The Chronicle Of Jawata (Edisi Trial Kompilasi)

The Chronicle Of Jawata (Edisi Trial Kompilasi)
7.09


__ADS_3

”Laotheri ...!"


"Elhundi Merald!”


Rombongan penari berseru, mengiringi para tamu menuju pelataran.


Elhundi Merald. Sebutan untuk sesosok pemuda tampan. Sangat memukau. Junjungan penghuni Gunggali. Pangeran Bunga Laotheri.


Elhundi Merald bersama Ratu Shachini, dua wajah bersemu bahagia, raut cemerlang penuh senyum, memukau semua penghuni Gunggali kala itu.


”Pangeran Laotheri!”


Sejumlah pelayan-pelayan istana, meneriakkan namanya. Sangat jarang ia menampakkan diri kecuali pada saat-saat tertentu dan istimewa karena ia adalah peri bunga yang hampir seluruh hidupnya tinggal di telaga bawah rongga istana dan bersemayam dalam satu kuntum Laotheri dari ratusan kuncup yang mekar.


”Khameswari. Jubah kebahagiaan!” suara halus Merald mengalun merdu bersamaan ia menyerahkan sesuatu yang dibawanya. Ratu Shachini langsung menyambut jubah istimewa itu.


”Ini rajutan Khameswari akan melindungi-mu dari kesedihan. Hari-harimu akan selalu cerah tanpa resah dan duka!” seru Ratu Shachini ketika merentangkan jubah Khameswari dan mengenakannya ke tubuh Taja.


Taja sangat bersuka cita. Belum usai ia memahami penobatan yang sedang berlangsung untuknya, sebuah Jubah Kebahagiaan telah dikenakannya. Setelah itu, rasa bahagia sangat cepat mengalir sampai ke setiap hembusan nafas.


”Hiduplah bersamaku...,” bisik Ratu Shachini ke dekat telinga Taja.


”Ajaib! Sangat ajaib!” tanpa sadar Taja terpukau dalam kebahagiaan Khameswari yang sudah belasan tahun dirajut oleh para peri tanpa tahu sebelumnya untuk siapa dibuat. Begitulah legendanya, sangat tenar. Dan ternyata, sekarang jubah itu milik Taja.


”Berbahagialah, Elhundi Taja! Kami juga memberi julukan untukmu, sebagai Elhundi Rahl Yan Humbyn!” kalimat Ratu Shachini menyeru lantang selama menyebutkan gelar panjang untuk Taja. Sekali lagi riuh luar biasa menyambut.


Taja tersentak mendengar gelar itu dinobatkan untuknya. Sekaligus sebagian besar rakyat peri terkejut sekali mendengar itu juga. Taja selama ini tinggal di tepian sungai, sekarang menjadi seorang Elhundi. Semua terkesima ke satu arah, Taja bersanding dengan Ratu Shachini.


Taja dengan busana Khameswari hijau gemerlap, tampak sangat berbeda. Taja menjadi Pangeran Gunggali. Dalam semalam, nasibnya berubah seketika.


Nyanyian dan siul melengking para penghuni Gunggali, tak henti-henti menyanjung Taja dan Ratu Shachini yang menapak turun, membelah kerumunan rakyat peri.


”Ini tidak adil! Sangat tidak adil!”


Keramaian seketika surut setelah sebuah teriakan paling keras mengacau. Sesosok penghuni dari jenis Sorra unjuk diri dan melangkah cepat, membelah barisan lalu menghadang Taja dan Ratu Shachini.


”Sikap tidak adil dilakukan seorang Ratu Gunggali!” Serunya lagi.


Suasana berubah hening seketika. Seluruh mata tertuju pada dua tamu yang datang tak diundang. Ratu Shachini menyongsong kehadiran Sorra dan Dakka.


”Sorra! Dakka!” Ratu Shachini menyebutnya.


Dakka menjadi tegang, tersadar dari suasana hening tiba-tiba karena ulahnya sendiri. Kini, Ratu Shachini telah berdiri di hadapannya dalam tatapan dingin. Beberapa peri penjaga segera bergerak, namun Ratu Shachini lebih dulu memberi tanda agar mereka mundur.


”Tidak adil? Kamu menyebutku tidak adil?” tatapan Ratu Shachini menjadi lirikan sadis dan menyakitkan mata lawan pandangnya.


