
Krak ... krak!
Sebagian serabut akar-akar makin rontok.
”Kita akan jatuh!” teriak Raojhin.
”Waaaa!” keduanya terperosok beberapa kaki ke bawah lagi. Sedapatnya, Raojhin meraih satu akar-akar, jika sekali lagi ia ambrol maka keduanya sudah pasti akan terhanyut oleh arus sungai yang besar.
Benar sekali, lagi-lagi tanah tempat akar-akar itu bergerombol longsor parah. Namun jangkauan tangan seseorang lebih dulu meraih tangan Raojhin sebelum terjatuh.
Raojhin melihat sesosok agak gelap dalam suasana hujan lebat seperti sekarang itu. Hanya mata bulatnya yang besar menyala hijau tetang yang tampak.
”Lorr En, syukurlah kau ada. Tarik kami segera!” seru Taja mengenali sesosok itu.
Akhirnya, Taja dan Raojhin selamat sampai ke atas lereng. Sebentar mengatur nafas sambil menepis ketegangan yang baru saja terjadi.
”Terima kasih!” Taja masih menggenggam tangan Lorr En yang kuat dalam wujudnya saat itu. Sementara Raojhin, kekagetannya beralih pada Lorr En karena penampakan dalam wujud yang aneh. Dan baru ini ia melihat jelas. Namun ia tak bisa berkata apa-apa selain melotot tegang penuh rasa tidak percaya.
Perlahan hujan mereda, meskipun sisa-sisanya berupa gerimis belum usai. Dan sekarang, mereka bertiga dihadapkan oleh tikungan tengah lereng yang sempit dan lebih berliku-liku lagi. Ada dua jalur lereng yang mengarah ke depan dan ke atas. Sesaat, Lorr En dan Raojhin lagi-lagi berdebat.
”Kali ini kalian harus menurut padaku!” kata Lorr En tegas. Ia yakin dalam keadaan alam yang buruk seperti saat itu, pandangannya lebih jelas dari yang lain.
”Di sana hanya ada jalan buntu!” kata Lorr En lagi dengan menunjuk jalan di depan. Taja dan Raojhin hanya bisa melihat ujung jalan dalam kabut, tidak seberapa jauh dari puluhan kaki mereka berada.
”Jika ke atas, kita bisa sampai ke balik gunung!” kata Lorr En lagi, kali ini menunjuk jalan berliku dan mengarah ke atas.
”Kalau begitu, maka ini akan jadi Rintang Alam paling berat yang pernah ada!” komentar Raojhin.
”Aku mengandalkan kamu saja!” tidak tak banyak komentar, Taja memilih jalan yang ditentukan Lorr En. Kemudian ia paling dulu menapaki liku-liku lereng seperti jalan setapak menuju ke puncak, semakin tinggi dari kaki tebing.
__ADS_1
”Hati-hati, jangan sampai terpeleset!” lebih dari sekali Taja mengingatkan itu pada dua teman yang mengikuti jejaknya.
”Aku seperti cicak atau laba-laba merayap di dinding, hanya tanpa cakar yang kuat. Kau harus aku memberiku 100 poin karena bersedia menjalaninya,” iseng-iseng Raojhin membuyarkan suasana hening selama perjalanan ke puncak. Hampir tidak ada suara-suara burung berkicau atau sekedar lebah-lebah berdengung.
”Setuju, 100 poin untukmu dan 1000 poin untukku!” tanggap Lorr En di bawah Raojhin.
”Curang! Aku lebih menderita darimu!” Raojhin tidak mau mengalah.
”Kata siapa? Aku yang memperjuangkan kamu! Jika bukan aku, siapa lagi?” Lorr En tak terima mendengar Raojhin bicara itu.
”Sejak pertama melihatmu, aku punya firasat bahwa kau orang yang keras kepala, dan ternyata itu benar!” tanpa berhenti, Raojhin membalas.
”Kamu yang keras kepala!” Lorr En balas mengejek.
”Kau lebih keras kepala lagi!” Raojhin tidak kalah keras membalas serupa.
”Tentu saja itu kau!” Lorr En jadi kesal.
