
”Aku hanya beban, tinggalkan saja aku!” Purwa tak mampu lagi melangkah. Luka di ulu hati semakin berdarah.
”Tidak, kau harus berusaha, berusahalah, Purwa!” Taja dan Lorr En menarik lengannya.
”Ayo, Purwa ...,” Taja tak kuat menahan Purwa yang lunglai. Tampaknya, Purwa sudah enggan melangkah lagi.
”Pandang aku ...!” Purwa menyergap raut muka Taja agar menghadap matanya, ”Ingat pesanku, berhatilah-hatilah jika berada di mana pun, karena ada satu penyihir yang sangat lihai menyamar, tetapi apapun wujud dia, tanda ular di kedua pelipisnya tidak bisa membohongi!”
”Cepatlah lari!!!” seruan Raojhin yang sudah menjauh sesekali mengingatkan mereka. Taja dan Lorr En menjadi bingung harus berbuat apa lagi karena tetap saja Purwa tidak mau bergeming.
”Menyingkirlah kalian! Cepat tinggalkan tempat ini, aku yang akan menghadapi makhluk-makhluk itu!” Purwa menegakkan tubuh.
”Tidak!” Taja menghalangi niatnya.
”Lepaskan tanganku!” Purwa menepis jangkauan tangannya.
”Pergilah atau aku akan sungguh-sungguh membencimu selamanya!” Purwa bersikeras meskipun Taja telah memberatkan langkahnya.
”Lebih baik kau membenciku daripada harus terbunuh. Jumlah mereka ratusan!”
”Kita tidak bisa lari, tetap saja kita akan tertangkap, kecuali aku menghalangi mereka!”
”Dengan apa?! Dengan Apa?!!” Taja menarik lagi lengan Purwa.
”Naerah-sha-moor ...!” satu kejutan mantera menghempas tubuh Taja hingga terpental ke belakang. Seketika tubuhnya mati rasa.
”Lorr En, kau tahu harus berbuat apa?! Bawa dia dan bersembunyilah!” Purwa beralih pada Lorr En kebingungan dalam ketegangan. Cepat-cepat ia menyeret Taja yang lunglai ke balik bebatuan besar.
”Sampaikan ampun-ku pada Paduka dan semua orang ...,” kata Purwa sebelum nekad kembali beberapa jarak ke belakang. Sekarang di hadapannya, ratusan makhluk disertai antek-antek penyihir memburu cepat dan semakin mendekat.
__ADS_1
Purwa mengangkat jari-jari tajamnya yang terasa agak kaku akibat mantera sebelumnya, kemudian merentangkan dua tangan setinggi-tingginya, terarah ke hamparan tanah terjal di depan. Dengan sangat lantang meneriakkan satu mantera ....
”Ghurodar-ha-guur!!!”
Hanya dalam hembusan nafas singkat, hamparan tanah terjal yang semula tenang, mulai bergerak-gerak ke atas dan makin menjulang ke atas lagi sampai membentuk wujud seperti raksasa-raksasa dari bongkah-bongkah tanah, bergeser rapat, lalu bergulung-gulung dan menimpa hampir serombongan makhluk yang mengejar. Kecuali pasukan penyihir yang tersisa, memilih mundur agar terhindar dari tanah bergolak seperti ombak memakan buih-buihnya.
Suasana hening seketika setelah ratusan makhluk itu terkubur. Angkasa yang semula terang, tiba-tiba berubah gelap di bawah bayang-bayang awan hitam bergerak cepat. Sesaat kilat menyambar-nyambar seperti akan ada badai. Tetapi bukan badai yang sebenarnya datang, melainkan awan-awan seperti kepulan asap hitam berkejaran ke arah Purwa. Ia hanya tersenyum pasrah pada langit, dan menoleh sebentar saja pada Taja yang tengah sembunyi di balik celah bebatuan bersama Lorr En.
Taja berdelik tajam, tidak kuasa menyaksikan peristiwa paling mengerikan terjadi pada Purwa, tangan-tangannya yang mulai tergerak, menggapai-gapai sosok sanak yang berada jauh darinya.
”Tidaaak ...!!!” teriak Taja tertahan hanya sampai di tenggorokan. Lorr En memeluk tubuhnya yang sedang berusaha untuk meronta.
