The Chronicle Of Jawata (Edisi Trial Kompilasi)

The Chronicle Of Jawata (Edisi Trial Kompilasi)
4.25. Pasukan Khusus


__ADS_3

Malam semakin membentangkan sayap-sayap gelapnya. Keadaan di sana kian dingin merasuk sendi-sendi tulang. Akhirnya, serombongan pasukan berjalan kaki itu berhenti di suatu tempat seperti reruntuhan dinding-dinding raksasa sekitar padang pasir.


Beberapa prajurit terluka, merebahkan diri di pasir. Selebihnya duduk di puing-puing dinding yang hampir tenggelam dalam pasir. Perjalanan yang sudah berjam-jam telah membuat semua kaki mereka terasa panas. Bahkan seorang Ketua Sujinsha pun terlihat sangat kelelahan. Lagi-lagi ia bermediasi untuk memulihkan kekuatan dan mengatur pernafasan.


”Keadaan Tuan bagaimana?” tanya Raojhin, setelah menghampiri Ketua Sujinsha yang tiba-tiba konsentrasinya terpecah akibat terluka dalam. Bercak darah segar mengalir dari lubang hidungnya. Namun ia kembali menenangkan diri.


Beberapa saat semakin larut dalam gelap malam, mereka terdampar di tengah-tengah padang pasir tanpa arah pasti kecuali reruntuhan ujung-ujung menara yang tampak sudah lebih dekat dari tempat mereka berada sekarang.


"Arahkan semua pasukan ke sana!” belum usai dari meditasinya, Ketua Sujinsha memberi perintah pada Tuan Birwa. Mulanya Tuan Birwa agak ragu, namun Ketua Sujinsha menegaskan bahwa yang dikatakannya adalah perintah, maka ia hanya menurut saja.


            ”Bagaimana dengan Ketua Sujinsha?” Raojhin memberatkan Ketua Sujinsha yang sengaja tertinggal.


            ”Dia akan menyusul segera!” jawab Tuan Birwa pada Raojhin dan segera memaksanya pergi ke arah yang dituju di ujung panorama gersang berdebu. Di sana, seperti pernah ada jejak peradaban suatu kerajaan megah namun telah terkubur sebagian besar jalan-jaln, prasasti, juga bangunan-bangunan yang runtuh.


Mereka semakin memasuki kawasan mati itu dan seakan tanpa jejak tanda-tanda kehidupan sebelumnya selain puing-puing batu yang hancur, berserakan di sana-sini.


”Kerajaan Kakilangit yang sudah runtuh. Dan di bawah kita...ratusan ribu prajurit terkubur karena keganasan Perang Pedang masa pertama Neya,” suara Letnan Tuan Birwa terdengar cukup mematahkan keheningan suasana. Semua perhatian pasukannya disibukkan oleh bongkahan dinding batu tertimbun pasir yang menghalangi jalan. Sungguh suatu pemandangan yang belum tidak pernah dilihat langsung sebelumnya kecuali sejarah besar kerap menceritakan tentang kebesaran Ta masa ribun tahun lalu.


            Sementara Taja menoleh kembali ke tempat Ketua Sujinsha ditinggalkan. Sosok pria itu semakin tertinggal jauh dalam keadan diam seperti patung bersila.


”Aku mengkhawatirkannya...,” kata Taja lirih di sisi Letnan Tuan Birwa yang menggandeng tangannya.


”Dia terluka cukup parah,” kata Raojhin tidak jauh darinya dan dituntun oleh seorang prajurit pula. Sebentar Taja menoleh pada Lorr En berjalan di belakang bersama seorang prajurit lainnya. Ia pun balas menatapnya sebelum mereka sama-sama beralih memandang ke arah yang sama, tempat Ketua Sujinsha ditinggalkan semakin jauh dari rombongan.


”Hei, kalian! Cepatlah!!!” beberapa prajurit saling mengingatkan. Berat karena terpaksa, Taja kembali meneruskan langkah.


”Kita ke mana?” tanya beberapa prajurit lain yang belum tahu pasti arah tujuan mereka.


