
”Kamu akan tahu nanti."
Kata Neirra. Alisnya terangkat berbinar senang. Seluruh tubuhnya bergaun panjang hijau menyapu alas bertabur kerikil permata berwarna-warni.
Dia melangkah ringan tanpa melepas senyum di wajahnya. Terlalu manis untuk disebut senyuman kera putih. Taja sempat memperhatikan wajah elok perempuan itu membias dari kedua bola matanya yang bening. Tanpa mantera atau sihir apapun, wajahnya mampu mendamaikan hati siapapun yang menatap lekat-lekat.
Neirra melangkah ke sisi dinding. Dan dinding akar itu terbuka, lalu ia keluar. Sepeninggal ia, Taja termenung saja di sisi pembaringan, tidak ingin banyak berpikir tentang apa yang dilakukannya telah membuat banyak masalah. Namun hari ini sangat berbeda, sungguh damai dan tenang.
Samar-samar nyanyian peri capung dan peri kupu-kupu mengalun merdu. Semakin jelas soraknya dari balik dinding rongga pohon Nilau. Taja tergugah dan bangkit dari pembaringan empuknya dan menuju ke sisi dinding. Setelah tersentuh jari, dinding berakar itu terbuka seakan membentuk jendela. Dari situ Taja bisa mendongak keluar. Pagi yang sangat cerah dan bahagia.
Belum lagi ketika ia melihat ke bawah.
”Wow!” Tanpa terasa, mulut Taja ternganga lebar. Sepasang matanya berkeliling ke bawah. Pohon Nilau hanya salah satu di antara puluhan pohon raksasa berbaris rapat. Ada ribuan pasukan kupu-kupu berbaur capung dan burung Tirara mengisi pelataran dasar istana.
”Euryn!”
Takjub. Taja menyadari dirinya tengah berada di istana pohon yang luas. Serempak nyanyian pasukan peri mengisi kesibukan seiring menabur permata dan bunga-bunga ke seluruh pelataran dasar istana. Tak ada yang tertinggal untuk membuat barisan kompak.
”Malam nanti adalah pesta yang sangat meriah!!” sebuah suara mengejutkan Taja dari belakang.
Taja melihat tiga Glastric sudah masuk di dalam rongga.
”Dan semua ini untukmu...hanya untukmu!” ketiga serempak mengucap kalimat.
”Pesta untukku?” Taja tidak yakin mendengar ucapan para Glastric yang gaunnya dari sayap sendiri, bernuansa hijau jingga keperakan. Seiring senyum ketiganya menyambut keheranan Taja. Dan tanpa diminta, mereka menyodorkan tilam-tilam bercadar tembus pandang.
”Pakaian untukmu malam nanti!”
”Mahkota dan kalung spesial....”
”Madu dari Lembah Maurin. Jika kamu bahagia, maka hari-harimu terasa lebih cerah!”
__ADS_1
Masing-masing menyingkap cadar penutup tilam. Dan di atas tilam yang dibawa Glastric ketiga, ada puluhan putik bunga bermadu. Suara-suara mereka sangat lembut. Jarang-jarang Taja bisa mendengar langsung Glastric berbicara dari jarak sedekat itu. Selama ini kabarnya, mereka adalah peri yang hanya bisa mendengung, makhluk paling halus namun sangat ajaib. Hanya tersentuh oleh kulit mereka yang halus, bisa mengurangi rasa sakit. Setiap nyanyian mereka adalah mantera yang tak pernah gagal membuat siapapun yang mendengar terbuai kebahagiaan.
Taja tak bergeming, hanya memandangi satu persatu tilam yang disodorkan tiga Glasitic itu. Padahal seperangkat busana dari serat sutra rajutan peri kupu-kupu, sebuah mahkota mutiara, dan putik bunga bermadu sedang dipersembahkan untuknya. Hanya sejengkal dari jangkauan tangannya, namun ia masih tak mengerti alasan dirinya mendapat perlakuan seistimewa itu.
”Ini semua dari ratu?” Taja tidak yakin jika benda-benda yang lebih berharga daripada ribuan mutiara berhamburan adalah untuknya.
Ketiga Glastric laksana peri kembar tiga mengangguk bersamaan sambil menjawab, ”Untuk Elhundi Taja!”
”Elhundi?” sangat mengejutkan Taja setelah mendengar sebutan terhormat untuknya.
Sebelum sempat terjawab, tiba-tiba terdengar suara lain, ”Wahai, Glastric Nilau! Bagaimana persiapan pemandian air hangat untuk calon Elhundi Taja?” bersamaan muncul sesosok berpawakan tinggi besar.
Ketiga Glastric langsung menunduk bersama, mengartikan kesiagaan sekaligus hormat. Lalu mereka beranjak dari tempat itu melalui celah dinding yang sesaat terbuka.
Sosok tinggi besar bersisik ular merah gelap itu mengulas senyum tipis dan menundukkan kepala, ”Aku Elhundi Ular Merah.”
”Aku tidak mengerti,” Taja semakin kebingungan melihat sikap Elhundi padanya..