Dakka tersengal-sengal hanya dalam beberapa kali hembusan nafas bersamaan sorot lirikan mata Ratu Shachini terpusat padanya. Lalu ia ambruk dan tubuhnya sangat lunglai seperti tanpa tulang.

__ADS_1


”Ini tidak adil, karena ia bukan sepenuhnya peri. Dia, keturunan Orang Jawata, tidak pantas tinggal di Istana Euryn, apalagi dengan gelar Elhundi!” tersendat-sendat rasa kesakitan, Dakka mendesis.


Ratu Shachini melayangkan pandang pada semua tamu, rakyatnya menyaksikan penobatan.


”Siapa lagi yang hendak berkata seperti itu padaku?!”


Tidak satupun menjawab. Bahkan di luar pelataran, makhluk sebesar Changgala  yang turut hadir hanya mematung di tempat. Kecuali satu peri perempuan sedang berdesakan dari kerumunan paling belakang dan menuju ke arah ratu.


”Ampuni anakku, Ratu...,” seorang perempuan bersimpuh lutut di dekat Dakka meringkuk. Ia membenturkan dahi ke tanah berkali-kali, setelah itu mendongakkan kepalanya yang berambut panjang dan berhiaskan batu-batuan kristal. Jari-jari akarnya bergemeletuk ketika menyentuh tanah karena gemetar.


”Anakku terlalu muda untuk memahami ini. Hamba akan membawanya pulang dan menghukum dia,” kata perempuan itu dengan diakhiri satu sujud sekali lagi. Lebih dari itu, sesaat tubuhnya sampai bersatu dengan permukaan tanah.


”Tidak!!!”


Dakka membelot dari rengkuhan lengan perempuan itu yang tidak lain adalah Shammure, ibunya.


Belum usai Ratu Shachini murka, Dakka berani bangkit.


”Dia, Orang Jawata!” Dakka menunjuk lurus pada Taja di belakang Ratu Shachini.


Ratu Shachini menatap dingin pada Dakka, ”Changgala, bawa Dakka ke Calpera. Kurung dia di sana sampai menyadari kesalahannya!”


Shammure tersentak.


”Aku memohon, Ratu tidak menghukum anakku ke sana!” pintanya menghiba namun tidak bisa menolong Dakka lagi. Secepat bayangan, akar-akar Changgala tersembul permukaan tanah hingga pecah, lalu menarik Dakka keluar istana. Ia tidak kuasa melawan makhluk raksasa itu saat melilit tubuhnya.


Taja hanya bisa merasa iba melihat Shammure meratap seperti itu sebelum meninggalkan istana dan menjerit nama Dakka.


Suasana kembali hening.


”Adakah yang lain, keberatan jika anak Jawata ‘kuangkat menjadi seorang Elhundi?!” Ratu bertanya sekali lagi kepada seluruh orang yang hadir. Terdiam dan tertunduk ikhlas sebagai jawaban.


”Aku tidak pernah memandangnya sebagai keturunan Orang Jawata. Aku selalu memandangnya sebagai penghuni Gunggali!” Ucap Ratu dengan nada tegas. Tatap mata menyeluruh pada semua peri yang menyaksikan.


"Taja putraku!" seru Ratu Shachini.


”Hamba menerimanya sebagai Elhundi,” sebuah suara tidak menyambut, berasal dari sudut istana. Tampaknya ia juga sudah lama bersatu dengan tanah.


Semua beralih ke arah peri itu bersuara.


”Elkas?” Ratu menyebut nama peri berjenis yang sama dengan Taja.


”Satu permohonan saja, hamba ingin Dakka juga bisa menerima penobatan Taja sebagai Elhundi. Izinkan hamba menemaninya selama dia dihukum di Calpera,” Elkas bersujud sekali sebelum menengadah mukanya menghadap Ratu Shachini.


Ratu sejenak terdiam. Akhirnya Taja tergugah untuk permintaan Elkas.


”Aku memohon, Ratu memenuhi permintaan saudaraku,” pinta Taja seraya menundukkan kepala.

__ADS_1


”Baiklah, permintaanmu dikabulkan!” Ratu Shachini menjawab permohonan Elkas demi Taja.