”Kita sedang menembus reruntuhan Kakilangit. Ada beberapa celah adalah jalan keluar dari gurun pasir ini. Setelah itu kita bisa ke arah timur!” Tuan Birwa menjelaskan pada semuanya, ”Ayo, lebih cepat lagi sebelum terkejar musuh!!!”


Kalimat lantang Tuan Birwa disambut derap langkah dipercepat semua prajurit. Tatkala sayup-sayup dari kejauhan belakang, terdengar satu dua kelelawar besar berkelebat dari balik awan-awan berarak tebal di langit-langit rendah.


”Ketua Sujinsha bisa terbunuh! Sungguh kalian tega meninggalkan ia sendiri di sana!” Taja melempar kata pada semuanya yang tergesa-gesa menuju gerbang tua yang satu sisinya masih berdiri di samping sisi lain yang ambruk dan saling terbentur. Di balik gerbang itu, satu bangunan istana masih tersisa pada tingkat dua dan tiga, meskipun tingkat dasarnya terbenam pasir.


”Ketua Sujinsha mengalami kelumpuhan, kita tidak bisa membawanya...terlalu banyak pasukan yang terluka, bahkan aku sendiri!” Tuan Birwa terengah-engah dalam setengah larinya. Mereka juga tahu bahwa hampir semua prajurit terluka setelah pertarungan melawan pasukan penunggang kelelawar dan baru terasa akibatnya setelah sejauh ini.


”Aku tetap tidak bisa meninggalkannya sendirian!!” Taja melepas diri dari genggaman Tuan Birwa, segera berlari kembali ke belakang

__ADS_1


”Hei, mau kemana kau?!” Tidak dihiraukannya teriakan Birwa, ”Kembali atau aku tidak akan peduli padamu lagi!” meskipun berniat menggapai Taja, namun situasi mengancam membuatnya ia urung mengejar anak itu berputar arah setelah menjauh dari rombongan.


Bahkan Taja mengabaikan Lorr En bersama pasukan paling belakang, ”Taja, mau kemana?!”


Jauh di luar jangkauan rombongan sehingga Lorr En tidak sempat menghentikan lari Taja. Meskipun ia menyusul juga.


”Hei, kembali!!” teriak beberapa prajurit namun tanpa mengajar dan membiarkan Lorr En menjauh dari rombongan.


Karena melihat kawan-kawannya berbalik arah, Raojhin berniat ikut membelot juga. Namun dua prajurit lebih dulu menangkap gerak-geriknya.


”Apa kau juga ingin celaka, kondisimu terluka cukup parah!!” kata seorang prajurit yang membekuk Raojhin saat menyusul Taja.


”Lepaskan aku!” Raojhin sebentar meronta.


”Bahkan ini perintah Ketua Sujinsha agar kita meninggalkannya!” seru prajurit yang menahan Raojhin.


”Aku tidak bisa membiarkan Ketua Sujinsha tertinggal!" meskipun berontak lebih kuat, Raojhin tidak kuasa lepas dari bekukan dua prajurit di kanan kirinya. Ditambah lagi Tuan Birwa segera menahannya juga.


”Biarkan saja dua kawanmu ke sana!” hardiknya.


”Tidak! Aku ingin bersama Ketua Sujinsha!!” semakin lemas, Raojhin dibekuk.


”Kita harus secepat mungkin ke gerbang Kakilangit!” seru Tuan Birwa memicu gerak pasukan.


Sedangkan Taja telah menjauh dari rombongan. Deru pasir berbaur kabut gelap di bawah cuaca langit semakin memburuk tak menyurutkan langkahnya untuk mendekati sesosok yang dituju di sana. Tampak Ketua Sujinsha masih terduduk bersila. Bajunya yang terkoyak terombang-ambing angin. Sementara di antara awan yang tersingkap, perlahan mulai muncul wajah purnama yang pucat, bergeser ke tengah langit. Dan tiba-tiba di sekeliling awan-awan gelap di sana, bertebaran ribuan kelelawar. Dalam sekejap, langit-langit penuh makhluk-makhluk bersayap itu.


”Kau gila atau apa? Sebaiknya kita kembali ke rombongan!” Lorr En berhasil mengejar Taja dan mencekal.


”Apapun yang di sana, tidak kubiarkan Ketua Sujinsha tertinggal sendiri!” jawab Taja, ”Ikut aku atau rombongan?”


