The Chronicle Of Jawata (Edisi Trial Kompilasi)

The Chronicle Of Jawata (Edisi Trial Kompilasi)
29. Istana Kelam


__ADS_3

Menjelang senja di Kakilangit. Sekawanan gagak berterbangan di antara sisi gelap bangunan istana, menyeruak tiang-tiang gantungan usang di hamparan tanah tandus berbau busuk, pengap dan selalu sunyi.


Hampir tidak seorang pun melintasi tempat yang tidak pernah diinginkan siapapun datang ke sana, kecuali terpaksa untuk sampai ke gerbang Istana Kakilangit.


Sayup-sayup kicau serak gagak bertengger di puncak-puncak tiang. Sosok manusia berkuda melewati melintas. Derap kuda dalam remang-remang menjelang malam, menuju sebuah istana. Sesampainya di depan gerbang utama, ia turun dari kuda tunggangan, lalu melempar kata sandi pertanda identitas seorang abdi.


Balairung tua dan remang-remang, seseorang paling berkuasa di Sekte Kakilangit, Paduka Jayasinggih, telah menunggu kedatangan seorang abdi akan menyampaikan kabar penting yang memuaskan.


Seseorang yang ditunggu, abdi mengenakan jubah gelap, memasuki balairung dijaga beberapa pengawal. Ia menghampiri Paduka tengah berdiri menghadap jendela, kedua mata menerawang keluar pelataran istana yang sunyi. Keadaan istana, sama kelam dalam satu dekade terakhir.


”Hamba menghaturkan hormat pada Paduka,” seorang abdi berada di belakang Paduka. Abdi itu membungkuk hormat disertai cemas takut raut mukanya.


“Ada kabar apa dari Tanapura? Belakangan ini, aku mendengar kabar dari para penjaga suar, tentang kuda cahaya tiba-tiba muncul dari kobaran api saat eksekusi seorang murid di sana. Jelaskan padaku apa itu, Sanca?” pinta Paduka Jayasinggih, lalu berbalik ke arah abdi yang disebutnya dengan nama Sanca. Lelaki tua renta itu sangat menunduk sampai bungkuk punggungnya.


“Benar, Paduka. Hamba juga telah melihat dengan mata kepala sendiri tentang kejadian tersebut,” jawab Ki Sanca.


“Kejadian apa sebenarnya yang telah kau lihat di sana?” tanya Paduka lagi.


“Hamba menyimpulkan bahwa itu ... sejenis sihir,“ tanpa banyak keberanian, cukup sedikit mengangkat wajah sambil tetap menunduk, Ki Sanca menjawab pertanyaan tuannya.


"Sihir di Tanapura?! Ha ha ha!" aneh, setelah mendengar itu, tawa Paduka Jayasinggih meledak. Lalu ia kembali tegang.


“Sihir …?” sisa tawa Paduka berubah tegang, sama sekali tak mengartikan kesenangan. Resah khawatir nampak di raut mukanya.


“Benar, Paduka. Sihir luar biasa, baru kali ini hamba melihat sihir sehebat itu di Tanapura,” jawab abdi Ki Sanca membenarkan, tanpa terduga justru menyinggung Paduka.


“Hmm, perlukah ku sampaikan pada Sang Pencemburu tentang hal ini? Dia tak segan menyuruhmu untuk menjilati Pedang Maar. Itukah yang kau mau?” kata Paduka, mendelik lirik tajam matanya ke arah Ki Sanca dinilainya salah bicara.


Ki Sanca menggelengkan kepala, gemetar punggungnya. Mendengar Pedang Maar disebut-sebut, membuatnya meringis takut, “Ampun, Paduka … hamba tidak berani,” cepat-cepat ia membungkukkan badan lebih rendah lagi sampai-sampai bersimpuh lutut.


“Jangan berkata bahwa ada yang melebihi kehebatan sihir Sang Pencemburu. Camkan itu dalam otakmu!“ lanjut Paduka Jayasinggih kesal amarahnya tertuang pada Ki Sanca.

__ADS_1


Disebutnya sesosok dengan julukan Sang Pencemburu, ciut nyali Ki Sanca.


Paduka Jayasinggih menghunus ujung pedang ke leher Ki Sanca, “Be … benar. Hanya Paduka Jayasinggih, Penguasa Kakilangit, satu-satunya pemilik kekuatan dahsyat di dunia bersama Sang Pencemburu,” suara Ki Sanca makin gemetar, tak mampu disembunyikan lagi karena benar-benar ketakutan berada di ujung Pedang Maar, padahal ujung pedang itu yang menyentuhnya.


Lagi-lagi tawa berat Paduka Jayasinggih menggema ke seluruh ruangan. Sembari menarik pedangnya.


"Aku catat laporanmu ini. Jika terbukti penglihatanmu salah, aku akan memotong lidahmu dengan Pedang Maar!” ancam Paduka Jayasinggih. Selama ini, ratusan abdi mati sia-sia setiap kali membuatnya kecewa meskipun telah mengabdi puluhan tahun. Ki Sanca hanya segelintir abdi yang tersisa.


“Ampun, hamba tidak berani berbohong, Paduka!” kata Ki Sanca sembari mengantuk-antukkan jidatnya ke lantai berkali-kali.


“Pergilah, lakukan tugasmu selanjutnya! Tetap waspada, jangan sampai orang-orang Tanapura mencium penyamaranmu!” tegas Paduka Jayasinggih.


“Baik, Paduka, segera hamba laksanakan,” kata Ki Sanca. Tak lama kemudian segera angkat kaki secepat mungkin takut-takut Paduka Jayasinggih berubah pikiran, mengingat sudah banyak abdi terbunuh setelah sekian pengorbanan, toh nasib mereka berakhir di ujung pedangnya.