”Terima kasih, Ratu Yang berbahagia,” puji Elkas sebelum bangkit dan beringsut dari pelataran, meninggalkan jejak-jejak kecil sebelum melesat ringan ke luar istana. Bayangannya raib setelah berada jauh ke balik rerimbunan pohon hutan.


Semua mata kembali pada Taja dan Ratu Shachini di tengah-tengah pelataran.


”Berbahagia untuk Elhundi Taja!” seru Ratu seraya merentangkan tangan-tangannya ke kepala Taja. Dalam sekejap mata, muncul kilatan biru dan langsung membentuk mahkota tipis yang bening. Disambut riuh dan aneka siul seluruh rakyat peri, pesta senja pun dimulai.


Para tamu berdendang lirih, diiringi sangkakala bergema dengan nada meliuk-liuk ke seluruh Gunggali. Menyambut gelapnya senja dalam angin berdesir makin kuat dari arah luar sekeliling perbatasan. Tanpa terdengar dan hampir tidak terasa oleh siapapun yang sibuk berpesta, kecuali sesosok di tengah Calpera yang gersang dan gelap. Ia sendiri dalam kemarahan dan kesakitan.


Desis berat setengah menggorok, berasal dari sesosok peri yang setengah terkubur dalam tanah keras dan terjerat oleh ribuan akar-akar kuat. Tubuhnya yang lunglai sama sekali tidak sanggup meronta, ia hanya bisa merintih kesakitan tanpa ada siapapun mendengarnya.


Sampai gulita malam menyelimuti Calpera tanpa secercah cahaya bunga satu pun. Satu arah berasal dari tengah hutan, ada suara gemersik langkah-langkah kecil setengah meloncat ke permukaan tanah gersang seluas Calpera yang gelap. Tidak ada yang menyambut kedatangannya yang muncul dari semak-semak kering. Ia berhenti tepat di hadapan Changgala menggeliat setinggi pucuk-pucuk pohon. Semburan nafasnya menyebar kemana-mana sampai debu-debu berhamburan.


”Dakka!”


Geram Changgala, menggumpal kokoh tanpa melepas Dakka di bawah kaki-kaki akarnya, menancap kuat. Elkas di sebelah Dakka, tak dapat berbuat apa-apa. Changgala  menggumpal tinggi besar dan membusungkan tubuh di hadapannya.


Changgala  mencium hawa Elkas, ”Saudaramu ini... pembangkang!” Sambil mengendurkan akar-akarnya dan melepas sandera, melepas Dakka terkulai lemas.


”Bawalah dan jagalah dia agar berkelakuan baik!” Changgala mendengus keras. Setelah itu ia merasuk ke dalam tanah.


Elkas beralih pada Dakka tampak sangat kelelahan. Rambutnya berdiri kaku, acak-acakan dan sekujur tubuh penuh luka.


”Dakka ...,” Elkas menyentuh lembut tangan-tangan Dakka yang penuh akar-akar mencuat keluar.


”Pergilah, Elkas!” Sisa tenaga Dakka cukup keras menampiknya.


”Tidak ada lagi yang peduli padaku!”


”Aku peduli ...,” Elkas merunduk ke Dakka yang masih terkulai di tanah.


”Pergi!” sembur Dakka membuat Elkas beringsut ke belakang.


”Kita bersaudara ...,” nada suara Elkas membalas lembut.


”Kamu sama seperti dia, Anak Jawata itu!” Dakka berusaha bangkit. Terlalu marah sampai-sampai air mukanya kemerahan dan semua otot-otot mulai dahi sampai leher seolah akan pecah.


”Dia sangat tidak pantas berada di Gunggali, apalagi untuk menjadi Elhundi!” Dakka bangkit. Sebagian tenaganya sudah kembali lagi dalam waktu secepat itu.


”Sudah kehendak Ratu jika harus terjadi demikian!” Kata Elkas sekali lagi namun terbalas dengan sekali libas tangan ke mukanya.


”Semua membela dia, semuanya memandang dia. Tetapi tidak terhadapku!” Dakka merayap cepat dan menjauhi Elkas yang tersungkur karenanya.


”Dakka! Jangan pergi!” teriak Elkas ke arah terakhir kali bayangan Dakka terlihat olehnya. Cepat sekali, sosok Dakka menghilang dalam kegelapan Calpera.


...* * *...

__ADS_1


__ADS_2