The Chronicle Of Jawata (Edisi Trial Kompilasi)

The Chronicle Of Jawata (Edisi Trial Kompilasi)
4.50.


__ADS_3

”Lorr, aku mendukungmu!” seorang murid berjejal dan meneriakinya.


”Purwa! Bagaimana ini?” Lorr En melempar senyum takut ke arahnya murid itu yang tidak lain adalah Purwa.


”Semakin cepat semakin asyik, aku sudah buktikan itu! Skorku 5 nilai hitam!” seru dia lagi. Padahal angka itu membuatnya ngeri.


”Jangan lupa! Semakin cepat semakin asyik!!” teriak Purwa sekali lagi sebelum tenggelam dalam jejal murid-murid sepanjang tepian jalur start.


Sedangkan Taja serta murid-murid kelas Kancil merapat ke tepian jalur untuk menyaksikan teman-teman mereka.


Lorr En memasuki jalur pacuan. Saat palang dibuka, seekor kuda hitam paling besar di posisi 7 telah siap di sana untuknya. Kebetulan di posisi ke-enam adalah Purwa, ternyata dia juga mendapat giliran sama. Keduanya berpapasan sekilas.


Lorr En memperhatikan seekor kuda hitam di depannya, jika dibandingkan dengan yang lian, seekor ini yang paling besar.


”Beruntung, kau mendapat kuda kerajaan!” seruan Purwa teredam oleh riuhnya siul murid-murid yang menonton dari tepian jalur start berpagar palang-palang besi. Sebagian besar lainnya, melempar sorak dari kanan dan kiri tribun area penonton.


”Kuda kerajaan?” Lorr En menangkap jelas seruan Purwa di jalur sebelah yang hanya terpisah palang sebagai sekat pembatas masing-masing jalur. Semua peserta mulai menaiki punggung kuda masing-masing, terkecuali Lorr En masih kebingungan.


Purwa yang kecil saja sudah berada di atas pelana kudanya, ”Gunakan pijakannya untuk naik!” seru Purwa untuk sekedar memberi contoh padanya seperti yang dilakukan peserta lain.


Lorr En cukup mengerti, ia pun mengikuti seperti yang dikatakan Purwa.


Hup!


Agak susah payah, akhirnya Lorr En kini sudah berada di punggung kuda. Ini pertama kalinya naik kuda, karena itu membuatnya gugup. Apalagi kuda hitam ditumpanginya bergerak-gerak, ia jadi ketakutan. Sesekali dilihatnya ke arah penonton, Taja dan teman-teman tim kancil meneriaki semangat dari sana.


”Pacuan Kuda segera dimulai! Bersiap-siaplah!!!” aba-aba pertama wasit berseru. Lima belas peserta memasang ancang-ancang.


”Mulai setelah hitungan ke-tiga!!!”


Ketegangan semua penonton mengalihkan suasana riuh menjadi agak sunyi.


”Satu ... dua ... tiga ...!” tepat pada hitungan terakhir, pintu jalur terbuka dan semua kuda tunggangan langsung lepas kandang. Derap kaki-kaki kuda berlarian secepat-cepatnya menjadi yang terdepan. Sorak riuh penonton kembali membahana.

__ADS_1


Awalnya, Lorr En memimpin di urutan terdepan karena beruntung mendapat giliran kuda yang paling cepat dan unggul, tetapi apapun hasilnya nanti tergantung dari kemampuannya sendiri. Dan sayang sekali Lorr En tidak pernah pengalaman berkuda, sehingga semakin cepat kuda itu membawanya lari, membuatnya semakin tidak bisa mengendalikannya. Tali kekang terlepas mengakibatkan tubuh Lorr En berguncang oleng, ketika melewati tikungan ia terlempar jatuh.


Bugh ...!


Hantaman keras ke tanah berdebu membuatnya tidak sadar diri.


Angin sepoi-sepoi berhembus segar di antara kisi-kisi jendela bangsal pengobatan. Ada beberapa pasien di sana yang tengah dijenguk teman-teman mereka masing-masing. Sementara di pembaringan sepi, Lorr En duduk termenung, memikirkan kejadian yang nyaris membunuhnya.


”Huh ...,” desahnya bercampur kesakitan merasakan kening dan lengannya yang berbalut. Tidak lama berada dalam kesendirian, dua orang yang ditunggu-tunggu akhirnya datang.


”Bagaimana keadaanmu, Lorr En?” sapa Taja diiringi Purwa yang sudah berada di belakang Lorr En.


Lorr Endi pembaringannya tampak lemas, ”Sakit sekali ...,” rintih dia untuk ke sekian kali dalam kesepiannya sebelum mereka datang, ”Semakin cepat semakin asyik apanya? Kalau tahu kejadiannya akan seperti ini, maka aku tidak akan mau berkuda!” cemberut Lorr En pada Purwa menghias muka pucatnya.