Sungguh tidak ada pilihan lain selain menjadi abdi Paduka yang menganggap dirinya sebagai satu-satunya manusia adidaya.


Tidak lama setelah Ki Sanca meninggalkan tempat itu, seseorang lain muncul dari pintu utama yang sama tempat Ki Sanca berlalu pergi. Sesosok laki-laki bertubuh bagor, rambut panjang sepunggung, membawa tongkat berujung batu pualam keperakan, dan mengenakan jirah besi melapisi jubah putih. Kedatangannya memang sudah ditunggu Paduka Jayasinggih.


“Belakangan ini mimpiku selalu kelam, angin berhembus kencang dari barat. Daun-daun berguguran. Kurasakan sangat hampa, kering tetapi pengap. Seperti nyata, sungai di negeriku mengalir air darah hingga ke tempat tidurku. Lalu tiba-tiba …,” cerita Paduka Jayasinggih sejenak terhenti.


“Lalu apa, Tuanku?" demikian orang itu memanggil Paduka. Padahal tidak sembarang orang diperkenankan untuk menyebut Paduka hanya dengan panggilan ’Tuan’, kecuali orang satu ini.


“Aku melihat bocah itu datang dan berbicara,” meskipun sempat ragu, Paduka Jayasinggih melanjutkan kalimatnya juga.


“Bocah itu, meskipun tubuhnya menghilang seakan mati, tetapi jiwanya tidak pernah diam dan amarahnya tidak pernah berkurang sedikitpun. Apa arti dari mimpiku?” tanya Paduka pada Ketua Lowakruyo. Lelaki itu terdiam sebentar.


“Bocah itu berkata, petaka akan datang di Kakilangit ...," sambung Paduka Jayasinggih, menerawang matanya tidak jelas ke atap-atap.


“Petaka akan datang di Kakilangit?” gumam berat suara Lowakruyo, disusul Paduka Jayasinggih manggut-manggut dalam cemas dan resah pikirannya.


“Apa arti mimpiku itu?” tanya lagi, Paduka Jayasinggih gamang pandangan matanya pada Lowakruyo.

__ADS_1


“Jika tidak melenceng dari penglihatanku …aku melihat bayangan Bocah Malapetaka itu di sekitaran desa dekat Mayapadhi,” kedua mata Luwakruyo mendelik tajam, dahinya berkerut, mengingat-ingat kejadian belum lama ini selama perburuannya


"Ada percikan cahaya di permukaan air dalam bejana, semakin bulat dan membesar …semakin kuat. Mataku terarah pada Tanapura yang sedang 'ku baca, cahaya itu berasal dari sana," kata Paduka Jayasinggih mempercayai ramalan para abdi dari golongan penyihir.


“Mimpiku bila disatukan dengan penglihatanmu. Bocah itu masih hidup?!” pekik Paduka Jayasinggih, tidak sabar lagi ingin segera mendengar penjelasan dari Luwakruyo.


Mata Luwakruyo melotot tajam, “Kutukan, kekuatan besar dan senjata digdaya akan muncul!” lanjutnya. Luwakruyo bukan hanya mampu bertarung hebat, tetapi juga memiliki mata batin luar biasa.


“Eaaagh!” geram Paduka Jayasinggih pecah, pikirannya kacau dalam kalimat yang tidak ingin didengar.


“Omong Kosong! Bocah itu sudah mati!" teriak Paduka Jayasinggih.


”Persetan dengan kutukan Bocah itu! Tak sesuatu pun terbukti dari racau gila si Api Gila dan Bocah Malapetaka itu!" nafas Paduka Jayasinggih naik turun, memendam amarah bercampur takut luar biasa, terpancar dari bola matanya yang bulat dan memerah.


“Aku penguasa Kakilangit, Tuan dari Pedang Maar. Tidak ada yang bisa menaklukkan aku dan negeriku. Siapapun yang berani dan menentang, aku akan menghancurkannya. Tidak ada alasan yang membuatku takut pada Tanapura atau siapapun di negeri Jawata ini!" ngamuk berbaur sombong, Paduka Jayasinggih berkobar-kobar lantang bicaranya, memecah keheningan balairung istana yang kelam.


"Tanapura memiliki Pusaka Pasvaati, itu perlu diperhitungkan," kata Luwakruyo, menyebut sebuah senjata pusaka ternama dan telah lama menjadi legenda turun temurun. Kekuatannya menjadi mitos di kalangan penyihir dan orang-orang Kanuragan.


“Tanapura terus mencari Pewaris Pasvaati. Siapa lebih dulu berhasil, Tanapura atau Kakilangit?" tanya Luwakruyo menyindir.


Paduka tersinggung. Pedang di tangannya hampir saja bicara.


"Aku bukan abdi. Aku hanya kaki tangan menjadi petarung bayaran. Jika aku dibunuh, maka jutaan pasukan-ku akan menjadi senjata balik menyerang Kakilangit. Jadi, pikirkan itu baik-baik. Selama Paduka membayar, kami akan tetap memanggilmu Tuan dan memenuhi semua tujuanmu," kata Luwakruyo tak gentar di hadapan pedang Paduka Jayasinggih.


Mengendur kemarahan Paduka. Ia menurunkan pedangnya.


"Ambil emas-mu!" perintah Paduka. Melirik ke arah satu peti besar berisi emas.


"Aku mau Bocah Malapetaka itu ditangkap hidup-hidup. Jangan gagal lagi!" seru Paduka penuh angkara murka.


"Jangan khawatir, Tuan akan mendapatkan apa yang Tuan inginkan," balas Luwakruyo. Berbinar senang mendapat satu peti penuh emas murni.

__ADS_1


...* * *...


__ADS_2