The Chronicle Of Jawata (Edisi Trial Kompilasi)

The Chronicle Of Jawata (Edisi Trial Kompilasi)
4.15. Diburu Penyihir (2)


__ADS_3

Api berkobar seisi rongga utama. Satu tempat mencengangkan. Bukan tempat yang diharapkan, sarat mayat bergelimpangan di seluruh hamparan di dalam rongga. Di tengah-tengahnya, sekumpulan penyihir sedang sibuk melanjutkan ritual dalam lingkaran dan menghadap api besar. Lebih mengejutkan lagi, Raojhin berada di tengah kepungan para penyihir.


”Itu Raojhin!” Lorr En terpekik kaget, sedangkan Taja hanya melotot ke arah Raojhin terpasung dari ujung tangan sampai kaki di ujung tiang kayu, di bawahnya persis api berkobar siap melahap.


”Kita harus cepat bertindak sebelum terjadi sesuatu yang mengerikan padanya!” bisik Taja, teredam dalam riuh mantera-mantera ritual penyihir seperti bunyi ribuan lebah.


Perlahan, Taja dan Lorr En mendekati titik lokasi sekumpulan penyihir yang sedang berkonsentrasi. Tak menyadari kehadiran dua pemuda tengah mengendap-endap dan sembunyi-sembunyi dari sisi gelap rongga, melangkah sampai jarak dekat.


Taja merayapi gundukan batu yang menjulang paling tinggi. Sedangkan Lorr En berada di bawah, ada sesuatu lain yang lebih menarik perhatiannya. Sebilah belati tergeletak di tanah tanpa ada siapapun yang berada di dekatnya.


Lorr En berniat memungut belati yang sepengetahuannya milik Raojhin. Tanpa terduga ketika tangannya menyentuh belati, sebelah kaki beralas metal menginjak besi terserak di tanah. Lorr En mengangkat muka, di depannya persis, muka seorang penyihir dengan sepasang mata runcing yang putih kemerahan memergoki dengan tatap tajam. Itu bukan pertanda baik.


"Heeaaargh!" sesosok penyihir melempar energi magis dari kedua tengah tangannya ke arah Lorr En.


Lorr En tak sempat mengelak, belati terlanjur digenggamnya terlepas lagi, bersamaan dengan tubuhnya terpelanting tepat di sisi kobaran api di antara ritual kumpulan penyihir kaki penyihir. Semua perhatian beralih seketika pada jatuhnya Lorr En.


Lorr En memuntahkan darah hijau sebelum tidak sadar diri. Taja melihat dari puncak bebatuan tak kalah terkejutnya dengan Raojhin dalam posisi terikat.


Seorang penyihir menghunus pedang sambil mendekati Lorr En. Suasana hening, hanya suara pedang beradu dengan angin cukup membuat nyali Raojhin bergetar, seakan ia pun merasakan tajamnya pedang itu.


”Lorr, bangun!” teriak Raojhin tanpa mampu berbuat apapun selain meronta dan melihat penyihir itu semakin mendekat ke arahnya. Sementara Taja mengabaikan kepanikannya, berusaha memusatkan perhatian dan menghimpun tenaga. Sedapatnya, ia raih sebilah tongkat patah lalu memutar jurus pedang angin. Sesaat kekuatan telah mencapai puncak, dilemparnya ke penyihir yang hampir menebas punggung Lorr En.


Dasss!!!


Tubuh penyihir itu terhempas jauh, menghantam dinding terjal lalu tak berkutik lagi. Spontan, semua penyihir lain langsung mengambil tindakan dengan melempar macam-macam mantera ke arah Taja berada.


”Taja!” teriak Raojhin menyadari kedatangan Taja yang tiba-tiba langsung menyerang


”Awas!” serunya berlanjut ketika melihat ratusan penyihir bertubi-tubi menghujat mantera ke arah mereka.


Blasss …!

__ADS_1


Satu mantera mengenai Taja, ia terdorong ke belakang dan jatuh ke balik bebatuan menjulang.


”Taja!” Raojhin berteriak lagi. Sementara Lorr En tersadar perlahan. Ancaman berbalik pada Taja. Semua penyihir berlarian ke balik bebatuan lokasi jatuhnya anak itu.


”Lorr, cepat ambil belatiku untuk memecah rantai belenggu yang mengikatku!” seru Raojhin tanpa menyia-nyiakan kesempatan lenggang. Setengah gontai, Lorr En yang terluka meraih pedang yang tergeletak di tanah dan menebaskannya pada rantai-rantai besi yang mengikat Raojhin. Setelah terbebas, Raojhin menarik lengan Lorr En, bergegas ke sisi celah-celah bebatuan lain menuju ke lokasi terakhir Taja terlihat.


