The Chronicle Of Jawata (Edisi Trial Kompilasi)

The Chronicle Of Jawata (Edisi Trial Kompilasi)
4.34.


__ADS_3

Seorang murid sedang berusaha keras untuk membaca. Agak bergetar suaranya dan terbata-bata selama mengucapkan kata demi kata dari simbol-simbol aksara terpampang di sebuah Papan Batu Hitam di depan kelas.


"Ma..Ra...Ga..Sha..Da...."


Sebentar terhenti sebelum ia melanjutkan lagi.


"Haar... Ghar... Tars... Dhar... Yaar...."


Terakhir kali ucapannya terhenti pada serentetan aksara panjang. Ia mencoba untuk mengulangi dari awal, namun gagal.


"Giliranmu, Radhit!"


Perintah seorang guru besar bernama Yathva. Dia adalah guru khusus di bidang ahli sastra berbagai bahasa dunia, terlebih-lebih bahasa Kitab Mantera Sansekerta yang menyimpan banyak misteri gaib dan kesaktian.


Guru Yathva melempar sebuah tanya pada Radhit, murid terpilih di barusan meja paling depan. Ia mulai mengucapkan bacaan tersebut.


"Maa... Raa... Ghaa... Shaah... Daa... Haar... Khaar... Taarsh... Dhaar... Yaarh... Baoh... Caaru... Faaru... Naaru...Kaalu... Lour... Phouha... Qu... Thaa... Uuna... Vaa... Waa..."


Dengan lancar Radhit mengucapkannya tanpa salah sepatah pun.


Guru Yathva membuka lembar gulungan selanjutnya yang tersusun hingga setebal belasan gulungan.


"Lanjutkan!"


"Hae... Hiyu... Hee... Hoo... Wuu... Zuu...."


Radhit membaca untaian aksara-aksara melengkung dan berbagai variasinya.


Belum berhenti sampai di situ, Guru Yathva membentangkan gulungan selanjutnya.


Radhit mengamati dengan seksama susunan Tsunimurti yang terpampang nyaris tanpa terputus-putus, menyerupai bentuk tulang daun lima jari.


"Maan... Hii... Shana... Maan... Dee... Raa... Ath... Ghaaar... Ni... Yuh... Hi... Raa... Kih... Tha... Waa... Laa...."


Kalimat Radhit berakhir pada serentetan aksara yang terpampang panjang, menyatu dengan garis induk.


Perintah Guru Yathva. Radhit kembali ke tempatnya masing-masing.


"Buka Lontar ke-14!"


Perintah Guru Yathva pada semua murid. Seketika itu juga dilaksanakan semua murid.


Guru Yathva membuka seikat lontar yang diikat menyatu.


"Apa yang kalian baca pada Lontar ke-14 adalah kalimat yang diucapkan Radhit!"


Guru Yathva menjelaskan isi Lontar yang sedang diperhatikan seluruh murid saat itu. Mereka tampak sulit mengerti maknanya.


"Maa-Ghii-Shaan-Maan-Dee-Raa-Ath-Ghaaar-Ni-Yuh-Hi-Raa-Kih-Tha-Waa-Laa."

__ADS_1


Guru Yathva mengulangi bacaan yang sebelumnya diucapkan Radhit di depan kelas.


"Jika digabungkan dalam penyatuan kata, maka kata maka akan menjadi kalimat,


"MaaGhiiShaa MaanDeeRaa AthGhaaar NiYuhHiRaa KihTha WaaLaa."


Guru Yathva mengamati semua murid, tak luput dari seorangpun. Sesekali murid-murid tampak gusar, namun mereka surut dalam tatapan Guru Yathva.


"Jika dihilangkan setiap vokal ganda, maka akan menjadi...."


"Maghisha Mandira Athghar Nyuhra Kitha Wala."


Guru Yathva melangkah ke depan Batu Hitam. Ditinggalkan sebentar lontar-nya di meja.


"Kalimat ini akan membentuk satu bahasa turunan tingkat menengah, lebih sering terbaca dalam kitab-kitab pujangga dalam bahasa masa Muttoh, bahasa itu disebut....?!"


Guru Yathva melempar tanya pada semua murid, sembari telunjuknya mengarah ke murid-murid seisi kelas. Semuanya terdiam kecuali Radhit unjuk suara dan menjawab singkat.


"Sanskrit Maajuette!"


"Benar!" Guru Yathva membenarkan tegas.


"Lalu, apa makna kalimat ini?!" tanya Guru Yathva berlanjut.


Guru Yathva mengakhiri coretan batu kapur di Papan Hitam. Serentak semua murid membuka-buka berjilid-jilid kitab lain, namun tidak semua murid memilikinya. Bahkan Radhit pun salah satu yang tidak memiliki jilid lontar berupa kamus Maajuette.