”Sudah kupikirkan setelah kita sampai di Tanapura, aku yang akan memberi kalian gelar Praja Emas!” lanjut Taja seakan-akan berkuasa layaknya seorang raja menobatkan gelar kebangsawanan itu.
Raojhin menoleh pada Lorr En di bawahnya, ”Praja Emas Lorr En, sangat cocok!” ujarnya agak tertahan. Senyumnya terurai.
”Praja Emas Raojhin juga bagus!” balas Lorr En dan tersenyum balik.
”Terima kasih, Paduka Taja!” tanggap Lorr En dan Raojhin bersamaan.
”Konyol! Bisa lebih cepat sedikit?!” seru Taja memicu kedua temannya yang tertinggal. Ia paling dulu sampai di bibir puncak tebing. Setelah berada di atas, ada pemandangan menakjubkan terselimut kabut di sana. Puncak-puncak gunung menjulang di depan mata. Dan di hadapannya sekarang, dataran luas berpasir membentang antara ia dan seberang puncak-puncak itu.
”Sekarang bagaimana?” pikirnya tidak sendiri setelah membantu Raojhin dan Lorr En ke atas. Kemudian mereka saling terpana melihat keadaan di atas.
__ADS_1
”Jalan mana?” Lorr En menunggu Raojhin sedang kebingungan memilih arah.
”Kau saja yang tentukan arah!” Raojhin membalikkan wajah kesalnya pada Lorr En, ”Bukankah kau yang memilih jalan kemari?!”
”Memang, tetapi sesampai di sini lain cerita!” Lorr En tidak mau disalahkan.
”Jadi bagaimana sekarang?” tanya Raojhin dalam pandangannya berputar-putar ke sekeliling. Lorr En juga tidak berbeda. Sesaat mereka menerka pilihan masing-masing, tanpa menyadari jika Taja sudah melangkah tanpa permisi.
Bayang-bayang kepak sayap berkelebat di lautan pasir. Tampak oleh Taja ketika mendongak ke langit-langit, ada sejumlah makhluk seperti kelelawar raksasa terbang rendah ke sela-sela puncak kemudian hilang tertelan kabut tebal.
”Taja!” panggil dua temannya bergantian. Sosok mereka menyusul jejak Taja, lalu berhenti tepat di belakangnya.
”Ada apa?” tanya Lorr En heran.
Tanpa jawaban, pandangan Taja sejurus ke depan, menangkap sosok tak jelas muncul dari kegelapan kabut berangsur-angsur memudar dan mendekat perlahan.
”Ada ada?” kali ini Raojhin bertanya. Namun Taja tak menghiraukannya, hanya dia yang melangkah ke depan sedangkan dua temannya hanya membuntuti satu dua langkah.
Lorr En juga melihat sekilas bayangan seseorang berdiri beberapa kaki di depan mereka.
”Jangan ke sana!” teriak Lorr En merasakan kejanggalan. Taja setengah ragu melanjutkan langkah. Ia juga merasakan sesuatu yang aneh pada sosok tidak jelas itu.
”Entahlah, aku merasa ... kita mengenalnya!” Raojhin berkata lain, mendorong Taja maju beberapa langkah lagi. Setelah itu tahu jelas wajah sosok yang sedang berdiri seakan menyambut mereka dengan ekspresi kelelahan dan tersiksa.
”Aku juga ...,” ujar Taja lirih dan semakin yakin mengenal perawakan sosok tengah berdiri puluhan langkah di depan. Seiring kabut tersingkap, wujudnya semakin terlihat jelas.
”Purwa?!” pekik Taja tak percaya. Menyebut satu nama tidak asing, padahal belum lama ini kematian telah menimpa seorang sanak yang dikenalnya itu. Ia juga melihat sendiri ketika Arroragh memangsa potongan tubuh Purwa yang hancur. Namun sekarang yang jelas tampak oleh mereka adalah benar-benar wujud Purwa yang tiba-tiba muncul begitu saja dalam keadaan utuh.
”Tidak mungkin ...,” ujar Taja semakin mendekatinya.
__ADS_1
Sosok itu bergetar sambil merintih tanpa suara jelas. Hanya nafasnya yang tidak beraturan dan menahan senyum duka.
...* * *...