”Tidaaak ...,” Taja terisak berat di dada Lorr En. Sesekali ia menyebut nama Purwa. Namun apa daya, kepulan awan pekat menyerupai wujud serigala raksasa sedang menyambar-nyambar koyakan tubuh Purwa kemana-mana sampai habis.
Lorr En melepas Taja setelah keadaan aman, Langit kembali terang di kawasan gersang tempat mereka terdampar tanpa arah sekarang. Sesaat ia membiarkan temannya meratapi cara kematian Purwa di cakar-cakar Arroragh yang memakannya sampai tidak tersisa, kecuali sedikit koyakan pakaian rajut milik Purwa yang berlumur cairan hijau pekat.
Taja melangkah gontai, mendekati tempat terakhir Purwa sebelum ia lenyap.
Lorr En menyusul, tidak luput sedih melihat jejak kaki Purwa tampak di tanah sekitar tempat itu.
”Sempurna sudah kesedihanku ...,” lanjut Taja sebelum berlalu tanpa memedulikan Lorr En di belakang.
Muncul Raojhin dari arah tak terduga. Rupanya ia juga bersembunyi selama menghilang.
”Apa yang baru saja telah kulihat?” Raojhin menghampiri Lorr En melangkah gontai.
”Apa itu tadi? Aku melihat awan hitam sepeti angin topan menggulung Purwa. Mohon katakan padaku apa yang sebenarnya terjadi? Jangan membuatku bertanya-tanya tanpa kejelasan, Lorr En!” Raojhin sangat memelas.
Lorr En menoleh sebentar padanya, ”Itu kematian!"
__ADS_1
”Mengapa marah? Aku sama sekali tidak mengerti .... Apa itu salahku?” Raojhin mengikuti Lorr En melangkah.
”Perlukah kau tahu bahwa kami sebenarnya ...,” Lorr En tidak melanjutkan kalimat. Ia beralih pandang pada Taja yang berada lebih dulu puluhan langkah di depan mereka,
”Taja!” Lorr En mempercepat langkah meskipun sebenarnya ia terlalu lelah untuk mengejarnya.
Taja menoleh ke belakang sebentar, ada air mata yang belum surut mengalir dari sudut-sudut bola matanya yang bening dan tatapan tanpa arti tersirat dari airmuka yang lebih dari sekedar sedih.
”Aku tidak bisa menjelaskan padamu, Raojhin! Tidak sekarang!” Lorr En mengejar Taja dan membiarkan Raojhin tertinggal.
Langit berangsur-angsur mendung. Hujan rintik-rintik berjatuhan di tanah gersang yang retak-retak. Aroma debu dingin menyeruak ke tenggorokan. Tiga bocah itu terus menelusuri tanah terjal naik turun yang berliku-liku.
Lambat laun, gerimis berganti hujan deras. Terlalu deras sampai-sampai mengganggu pandangan mereka.
”Kita istirahat dulu!” Raojhin sudah tidak tahan lagi. Ia menepi ke bawah naungan bebatuan sebelum dua yang lain setuju akan tindakannya. Akhirnya Taja menyusul ke sebelahnya.
”Maaf ... aku terdiam saja sejak tadi. Seperti tidak menghiraukanmu,” kata Taja. Raojhin menyambutnya dengan pandangan tanpa arti.
”Ada apa dengan kalian? Andai saja kalian menceritakan semuanya padaku, mungkin aku lebih mengerti ...,” kata Raojhin.
”Kau tidak akan mudah percaya jika kukatakan bahwa kami ...,” Taja terdiam sebentar.
”Apa?” Raojhin menunggu lanjutan kalimat Taja.
”Berjanjilah dulu, setelah aku mengatakan satu kata saja ... kau tidak akan menanyakan lebih jauh jauh lagi,” Taja mengajukan satu syarat.
”Mengapa?” tanya Raojhin heran.
”Karena akan membuatku bisu. Jika kukatakan lebih jelas lagi tentang kami, bisa membuatku buta tuli, lebih jauh lagi aku mengungkapkan sebanyak-banyaknya, maka aku akan lumpuh,” jawab Taja serius.
__ADS_1
...* * *...