
Tengah malam berlalu. Bergulir waktu sekian lama. Ketua Sujinsha bergeming di atas perahu seorang diri. Sementara Taja dan Lorr berada di atas perahu lainnya. Jarak tidak berjauhan, antara dua perahu tak tergerak di tengah danau.
Taja melihat sekeliling. Pandangan matanya jatuh di atas jembatan tempat prajurit-prajurit bersiaga, mengacungkan busur-busur mereka dan kapan saja siap meluncurkan panah kiranya akan terjadi hal tak diinginkan terhadap kedua pemuda di atas perahu.
Lorr En melihat sosok praja tengah mematung, dari atas jembatan. Dia memandang ke arah Taja dan Lorr En di atas di perahu.
"Dia," Lorr En mengarah matanya ke sana.
"Siapa namanya?" Lorr En jelas mengenali sosok praja itu sejak lepas perahu dari tepian, meskipun ia tidak tahu nama sosok praja itu. Sejauh ini, Lorr En tahu bahwa praja itu sangat tidak menyukai kedatangan mereka berdua.
"Raojhin. Dia, Praja Emas," jawab Taja, rupanya lebih mengetahui praja muda itu.
"Dia angkuh," kata Lorr En. Sebenarnya ia juga merasa tidak suka pada praja bernama Raojhin.
Suasana kelam malam larut dalam mendung semakin beku. Titik-titik air hujan berjatuhan di permukaan air dan semakin deras.
”Celaka, hujan turun!” Ketua Sujinsha merasakan tanda kurang baik karena ia tahu persis jika hujan datang akan menyebabkan banyak gerakan yang memancing makhluk-makhluk itu keluar. Kekhawatirannya kembali pada dua anak di atas perahu seberang.
Hampir sepertiga malam dan hujan semakin deras, tak ada tanda-tanda Ketua Sujinsha bertindak. Sosoknya terpaku di atas perahu, tak bergeming dalam derasnya hujan menerpa.
Seseorang sejak tadi memantau dari daratan. Senyum masam bibirnya. Ternyata, dia Ketua Janewa.
”Licik!”
Gerutu Ketua Janewa di tempatnya memandang ke danau. Mengamati pergerakan dua perahu di sana.
”Ia sengaja mengulur waktu sampai fajar muncul agar terhindar dari serangan makhluk danau!”
”Apa rencana dia sebenarnya?” Ketua Sujinsha menanggapi.
”Aku juga tidak tahu pasti. Sepertinya, Sujinsha tidak sungguh-sungguh akan menangkap Bunga Ajaib! Ini taktik bulusnya untuk menyelamatkan kedua anak muda calon praja itu,"
"Akankan kita diam saja?” anak buah Ketua Janewa, juga ikut mencari cara. Mereka terus mengamati, tak lepas awas matanya ke arah perahu di sana.
Ketua Janewa terlintas cara curang, ”Coba saja dia melawan kita semua!" mendengus kesal, tertahan di ujung hidung Ketua Janewa.
Ketua Janewa merenggut busur beserta panahnya dari tangan seorang bawahannya.
”Aku ingin tahu seberapa lama lagi Sujinsha mampu bertahan di sana!” Ia mengangkat busur dan mengarahkan mata panah ke arah perahu Ketua Sujinsha.
Tak!
Secepat itu, anak panah melesat dan menancap di perahu yang ditumpangi Ketua Sujinsha. Menimbulkan bunyi ’tuk! tuk!’
Dua tiga kali panah berikutnya menancap di perahu yang sama. Akibatnya, makhluk-makhluk danau terpancing.
Ketua Sujinsha menyadari perbuatan lawannya. Seberapa pun ia berusaha tenang, perahu ditumpanginya sedikit goyah dan menimbulkan suara berisik. karena benturan makhluk-makhluk itu.
__ADS_1
"Sialan!" Ketua Sujinsha kesal. Menyadari ada pihak lawan sengaja mengganggu.
Tak!
Tak!
Tak!
Panah-panah susul menyusul, menghujam dinding perahu. Sebagian jatuh ke permukaan air. Sebilah panah menancap tepat ke alas perahu hingga sedikit berlubang. Air mulai merembas masuk ke lantai perahu.
"Sial!"
Ketua Sujinsha tidak bisa diam lagi, namun tidak bisa menggerakkan dayungnya karena perhatian puluhan iblis air tertuju ke bawah perahunya dan kian mengguncang.
Bak!
Satu benturan keras dan air yang merembas masuk semakin banyak, membuat perahu oleng. Ketua Sujinsha di atasnya terombang-ambing dalam kesiagaan menghunus pedang dan melempar beberapa panah ke air. Justru itu membuat makhluk-makhluk air menyerang semakin ganas dengan tubrukan lebih keras dan berulang-ulang.