”Aku tahu yang terjadi padamu tidak semulus aku. Mungkin karena ini pertama kalinya kau menyentuh kuda. Seharusnya katakan saja pada pelatih jika kau tidak mampu berkuda hari itu, maka mereka juga tidak akan memaksa,” anjur Purwa meskipun sudah tidak ada gunanya lagi, toh...Lorr En saat ini telah terbaring sakit.


”Dari mana saja kalian?” tanya Lorr En.


”Tidak kemana-mana, sejak kemarin kami tidak pernah meninggalkanmu...selalu menjagamu sehari semalaman. Hanya saja, siang ini aku harus menebus resep ke gudang obat karena persediaan obatmu sudah hampir habis,” jelas Taja.


”Lalu, bagaimana dengan nilaiku?” tanya Lorr En beralih pada Taja.


”Maaf, nilaimu kosong untuk berkuda,” jawaban Taja membuatnya murung dan sedikit kesal. Taja menyodorkan buku hijau milik Lorr En.


”Apa?! Sudah sakit, nilai kosong juga!”


Lorr En membuka-buka raport harian bersampul hijau tua. Di dalamnya, puluhan lembar kuning masih terpampang kotak kosong setiap halamannya.


”Tapi kita masih beruntung karena mendapatkan nilai putih pada pelajaran perakitan senjata tempo hari, paling tidak ...”


”Apa? Putih?!” Lorr En menyela lebih dulu sebelum Taja selesai bicara. Terkejut mendengar temannya menyinggung tentang nilai putih.


”Paling tidak...kita sudah mendapat nilai,” lanjut Taja.

__ADS_1


”Kita sama!” seru Taja ringan. Lorr En sangat kecewa melihat tanda putih disalah satu kotak pelajaran perakitan senjata. Ia pun geleng-geleng kepala. Sebaliknya Taja tersenyum lebar.


”Kamu senang mendapat nilai putih?”


”Hargailah...itu usaha kita sebaik-sebaiknya,”


”Lalu...bagaimana dengan nilai berkuda-mu?” tanya Lorr En beralih pada pelajaran itu.


”Kosong. Jadi kita seri!” Taja tersenyum lagi, tapi sedikit getir.


”Mengapa bisa begitu?” Lorr En heran.


”Mmm .. Dia rela meninggalkan pelajaran itu karena harus menjagamu sampai sore,” justru Purwa yang menjawab kali ini.


”Kau terpental sampai puluhan kaki dari kuda. Memang kudanya terus berlari, tetapi kamu terlempar jauh sampai ke tepian lintasan pacuan. Setelah pelatih membawamu ke sini, aku dan Purwa yang menjagamu sehari semalaman. Jadi, terpaksa aku meninggalkan pelatihan berkuda hari itu,” jelas Taja mengingat kejadiannya.


”Maaf, aku menyebabkan nilaimu jadi kosong,” Lorr Enjadi sedih.


”Tidak masalah, lain kali aku bisa mengikuti ujian berkuda lainnya.”


”Dan kau, Purwa ... bagaimana tentang sekolah tabib dan nilai-nilaimu?”


”Aku pemula, nilai merah untuk berkuda, nilai hitam untuk pemahaman ilmu dan juga ada nilai putih untuk tiga pelajaran lainnya seperti sains, menghitung dan takaran dosis,” Purwa angkat bahu menandakan bahwa dia telah mendapatkan alakadarnya.


”Cukup bagus. Ternyata, kau bisa lebih baik dari kami. Maaf, waktu itu...aku tidak berniat untuk menghinamu,” Lorr En memuji sekaligus ingat kejadian saat dia tidak sengaja mengejeknya.


”Tidak masalah, lagipula aku sudah melupakan itu. Entahlah. Aku juga tidak mengerti tentang diriku, memang semua benar seperti inilah aku, tapa asal-asal yang jelas dan ketidakpastian. Padahal aku ini manusia, tapi tidak ada yang 'kupahami selain diriku yang mirip kera,” Purwa menyentuh dua pipinya.


””Sst ... jangan berkata seperti. Kemarilah ...,” Taja menyodorkan sebelah tangan kanan pada Purwa yang berdiri di depan jendela. Purwa meraih tangan lembut Taja dan Lorr En dan disambut kalimat hangat mereka, ”Kau adalah sahabat kami.”


”Jika aku mendengar langsung ada yang mengejekmu lagi seperti itu, maka aku tinggal diam, sekalipun Lorr En yang akan melakukannya,”


”Ya, ingatkan aku untuk memukul diriku sendiri jika berani mengolok dirimu ....”

__ADS_1


Purwa dan Taja mengarah cepat pada Lorr En. Peri Katak itu seketika bungkam.


...* * *...


__ADS_2