Lorr Entak punya pilihan menguntungkan, namun tak juga lepas dari ketakutan sampai membuat lututnya lemas karena menggigil.


”Tetapi sangat berbahaya! Lihat pasukan penyihir dari langit!” Lorr En membuntuti. Sesekali menatap angkasa penuh bayang-bayang gelap makhluk bersayap dan menuju daratan. Sebaliknya, langkah mereka justru melambat lantaran pasir menghisap sampai batas betis.


”Maka dari itu, secepat mungkin kita membawa Ketua Sujinsha dari sana!”


”Membawa? Dengan apa? Tandu? Atau kita akan menggendongnya?”

__ADS_1


”Berisik!” Taja membungkam Lorr En.


Sudah tidak jauh lagi, Ketua Sujinsha berada di depan mereka. Bahkan dari posisinya bergerak, Taja bisa melihat wajah kapten yang pucat pasi dan bibir terkatup rapat.


"Ia sendiri memerintahkan rombongan untuk meninggalkannya!”


”Bantu aku menariknya atau jika kau keberatan, lebih baik kejar saja rombongan Tuan Birwa!” Taja memberikan pilihan namun Lorr En bungkam. Akhirnya, sejengkal demi sejengkal, mereka berdua menyeret tubuh Ketua Sujinsha yang bersila, menjauhi dari tempat itu.


”Lihat langitnya ...,” Lorr En mengernyitkan dahi. Pemandangan langit bukan hal yang menenangkan perasaan takutnya.


”Cepat sedikit!” Taja lebih memilih melihat jalan berpasir.


”Berat sekali, orang ini seperti patung batu! Kenapa ia tiba-tiba berubah begini? Masih hidup tidak?” Lorr En kewalahan. Sedangkan Taja terdiam saja.


 ”Lihat di belakang kita!” kali ini Lorr En menoleh ke belakang, tampak jauh di sana bayangan pasukan berkuda berbondong-bondong ke arah mereka. Taja beralih pula melihat ke sana.


”Lebih cepat lagi!” Taja mengerahkan tenaga untuk menarik tubuh Ketua Sujinsha.


Tanpa terduga, koloni kelelawar menyerbu dataran. Sangat dekat ke permukaan pasir.


”Awas!!!” Taja menjatuhkan diri ke pasir, diikuti Lorr En. Sedangkan tubuh Ketua Sujinsha terjungkal dari jangkauan.


”Hampir saja!” Lorr En terpekik setelah bangkit kembali. Tersadar bahwa baru saja lolos dari sambaran sejumlah kelelawar besar menyambar.


”Kamu lihat ukurannya? Hampir sebesar kuda!” Lorr En melotot ke arah kelelawar-kelelawar itu. Dan tidak sedikit yang menjadi tunggangan pasukan penyihir.


”Ketua Sujinsha ...,” Taja tersadar seketika bahwa Ketua Sujinsha berada jauh darinya namun lebih dekat dari Lorr En berada.


”Cepat selamatkan dirimu dan Ketua Sujinsha!” Taja menyuruh Lorr En bertindak. Sedangkan ia sendiri berlari ke arah berlawanan.


”Apa yang kaulakukan?!” Lorr En panik saat melihat Taja justru bergerak ke arah datangnya pasukan penyihir berkuda. Mereka mendekat dan jumlah mereka lebih dari ratusan.


Taja merentangkan ke dua lengan, mengangkat setinggi-setingginya, dan mengerahkan tenaga sebesar-sebesarnya.


”Guh Daraguh!” ucapnya berkumandang. Setelah itu, padang pasir di hadapannya menggunduk tinggi dan semakin tinggi. Lalu berubah wujud menyerupai raksasa pasir menderu-deru dahsyat, menggulung ke arah datangnya ratusan pasukan hingga mereka tertimbun tanpa tersisa. Kesunyian setelah itu membuat Lorr En ternganga mulutnya.


”Sihir penggubah unsur! Sadarkah apa yang telah kau lakukan?!”

__ADS_1


Belum usai bernafas lega, terjadi hujan bola-bola api dari pasukan penyihir berpenunggang kelelawar di langit.


...* * *...


__ADS_2