Mereka berhenti di celah-celah bongkahan batu-batu besar menjulang tinggi, sebelum mencapai tempat yang dituju, ratusan penyihir telah lebih dulu sampai ke sana, namun tampaknya mereka kebingungan karena kehilangan sosok Taja.


”Tadi aku melihatnya jatuh ke balik bebatuan itu,” bisik-bisik Raojhin pada Lorr En.


”Apa kamu baik-baik saja?” Lorr En sempoyongan sambil mengusap tetesan darah yang tersisa. Sebenarnya Raojhin merasa aneh pada bercak cairan hijau yang keluar dari mulut Lorr En, tetapi karena situasinya tidak cukup luang, maka ia tidak peduli banyak.


”Sebelumnya ya, tetapi setelah menolongmu … aku tidak tahu lagi nasibnya,” jawaban Raojhin membuat Lorr En tegang menatap ke lokasi penyihir-penyihir itu berkerumun. Terdengar teriakan-teriakan nyaring mereka seperti suara binatang menguak.


”Sepertinya dia tidak ada di sana, padahal aku melihat jelas tempat jatuhnya persis di belakang bebatuan itu. Kemana dia?”


”Semoga dia selamat ...,” harap Lorr En semakin cemas sekali.


Mereka memasang mata ke segala penjuru celah-celah gelap ruang berbatu. Tanpa sadar bahwa ada yang sesosok dari belakang menemukan keberadaan mereka. Tangan-tangannya dari kegelapan menyentuh pundak mereka masing-masing.


”Taja?!” desis Raojhin dan Lorr En nyaris bersamaan, sama sekali tidak menyangka kalau ternyata Taja yang berada di belakang mereka.


Senyum Taja terulas sebentar, ”Ya, ini aku. Kelihatannya ada jalan keluar, lewat ke arah sini!” bisiknya dan mengajak mereka bergegas dari tempat itu.


Jeritan-jeritan menguak tajam dan menggema ke segala penjuru gua. Para penyihir telah menyadari kehilangan jejak tiga bocah yang akan dipersembahkan sebagai tumbal untuk menciptakan pasukan zombi.


Krrrraaagh! kraaagh!!!


Suara-suara itu sudah terdengar khas sejak meninggalkan Pemukiman Sawo. Taja dan Lorr En tersentak dan menghentikan langkah.


”Terus lari!!! Untuk apa berhenti?! Jika kita tertangkap lagi, maka mereka akan membunuh kita!!!” Raojhin mengingatkan dua temannya. Mereka menerobos gelapnya lorong-lorong sempit sampai ke bagian ruang gua lainnya.

__ADS_1


”Apa ini ...?!” pekik Raojhin lebih kaget dari sebelum-sebelumnya. Taja dan Lorr En juga demikian. Ada pemandangan paling mengerikan dan menyayat hati di hadapan mereka. Terbentang ribuan mayat anak laki-laki.


Hampir tidak dapat berbicara apapun, mereka terpaku di tempat, lutut terasa gemetar selama memandangi panorama menakutkan di seluas rongga berbatu.


”Sadis ...,” suara gemetar Raojhin tertahan di tenggorokan.


”Apa kita harus menyeberang ke sana?” Lorr En melihat ada jalur terang karena sinar matahari masuk ke sela-selanya.


”Ya, itulah jalan kita satu-satunya,” Taja membenarkan.


Lorr En bergidik saat mulai melangkahi tumpukan mayat-mayat membusuk.


Sesekali Lorr En meringik ngeri.


”Ssst ... jangan menangis, Lorr En!” kata Taja yang memergoki sepasang matanya mulai genang air mata.


”Aku ... takut ...,” lagi-lagi Lorr En berusaha menenangkan diri sendiri, tetapi tidak mampu bertahan cukup lama untuk menampik ketakutannya.


”Kraaagh!”


Suara itu mengejutkan mereka lagi.


”Cepat lagi, sebelum mereka mengejar kita!” seru Raojhin berada paling depan melambai-lambai pada Taja dan Lorr En.


”Tunggu ...!” Lorr En gugup, terlalu gemetaran sampai-sampai kakinya terasa kaku. Sialnya, sebelah kakinya mendadak terperosok masuk ke sela-sela tumpukan tubuh-tubuh membusuk itu.


”Aaagh, tolong aku!!!” teriaknya panik sambil menoleh ke belakang. Taja yang menyadari itu, langsung kembali ke posisi Lorr En di belakang.


”Cepat keluar! Angkat kakimu!” Taja bersusah payah menarik ke atas, tetapi Lorr En tidak bisa cukup bergerak.


”Kakiku kram!” rintih Lorr En.

__ADS_1


Sementara bayang-bayang para penyihir sudah bermunculan dari lorong-lorong segala penjuru.


...* * *...


__ADS_2