Elhundi Ular Merah tidak segera menjawab. Ia hanya menyodorkan sebelah tangannya pada Taja. Bola matanya yang biru dan kelopak melancip, seakan menunggu Taja. Dalam genggaman lembut, Elhundi Ular Merah mengalirkan energinya. Sebentar saja, Taja merasakan tubuhnya sangat ringan. Tanpa sadar ia telah mengawang.
Sekejap saja, tubuh Elhundi Ular Merah menjelma makhluk separuh ular mulai kaki sampai pinggang. Separuhnya lagi sampai kepala, berwujud manusia.
”Mari ikut aku...,” pintanya sambil menuntun Taja naik ke punggungnya. Lalu mereka keluar rongga. Elhundi Ular Merah merayap di dinding istana, meliuk belasan putaran anak tangga terbentuk dari titian akar dan dahan pohon. Taja semakin erat mendekap di punggung Elhundi Ular Merah.
”Pengeran Shachini. Inilah saatnya, dalam usiamu yang ke-13. Sejak kamu bayi, Ratu merencanakan penobatanmu. Tetapi hal itu sangat rahasia, bahkan tidak semua penghuni Euryn mengetahuinya,” lanjut Elhundi Ular Merah, menelurusi rongga-rongga akar-akar mencuat.
”Penobatan apa?” Taja belum cukup mengerti.
Kemudian mereka sampai di rongga setapak di antara himpitan dinding pohon. Di ujung sana, ada suatu sumber air jernih membiaskan warna pelangi ke sekeliling dinding terselimuti ribuan sulur dan ranting.
Elhundi Ular Merah meminta Taja untuk melepas pakaiannya dan masuk ke dalam sumber jernih itu. Kabut hangat mengepul di seluruh permukaannya. Ada sebongkah batu besar di tengahnya. Dari sela-sela batu itu memancur puluhan mata air.
__ADS_1
”Mata air Telaga Pelangi akan membuang segala kesedihan di hatimu...,” ucap Elhundi Ular Merah sembari menuntun Taja menuju ke sana. Dan terasa hangat sekali saat air mancur mulai membasahi ubun-ubun sampai seluruh tubuhnya basah kuyu.
Lalu Elhundi Ular Merah menyuruh Taja segera mengentas dan memakaikan kain bulu. Mereka melangkah keluar, menelusuri jembatan-jembatan akar. Sepanjang jalan Taja dan Elhundi Ular Merah berlalu, para peri yang kebetulan berpapasan langsung menundukkan kepala.
Sampai ia bersama Elhundi Ular Merah berhenti di ujung celah besar yang mengarah ke pelataran Euryn. Ternyata, tempat itu sudah dipenuhi ribuan rakyat peri.
”Sedang ada apa ini?” Taja melempar pandang ke seluruh rakyat peri di hadapannya.
Elhundi Ular Merah menggiring ia sampai ke tengah pelataran, lalu berhenti tepat di hamparan kerikil permata.
Semua peri yang semula berloncatan dari pohon ke pohon, menari-menari, atau bernyanyi, seketika mengalihkan perhatian untuk menunduk hormat.
”Elhundi Taja!!!” Elhundi Ular Merah meneriakkan namanya. Mendengar itu, bermacam-macam suara ribuan peri mengikuti seruan yang sama.
”Inilah saat yang telah ditunggu-tunggu sejak 13 tahun silam...,” ekor Elhundi Ular Merah berubah menjadi sepasang kaki, melangkah sigap ke hadapan rakyat Gunggali.
”Penobatan Elhundi Taja!!!”
Semua yang hadir serentak bersorak riuh, berkerumun menjadi satu lingkaran besar dan Taja tepat berada di tengahnya. Mereka berkali-kali mengelu-elukan nama Elhundi Taja. Kecuali segerombol peri-peri daun yang menyudut di sela-sela dinding. Wajah- wajah mereka sangat terkejut saat melihat siapa yang sedang berada di tengah-tengah sorak dan pujian.
Dakka di antaranya menepi di satu sisi pelataran Euryn. Air mukanya berubah masam dan tidak menyiratkan kebahagiaan seperti yang lain.
Sangkakala dari kerang raksasa berbunyi lengking dari peri-peri penjaga. Ternyata, itu menandakan Sang Ratu segera hadir di antara mereka.
”Ratu Shachini!” Elhundi Ular Merah berseru seiring satu makhluk muncul dari jembatan atas yang meliuk. Sesosok makhluk itu seperti wanita cantik, gaunnya memancarkan sinar keemasan, menuruni lilitan akar-akar.
Semuanya menunduk atas kehadirannya tanpa kecuali.
Ratu Shachini, penguasa Gunggali berada di hadapan Taja. Keduanya bertemu di tengah-tengah kerumunan rakyat peri yang memenuhi pelataran.
”Aku selalu memandangmu sebagai Pangeran Gunggali. Sekarang, aku menobatkanmu sebagai seorang Elhundi!”
__ADS_1
Sorak riuh penghuni Gunggali bersahutan. Mereka menari-nari, berputar-putar seraya menabur kerikil intan. Hujan kelopak bunga dan tarian serangga dari puncak-puncak pepohonan, bertebaran sampai ke pelataran. Dari arah yang sama, aneka burung berwarna merah-jingga menyusul.
...* * *...