”Lihat saja apa yang bisa kau lakukan, Sujinsha?” Ketua Janewa menyeringai setelah melihat lawan mereka tampak dalam kesulitan.
”Curang!”
Sebuah suara menghardik. Mengalihkan perhatian orang-orang bawahan Ketua Janewa. Seorang praja muda, tiba-tiba mendekati orang-orang itu.
”Kalian curang!” seru praja itu sekali lagi.
"Raojhin!"
Sementara di atas perahu, Taja dan Lorr En melihat Ketua Sujinsha dalam bahaya, tanpa bisa mengambil tindakan apapun selain diam di tempat dalam kepanikan.
Para prajurit di pihak Ketua Sujinsha juga merasakan ketegangan yang sama. Mereka juga tahu perbuatan si Jendral dan kelompoknya, walaupun tidak berani membalas apapun karena menyadari bahwa pangkat mereka lebih rendah.
Sedangkan Ketua Sujinsha sendiri dalam keadaan semakin terancam di atas perahunya yang setengah tenggelam. Manakala makhluk-makhluk air memburu ke posisinya seperti puluhan ikan ingin berebut makanan. Akhirnya, terpaksa ia mengambil ancang-ancang untuk melompat jauh.
Byur!!!
Tubuh Ketua Sujinsha masuk terjun ke air. Tak seorang pun bisa menebak nasibnya di dalam sana.
”Tuan, hati-hati!”
Spontan, Taja tak tahan lagi. Gaduh suaranya
memancing pergerakan dari dalam air.
”Tenanglah!” Lorr En di sebelahnya segera menarik lengan Taja. Mereka menyaksikan keadaan mengancam keselamatan Ketua Sujinsha di atas perahu.
”Sekarang bagaimana?” Lorr En memperketat jubah dan menutupi kepalanya yang basah terguyur hujan. Wujudnya telah berubah semakin menyerupai katak sejak hujan turun.
__ADS_1
Zap ... zap ... zap!
Belum sempat mereka berpikir, sejumlah anak panah menghujam dinding perahu mereka juga.
”Cepat lakukan sesuatu sebelum ...,” Lorr En tak kalah panik.
”Bagaimana?” Taja juga tak bisa berpikir dalam keadaan kepepet begitu.
Dug!!!
Perahu terguncang keras. Goyah akibat benturan dari bawah.
”Pengalihan!”
Lorr En mendelik, ”Aku akan mengalihkan perhatian makhluk-makhluk itu!”
"Apa?!" Taja terbelalak lebar.
"Kamu gila?!" Sama sekali tak terpikir cara nekad Lorr En.
”Jangan meragukan kecepatan-ku berenang!” sergah Lorr En.
”Lorr, itu sangat membahayakan dirimu..,” Taja mencegah Lorr En nekad.
”Tidak ada waktu berdebat!” Lorr En menampik tangan Taja sempat menariknya.
Benturan keras berkali-kali menggoyahkan perahu hingga oleng. Tanpa pikir lebih lama, Lorr En melompat ke air. Tubuhnya yang seketika raib di kedalaman air.
Dak!!!
Satu benturan paling keras membuat Taja hilang keseimbangan. Taja tersungkur ke sisi buritan.
”Aaargh!”
Tubuhnya terlempar keluar perahu kemudian tercebur. Arus danau mengamuk, menelan tubuh Taja.
Deras hujan belum reda juga mengguyur perairan teluk. Perahu Ketua Sujinsha tenggelam dan hampir tidak tampak lagi ujung batangnya dalam keroyokan iblis-iblis air. Sedangkan perahu satunya kosong. Kesunyian malam menegangkan semua orang menunggu kiranya apa yang sedang terjadi.
Ketua Janewa bersitegang di tempatnya.
"Apa mereka selamat?”
Di sebelah kanan kiri, semua anak buahnya hanya bungkam penuh ketegangan tanpa mampu bicara apa-apa.
Riak gejolak Danau Senja berbaur dengan hujan lebat, Makhluk-makhluk danau berkelebat ke permukaan, seakan saling berebut mangsa yang jatuh ke air.
Di kedalaman air, Taja bergerak cepat. Tidak jelas terlihat di bawah sana selain ribuan sulur-sulur ganggang merah menjulang ke atas. Bayang-bayang serupa belalai-belalai gurita raksasa, berkelebat gesit, kejar-mengejar sosok Taja menyelam. Makhluk-makhluk danau itu saling berebut, bertubrukan, membelit satu sama lain. Permukaan danau menjadi naik turun.
__ADS_1
Taja gesit bergerak. Sementara makhluk-makhluk danau tengah sibuk bergelut. Ia cepat-cepat menarik diri ke atas permukaan. Air bergejolak naik tinggi-tinggi, membantu tubuhnya ke permukaan.
...* * *...