Guru Yathva lagi-lagi melempar tanya. Disambut seorang murid perempuan unjuk jari. Ia setengah berdiri seraya menjawab,


"Maghisha adalah Sungai, Mandira adalah Gunung, Athghar adalah Titian, Nyuhra adalah Warna, Kitha adalah Hujan, Wala adalah Pagi yang terang."


"Bagus sekali, Eng Hum!" Puji Guru Yathva terhadap murid perempuan itu bernama Eng Hum. Duduk hanya berjarak dua meja dari tempat Radhit.


Guru Yathva senang atas jawaban seorang murid perempuan yang bernama Eng Hum, seorang murid yang dipandang sigap dan pintar di kelas sastra.


"Kalimat ini membentuk Syair Kuno bersajak vokal yang sama setiap akhir kalimat. Lalu apa makna dari kalimat ini?" Guru Yathva melanjutkan penjelasannya.


Saat semua terdiam, satu unjuk tangan seorang murid membuat yang para murid lain menoleh padanya.


"Sungai dan gunung berwarna, titian dan hujan ketika pagi yang terang."


Jawaban murid itu yang dianggap tidak cukup tepat. Guru Yathva mengangkat alis pertanda merasa kurang puas akan jawaban itu.


"Ada jawaban lain?" tanya Guru Yathva nampaknya belum membenarkan jawaban yang tepat itu.


Seorang murid dari barisan lain pun menimpali,


"Titian di sungai berwarna di antara gunung, terjadi hujan di pagi yang terang!"


Guru Yathva mencerna kalimat itu, kemudian menggeleng tak puas.

__ADS_1


Seorang lagi unjuk jawaban cukup lantang,


"Sungai, gunung, dan titian di pagi yang terang terjadi hujan berwarna!"


Saat itu juga disambut senyum simpul hampir semua murid. Termasuk Guru Yathva. Masih beruntung jika Sang Guru tidak terlalu mempermasalahkannya.


Selanjutnya, jawaban para murid bergilir, namun tidak seorangpun dianggap berhasil dalam menyusun kalimat dengan baik sehingga membentuk makna yang tepat menurut Guru Yathva.


"Radhit!"


Kali ini Guru Yathva menaruh harapan sebuah jawaban dari Radhit yang sejak tadi terlihat serius mengamati serentetan kalimat Maajuette di Papan Hitam. Tampaknya ia sedang berpikir tajam.


"Hujan di pagi yang terang membentuk titian berwarna antara sungai dan gunung."


Jawab Radhit dengan jelas lalu disambut senyum Guru Yathva.


"Kamu benar-benar mewarisi kepandaian ibumu!" puji Guru Yathva.


Semua teman-temannya sekelas tidak heran akan hal itu. Selama ini, Radhit, Sang Jawara yang mahir menafsir sastra, syair, bahkan mantra kuno.


"Inti Syair Kuno dari kalimat ini adalah....," Guru Yathva menjelaskan.


"Titian yang Berwarna. Bukan Hujan yang Berwarna, bukan pula Gunung dan Sungai yang Terang atau lainnya."


"Kecuali Radhit, apakah kalian tahu makna dari kalimat ini?" tanya Guru Yathva disambut raut muka bengong murid-murid. Mereka menggeleng pelan.


"Prosa Syair Kuno dari Maghisha Mandira Athghar Nyuhra Kitha Wala membentuk kata jadian Maghdiraghar Nyurathala, artinya Pelangi Terang."


"Inilah terjemahan Sanskrit Majuette ke dalam Sanskrit Wehu, lalu akan lebih mudah diartikan dalam bahasa keseharian kita, yaitu bahasa Sansekerta Yawani."


Tabuhan genta terdengar kali bertalu-talu dari luar, semakin bersahutan suara-suara serupa dari segala penjuru pusat kota, menandakan pukul Kera Betina telah tiba. Dan berarti pelajaran terakhir hari ini telah usai.


"Baiklah, pelajaran yang sama akan dilanjutkan beberapa hari ke depan. Jangan lupa, kerjakan lontar 15 sampai 20."


"Bagi siapapun yang tidak mengerjakan akan dikenakan sanksi berat!"


Perintah Guru Yathva disambut airmuka murid-murid yang kurang senang. Setelah itu mereka keluar ruang kelas dengan teratur.


"Dia berkata, Lebih mudah diartikan dalam bahasa keseharian kita! Apa maksudnya?" beberapa murid menggerutu kesal mengingat perkataan Guru Yathva.


"Untuk apa kita mempelajari Tsunimurti?"


"Menyulitkan!"


"Tidak ada gunanya!"


Gerutu murid-murid yang lain saat berlalu di sepanjang teras Graha Pustaka.


...* * *...

__ADS_1


__ADS_2