ujian bula depan hanya karena sup katak yang gurih dan tersohor itu. Yap! Sup katak adalah makanan favorit di negeri mereka. Semua orang menyukainya, mungkin kecuali Taja dan Lorr En. Bagaimana mereka bisa makan katak, jika hanya mereka berdua yang tahu kalau Lorr En adalah anak peri katak. Tidak mungkin juga Taja memakan teman-teman sebangsa Lorr En, yaitu Katak.
“Dan ini sudah waktunya makan siang, ayo kita ke kantin!“ Rambiloto memicu yang lainnya berhamburan dari selasar. Bukan hanya Tim Kancil Putih dan anak-anak tim lain yang sejak tadi berkerumun di sana, bahkan ratusan murid-murid yang hendak melihat pengumuman jadi ikut-ikutan.
“Horeeeee!“ teriak sebagian yang masih berjejal. Suasana pun jadi tidak karuan.
“Sup kataaaaak!“ seru mereka berlarian dan meninggalkan selasar. Hanya Taja dan Lorr En mematung dan memandangi sekeliling mereka, tampaknya suasana di tempat itu sudah kosong dari murid-murid, kecuali mereka berdua yang masih tertinggal.
“Mau cicip sup katak?“ Taja melirik dan tersenyum geli sebelum berlari.
__ADS_1
“Taja, tunggu! Awas kalau kamu berani coba-coba makan bangsaku!“ Lorr En mengejar Taja yang lebih dulu berlari meninggalkan tempat itu sambil menahan tawa. Sekarang koridor itu benar-benar sepi.
...* * *...